Kelembutan Sebuah Hati

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala’ Rosulillah, wa ba’du :

Sesungguhnya lembut dan khusyuknya sebuah hati serta tunduknya dihadapan Al-Ka’liq Subhaanahu Wa Ta’ala merupakan karunia dan semata-mata anugrah dari Allah Ta’ala, yang membuahkan ampunan dan magfiroh sekaligus menjadikan perisai dan benteng dari berbuat tugyan dan kemaksiyatan.

Tidaklah seseorang yang lembut hatinya dan tunduk kepada Allah Ta’ala melainkan ia tergolong orang-orang yang bersegera dalam berbuat kebajikan, senantiasa meraih ketaatan dan keridhoan dan bersemangat untuk mengerjakan perbuatan taat dan perkara yang mendatangkan kecintaan Allah Ta’ala, ketika ia diingatkan, maka ia segera ingat dan kembali, tatkala ditunjukkan kebenaran, ia segera sadar dan mengikuti, hatinya selalu tenang mengingat Allah Ta’ala, lisannya senantiasa memuji dan mensyukuri, jauh dari perbuatan maksiat dan durhaka.

Hati yang lembut adalah hati yang tunduk kepada Allah Ta’ala, merasa takut dan khawatir atas keagungan dan keperkasaan Dzat Yang Maha Kuasa, para penyeru setan tidaklah berhenti dari menyerukan jalanya kecuali dikarenakan rasa takut kepada Allah Ta’ala, demikian pula seorang penyeru kesesatan dan hawa nafsu berhenti dari jalan yang mereka tempuh kecuali karena takut kepada Allah Ta’ala.

Maka seseorang yang memiliki hati yang lembut mereka merupakan teman setia, kawan yang baik hati, akan tetapi perlu diingat, siapakah yang menjadikan seseorang memiliki hati yang lembut, memiliki hati yang bersih, siapakah yang menjadikan hatinya takut kepada Tuhan nya, siapakah yang melembutkan hatinya tatkala ia menyebut Robb nya, khusyuk terhadap ayat ayat Tuhan nya. ..? Tidak lain adalah Allah Ta’ala tiada Ilah melainkan hanya Dia Maha Suci dari segala sekutu dan tandingan.

Tatkala engkau menjumpai seseorang yang memiliki hati yang sangat keras dan kaku, akan tetapi Allah Ta’ala memberikan limpahan karunia dan hidayah Nya, sehingga dalam waktu sekejap,

Ia berubah menjadi hati yang lembut, sehingga menumbuhkan iman yang kokoh, dan Allah Ta’ala memilih diantara para hamba Nya, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, membolak balikkan hati dari yang sebelumnya memiliki hati yang keras dan keruh menjadi hati yang lembut dan bersih, dari hati yang kelam dan mati menjadi hati yang bersinar dan bercahaya, dari yang sebelumnya tidak mengenal makruf dan mengetahui mungkar, kecuali hanya mengikuti hawa nafsunya, tiba-tiba ia mengharapkan diri kepada Allah Ta’ala secara lahir dan batin.

Ikhwati fillah, sesungguhnya ini merupakan suatu nikmat yang tiada bandingnya di muka bumi ini, yang lebih besar dan agung dari nikmat kelembutan hati, ber – inabah kepada Allah Ta’ala, dikarenakan Allah Ta’ala telah memberikan kabar bahwasanya seseorang yang tidak memiliki sifat kelembutan hati, ia terancam oleh adzab dan siksa yaitu neraka .

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِۦ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya, ”  Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S.39: Azzumar : 22)

Yaitu, siksa dan neraka bagi mereka yang hatinya membatu, keras, tidak tersentuh iman, tidak memiliki rasa takut dan khawatir atas keperkasaan Allah Ta’ala, dan dahsyatnya adzab hari kiamat, dan sebaliknya, berbahagialah orang orang yang senantiasa jiwa dan hatinya lembut, tunduk dan patuh kepada syariah Allah Ta’ala, sehingga tidak menerjang batasan dan larangan yang telah digariskan.

Oleh karena itu, sepantasnya seorang mukmin yang benar-benar memiliki iman, ia berusaha maksimal untuk mendapatkan nikmat yang agung ini, berupaya untuk meraih kelembutan hati, sehingga dirinya menjadi kekasih dari kekasih-kekasih Allah Ta’ala, meraih ridho Allah Ta’ala, sehingga ia tidak kenal lelah, letih, sunyi, gembira, kecuali jika menggapai kecintaan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena ia sadar dan yakin, bahwasanya jika ia terhalangi dari nikmat ini, maka ia terharamkan kebaikan yang tiada tara, sehingga betapa banyak orang-orang saleh masa dahulu, mereka membutuhkan waktu sejenak untuk berupaya melembutkan hatinya, karena hati merupakan sesuatu yang sangat mengherankan, di waktu tertentu ia lembut dan ringan melakukan kebajikan, sekiranya diminta untuk menginfakkan seluruh hartanya karena Allah Ta’ala , ia segera menunaikan, sekiranya ia berjuang dan berperang di jalan Allah Ta’ala, niscaya ia bersedia mengorbankan nyawanya karena Allah Ta’ala, waktu-waktu tertentu, hatinya tertanam untuk mengerjakan ketaatan, dan lain waktu, hatinya jauh dari Allah Ta’ala, keras, bahkan membatu, dan kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari segala keburukan.

Ditulis oleh,
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.