Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Bulan ramadhan adalah momentum istimewa untuk membuktikan nilai nilai ketakwaan kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama manusia. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang orang sebelum kalian niscaya kalian menjadi orang orang yang bertaqwa.” (Al Baqarah 183 )
Namun demikian, betapa disayangkan, pada kenyataannya, kini bulan Ramadhan malah menjadi momentum bagi sebagian kaum wanita untuk membuktikan kekejamannya kepada suami dan anak-anaknya.
Anda tidak percaya? Atau barang kali sebagia wanita, anda merasa tersinggung dengan ucapan ini?
Sobat! Izinkan saya membuktikannya, betapa banyak di bulan Ramadhan kaum ibu/wanita yang berkata kepada suami atau anak anaknya: “ayolah ayah, habiskan sisa hidangan yang tinggal sedikit, jangan sampai menuh menuhi kulkas kita”.
” ayolah nak, habiskan hidangannya, ibu malas kalau menyimpannya lagi di kulkas, kulkasnya sudah penuh.”
Anda pernah berkata demikian? Atau pernahkah istri saudara mengatakan demikian?
Sekilas nampak mencerminkan rasa sayang, namun sejatinyan menyimpan kekejaman yag luar biasa. Betapa tidak, istri atau ibu itu tanpa sadar lebih senang bila perut dan tubuh suami atau anak anak ya menjadi tempat penimbunan makanan yang tidak habis, namun mereka tidak rela bila kulkasnya dipenuhi atau terus menjadi tempat menimbun/menyimpan sisa makanan.
Akibatnya, di bulan ramadhan banyak orang yang kekenyangan& bisa jadi kolesterol dan gula darahnya meningkat.
Romadhan yang sehatusnya melatih kita untuk emngurangi konsumsi makan dan minum namun faktanya malah melipatgandakan jumlah makanan dan minuman yang kita santap. Mungkin inilah salah satu biang yang menjadikan kita merasa bahwa ramadhan terasa hampa.