All posts by BBG Al Ilmu

Perkataan “Seandainya…” Membuka Pintu Syaitan

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

tidak disenangi

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

لَأَنْ أَعُضَّ عَلَى جَمْرَةٍ حَتَّى تَبْرُدَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقُوْلَ لِشَيْءٍ قَدْ قَضَاهُ اللهُ : لَيْتَهُ لَمْ يَكُنْ

“Sungguh aku menggigit bara api hingga dingin lebih aku sukai daripada aku berkata kepada suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah : “Seandainya tidak terjadi”
(Az-Zuhd, Abu Dawud hal 128)

Dalam hadits :

فَإِنَّ لَو تَفتح عمل الشيطان

“Sesungguhnnya perkataan “seandainya” membuka amalan syaitan”

Diantara amalan syaitan :
– Menjadikan pengucapnya sekaan-akan protes terhadap keputusan dan takdir Allah, karena ucapan “seandainya” sering diucapkan tatkala terjadi apa yang tidak disukai

– Menjadikan pengucapnya hanya berangan-angan sesuatu yang mustahil, kata pepatah : “Air susu ibu yang sudah dikeluarkan tidak bisa dimasukan kembali”. Dan syaitan suka seseorang mengangan-angankan sesuatu yang mustahil sehingga terlalaikan dari cita-cita yang mungkin diraih. Mengembalikan masa lalu adalah perkara yang mustahil

– Menjadikan pengucapnya bersedih, dan diantara tujuan syaitan adalah menjadikan seorang mukmin bersedih agar ia futur dan terabaikan dari aktifitas-aktifitasnya yang bermanfaat, atau agar ia tidak bersemangat dalam beraktifitas.

Yang seharusnya diucapkan seorang mukmin tatkala mengalami sesuatu yang dibenci adalah “Qoddarollahu wa maa syaa-a fa’ala”
(ini sudah taqdir Allah, dan Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”

Mari semangat beraktifitas…, yang berlalu biarlah berlalu…, jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki yang ada dihadapan kita…

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Akidah Salaf, Manhaj Harakah & Akhlaq Tabligh

Sebagian kaum muslimin mengira bahwa ucapan di atas adalah wajar bahkan benar. Seakan mereka lupa bahwa para salaf yang nota bene adalah para sahabat nabi; tabiin; tabiut tabiin dan ulama’ sepeninggal mereka adalah ummat yang paling mulia akhlaqnya.

Sebagaimana mereka adalah generasi yang paling baik dalam mengemban misi dakwah sebagai penerus perjuangan para nabi alaihimussalam.

Pemerintahan pada zaman beberapa masa di khilafah Umawiyah dan juga Abbasiyah tidak seindah yang dibayangkan oleh sebagian orang.

Pada sebagian zaman itu; sebagian khalifah membunuh banyak ulama’ hanya karena perbedaan idiologi semisal masalah ” al Qur’an adalah kalam ilahi”. Sebagaimana mereka juga memenjarakan dan bahkan membunuh sebagian ulama’ dengan tuduhan subversi “makar merebut kekuasaan”.

Bahkan sebagian khalifah telah menunda nunda shalat hingga akhir waktu bahkan kadang kala keluar batas waktunya. Dan masih banyak lagi kisah kelam yang pernah menghiasi lembaran sejarah para ulama’ salaf.

Namun seberat apapun yang mereka alami; mereka tetap teguh berprinsip bahwa Islam adalah satu satunya solusi bagi seluruh problematika ummat. Islam telah utuh sebagaimana firman Allah Ta’ala:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا

“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian dan menggenapkan kenikmatan-Ku atas kalian dan Aku juga telah merestui Islam sebagai agama kalian.”

Hasilnya? Islam tetap jaya hingga akhirnya Islam tetap menyebar dan memimpin dunia. Berbagai cobaan berhasil mereka lalui dengan tanpa merubah syariat islam atau garis perjuangan tanpa perlu mengadopsi berbagai ajaran dan hasil pikiran orang.

Semua problemtika ummat mereka selesaikan dengan kembali ke jalan Allah dan meneladani sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan keteladanan salafusshalih.

Mungkin anda berkata: kok bisa dengan bersahaja dan hanya mempelajari islam; mengamalkan dan mendakwahkan Islam seutuhnya tanpa pengurangan atau penambahan semua problematika dapat terselesaikan? Padahal di zaman kita; dengan sarana berbagai tekhnologi; hasil pemikiran para ilmuan; dan metode perubahan atau penyegaran ummat Islam masih saja terpuruk bahkan seakan semakin terpuruk.

Betul sobat! Ingat bahwa semua tekhnologi tergantung kepada yang menggunakannya; sebagai contoh HP atau Komputer yang ada di depan anda; bisa berguna dan bisa juga menjadi biang petaka bagi Islam.

Hasil penelitian manusia pastilah cacat alias tidak sempurna seiring ketidak sempurnaan para ilmuan yang menelitinya; dan akibatnya hasilnya juga tidak akan pernah sempurna.

Terlebih dari itu semua; kejayaan dan pertolongan sejatinya hanyalah milik Allah. Kalau Allah menghendaki maka pasti terjadi dan bila Allah belum menghendaki maka seluruh upaya manusia pastilah akan berujung pada kebuntuan. Simaklah firman Allah Ta’ala:

قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيء قدير

“Katakan : Ya Allah; wahai Penguasa segala kerajaan; Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau juga mencabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau juga menghinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di Tangan-Mulah segala kebaikan; sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu sungguhlah berkuasa.” (Ali Imran 26)

Sobat! Masihkah ada alasan untuk mencari solusi dari selain kembali kepada jalan atau agama Allah seutuhnya?

Dahulu Khalifah Umar radhiallahu anhu menjelaskan tentang resep keberhasilannya menundukkan Romawi dan Persia dengan berkata:

نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة بغيره أذلنا الله

“Kita adalah satu kaum yang Allah muliakan berkat agama Islam; sehingga acap kali kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam; pasti Allah timpakan kehinaan kepada kita.”

Inilah resep manjur dan mujarab kejayaan ummat; bukan dengan memodifikasi islam dengan harokah hasil rekayasa sebagian manusia atau metode lainnya. Allahu Akbar.

Penulis,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى