All posts by BBG Al Ilmu

Berdiri Hormati Kiyai

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata:

 ” لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ ” .

Tidak ada orang yang paling dicintai oleh mereka (para shahabat) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..
namun apabila mereka melihat beliau..
mereka tidak berdiri menghormatinya..
karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukainya..
HR At Tirmidzi no 2754..

bandingkan dengan zaman ini..
banyak ustadz atau kiyai merasa suka bila manusia berdiri menghormatinya..
padahal Nabi bersabda:

 مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ 

Siapa yang menyukai orang orang berdiri menghormatinya..
maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api Neraka.
HR Abu Daud no 5229..

di kelas..
murid murid malah disuruh berdiri menghormati guru..
padahal Nabi tidak suka para shahabat berdiri untuk menghormatinya..
akankah pak kiyai lebih utama dari para Nabi..

aneh….

– – – – – •(*)•- – – – –

Dua Raka’at Dhuha Mencukupi

Ibnu_Mukhtarہﮩ

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku, ketahuilah Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ telah bersabda : “Setiap persendian manusia wajib bersedekah pada setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya…” HSR. Al Bukhori dan Muslim, dengan di ringkas..

Dan ketahuilah pula bahwa jumlah persendian manusia berjumlah 360 sendi (HSR. Muslim dari ‘Aisyah ~rodhiyallohu ‘anha~)

Bertakbir (mengucapkan Allohu Akbar) adalah sedekah, bertahmid (mengucapkan Alhamdulillah) adalah sedekah,….menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.

Siapa yang bisa bersedekah sebanyak anggota persendiannya pada hari yang dijalaninya itu maka ia telah menjauhkan diri dari Neraka..

Siapakah di antara kita yang sanggup untuk bersedekah sebanyak anggota persendiannya itu?

Jawabannya pasti ada!

Siapa dia? Sungguh berbahagianya hamba اللّـﮧ tersebut..

Saudaraku, ketahuilah bahwa hamba اللّـﮧ yang berbahagia itu adalah orang yang memiliki pengetahuan yang bersumber dari Sunnah Nabi kita dan ia mengamalkan apa yang diketahuinya itu dengan ikhlash, hanya mencari wajah اللّـﮧ dan bukan untuk pamer amal atau mendulang pujian makhluk yang melihatnya..dan ketahuilah amalan yang bisa mencukupi seorang muslim bersedekah sebanyak 360 jumlah sendinya adalah SHOLAT DHUHA dua raka’at..karena Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda :

وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“…Dan mencukupi semua itu dengan dua raka’at Sholat Dhuha yang ia kerjakan.” HSR. Muslim no. 720

Semoga اللّـﮧ memudahkan kita untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan ucapan dan amalan yang sesuai sunnah Nabi-Nya..

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

– – – – – •(*)•- – – – –

Semua Akan Berbalas

Ust. Aan Chandra Thalib, حفظه الله

Sahabat Jabir bin Abdullah -radhiallahu anhu- berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jibril berkata kepadaku: “ Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, sesungguhnya kamu akan mati, dan cintailah siapa yang engkau kehendaki, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, dan ber-amal-lah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan menemui (balasan) amal-mu tersebut.“ (Shahih al Jami’, no : 4355, Hasan)

Begitulah sahabat…
Semua perbuatan tak ada yang luput dari penglihatan-Nya. Semua tercatat rapi disi-Nya. Besar ataupun kecil, baik ataupun buruk.
Semua juga akan diperlihatkan dan berbalas.

Allah azza wa jalla berfirman:

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.

Saat kitab itu dibagikan, berbagai ekspresi menghiasi setiap wajah. Ada yang gembira dan ada juga yang bermuram durja. Ada yang bahkan tak mengharapkan hari itu.

Allah azza wajalla berfirman:

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.“ (QS. Ali Imran: 30).

Disisa waktu yang ada lakukanlah kebaikan, meski itu terlihat kecil, sebab kita tak tahu kebaikan mana yang kelak menyebabkan kita masuk ke dalam surga.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.“

Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

– – – – – •(*)•- – – – –

Siapakah Mereka Ini ?

Ibnu_Mukhtarہﮩ

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku seislam yang saya muliakan, semoga اللّـﮧ memberikan kepada kita kefahaman dan manfaat dari hadits Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ berikut :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَمَّا عُرِجَ بِى مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِى أَعْرَاضِهِمْ ».

Dari Anas bin Malik ~rodhiyallohu ‘anhu~, dia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Ketika aku dimi’rojkan (yakni pada peritiwa Isro’ dan Mi’roj), aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga. Mereka mencaka wajah dan dada mereka. Aku bertanya : “Siapakah mereka ini?” Jibril ~ ‘alaihis salaam~ menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia  (melakukan ghibah) dan merusak kehormatan orang lain.”

[HR. Abu Dawud dalam sunannya no. 4880 dan dinilai shohih oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam ash-shohiehah no. 553]

Sebuah nasihat untukku dan untuk yang mau mengambil manfaatnya..

Semoga اللّـﮧ menyelamatkan penulis dan pembacanya dari semua perkara yang mengundang murka dan siksa-Nya,

آميــــــــــن يَا رَبَّ العَالَمِينْ

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

 32A4916B

Mau Apa Di Sisa Usia…?!

@sahabatilmu

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah ta’ala berkata kepada seseorang,

“Berapa usia anda…?”

Orang itu menjawab, “Enam puluh tahun..”

Al-Fudhail kembali berkata,

“Bila demikian adanya, engkau berjalan menuju Rabbmu sejak 60 tahun silam, dan tak lama lagi akan tiba kepadaNya…”

“Innalillahi wa inna ‘ilaihi raji’un…” ucap orang itu.

“Tahukah engkau makna ucapan tadi..?” tanya Al-Fudhail.

Beliau melanjutkan, “Maknanya adalah aku hamba Allah dan hanya kepadaNya aku kembali…”

“Barangsiapa mengetahui bahwa ia hamba Allah dan akan kembali kepadaNya maka hendaklah ia memahami bahwa dirinya kelak akan dihisab (pada hari kiamat)”

“Barangsiapa mengetahui bahwa dirinya kelak akan dihisab (pada hari kiamat) maka hendaklah ia memahami bahwa dirinya akan ditanya”

“Dan barangsiapa mengetahui bahwa dirinya kelak akan ditanya maka hendaklah ia mempersiapkan jawaban pertanyaan”

“Bagaimanakah caranya…?” tanya orang itu.

Al-Fudhail menjawab, “Sederhana sekali…

“Engkau memperbaiki sisa umur yang ada niscaya dosa-dosamu yang telah lalu akan diampuni.

Adapun jika engkau masih saja berbuat salah di sisa usia maka engkau akan disiksa karena dosa yang lalu dan dosa yang sekarang…”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 2/383)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

أكثرهم للموت ذكرا وأحسنهم لما بعده استعدادا

“(mukmin yang cerdas) adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk akhirat…”

(Hasan, HR Ibnu Majah: 4249, ash-Shahihah: 1384 al-Albani)

Cerdas menempatkan dunia sebagai jembatan menuju akhirat.

Bukan sebagai tujuan hidupnya.

Hendak di isi apa sisa usia kita…?!

@sahabatilmu

Bersegeralah Beramal Sholeh Sebelum Datang Musibah

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله

“Bersegeralah melakukan kebaikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” Inilah satu hadits yang akan kita kaji di kesempatan pagi ini.
Berlomba-lombalah dalam Kebaikan

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148). Maksud ayat ini kata Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin adalah jadilah yang nomor satu dalam melakukan kebaikan. (Syarh Riyadhus Sholihin, 2: 6).

Begitu juga Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

Di antara perintah untuk bersegera dalam kebaikan yaitu perintah untuk menduduki shaf pertama. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah shaf pertama dan yang jelek adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir dan yang jelek adalah yang awal.” (HR. Muslim no. 440). Lihatlah di sini, ini adalah perintah yang menandakan untuk segera melakukan kebaikan.

Bersegeralah Melakukan Kebaikan Sebelum Datang Musibah
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).

Hadits ini berisi perintah untuk bersegera melakukan amalan sholih. Yang disebut amalan sholih adalah jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas pada Allah dan mengikuti tuntunan Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Jika tidak memenuhi syarat ini, suatu amalan tidaklah diterima di sisi Allah.

Dalam hadits ini dikabarkan bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam. Artinya fitnah tersebut tidak terlihat. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah mesti berjalan. Ia tidak tahu di manakah tempat keluar.

Fitnah boleh jadi karena syubuhaat (racun pemikiran), boleh jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat).
Fitnah di atas itu diibaratkan dengan potongan malam yang sekali lagi tidak diketahui. Sehingga seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Dalam satu hari, bayangkanlah ada yang bisa demikian. Atau ia di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi harinya kafir. Mereka bisa menjadi kafir karena menjual agamanya.

Bagaimanakah bisa menjual agama?  Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengen perempuan.

Pelajaran lainnya dari hadits ini:

1- Wajibnya berpegang teguh dengan agama.

2- Bersegera dalam amalan sholih sebelum datang cobaan yang merubah keadaan.

3- Fitnah akhir zaman begitu menyesatkan. Satu fitnah datang dan akan berlanjut pada fitnah berikutnya.

4- Jika seseorang punya kesempatan untuk melakukan satu kebaikan, maka segeralah melakukannya, jangan menunda-nunda.

5- Jangan menukar agama dengan dunia yang murah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk bersegera dalam kebaikan dan terus menjaga agama kita.

– – – – – •(*)•- – – – –

SUDAHKAH HARI INI KITA MEMOHON KEPADA ALLAH SURGA ????

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ…..

“Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia adalah surga yang terletak paling tengah dan paling tinggi”
[HR al-Bukhari: 2790]

Panjatkanlah doa-doa Anda di sepanjang hari, terutama nanti di sepertiga malam terakhir, krn waktu tersebut adalah waktu yang diijabahkannya doa seseoarang apabila mereka berdoa diwaktu tersebut, berdasarkan riwayat dari abu hurairah.

Untuk itu wahai saudara-saudariku Jangan lupa, sertakan kami dalam doa-doamu.

Dan semoga Allah mengumpulkan kita semua di Surga Firdaus.

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Perangai Mulia

Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله

Jika kita mengarungi kehidupan ini banyak sekali kita temukan berbagai hal yg mungkin tidak masuk di akal dan sulit di cerna olih pikiran maupun perasaan.

Diantaranya apa yang diriwayatkan Sahabat Muliya Abu Hurairah rodhiyallahu anhu dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Tidaklah harta akan berkurang lantaran sedekah, tidaklah seorang hamba memberikan maaf kecuali menambah baginya kemuliyaan, dan tidaklah seorang hamba merendahkan hati karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajat nya “. HR Muslim.

Berkata Syeh Abdurrohman As-Sa’dy rohimahullah ,” Hadist ini membicarakan keutamaan sedekah, memberi maaf bagi yg berbuat salah, dan anjuran agar tawadhu’ atau rendah hati dan merendahkan diri karena Allah, serta disebutkan pula buah dan hasil dari perangai tersebut segera maupun akan datang, serta dijelaskan pula ketidak benaran prasangka yg kliru dari berkurangnya harta tatkala disedekahkan, hilangnya kemuliyaan tatkala memberi maaf, serta tidak terangkatnya derajat bagi yg melakukan rendah hati. Ini adalah prasangka yg salah dan kliru, lagi tidak benar.

Harta tidak akan berkurang lantaran bebuat sedekah, jika di anggap berkurang dari sisi nominal, maka sungguh harta tersebut bertambah dari sisi lain, seperti menjadi barokah, terhindar dari petaka dan bencana serta terbebas dari berbagai keburukan, bahkan menjadi bertambahnya harta yg di infakkan tersebut, serta membukakan pintu rizki bagi pemiliknya dan menjadi banyak dan melimpah. Apakah sebanding berkurangnya harta tersebut bila disejajarkan aneka keberkahan dan selamat dari keburukan ???

Sedekah yg benar-benar karena mencari wajah Allah dan sesuai porsi nya tidak akan mengurangi harta, hal ini sesuai apa yg di nyatakan Nabi صلى الله عليه وسلم , demikiyan pula kita saksikan banyak kejadian dan banyak pengalaman yg menjadi bukti. Itu semua terlepas dari pahala yg banyak dan ganjaran yg berlipat yg akan Allah berikan kelak diakhirat.

Adapun memberikan maaf bagi orang yg berbuat jahat dan keburukan baik dengan perbuatan dan ucapan maka jangan dianggap ini merupakan sikap hina dan kehinaan, akan tetapi ini adalah muliya dan kemuliyaan. Karena ini lah kemuliyaan yg hakiki disisi Allah dan para makhluk nya, walau sesungguh nya ia mampu menuntut balas dan dendam pada musuhnya.

Diantara hikmah memberikan maaf adalah mendapatkan kebaikan dan sanjungan dihadapan makhluk serta berubahnya musuh menjadi kawan, serta mendapat dukungan secara ucapan dan perbuatan dari berbagai kalangan dihadapan lawannya, dan balasan Allah terhadap hamba sesuai kadar amal perbuatan, jika ia memberi maaf, niscaya Allah سبحانه وتعالى memberikan maaf atas kesalahan-kesalahannya, demikiyan pula orang yg bertawadhu’ rendah hati karena Allah dihadapan para hamba, niscaya Allah akan menganggkat derajatnya.

Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pengangkatan derajat dalam firman Nya ,” Allah menganggkat derajat orang-orang yg beriman dan berilmu diantara kaliyan dengan beberapa derajat “. QS Al Mujadilah 11.

Diantara buah ilmu dan iman adalah tawadhu’ rendah hati, karena didalamnya mengandung konsisten terhadap kebenaran, tunduk terhadap perintah Allah dan Rosul Nya, serta berendah hati dihadapan makhluk Allah, dihadapan kaum tua, dan muda, berpangkat maupun tdk berpangkat, dan lawan itu semua adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia.

Ketiga perangai didalam hadist diatas merupakan bagiyan sifat orang yg muhsin.

Kelompok pertama ia berbuat ihsan dengan hartanya, ia memberikan hartanya kepada orang yg membutuhkan.

Kelompok kedua ia berbuat ihsan dengan sikapnya yg memberi maaf atas kesalahan orang.

Dan yg ketiga kelompok yg berbuat ihsan dg akhlaknya dengan merendah hati dihadapan makhluk.

Kalimat ” Tidak seseorang tawadhu’ rendah hati karena Allah “, ini selayaknya diperhatikan agar berniyat lurus dan ikhlas karena mencari wajah Allah semata dalam bersikap rendah hati, karena sebagiyan manusia terkadang ia menampakkan tawadhu’ rendah hati dihadapan orang kaya agar ia mendapat sebagiyan dunia mereka, atau dihadapan para penguasa dan berjabatan agar ia mendapat tujuan yg ia sembunyikan. Dan terkadang seseorang tawadhu’ lantaran riya agar dilihat dan didengar.

Semua tujuan ini adalah tidak dibenarkan dan tdk akan membawa manfaat, kecuali bila ia tawadhu’ karena Allah semata dalam rangka ibadah kepada Allah, mencari pahala dan berbuat ihsan pada makhluk yg disertai keihlasan kepada Allah.
– Syarah Arbain Syeh Abdurrohman As-Sa’dy 108 –

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Memanfaatkan Nilai Waktu

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam  bersabda:

((اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ, حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ, وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقْمِكَ, وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ, وَشَبَابِكَ قَبْلَ هَرْمِكَ, وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ)) “

Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: masa hidupmu sebelum masa matimu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa mudamu sebelum masa tuamu dan masa cukupmu sebelum masa fakirmu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’(1077))

Generasi salaf (pendahulu umat ini) telah memberikan contoh kongkrit dalam memanfaatkan nilai-nilai waktu. Waktu bagi mereka laksana mutiara berharga yang harus dijaga tanpa disia-siakan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sungguh aku telah berjumpa dengan beberapa kaum (para shahabat Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam ), mereka sangat bersemangat dalam menjaga waktu-waktu mereka melebihi semangat kalian dalam menjaga harta benda kalian.”

Dalam kesempatan yang lain beliau menuturkan:
 “Wahai anak Adam! Sesungguhnya engkau adalah hari-harimu. Bila hilang salah satu harimu hilang sebagian dirimu.”
Ibnu Uqail Al-Hanbali berkata: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan bagi diriku untuk menyia-nyiakan sesaatpun dari umurku..

Ditulis oleh Ust. Abu Riyadl Nurcholis Majid Lc.

– – – – – •(*)•- – – – –

Kasih Sayang Allah Kepada Hamba Hamba-Nya

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Dari ‘Umar bin Khathab Radhiallhu ‘anhu , “Seorang tawanan datang kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasalam , ternyata seorang wanita yang tertawan berusaha menemukan bayinya, dan bayi pun ikut tertawan juga segera ia meraihnya menempelkannya di perutnya dan menyusuinya, lantas Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasalam bersabda: ‘Apakah kalian mengira bahwa wanita tersebut akan melemparkan anaknya ke luapan api?’, kami menjawab: ‘Demi Allah, tidak’,  ‘beliau bersabda:‘Allah lebih sayang kepada hamba-Nya yang mukmin daripada kasih sayang wanita tersebut kepada anaknya’.”

Muttafaqun ‘alaih.
Al-Bukhari dalam al-Adab (10/426) dan Muslim dalam at-Taubah (17/70).

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈