Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Lima Ayat Dalam Surat Annisaa

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Lima ayat dalam surat An Nisaa yang membuat aku tidak bergembira dengan dunia karenanya. Yaitu:

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا (٣١)

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (Qs An-Nisa’ ayat 31)

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۚ وَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا (٤٠)

Sungguh, Allah tidak akan menzholimi seseorang walaupun sebesar dzarroh, dan jika ada kebajikan (sekecil dzarroh), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya. (Qs An-Nisa’ ayat 40)

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا (٤٨)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar. (Qs An-Nisa’ ayat 48)

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا (٦٤)

Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzholimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rosul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. (Qs An-Nisa’ ayat 64)

وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا (١١٠)

Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Qs An-Nisa’ ayat 110)

رواه سعيد بن منصور في ((سننه)) (4/1297)، والطبراني (9/250) (9069)، والحاكم (3194). قال الهيثميُّ في ((مجمع الزوائد)) (7/14): رجاله رجال الصحيح.

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bila Lupa Sujud Sahwi

Syaikh Bin Baz rohimahullah berkata,

فإذا نسي السجود فصلاته صحيحة، إذا نسي سجود السهو فصلاته صحيحة، لكن متى ذكر سجد سجدتي السهو سواء في المسجد أو في بيته، وقال بعض أهل العلم: إذا طال الفصل سقطت، ولكن الأحوط والأولى أنه متى ذكرها ولو طال الفصل سجد سجدتين بنية السهو، سواء في المسجد أو في بيته. نعم.

Apabila lupa sujud sahwi maka sholatnya tetap sah.

Tetapi kapan ia ingat, hendaknya ia sujud sahwi, baik ingatnya di masjid atau di rumahnya.

Sebagian ahli ilmu berkata, “Apabila jedanya panjang maka gugur kewajiban sujud sahwi..” Namun yang lebih hati hati adalah kapan saja ia ingat, walaupun jedanya panjang, hendaklah ia sujud dua kali dengan niat sujud sahwi baik di masjid maupun di rumah.

http://binbaz.org.sa

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Sebab Seseorang Suka Berburuk Sangka

Ibnu Hajar Al Haitami rohimahullah berkata,

وكل من رأيته سيء الظن بالناس، طالبًا لإظهار معايبهم؛
‏ فاعلم أن ذلك لخبث باطنه وسوء طويته.

“Semua orang yang kamu lihat suka berburuk sangka kepada manusia dan ingin menampakkan aib mereka adalah karena busuknya batin dan hatinya.”

(Az Zawaajir 1/143)

Orang yang hatinya bening..
Akan bening pula hatinya kepada manusia..
Dan manusiapun selamat dari lisannya..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Teruslah Berjalan Di Atas Kebaikan

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ للشَّيطانِ لمَّةً بابنِ آدمَ وللملَك لمَّةً فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكذيبٌ بالحقِّ وأمَّا لمَّةُ الملَك فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ فمن وجدَ ذلِك فليعلم أنَّهُ منَ اللهِ فليحمدِ اللَّهَ ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ باللَّهِ منَ الشَّيطانِ الرَّجيمِ ثمَّ قرأ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ الآيةَ

Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam .. dan malaikatpun memiliki bisikan.

Bisikan setan adalah janji dengan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah janji dengan kebaikan dan membenarkan kebenaran.

Siapa yang merasakan itu (yaitu bisikan malaikat) maka hendaklah ia memuji Allah .. dan siapa yang merasakan yang lain (yaitu bisikan setan) maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, ‘Setan itu menjanjikan kefakiran dan menyuruh kepada dosa..’

(Shohih Sunan At Tirmidzi)

Ketika hendak menuntut ilmu..
Setan membisiki, ‘nanti kamu tidak mampu mengamalkannya..’
Ketika hendak mengamalkan sunnah..
Setan membisiki, ‘nanti kamu akan dijauhi orang atau disebut wahabi..’

Maka teruslah berjalan di atas kebaikan..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Orang Yang Panjang Penderitaannya

Asy Syathibi rohimahullah berkata,

“Orang yang penderitaannya panjang adalah orang yang wafat namun dosa dosanya terus mengalir selama seratus, dua ratus tahun, dan ia terus diadzab di kuburnya sebab dosa tersebut..”

(Al Muwafaqot 1/361)

Akibat dosa yang diwariskan..
Merasa suka jika manusia mencontoh perbuatannya yang nista..

Sehingga ia menanggung dosa dosa mereka..
dan terus diadzab di kuburnya selama dosa itu masih diikuti manusia..

Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Dan siapa yang mecontohkan perbuatan yang buruk dalam islam lalu diamalkan (oleh manusia) setelah wafatnya maka ditulis untuknya dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun..” (HR. Muslim no 1017)

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Bentuk Buruk Sangka Kepada Allah

Al Imam Asy Syafi’i rohimahullahu Ta’ala ditanya,

Bagaimanakah bentuk su’udzon (buruk sangka) kepada Allah..?

Beliau rohimahullah berkata,

– rasa was was,
– selalu kawatir akan terjadi musibah,
– kawatir akan hilangnya nikmat darinya,
maka itu semua adalah bentuk buruk sangka kepada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

(Hilyatul Auliya’ – 9/123)

Takut akan masa depan bukanlah sifat orang yang bertawakal kepada Allah..

Kewajiban hamba adalah menyerahkan urusannya kepada Allah .. dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia nyiakan hamba-Nya yang bertakwa..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jiwa Yang Mulia

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

النفوس الشريفة لا ترضى من الأشياء إلا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة، والنفوس الدنيئة تحوم حول الدناءات وتقع عليها كما يقع الذباب على الأقذار، فالنفس الشريفة العلية لا ترضى بالظلم ولا بالفواحش، والنفس الحقيرة والخسيسة بالضد من ذلك

“Jiwa yang mulia tidak ridho kecuali kepada sesuatu yang mulia, paling utama dan terpuji.

Sedangkan jiwa yang rendah selalu berkutat di sekitar perkara yang rendah. Sebagaimana lalat yang suka hinggap pada kotoran.

Jiwa yang mulia tidak tidak ridho kepada kezholiman dan perbuatan keji.

Sedangkan jiwa yang buruk dan rendah sebaliknya..” (Al Fawaid hal. 178)

Bila kita ingin mengetahui bagaimana jiwa kita..
Maka lihatlah kepada apa keinginan kita..

Jika selalu menginginkan kebaikan, ketaatan dan taqwa..
Maka itulah jiwa yang mulia..

Namun jika lebih menyukai maksiat, zholim dan perbuatan jelek..
Maka itulah keadaan jiwa kita..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kabar Gembira

Allah ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ (٥٤)

Wahai orang-orang yang beriman..! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.

(Q.S. Al-Ma’idah ayat 54)

Syaikh Ibrahim Arruhaili hafizhohullah berkata,

“Padanya terdapat kabar gembira yang agung untuk umat islam. Yaitu siapa yang murtad dari agama islam maka Allah akan menggantikannya dengan kaum yang lain yang lebih baik, yang disifati dengan sifat sifat yang agung yang disebutkan dalam ayat tersebut..”

(Husnul Ifadah 7-8)

Dan kita saksikan sendiri janji Allah ini. Saat di negeri kita banyak yang murtad, di belahan dunia sana banyak yang masuk islam dan keislaman mereka bagus.

Maka buat kamu yang murtad, ingatlah bahwa islam tidak akan menjadi sirna dengan murtadnya kamu bahkan islam semakin bercahaya.

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Tanda Hati Yang Sehat

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

ومنها: أن يكون اهتمامه بتصحيح العمل أعظم منه بالعمل، فيحرص على الإخلاص فيه والنصيحة والمتابعة والإحسان، ويشهد مع ذلك منة الله عليه فيه وتقصيره فى حق الله.

Diantara tanda hati yang sehat adalah ketika perhatiannya untuk meluruskan amal ibadah itu lebih besar dari (semangat) beramal.

Maka ia bersungguh sungguh untuk :
– ikhlas,
– meluruskannya,
– mutaba’ah, dan
– ihsan

Dan ia mengakui bahwa amal itu adalah pemberian dari Allah dan ia merasa masih banyak kekurangan dalam melaksanakan hak Allah.

(Ighotsatulahafan 1/72)

Maka ia berusaha untuk mencari dalilnya sebelum beramal..
Dan berusaha sesuai dengan tuntunan Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wasallam..

Karena amal ibadah tanpa ikhlas dan mutaba’ah adalah sia sia..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(*) Mutaba’ah = mengikuti sunnah dan petunjuk Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam

Diantara Penyebab Allah Turunkan Suatu Musibah Pada Diri Seorang Hamba

Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى

“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan untuknya derajat (yang tinggi) namun amalnya tidak mencapainya, maka Allah akan timpakan padanya musibah pada :
– dirinya,
– hartanya atau
– pada anaknya,
kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada derajat yang telah Allah tetapkan untuknya..”

(HR. Abu Daud no. 2686)

Musibah bukan hanya untuk menggugurkan dosa..
Tidak juga selamanya menunjukkan pelakunya banyak dosa..

Namun terkadang karena amalnya yang kurang..
Sementara Allah telah menentukan derajat yang tinggi untuknya..
Maka Allah pun terus mengujinya hingga sampai kepada derajat tersebut..

Maka pujilah Allah saat ditimpa musibah..
Karena Dia tidak pernah menzalimi hamba-Nya..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى