Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #3

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #2) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #3 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan sekarang At Takfiir wa Dhowabithhu..

Kemarin kita telah menyebutkan tentang sejarah munculnya firqoh yang mengkafir-kafirkan, pertama adalah khawarij kemudian syi’ah dan ternyata semua kalangan ahli bid’ah mengkafirkan lawannya.

Kemudian Beliau menyebutkan tentang sejarah pemikiran takfiri yang mudah mengkafirkan di zaman belakangan ini.

Kata Beliau,
“pemikiran takfiri di zaman ini telah tersebar luas sekali, dimana yang membawa pemikiran takfiri di zaman ini, yang paling besar adalah yaitu pemikiran Sayid Quthub, yang merupakan Imam/tokoh paling dikagumi dalam ikhwanul muslimin.”

Dimana kitab-kitab Sayid Quthub ini sangat tersebar hampir keseluruh negeri-negeri Islam. Dan kitab-kitab Sayid Quthub ini dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan mengkafirkan para pemimpin kaum muslimin bahkan masyarakat kaum muslimin di hari ini.

Contoh misalnya perkataan Sayid Quthub dalam kitab Ma’alim Fiithoriiq hal 158. Dia berkata:

“Masalah ini sebetulnya masalah kufur dan iman, masalah syirik dan tauhid, masalah jahiliyah dan Islam. Dan ini hendaknya jelas, sesungguhnya manusia di zaman ini bukanlah kaum muslimin sebagaimana mereka aku-akui, dimana mereka hidup dengan kehidupan jahiliyah”

Lihat… Sayid Quthub dalam buku ini mengatakan bahwa manusia di zaman ini bukan kaum muslimin, dia mengkafirkan seluruh kaum muslimin di zaman itu.

Dalam kitab Fi Dzilalil Qur’an jilid 2 hal 1057, ia berkata,
“sungguh zaman telah berputar sebagaimana dahulunya saat datang agama ini membawa Laa Ilaaha Illallah, dan manusia telah murtad menuju ibadah kepada manusia dan kepada kezholiman agama-agama”

Kemudian ia berkata,
“manusia-manusia yang murtad itulah yang suka mendengung-dengungkan adzan di timur maupun di barat dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah tanpa dipahami maknanya..”

Lihatlah Sayid Quthub dalam kitab Fi Dzilalil Qur’an itu, menyebutkan bahwa orang-orang yang ada di zamannya kaum muslimin dari timur sampai barat, bahkan yang mengumandangkan adzanpun dianggap murtad dari agama Islam. Dia menuduh bahwa mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah itu tanpa memahami maknanya.

Dia juga (Sayid Quthub) berkata dalam Fi Dzilalil Qur’an jilid 4 hal 2122,
“sesungguhnya tidak ada dimuka bumi hari ini negeri-negeri Islam (negeri muslim). Tidak ada pula masyarakat muslim.”

Lihat Sayid Quthub mengatakan bahwa di zamannya sudah tidak ada negeri Islam, semuanya kafir (menurut dia). Tidak ada lagi masyarakat Islam, semuanya kafir (menurut dia).

Ini menunjukkan bahwa pemikiran-pemikiran takfiri itu telah disebarkan racun-racunnya oleh Sayid Quthub yang menyesatkan ini, yang kemudian pemikiran-pemikiran Sayid Quthub ini, disebarkan oleh para pengikutnya dari kalangan ikhwanul muslimin.

Oleh karena itulah semua pemikiran-pemikiran takfiri di zaman sekarang dari kalangan kaum harokiyyin ini berasal dari pemikiran takfirinya Sayid Quthub. Bahkan Ulama-Ulama besar mereka sendiri mengakui itu.

Contoh misalnya Yusuf Al Qordowiy. Al Qordowiy berkata:
“Dalam fase ini muncullah kitab-kitab Sayid Quthub, dimana ia adalah merupakan fase terakhir dari pemikirannya yang tampak jelas dia mengkafirkan masyarakat”

Yusuf Al Qordowiy mengakui bahwa Sayid Quthub itu mempunyai pemikiran takfiri, mengakafirkan masyarakat yang ada di zaman itu.

Demikian pula yang diakui oleh Farid Abdul Kholik dalam kitab Al Ikhwanul Muslimun dalam Mizanul Haq.

Adapun Yusul Al Qordowiy tadi dalam kitab Auwaliyat Aul Harokah Islamiyah di hal 110.

Ini menunjukkan bahwa munculnya pemikiran takfiri di zaman ini memang kebanyakan dibawa oleh kaum yang menisbatkan diri kepada ikhwanul muslimin yang sangat mengagumi Sayid Quthub.

Dan di zaman ini banyak sekali pemikiran atau pengikut-pengikutnya baik di negeri kita ataupun di negeri-negeri yang lainnya.

Allahul musta’aan 🌼
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

KITAB FIQIH – Anjuran Untuk Banyak Berdo’a Di Hari Jum’at

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Keutamaan Hari Jum’at  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. masih di bab tentang sholat Jum’at..

⚉ DIANJURKAN BANYAK BERDO’A DI HARI JUM’AT

⚉ Dari Abdullah bin Salam (orang Yahudi) Ia berkata,
“aku berkata, sementara Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam duduk, “kami mendapatkan dalam kitabullah (taurat) tentang hari Jum’at suatu saat yang tidaklah bertepatan dengan seorang mukmin yang sedang sholat dan minta kepada Allah kecuali pasti akan diijabah.” Maka Rosulullah mengisyaratkan tentang waktunya yaitu sedikit, kemudian aku berkata, “engkau benar, sebagian waktu saja tidak semuanya,”
lalu aku bertanya, “kapan saat-saat itu (yang diijabahnya do’a) ?”
Maka beliau berkata, “ia adalah saat-saat terakhir dari siang,”
aku berkata, “sesungguhnya ia bukan saat sholat,”
beliau berkata, “iya sesungguhnya hamba mukmin apabila sedang sholat kemudian ia duduk untuk menunggu sholat berikutnya, tidak ada yang mencegah ia untuk pulang kecuali sholat maka ia berada didalam sholat.” (HR. Ibnu Majah)

⚉ Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“sesungguhnya dihari Jum’at itu ada saat-saat, tidaklah bertepatan dengan muslim yang minta kepada Allah kebaikan kecuali Allah akan ijabah” (HR. Muslim)

⚉ Dari Jabir bin Abdillah, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً ، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“hari Jum’at itu ada 12 jam, tidaklah ditemukan seorang hamba muslimpun yang minta kepada Allah kecuali pasti Allah akan berikan, carilah oleh kalian waktu ijabah (mustajab) tersebut diakhir waktu setelah sholat ashar” (HR. Abu Daud)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa waktu yang mustajab pada hari Jum’at yaitu di akhir-akhir ashar.

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa ia adalah antara naiknya imam ke mimbar sampai turunnya imam ke mimbar ini adalah merupakan riwayat yang syad disebutkan oleh para ulama. Yang shohih dan yang rojih adalah waktu terakhir dari waktu ashar.

Disini juga menunjukkan bahwa kita sangat dianjurkan setelah ashar sampai maghrib itu untuk menyibukkan diri di hari Jum’at untuk banyak berdo’a dari pada ashar sampai maghrib.

Maka dari itu para shalafush-sholih terdahulu itu disore hari Jum’at mereka berada dimasjid mengkhususkan untuk i’tikaf antara ashar sampai maghrib untuk khusus berdo’a kepada Allah subhaanahu wata’aala

Hadits ini juga menyebutkan bahwa hari Jum’at itu ada 12 saat, kalau kita sebut saat itu jam, berarti bisa kita katakan mulai dari jam 6 sampai dengan jam 6 lagi misalnya, jam 6 pagi sampai dengan jam 6 sore misalnya, maka itu 12 saat.

Berarti hadits ini menunjukkan bahwa penentuan jam yang ada itu mirip dengan yang ada di zaman Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam.

.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

TIGA Tingkatan Manusia – Ibnul Qoyyim rohimahullah

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar

(الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار)

yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Rozi dan Abu Hatim Ar-Rozi rahimahumallah.

da1608161445

Orang Yang Mendapat NIKMAT Kubur Merasakan Sebagian dari Nikmat SURGA dan Begitu Pula Sebaliknya

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar

(الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار)

yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Rozi dan Abu Hatim Ar-Rozi rohimahumallah.

Bila Ada Yang Mencacimu

Sifat manusia bila dicaci atau diburuk burukkan pasti akan murka..
ia ingin membalas dengan cara mencacinya kembali..
siapa hati yang tak panas..
tapi..
membalas dengan yang serupa tak ada gunanya..
karena kebodohan tak baik bila dibalas dengan kebodohan lagi..
lihatlah anjing itu..
gonggongannya tak digubris orang..
tapi lihatlah singa itu..
diamnya membuat ia ditakuti..

oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن امرؤ سبك بما يعلم فيك ، فلا تسبه بما تعلم فيه ، فإن أجره لك و وباله على من قاله ” .

“Jika ada orang yang mencacimu dengan aib yang ia ketahui ada padamu..
janganlah kamu balas mencacinya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya..
karena pahalanya untukmu..
dan dosanya untuk dia..”
(HR Ahmad)

Namun..
perbuatan ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang yang bersabar..
dan berjiwa besar..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى 

da1705161620

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #2

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #1) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab At Takfiir wa Dhowabithhu..

Kemarin telah kita sebutkan perbedaan Ahlussunnah dengan murji’ah, sekarang kita menyebutkan perbedaan Ahlussunnah dengan khowarij dan mu’tazilah.

Ada TIGA perbedaan yang utama:
1⃣ Bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa pokok iman itu disertai adanya dosa.

Sementara khowarij dan mu’tazilah mengatakan bahwa iman itu hilang sama sekali, apabila disertai dengan dosa. Dimana mereka mengkafirkan para pelaku dosa besar, sedangkan Ahlussunnah tidak mengkafirkan pelaku dosa besar.

2⃣ Ahlussunnah wal Jama’ah membedakan Islam dan Iman ketika Islam dan Iman bersatu dalam satu kalimat.

Sementara khowarij dan mu’tazilah tidak membedakan Islam dan Iman.

3⃣ Ahlussunnah wal Jama’ah berbeda dengan khowarij dan mu’tazilah dalam memberi nama orang fasik.

Ahlussunnah mengatakan orang fasik yaitu pelaku dosa besar muslim.
Sementara khowarij dan mu’tazilah meyakini bahwa pelaku dosa besar atau fasik itu kafir, dan dia tidak akan pernah masuk surga selama-lamanya.

Ini tiga perbedaan yang sangat utama antara Ahlussunnah dan khowarij.

Kemudian Beliau menyebutkan tentang sejarah munculnya keyakinan mengkafirkan dengan tanpa dalil. Ketahuilah (kata Beliau) bahwa kafir-mengkafirkan dengan tanpa hujjah, yang pertama yang melakukannya adalah kaum khowarij.

Dimana kaum khowarij pertama itu muncul saat terjadi perang antara ‘Ali dan Mu’awiyah di perang shiffin, lalu kemudian terjadilah perdamaian antara ‘Ali dan Mu’awiyah, dimana ‘Ali mengirimkan Abu Musa Al-‘Asy’ari sebagai utusan dan muawiyah mengirimkan ‘Amr bin Al-Ash sebagai utusan.

Lalu kemudian keluarlah sekitar 12.000 orang dan mengatakan bahwa ‘Ali menyerahkan hukum kepada manusia, Mu’awiyah menyerahkan hukum kepada manusia, padahal hukum itu hanya milik Allah, lalu mereka mengkafirkan ‘Ali dan Mu’awiyah dan mengatakan bahwa ‘Ali dan Mu’awiyah tidak berhukum dengan hukum Allah.

Kemudiaan, tadinya ‘Ali membiarkan mereka, namun ketika mereka telah berani berbuat kerusakan dengan cara membunuh, diantaranya Abdullah bin Al Araj dan anak-anaknya serta budaknya, maka ‘Ali bin Abi Thalib pun kemudian bermusyawarah dengan para sahabat dan para sahabat semuanya sepakat bahwa mereka itulah yang dimaksud oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam,
“Akan muncul kelompok saat kaum muslimin berpecah belah, mereka membaca Alqur’an namun tidak sampai ke kerongkongan mereka”

Maka kemudian ‘Ali bin Abi Thalib pun memerangi kaum khowarij itu dan orang-orang khowarij itupun berhasil ditumpas oleh ‘Ali bin Abi Thalib dimana mereka semua terbunuh kecuali 9 orang atau 7 orang. Mereka berhasil melarikan diri.

Kelompok kedua yang mengkafirkan yaitu syi’ah rofidhoh.

Dimana mereka mengkafirkan seluruh para sahabat Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam. Ini dia Ulama syi’ah yang bernama Almufid berkata (kata dia), “dimana kelompok imamiyah, zaidiyah dan khowarij sepakat bahwa para sahabat semuanya kafir dan tersesat.”

Demikian pula yang dikatakan dalam kitab al-Kafiy, bahwa para sahabat semuanya telah kafir, kecuali 3 orang saja, yaitu Al Miktad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifary dan Salman Al Farisi.

Dan kemudian juga ternyata hampir seluruh ahli bid’ah mengkafirkan satu sama lainnya.

Makanya kafir mengkafirkan itu hampir ada pada setiap kelompok ahli bid’ah yang mengkafirkan kelompok lainnya yang tidak setuju dengan pendapatnya.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

Tidak Merayakan Tahun Baru… Namun Makan-Makan dan Begadang Di Malam Tersebut, Bolehkah..?

Bila berkumpul dan mengadakan acara makan-makan dan begadang di malam tahun baru, tapi tidak merayakannya. Bolehkah ? Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Manusia Akan Menjadi Baik Jika Bukan Karena Tiga Perkara Ini

Abu Darda rodhiyallahu ‘anhu berkata:

لَوْلَا ثَلَاثٌ لَصَلُحَ النَّاسُ، لَوْلَا هَوًى مُتَّبِعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ كُلِّ ذِي رَأَى بِرَأْيِهِ

“Jika bukan karena tiga perkara ini, manusia akan menjadi baik,
⚉ kekikiran yang diikuti,
⚉ hawa nafsu yang ditaati dan
⚉ setiap orang berbangga dengan pendapatnya sendiri”

(Kitab Azzuhdu karya Imam Ahmad)

Islam tidaklah berdasarkan pendapat akal semata..
Namun berdasarkan wahyu..
Dan apa yang difahami oleh para sahabat dan para ulama setelahnya…
Siapapun yang berbicara dalam agama ini, wajib ia berdasarkan wahyu…
Adapun merasa diri intelek lalu berbicara seenaknya dalam agama..
Maka ini sumber munculnya berbagai macam keburukan…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ejekan Manusia Kepadamu Tidak Akan Membahayakanmu, Kecuali…

Syaikh Abdurrahman Assa’diy rohimahullah berkata,

: ‏من الأمورالنافعةأن تعرف أن أذيةالناس لك وخصوصاًفي الأقوال السيئة،لا تضرك بل تضرهم،إلا إن أشغلت نفسك في الاهتمام بها،وسوغت لها أن تملك مشاعرك،فعند ذلك تضرك كماضرتهم ، فإن أنت لم تضع لها بالاً لم تضرك شيئا “

“Diantara perkara yang bermanfaat adalah kamu mengetahui bahwa ejekan manusia kepadamu dengan kata-kata yang buruk tidak akan membahayakanmu. Justru membahayakan mereka.

Kecuali jika kamu sibuk menanggapinya dan hatimu terbawa emosi. Maka di saat itu membahayakanmu sebagaimana membahayakan mereka. Tapi jika kamu tidak memperdulikannya maka tidak akan membahayakanmu.”

[al Wasaailul Mufiidatu Lil Hayaatis Sa’iidah hal 16]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

KITAB FIQIH – Keutamaan Hari Jum’at

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Haruskah NIAT Dan MUWALAH Dalam Jama’ Dan Qoshor..?  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. kita masuk ke pembahasan..

⚉ KEUTAMAAN HARI JUMA’T

Banyak sekali keutamaan-keutamaan yang disebutkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam tentang hari Jum’at diantaranya ;

⚉ Hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ.”

“Sebaik baik hari yang matahari terbit adalah hari Jum’at, dihari Jum’at Nabi Adam diciptakan, diihari Jum’at Nabi Adam dimasukan kedalam surga, dihari Jum’at juga Nabi Adam dikeluarkan dari dalam surga dan tidak tegak hari kiamat kecuali di hari Jum’at.” (HR. Muslim)

⚉ Hadits Abu Ulubabah bin Abi Mundzir ia berkata, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُ

Sesungguhnya hari Jum’at itu adalah penghulunya hari, dia yang paling besar disisi Allah dan bahkan lebih agung disisi Allah daripada Idul Adha dan Idul Fitr. Pada hari Jum’at terdapat lima perkara, padanya Allah menciptakan Nabi Adam, dihari itu juga Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, dihari Jum’at juga Allah wafatkan Nabi Adam, dan dihari Jum’at juga terdapat sebuah waktu tidaklah seorang hamba minta kepada Allah padanya kecuali Allah pasti berikan selama tidak minta yang haram, dihari Jum’at juga ditegakkan hari kiamat,

tidak ada satupun malaikat yang didekatkan tidak juga langit, tidak juga angin, tidak juga gunung, tidak juga laut kecuali mereka semua merasa takut dengan datangnya hari Jum’at (maksudnya, dikhawatirkan akan tegaknya hari kiamat)”

(HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

⚉ Hadits Anas bin Malik, ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam berkata,

أتاني جبريل وفي يده كالمرآة البيضاء فيها كالنكتة السوداء فقلت يا جبريل ما هذه قال الجمعة قال قلت وما الجمعة قال لكم فيها خير قال قلت وما لنا فيها قال يكون عيدا لك ولقومك من بعدك ويكون اليهود والنصارى تبعا لك قال قلت وما لنا فيها قال لكم فيها ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله فيها شيئا من الدنيا والآخرة هو له قسم إلا أعطاه إياه أو ليس بقسم إلا ادخر له عنده ما هو أفضل منه أو يتعوذ به من شر هو عليه مكتوب إلا صرف عنه من البلاء ما هو أعظم منه قال قلت له وما هذه النكتة فيها قال هي الساعة هي تقوم يوم الجمعة وهو عندنا سيد الأيام ونحن ندعوه يوم القيامة ويوم المزيد قال قلت مم ذاك قال لأن ربك تبارك وتعالى اتخذ في الجنة واديا من مسك أبيض فإذا كان يوم الجمعة هبط من عليين على كرسيه تبارك وتعالى ثم حف الكرسي بمنابر من ذهب مكللة بالجواهر ثم يجيء النبيون حتى يجلسوا عليها وينزل أهل الغرف حتى يجلسوا على ذلك الكثيب ثم يتجلى لهم ربك تبارك وتعالى ثم يقول سلوني أعطكم قال فيسألونه الرضى فيقول رضائي أحلكم داري وأنيلكم كراسي فسلوني أعطكم قال فيسألونه قال فيشهدهم أنه قد رضي عنهم قال فيفتح لهم ما لم تر عين ولم تسمع أذن ولا يخطر على قلب بشر قال وذلكم مقدار انصرافكم من يوم الجمعة …. قال فليسوا إلى شيء أحوج منهم إلى يوم الجمعة ليزدادوا إلي ربهم نظرا وليزدادوا منه كرامة

“Hari Jum’at ditampakkan kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, dibawa oleh malaikat Jibril ditangannya bagaikan cermjn yang berwarna putih, dan ditengahnya seperti goresan hitam, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “apa ini wahai Jibril ?” Ini adalah hari Jum’at, Allah menampakkannya kepadamu agar menjadi hari raya untukmu dan untuk kaummu setelahmu, dan untuk kalian padanya kebaikkan, dimana engkau mendapatkan yang pertama yaitu hari Jum’at sedangkan Yahudi dan Nasrani setelahmu.

Dan dihari Jum’at terdapat waktu tidaklah seorang hamba berdo’a pada Robbnya dengan kebaikkan kecuali pasti Allah akan berikan, atau ia berlindung dari keburukan kecuali pasti akan dilindungi dengan sesuatu yang lebih agung darinya, sementara kami menyebutnya dihari akhirat sebagai hari tambahan”

(HR. ath-Thabrani dengan sanad yang jayid dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

⚉ Hadits Abu Musa Al Asy’ari ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Allah mengutus hari-hari pada hari kiamat sesuai dengan keadaannya, dan Allah mengutus hari Jum’at dalam keadaan ia bercahaya dan bersinar, dimana ahlinya mengelilinginya bagaikan pengantin yang dikirim kepada suaminya yang akan memberikan cahaya untuk mereka dimana mereka akan berjalan dibawah cahaya Jum’at tsb.

warna mereka bagaikan salju (putihnya) sementara wanginya mereka bagaikan harum semerbak bagaikan kasturi, mereka berada digunung gunung wewangian, dimana manusia dan jin melihat kepada mereka, mereka tidak mengedipkan mata karena saking kagumnya sampai mereka masuk surga, tidak ada yang sama dengan mereka kecuali orang orang yang adzan yang berharap pahala”

(HR. Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan lainnya dan Syaikh al-Albani menilainya shohih)
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah