Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Tamu dan Jamuannya…

‏قال ابن عقيل الحنبلي: النعم أضياف وقراها الشكر، والبلايا أضياف وقراها الصبر، فاجتهد أن ترحل الأضياف شاكرة حسن القرى، شاهدة بما تسمع وترى.
الآداب الشرعية لابن مفلح الحنبلي

Ibnu ‘Aqil Al Hanbali rohimahullah berkata,

“Nikmat itu tamu dan jamuannya adalah syukur. Ujian juga tamu dan jamuan untuknya adalah sabar…

Usahakan saat tamu pergi ia berterima kasih atas bagusnya jamuan, dan bersaksi terhadap apa yang ia dengar dan lihat.”

[al-Adaab asy-Syar’iyah Li Ibni Muflih Al Hanbali]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(Twitter @UB_CintaSunnah)

Lebih Baik…

‏قال شيخ الإسلام ابن_تيمية :
(مُصيبةٌ تُقبِلُ بك على الله، خيرٌ لك من نعمةٍ تُنسِيك ذكرَ الله).
__
جامع المسائل ٣٨٧/٩

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Musibah yang membuatmu kembali kepada Allah lebih baik dari pada kenikmatan yang membuatmu lupa kepada Allah.”

[Jaami’ul Masaa-il 387/9]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(Twitter @UB_CintaSunnah)

Bagi Yang Keinginan Terbesarnya Adalah Dunia…

‏قال أبا معاوية الأسود رحمه الله :
من كانت الدنيا أكبر همه طال غداً في القيامة غمه
– الزهد لابن أبي الدنيا

Abu Mu’awiyah Al Aswad rohimahullah berkata,

“Siapa yang keinginan terbesarnya adalah dunia, maka esok di hari kiamat akan panjang kegundahannya.”

[ Az Zuhd Li Ibni Abid Dunya ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(Twitter @UB_CintaSunnah)

Wasilah Dakwah…

Sebagian orang yang berdakwah menggunakan berbagai macam wasilah untuk berdakwah… Yang harus diperhatikan dalam wasilah berdakwah adalah:

Pertama: Tidak boleh menyelsihi nash atau kaidah kaidah agama.

Kedua: Tidak boleh wasilah itu dengan perkara yang dilarang syari’at seperti musik, atau kedustaan atau sebagainya.

Ketiga: Wasilah jangan dijadikan sebagai tujuan. Contohnya membuat lembaga dakwah. Namun ketika fanatik kita hanya kepada lembaga tsb maka ini berubah menjadi hizbiyah yang terlarang.

Keempat: Tidak boleh menimbulkan kerusakan yang lebih besar akibat wasilah tersebut.

Kelima: Dugaan kuat akan terwujud tujuan dengan wasilah tersebut.

[Qowa’id Wadhowabith Fiqh Dakwah hal. 207]

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Merasa Paling Benar…

‘Jangan merasa paling benar sendiri..’
sebuah ucapan yang sering terdengar..
untuk berkilah ketika ditegur atau diingatkan..

Padahal merasa benar adalah fitrah manusia.. karena tidak ada di dunia ini yang merasa paling sesat sendiri..

Lihatlah Fir’aun, ia berkata:
“Aku tidaklah memandang kecuali yang aku pandang baik, dan aku hanyalah membimbing kalian kepada jalan kebenaran.” (Ghafir: 29).

Bila ada yang berkata kepadamu: “Jangan merasa paling benar sendiri.”
tanyalah ia: “Anda berkata demikian apakah merasa benar ?”
tentu ya..

Merasa paling benar dalam perkara yang telah jelas dalilnya.. adalah perkara yang diperintahkan..

Sedangkan dalam perkara yang bersifat ijtihad dan tidak ada nash yang gamblang.. maka kita hanya memilih yang kita pandang kuat tanpa menyesatkan yang lainnya..

Yang salah adalah orang yang merasa paling benar.. namun tidak memiliki hujjah dan dalil yang kuat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

KITAB FIQIH – Qodho Sholat…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Apa Saja Yang DILARANG Dilakukan Dalam Sholat..? # 2  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. 

⚉ MENGQODHO SHOLAT

Yang perlu diketahui bahwa mengqodho sholat itu adalah bagi mereka yang mempunyai udzur, sepert orang yang ketiduran atau lupa.

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits Anas,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

“Siapa yang lupa sholat (dalam suatu riwayat tertidur darinya) maka hendaklah ia sholat saat ia ingat, tidak ada kaffarat untuknya kecuali itu.” [HR Bukhari dan Muslim]

Dalam suatu riwayat yang lain Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
“Orang yang tertidur dari sholat tidak dianggap meremehkan, yang dianggap meremehkan itu adalah yang dia sadar, tidak tidur, tidak lupa tapi sengaja ia tinggalkan.”

Maka dari itu ini yang diwajibkan bagi mereka untuk mengqodho sholatnya.

Namun apakah orang yang meninggalkan sholat secara sengaja bukan karena tertidur bukan pula karena lupa juga wajib mengqodho atau tidak ?

Khilaf para ulama, sebagian ulama mengatakan wajib qodho, alasannya kata mereka di qiyaskan kepada orang yang mempunyai udzur, artinya orang yang punya udzur saja seperti ketiduran demikian pula orang yang lupa saja wajib qodho apalagi yang tidak punya udzur.

Akan tetapi perlu kita pahami bahwa pendapat yang paling kuat Allahu a’lam orang yang meninggalkan sholat secara sengaja tidak ada qodho untuknya dan tidak ada manfa’at qodho untuk dia. Karena sbb ;

1️⃣ Tidak bisa disamakan orang yang ketiduran, yang punya udzur dengan orang yang tidak punya udzur. Karena Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam ketika menyebutkan orang yang tertidur Nabi mengatakan ‘orang yang tertidur itu tidak dianggap meremehkan’, akan tetapi yang meremehkan itu siapa ? Yaitu orang yang meninggalkan sholat dalam keadaan ia sengaja.

Disini Nabi membedakan antara orang yang ketiduran dengan orang yang sengaja meninggalkan, dimana Nabi hanya memerintahkan untuk mengqodho sholat bagi orang yang ketiduran atau lupa, tapi Nabi tidak memerintahkan dan tidak ada satupun perintah untuk mengqodho orang yang meninggalkan sholat secara sengaja.

2️⃣ Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyebut bahwa itu kaffaratnya, dimana Nabi bersabda tentang orang yang ketiduran atau lupa, ‘hendaklah ia sholat saat ia ingat dan tidak ada kaffarat untuknya kecuali itu’, sementara kaffarat itu pada asalnya tidak ada sampai ada dalil yang mewajibkannya. Karena kaffarat itu sifatnya ‘tauqifiyah’ (menunggu dalil) dan ternyata tidak ada dalil sama sekali, dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam (bahwa) orang yang meninggalkan sholat secara sengaja untuk membayar kaffarat dengan cara mengqodhonya, karena tidak ada manfaatnya lagi dia mengqodho, karena saking besar dosa yang ia lakukan.

3️⃣ Demikian pula Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits bahwa, ‘amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah sholat, jika ia menyempurnakan sholatnya maka ditulis sempurna untuknya jika ia tidak sempurna maka Allah berfirman pada malaikat, ‘lihat, apakah hambaku memiliki sholat sunnah atau tidak ?’ Maka jika ada hendaklah sempurnakan kekurangan yang ada pada sholat fardhunya.’

Dalam hadits itu disebutkan jika ia ada kekurangan Allah berfirman kepada malaikatNya, ‘lihat, adakah sholat sunnah ?’ Allah TIDAK mengatakan, ‘lihat, dia mengqodho apa tidak ?’
Berarti itu menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan sholat secara sengaja tidak ada qodho buat dia.

Imam Ibnu Qoyyim rohimahullah telah berbicara panjang lebar di dalam kitab beliau, dimana beliau membantah pendapat yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan sholat secara sengaja itu tetap wajib qodho, karena ini sama sekali tidak ada dalilnya secara syari’at dan qiyas dengan orang yang punya udzur jelas qiyas yang jauh berbeda.

Bagaimana bisa disamakan orang yang punya udzur dengan orang yang tidak punya udzur. Ini namanya qiyas dengan adanya perbedaan dan ini qiyas yang bathil.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Apakah IKHLAS Itu Artinya Tidak Memaksakan Diri Dalam Beramal..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da161017-1958

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Pembagian Bid’ah # 1…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Bid’ah Hasanah # 5…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Pembagian Bid’ah # 1 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan.. kitab ‘Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa’.. Kita masuk jilid 2.., yaitu tentang..

⚉ PEMBAGIAN BID’AH

Pembagian bid’ah itu dilihat dari berbagai macam sisi
Kata Beliau, “Bid’ah dilihat dari zatnya, itu terbagi menjadi dua:
Bid’ah Haqiqiyah
Bid’ah ‘Idhofiyah

➡ Apa itu ‘BID’AH HAQIQIYAH’ ? yaitu bid’ah yang benar-benar tidak didasarkan kepada dalil yang mu’tabar (yang dianggap oleh syari’at).

Imam asy-Syatibi mendefinisikan ‘bid’ah haqiqiyah’, “yaitu yang sama sekali tidak ditunjukkan oleh dalil syari’at, tidak dari Alqur’an, tidak pula dari sunnah, tidak pula ijma’, tidak pula pendalillan yang dianggap menurut para Ulama (pendalillan yang diterima disisi para Ulama) baik secara global maupun secara terperinci.” [Dilihat Al’itishom jilid 1 – 286]

Disini Beliau mengatakan bahwa ‘bid’ah haqiqiyah’ adalah bid’ah yang sama sekali tidak di tunjukkan oleh dalil, artinya tidak ada asalnya sama sekali dari syari’at.

Kemudian disini Beliau membahas tentang masalah..

⚉ DALIL YANG DIGUNAKAN OLEH AHLI BID’AH

Kata Beliau dalil yang digunakan oleh ahli bid’ah untuk membenarkan kebid’ahan mereka itu ada dua:

1⃣ Dalil-dalil yang tidak diterima dalam syari’at dan tidak dianggap dalil secara syari’at, ini ada dua macam

Macam yang pertama, yaitu dalil-dalil yang rusak secara asalnya.
Contoh misalnya berdalil dengan sebatas dengan perasaan atau dengan akal saja, seperti yang dilakukan kaum mu’tazilah, atau dengan kasyaf seperti yang dilakukan oleh orang-orang sufi, atau berdalil dengan mimpinya wali dan yang lainnya.

Yang kedua, yaitu dalil-dalil yang sanadnya dho’if jiddan, atau bahkan palsu, yang asanadnya lemah, tidak bisa dijadikan hujjah.
Maka yang seperti ini tidak bisa dijadikan dalil

Ini yang pertma, artinya bagian yang pertama yaitu dalil-dalil yang tidak diterima secara syari’at.

2⃣ Dalil-dalil yang bisa diterima secara syari’at tapi dipahami dengan pemahaman yang tidak benar.

Contoh misalnya orang-orang syi’ah punya keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib itu ada di awan. Mereka menafsirkan firman Allah Qs Yusuf : 80

‎فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي

dan aku tidak akan meninggalkan bumi hingga ayahku mengizinkan aku atau Allah menghukumi aku”

‎وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

Kata orang syi’ah maksudnya Ali, padahal ayat ini berhubungan dengan kisah Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya. Tidak ada hubungan sama sekali dengan Ali bin Abi Thalib, tapi pemahamannya dipaksakan oleh mereka. Maka ini jelas dalil yang bathil, walaupun ayatnya benar.

Jadi ‘bid’ah haqiqiyah’ adalah bid’ah yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam dan tidak ada asalnya. Contoh misalnya perayaan maulid Nabi, perayaan Isro’ Mi’roj, demikian pula sholat-sholat yang berdasarkan hadits palsu, seperti sholat nifsu sya’ban, sholat roghoib.

➡ Kemudian ada lagi ‘BID’AH ‘IDHOFIYAH’, yaitu bid’ah yang ditambahkan dari perkara yang disyari’atkan.

Contoh misalnya sholat adalah disyari’atkan dalam Islam, namun ditambah-tambah seperti ditambah dengan mengucapkan usholli fardho, dikeraskan niatnya, demikian pula ketika salam, assalamu’alaikum ke kanan sambil telapak tangannya dibuka.
Ini namanya ditambahkan dari perkara yang disyari’atkan, maka ini disebut dengan ‘bid’ah ‘idhofiyah’.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

KITAB FIQIH – Apa Saja Yang DILARANG Dilakukan Dalam Sholat..? # 2

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Apa Saja Yang DILARANG Dilakukan Dalam Sholat..? # 1  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. 

⚉ PERKARA YANG DILARANG DALAM SHOLAT # 2

1️⃣1️⃣ Sholat dalam keadaan ngantuk. Dari ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّى فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِى لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian mengantuk dalam sholat hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya, karena seseorang dari kalian apabila sholat dalam keadaan ngantuk barangkali tadinya ia ingin istighfar malah ia mencaci dirinya.” [HR. Bukhori dan Muslim]

1️⃣2️⃣ Meludah ke arah kiblat atau meludah ke arah kanan.

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى

“Seseorang dari kalian apabila berdiri sholat maka sesungguhnya Allah berada dihadapannya maka janganlah ia meludah kedepan kearah kiblat dan jangan juga kesebelah kanan.” [HR. Imam Muslim]

1️⃣3️⃣ Menguap. Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ

“Apabila salah seorang dari kalian menguap didalam sholat, tahanlah semampunya karena setan akan masuk.” [HR. Imam Muslim]

1️⃣4️⃣ Melipat rambut dan pakaian. Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ ، وَلاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ

“Aku diperintahkan untuk sujud diatas 7 tulang yaitu, jidad beliau beri arah kehidungnya, 2 tangan 2 lutut dan ujung ujung kaki (jari jemarinya) dan kita tidak boleh menggulung pakaian tidak pula rambut.” [HR. Imam Bukhori dan Muslim]

Maka dari itu menggulung pakaian dan menggulung rambut tidak boleh.

1️⃣5️⃣ Seseorang duduk sambil bertelekan diatas tangannya dalam sholat dan juga menyilang-nyilangkan dua tangannya, dari Ibnu ‘Umar ia berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam melarang seseorang duduk didalam sholatnya sambil menyender atau bertelekan diatas tangannya.”  [HR Abu Daud]

Dari Isma’il bin Umayah ia berkata, aku bertanya kepada Nabi tentang orang yang sholat dan ia menyilangkan dua tangannya, Ibnu ‘Umar berkata, “kata Nabi itu sholat orang yang dibenci Allah subhaanahu wata’ala.”

⚉ PEMBATAL PEMBATAL SHOLAT

1️⃣ Makan dan minum dengan sengaja. Ini ijma’ para ulama kata Imam Mundzir.

2️⃣ Berbicara dengan sengaja tanpa ada maslahat untuk sholat. Ini juga dengan ijma’ ulama kata IImam Ibnu Mundzir.

3️⃣ Bergerak dengan gerakan yang banyak yang bukan dari bagian sholat. Maka yang demikian ini termasuk yang membatalkan sholat, adapun bergeraknya sedikit maka itu tidak mengapa sebagaimana sudah pernah kita bahas didalam perkara yang dibolehkan didalam sholat.

4️⃣ Meninggalkan salah satu syarat atau rukun secara sengaja atau tanpa udzur. Ini juga haram bahkan raka’at yang terluput padanya rukun maka roka’at tsb tidak dianggap dia wajib menambah satu roka’at lagi.

5️⃣ Tertawa didalam sholat, Ibnu Mundzir berkata ijma’ batalnya sholat orang yang tertawa.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah