Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Antara Subhaanallah Dan Maa-Syaa Allah, Kapan Membacanya..?

PERTANYAAN :

Ustadz, ketika kita kagum melihat keindahan alam, apa yang baiknya kita baca ? Subhanallah atau maa syaa Allah?

JAWAB :

Melihat keindahan alam hakikatnya adalah melihat keagungan Allah dan kekuasaanNya yang mencengangkan.
Dalam surat Aali Imron Allah menyuruh melihat dan memikirkan kekuasaan Allah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”  [QS. 3:190]

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS. 3:191]

⚉  DR Muhammad bin Ishaq dalam kitabnya Attasbih fil kitab wassunnah (2/31) berkata:
“Menyaksikan tanda tanda kekuasaanNya dalam penciptaan langit dan bumi menjadikan orang orang yang berfikir bertasbih.”

Allah juga berfirman dalam surat Al Isra ayat 1: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya di waktu malam…”

Di sini Allah bertasbih mensucikan diriNya yang telah memperlihatkan kekuasaanNya yang mengagumkan.

⚉  Imam Abul Qasim Al Ashbahaani rohimahullah berkata menafsirkan:

سبحان ههنا للتعجب فوجب أن يحمل على ما هو أعجب…

Subhaan dalam ayat ini bermakna takjub, maka wajib dibawa kepada yang lebih mengagumkan…
[Al Hujjah fii bayaanil mahajjah 1/115]

Dalam surat yaasin Allah berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

“Maha suci Dia yang telah menciptakan seluruhnya berpasang pasanganan dari apa yang tumbuh di bumi dan dari mereka sendiri dan apa apa yang mereka tidak ketahui.”
[Yaasin : 36]

Keindahan alam adalah menunjukkan kepada kekuasaan Allah, maka kita ucapkan ‘subhaanallah’ untuk mensucikan Allah dari kekurangan dalam penciptaanNya sehingga menunjukkan kesempurnaan ciptaanNya.

⚉  Ibnu Aasyuur rohimahullah berkata:
“Penggunaan ‘subhaan’ pada asalnya adalah membatalkan segala sesuatu yang tak layak bagi Allah.
Ketika tampak sesuatu yang menunjukkan keagungan Allah dan kekuasaanNya, hilanglah keraguan dalam kekuasaanNya dan batallah kesyirikan. Maka orang yang yang menyaksikannya hendaklah mengucapkan tasbiih untuk mensucikan Allah dari kelemahan.”
[Attahriir wattanwiir karya ibnu Aasyuur 15/10]

Adapun ucapan ‘Maa Syaa Allah’ dalam surat alkahfi

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Dan tidakkah kamu mengucapkan Maa syaa Allah laa quwwata illaa billah saat memasuki kebunmu ?”
[Al Kahfi: 39]

Itu disyariatkan ketika melihat harta yang kita miliki.

⚉  Ibnu Katsir rohimahullah berkata:
“Artinya tidakkah kamu saat kagum ketika memasuki kebunmu dan kenikmatan yang Allah berikan kepadamu, kamu memuji Allah yang telah memberimu harta dan anak yang tidak diberikan kepada selainmu ?..
Oleh karena itu sebagian salaf berkata, ‘Siapa yang merasa kagum dengan keadaannya atau anaknya atau hartanya hendaknya ia mengucapkan ‘Maa syaa Allah laa quwwata illa billah.’
[Tafsir ibnu katsir surat alkahfi ayat 39]

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Ref : https://www.facebook.com/UBCintaSunnah

KITAB FIQIH – Apabila Tempatnya Imam Lebih Tinggi Daripada Tempat Makmum…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Imam Berpaling Dari Kanan dan Kiri Saat Hendak Menghadap Ke Makmum…  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya…

⚉  APABILA IMAM TEMPATNYA LEBIH TINGGI DARIPADA TEMPAT MAKMUM (ATAU SEBALIKNYA).

Dari Abu Mas’ud al Anshori, ia berkata,

“Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam melarang seorang imam berdiri ditempat yang lebih tinggi sementara makmum berada dibawahnya.”
[HR Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Syaikh Albani rohimahullah]

Dari Hammam bahwasanya, Khuzaifah pernah mengimami manusia diatas sesuatu (diatas bangunan), lalu Abu Mas’ud menarik gamis Khuzaifah setelah selesai sholat ia berkata, ‘apakah kamu tidak tahu bahwasanya mereka dilarang dari hal ini ?’ Kata Khuzaifah, ‘benar, aku ingat ketika engkau tadi menarikku.’
[HR. Imam As Syafi’i dalam Al Umm dan Abu Daud dan di shohihkan oleh Syaikh Albani rohimahullah]

Namun apabila imam ada maslahat untuk berada lebih tinggi daripada makmum yaitu untuk mengajarkan tentang tatacara sholat, maka ini boleh.

Sebagaimana dalam hadits Abu Hazim bin Dinar,

bahwasanya orang-orang datang pada Sahal bin Sa’ad as Sa’idi. sementara mereka sedang berdebat/berselisih tentang mimbar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam itu terbuat dari apa (artinya kayunya terbuat dari kayu apa).

Lalu kemudian Sahal bin Sa’ad as Sa’idi berkata, ‘demi Allah aku mengetahui terbuat dari kayu apa ia, sungguh aku melihat dihari pertama diletakkan mimbar dan dihari pertama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam duduk diatasnya.’ Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam mengirim kepada fulana (seorang wanita yang disebut Sahal namanya) dimana beliau bersabda, ‘perintahkan tukangmu (tukang kayu) untuk membuatkan aku mimbar yang aku bisa duduk diatasnya apa bila aku berbicara kepada manusia,’ maka wanita itu memerintahkannya lalu iapun membuatnya dari kayu-kayu hutan (pepohonan hutan) lalu ia datang membawanya dan wanita itupun mengirimkannya kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam kemudian Rosulullah pun memerintahkan supaya mimbar itu diletakan, kemudian aku melihat Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sholat diatasnya (diatas mimbar), beliau bertakbir diatas mimbar, kemudian ruku’ diatas mimbar, kemudian beliau turun sambil mundur kemudian sujud dibawah mimbar kemudian kembali lagi keatas mimbar, kemudian setelah selesai sholat Rosulullah menghadap kepada manusia dan bersabda, ‘wahai manusia sesungguhnya aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mempelajari sholatku.’  [HR Bukhari dan Muslim]

Syaikh Albani rohimahullah, ia berkata dalam kitab Tamaamul Minna, ketika membantah orang yang mengatakan boleh imam berada ditempat yang lebih tinggi secara mutlak dengan berdasarkan atsar-atsar sebagian sahabat dan tabi’in kata beliau, ‘akan tetapi atsar-atsar itu bertabrakan dengan atsar-atsar lain dari Umar, Asya’bi serta Ibrohim An Nakho’i, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Rozzaq, bahwasanya keduanya /mereka melarang hal tsb, yaitu imam berada diatas makmum.’

Ini menunjukkan bahwa para sahabat atau salaffush-sholih berbeda pendapat tentang bolehkah imam berada lebih tinggi kedudukkannya daripada makmum, namun yang rojih karena telah ada hadits-hadits yang shohih dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam yang melarangnya maka itu tidak dibolehkan kecuali kalau ada hajat untuk mengajarkan sholat.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Sifat Orang Mulia dan Hina…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Larangan Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu Domba…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============