Category Archives: Display Picture Dakwah

Berbaik-Sangkalah Kepada Saudaramu…

Ketika dia mengingatkanmu agar jangan melakukan ritual yang tidak dituntunkan oleh nabi tercinta shallalahu ‘alaihi wasallam, itu bukan karena dia melarangmu beribadah. Tapi agar anda selamat dari kerugian, akibat ibadah yang tidak berpahala, karena nabi shallalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka amalan itu ditolak (percuma, tanpa pahala).” [HR. Muslim]

Ketika ada orang lain mengingatkan anda agar jangan membeli emas, karena itu sebenarnya emas palsu, pantaskah anda membencinya ?

Seharusnya anda sangat berterima kasih kepadanya, dan berusaha mencari dan membeli emas yang asli. Begitu pula dalam masalah ibadah, harusnya anda berterimakasih lalu mencari dan melakukan ibadah yang benar-benar ada tuntunannya dari nabi shallalahu ‘alaihi wasallam.

Jika kita harus berhati-hati dalam masalah dunia, tentunya kita harus lebih berhati-hati dalam masalah akhirat.

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

image

Teguhlah.. Jangan Goyah

Syeikh Al-Utsaimin rohimahulloh pernah berpesan:

“Teguhlah, jangan goyah dengan banyaknya serangan yang diarahkan kepadamu, atau banyaknya celaan atas pendapatmu.. 

Selama kamu di atas kebenaran, maka teguhlah, karena kebenaran itu tidak mungkin tersingkir.. 

Setelah itu, belalah dirimu jika posisimu lemah, karena tidak ada keadaan yang lebih rendah dari tindakan membela diri. Adapun jika posisimu kuat, maka seranglah. Dan hari-hari itu akan terus berputar.. 

Tapi yang paling penting, jika posisimu lemah, kamu harus teguh, dan jangan katakan: manusia, semuanya menyelisihi pendapat itu..

Akan tetapi, teguhlah, karena Allah pasti akan menolong agamaNya, kitabNya, dan RasulNya di semua zaman.. 

Dan memang harus ada gangguan, lihatlah Imam Ahmad, dia diseret di pasar dengan hewan bagal, dan dicambuki, tapi dia tetap sabar dan teguh.. 

Dan lihatlah Syeikhul Islam, dia diarak di atas gerobak dan dijebloskan dalam penjara, tapi dia tetap teguh.. 

Selamanya tidaklah mungkin bumi bertabur banyak mawar dan bunga, bagi orang yang berpegang teguh kepada sunnah. Siapa yang menginginkan hal itu, berarti dia telah menginginkan kemustahilan..”

[Syarah Annuniyyah, Syeikh Al-Utsaimin 3/270]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Sunnah Dalam Sholat Yang Banyak DILUPAKAN

Ada sebuah do’a di dalam sholat yang sangat Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tekankan untuk dibaca di akhir sholat, namun banyak dari kaum muslimin yang melupakannya.

Doa tersebut ada dalam penggalan hadits berikut ini:

Dari Sahabat Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah memegang tangannya, dan beliau mengatakan :

“Ya Mu’adz, demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu..”

Kemudian beliau mengatakan: “Aku wasiatkan kepadamu ya Mu’adz, jangan sekali-kali kamu meninggalkan membaca (do’a ini) di akhir SETIAP sholat:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

ALLAAHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK
(Ya Allah, bantulah aku dalam berdzikir kepada-Mu, dalam mensyukuri-Mu, dan dalam membaikkan ibadah kepada-Mu)

Dan Mu’adz pun setelah itu mewasiatkan do’a ini kepada Ash-Shunabihi (orang yang dicintainya). [HR. Abu Dawud: 1522, hadits ini shohih].

Subhanallah, lihatlah bagaimana beliau ingin agar do’a ini benar-benar diamalkan oleh Mu’adz… sampai-sampai beliau mengutarakan kecintaannya kepada Mu’adz dengan 5 penekanan :

1. Bersumpah dengan nama Allah.
2. menggunakan kata “Innii” (sesungguhnya aku).
3. menggunakan kata “la-uhibbuk” (benar-benar mencintaimu).
4. Mengulangi sumpah dan ungkapan cinta itu sebanyak dua kali.
5. Menyebut nama Mu’adz sebagai penegas sasaran seruan beliau.

Dan beliau juga memberikan 3 penekanan lain pada sabda beliau ini, yaitu:
1. Menggunakan redaksi wasiat “uushiika..”
2. Menggunakan nun taukid: “la tada’anna” (jangan sekali-kali engkau meninggalkan)
3. Penegasan bahwa itu di SETIAP sholat “kulli sholah..”

Tentunya ini semua menunjukkan betapa pentingnya do’a ini dalam kehidupan ummatnya… jika demikian, sudahkah Anda mengamalkannya..?!

Mari amalkan sunnah ini di setiap akhir sholat kita… Ingat, amal Anda adalah untuk Anda sendiri…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

NB : Do’a ini dibaca di penghujung setiap sholat (antara sesudah tasyahud akhir dan sebelum salam) .. baik di sholat sholat fardhu maupun di  sholat sholat sunnah.

APAKAH MEMBACA PUJIAN KEPADA ALLAH DAN BERSHOLAWAT DAHULU SEBELUM MEMBACA DO’A DI DALAM SHOLAT (SAAT SUJUD DAN SEBELUM SALAM)..?

simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
.
https://bbg-alilmu.com/archives/33201

 

 

Sunnah Yang Banyak Ditinggalkan

Mungkin banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengamalkan sunnah ini atau bahkan tidak kenal dengan sunnah ini sama sekali, padahal dahulu Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wasallam- selalu membacanya dalam sholat sebelum salam.

Sahabat Ali bin Abi Tholib -rodhiyallohu ‘anhu- mengatakan: “bacaan paling akhir yang dibaca Beliau diantara tasyahud dan salam adalah:

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

ALLAHUMMAGH-FIR LII
MAA QOD-DAMTU
WA MAA AKH-KHORTU,
WA MAA ASRORTU
WA MAA A’LANTU,
WA MAA ASROFTU
WA MAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII,

ANTAL MUQODDIMU
WA ANTAL MUAKH-KHIRU,
LAA ILAAHA ILLAA ANTA

(Ya Allah, ampunilah aku, karena dosa yang kulakukan dahulu dan yang kulakukan belakangan, dosa yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, dosa dari perbuatanku yang melampui batas dan dosa yang Engkau lebih tahu daripada diriku. Engkaulah Dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau)

[HR. Muslim: 771].

Kalau Anda sudah menghapalnya, maka mulailah untuk mempraktekkannya… Beliau yang maksum saja selalu membaca do’a ini, bagaimana dengan kita…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى