Cara Beribadah Dengan Nama Allah – ASY SYAKUUR

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH

Fokuslah Pada Kewajiban

Fokuslah pada kewajiban.. in-syaa Allah hak Anda akan sampai juga.. jangan sebaliknya.

=====

Seringkali kita merasa sudah banyak memanggil Allah dalam doa-doa kita, tapi belum juga Dia ijabahi; dan dengan ini setan berhasil membuat kita sedih.

Tidakkah kita berpikir, berapa kali Allah memanggil kita, dan seringkali kita tidak menaati-Nya..?!

Ingatlah selalu firman-Nya:
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku).”  [Al-Baqoroh: 186].

Ya, janganlah kita hanya menuntut hak, tapi kita lupakan kewajiban, baik dalam hubungan kita dengan sesama, maupun dalam hubungan kita dengan Allah.

Bahkan harusnya kita fokus pada kewajiban dan menjalankannya sebaik mungkin, pasti Allah akan memberikan yang kita inginkan, bahkan melebihi apa yang kita inginkan…

Sebagaimana Allah telah memberikan banyak kenikmatan saat kita dilahirkan, padahal kita belum berbuat apapun kepada-Nya.

Subhaanallah,
walhamdulillah,
wa laa ilaaha illallah,
wallohu akbar,
walaa haula walaa quwwata illaa billah..

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Musibah Terasa Nikmat Asal Dihadapi Dengan Lima Langkah Berikut Ini…

1. Ketahuilah semua peristiwa dan kejadian terjadi karena takdir Allah.

2. Pahamilah bahwa sikap gundah gulana tidak bisa merubah takdir.

3. Sadarlah bahwa kenikmatan yang tersisa pada Anda masih lebih melimpah daripada nikmat yang lepas darimu.

4. Renungkanlah bahwa setiap musibah tidak sepi dari hikmah baik berupa pahala, pengampunan, penebusan, peningkatan derajat dan ujian mental agar makin tangguh.

5. Camkanlah bahwa musibah yang diderita orang lain lebih berat dari yang Anda alami. Bahkan bisa jadi Anda termasuk orang yang paling beruntung di antara mereka.

Zainal Abidin Syamsuddin,  حفظه الله تعالى 

Tambah Sedikit Kesabaranmu…

Ustadz! Sedikit tambah kesabaranmu.

Di luar sana darah umat Islam begitu murah, dan sejarah perjuangan Islam di negri kita juga membuktikan betapa sering Islam dan ummatnya dikorbankan demi kepentingan beberapa gelintir orang.

Hari-hari ini satu demu satu pembenci Islam baik dari dalam maupun luar, mulai mencabikkan kuku tajamnya ke tubuh ummat Islam.

Mengapa kok masih saja kita mengasah kuku kita untuk saudara sendiri yang jelas-jelas teman sejalan dan sebarisan?

Belumkah tiba saatnya untuk kita lebih bisa bersabar menghadapi kekurangan saudara kita sendiri ? Bersabar bukan berarti tutup mata atau membisu seribu bahasa.

Tambah bersabar berarti menasehati dengan cara yang lebih lunak dan dengan penuh ketulusan.

Di saat ini kebersamaan kita sangat dibutuhkan, jangan sampai semangat anda yang kurang kontrol menjadi bagian dari alat lawan untuk menghancurkan ummat Islam.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Katakan Ana Muslim…

AKHI, UKHTI…

Pernahkah engkau memperhatikan segerombolan semut yang sedang bekerja

Mereka membuat konvoi yang panjang

Mereka saling berebut untuk tolong menolong

Makanan yang besar mereka akan potong
menjadi lebih kecil agar lebih mudah untuk dibawa

Terkadang ada yang tubuhnya lebih besar untuk tugas yang lebih berat

Sebagian siap untuk menjadi anak tangga agar yang lainnya bisa naik ke atas
Sebuah gambaran tim kerja yang solid

Sebagian ada yang menjadikan dirinya jembatan dengan risiko besar demi yang lainnya bisa menyebrang

Tidak penting bagi mereka apa yang aku dapatkan untuk pribadiku

Namun yang terpenting adalah apa yang bisa aku berikan pada bangsaku, walaupun nyawaku menjadi taruhannya

Saatnya seorang muslim untuk memiliki ambisi yang lebih luhur

Baik yang miskin atau yang kaya

Baik yang atasan atau bawahan

Tidak lagi hanya memikirkan perut dan yang dibawah perut

Tidak lagi hanya rumahku, mobilmu, gajiku , usahaku, anak-anakku dsb

Berpikirlah apa yang akan kau berikan pada agamamu, bangsamu, negeriku dan Ummat manusia

Katakan Ana muslim…. aku akan wakafkan diriku untuk islam agamaku dan Indonesia bumi Allah yang menjadi negeriku
Hidup dan matiku pemilik langit dan bumi

Iqrarkan

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” [al-An’âm/6:162]

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Ketika AJAL Datang…

Ketika ajal datang; saat itu juga semua keduniaanmu berakhir..

Jika engkau telah dibaringkan di kuburmu.. dan engkau telah menghadap Rabbmu.

Maka tidak akan berguna lagi pujian dan sanjungan manusia kepadamu.

Tidak akan bermanfaat lagi banyaknya orang yang bertepuk tangan untukmu.

Tidak akan ada efeknya lagi banyaknya like pada statusmu, begitu pula banyaknya teman dan follower-mu.

Yang nantinya akan bermanfaat dan berguna bagimu adalah :

– sujud yang kau sembunyikan..
– linangan air mata yang kau teteskan karena takut kepada Allah..
– amal jariyah yang kau salurkan untuk agama Allah..
– bacaan Qur’an dan dzikir yang kau lirihkan karena dorongan keikhlasan..
– uluran tanganmu dalam membantu dan meringankan beban hidup orang lain..
– dan amal shaleh apapun yang kau lakukan dengan keikhlasan yang sebenarnya.

Oleh karenanya, jadikanlah akherat sebagai tujuan hidupmu.. itulah yang akan selamanya kau nikmati di alam baka..

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Benarkah Masa Depan Islam Ada Di Tangan Indonesia..?

Beberapa tahun silam saya mendengar satu analisa dari seorang tokoh agama, politik dan sekaligus juga akademis. Katanya kejayaan Islam di masa depan ada di tangan ummat Islam Nusantara. Berikut beberapa alasan dari kesimpulannya: tersebut:
1. Jumlah ummat islam Indonesia yang terbesar di dunia.
2. Sumber daya alam Indonesia.
3. Semaraknya kebangkitan ummat Islam di Indonesia.
4. Carut marutnya ummat Islam di timur tengah.
5. Karakter ketimuran bangsa Indonesia yang lebih dekat kepada Islam dibanding karakter orang arab atau lainnya.
6. Dll.

Sejak pertama dengar sampai saat ini, kok saya terus merasa janggal dengan kesimpulan ini, mengingat beberapa hal berikut:
1. Dua kota suci Islam.
2. Kiblat Islam bukan di indonesia.
3. Bahasa Islam bukan bahasa indonesia.
4. Fakta sejarah, setiap kali ummat Islam sampai pada titik paling nadir dari kekalahan, selalu saja kebangkitan dan pertolongan Allah Ta’ala datang di tengah-tengah negri Arab.

Sebut saja misalnya perang salib, pasukan Mesir-lah yang berhasil mengusir dan memukul mundur pasukan salib dari negri-negri Islam.

Pasukan Tar tar, juga kekuatan dari Mesir yang berhasil memukul mundur mereka hingga kembali ke kandangnya.

Dan sampai saat ini pusat-pusat pendidikan ilmu Islam yang ada di negri-negri Arab. Kiblat ummat Islam juga masih tetap di sana, sebut saja saudara-saudara KAUM KONSERVATIF, apalagi yang anti TBC dengan berbagai organisasi atau sebutannya, tetap saja berkiblatnya juga ke ulama’ Arab, baik yang di Yaman, Mesir, ataupun di Mekkah, Madinah dan negri-negri Arab lainnya.

5. Bahasa Arab yang merupakan bahasa Al Qur’an, As sunnah dan kitab-kitab para ulama’, menuntut semua ummat Islam untuk berbahasa arab bukan berbahasa indonesia.

6. Apalagi jauh jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ، كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا»

Sesungguhnya iman pastilah kembali ke kota Madinah, sebagaimana ular yang pasti kembali ke lubang persembunyiannya. (Bukhari & Muslim)

7. Apalagi bila anda ingat hadits-hadits tentang Dajjal yang akan melintasi semua negri kecuali kota Madinah.

8. Dan hadits-hadits tentang Imam Mahdi-pun mengisyaratkan bahwa beliau adalah salah seorang keturunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan dari keturunan Indonesia.

9. Pertempuran terakhir ummat Islam melawan kaum Yahudi terjadi bukan di Indonesia namun di negri Arab, tepatnya di negri Syam, dan masih banyak lagi alasan lainnya.

10. Keislaman Nusantara belum pernah mengungguli keislaman yang ada di negri negri Arab.

Mungkinkah analisa bahwa pemimpin Islam di masa depan adalah bangsa Indonesia bagian dari upaya menjauhkan Ummat Islam nusantara agar tidak lagi berkiblat ke ulama’ ulama’ arab, namun berkiblat ke ulama’ ulama’ lokal?

Ataukah bagian dari upaya untuk mengotak ngotakkan ummat islam, menjadi Islam nusantara, Islam Arab, Islam India dan lainnya? Seharusnya kalau berbicara kejayaan Islam, ya tidak perlu bawa bawa kesukuan, atau ras atau golongan atau lainnya. Sekali Islam ya Islam, tidak lagi perduli dengan suku, negri atau kelompok.

Bagaimana menurut anda ?

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah