Penampilan…

Akhi Ukhti…

Sebagian orang ada yang Allah karunia wajah indah dan tubuh yang elok…
Allah anugerahkan padanya harta sehingga dia bisa tampil menawan…
Tapi ingatlah hakekat dirimu tidak terletak di penampilan belaka…

Banyak yang lebih rupawan darimu
Banyak yang lebih perlente darimu
Banyak yang lebih kaya darimu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian” (HR Muslim)

Engkau harus merubah opini yang ada, bahwa orang yang baik adalah yang tampan dan gagah serta kaya
Atau yang cantik dan semampai, Bukan itu….semua itu hanya tipuan belaka bila ternyata tidak bertaqwa, semua akan menjadi makanan belatung dan cacing tanah.

Cobalah berfikir lebih dalam lagi, lihatlah Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu seorang sahabat yang mungkin bila kau memandangnya engkau akan tersenyum meledek dan meremehkan
Karena tubuhnya kecil dan kurus, namun ternyata betis beliau lebih berat dari gunung uhud kelak di timbangan pada hari kiamat…
bukan karena beliau ikut bodybuilding, atau sering lari pagi akan tetapi karena amalan ketaatan yang dilakukan dengan betis tersebut…

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegur para sahabat mereka menertawakan kecilnya kaki Ibnu Mas’ud:

))مم تضحكون؟)):

“Apa yang membuat kalian tertawa?”

Mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, karena kedua betisnya yang kurus

Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata,

والذي نفسي بيده لهما أثقل في الميزان من أحد

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada gunung Uhud [HR Ahmad]

Saatnya ketika engkau bercermin, melihat eloknya rupa dan pakaianmu, membayangkan bagaimana kiranya tatkala kuburan menjadi rumahmu, dan berapa kiranya bobotmu ketika berada di timbangan pada hari kiamat kelak.

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى

Pemilik Rumah Al Hamdu Di Surga…

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِى بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila mati anak seorang hamba, maka Allah berkata kepada para malaikatnya: Kalian telah mencabut ruh anak hambaku. Mereka menjawab: Iya. Allah berkata: Kalian telah mengambil buah hatinya. Mereka berkata: Iya. Maka Allah berkata: Apa yang dikatakannya? (Dan Allah Maha Tahu apa yang dikatakannya). Mereka menjawab: Dia memujimu dan mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Allah pun berkata: Bangunlah untuknya sebuah rumah di surga, dan namakan rumah pujian (Al-Hamdu).” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1408]

Al-Munawi rahimahullah berkata,

أن الأسقام والمصائب لا يثاب عليها لأنها ليست بفعل اختياري بل هو على الصبر وهو ما عليه ابن السلام وابن القيم قالا فهو إنما نال ذلك البيت بحمده واسترجاعه لا بمصيبته

“Hadits ini menunjukan bahwa penderitaan dan musibah tidaklah diberikan pahala begitu saja, sebab ia bukan perbuatan berdasarkan pilihan, tetapi pahala diberikan karena KESABARAN, inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnus Salam dan Ibnul Qoyyim, mereka berdua berkata: Dia mendapatkan rumah di surga itu karena pujiannya dan ucapan Innaa liLlaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, bukan semata karena musibahnya.” [Faidhul Qodhir, 1/564]

Dan bisa jadi, seorang yang ditimpa musibah malah mendapat dosa, bahkan menjadi kafir dan musyrik, sebab dia marah kepada Allah ta’ala, tidak senang dengan ketentuan-Nya, mengeluh kepada makhluk, bahkan mendatangi DUKUN, ORANG PINTAR (yang sebenarnya bodoh), paranormal (yang sebenarnya tidak normal), kubur “keramat” sampai berdoa kepada penghuni kubur, padahal doa adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain-Nya. Berdoa kepada selain-Nya, apakah kepada malaikat, nabi maupun wali adalah perbuatan SYIRIK besar yang menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari Islam dan kekal di neraka apabila dia mati sebelum bertaubat.

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qoulul Mufid menjelaskan, manusia dalam menghadapi musibah terbagi menjadi empat tingkatan:
1) Marah
2) Sabar
3) Ridho
4) Syukur.

Maka syukur adalah tingkatan tertinggi, minimalnya sabar, dianjurkan ridho, adapun marah diharamkan.

Sofyan Chalid Ruray, حفظه الله تعالى

Adab Penting Ketika Ucapan Salam Kita Tidak Dijawab…

سئل الإمام أحمد عن رجل مر بجماعة فسلم عليهم فلم يردوا عليه السلام فقال:
يسرع في خطاه لا تلحقه اللعنة مع القوم

Imam Ahmad mendapatkan pertanyaan mengenai seorang yang bertemu dengan sekelompok orang. Tatkala dia mengucapkan salam tidak ada satu pun yang menjawab salam. Jawaban beliau,

“Hendaknya orang tersebut segera bergegas meninggalkan mereka agar dia tidak tertimpa laknat yang diturunkan kepada orang orang tersebut”

(Adab Syar’iyyah karya Ibnu Muflih al Hanbali 1/379)

Aris Munandar,  حفظه الله تعالى

Kesalahan Yang Diperbuat Berulang Kali…

Akhi Ukhti…

Masih sering kita melihat kesalahan yang diperbuat berulang kali…
Baik itu kita sebagai rakyat jelata, atau mereka yang memiliki kuasa

Kenapa itu terjadi ?

karena kita lalai, kita lengah, kita sok tahu, kita sok bijak, kita sok bisa

Sejatinya Allah telah mencukupi kita, Allah telah mengutus Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam
Dengan petunjuk dan agama yang benar

Kita tinggal mengikuti dan menjalankannya, suatu tugas yang  ringan
Tidak memeras keringat dan tidak perlu membuat otak lelah

Cobalah renungkan perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, seorang sahabat yang cerdas dan mendapatkan ilham, tatkala dia menggantikan posisi Abu Bakar Asshiddiq menjadi Khalifah, dia berpidato, di antara yang dia sampaikan adalah:

إن الله تعالى نهج سبيله وكفانا برسوله صل الله عليه وسلم فلم يبق إلا الدعاء والإقتداء

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan sebuah jalan kebenaran, dan Mencukupi kita dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam(sebagai contoh dan suri teladan), setelah itu tidak ada lagi ruang kecuali berdo’a dan menjadi pengikut setia” (Tarikh Umar bin Khatthab karya ibnul Jauzi hal 194)

Tugas kita itu hanya berdo’a dan mengikuti…
Do’a jarang kita panjatkan
Mengkaji perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita abaikan

Padahal dahulu para sahabat dan tabiin mereka mengkaji dan mempelajari perjalanan hidup Nabi shalllahu ‘alahi wasallam seperti mereka menghafal satu surat dari al Qur’an sebagaimana yang dituturkan oleh cicit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni Ali bin Husain bin Ali:

“Kami diajarkan sejarah peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana kami diajarkan surat dalam al Qur’an”
. (Al Jami’ li Akhlaqi ar Rawi wa Aadabi as Sami’ karya Al khatib al Baghdadi, 2/252)

Bayangkan, mereka belajar Sejarah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti belajar satu surat dari Al Qur’an…
bagaimana dengan kita….???

Oleh karena itu mereka bisa membawa pelita islam sampai ke berbagai penjuru dunia…
Mereka tinggal mengikuti dan berdo’a, sehingga energi mereka tidak terkuras untuk sesuatu yang kurang berguna, sehingga kita melihat Umat islam sekarang diremehkan di berbagai penjuru dunia

Sampai kapan kita akan mengulangi kesalahan dan kesalahan yang sejatinya telah dijelaskan dalam sejarah, dan diberi contoh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam…

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى

Mengejar Apa Yang Mereka Sebut Sebagai “Masa Depan”..

Saat aku tamat SD untuk mengejar masa depan; mereka bilang: Belajarlah di SMP untuk masa depan

Lalu: Belajarlah di SMA untuk masa depan.

Kemudian: Belajarlah di perguruan tinggi untuk masa depan

Setelah itu: Carilah pekerjaan untuk masa depan.

Setelahnya: Menikahlah untuk masa depan.

Setelahnya lagi: Punyailah anak untuk masa depan.

Dan inilah diriku sekarang, saat ku goreskan tulisan ini umurku sudah 77 tahun, tapi aku masih saja menunggu ‘masa depan’ itu.

Ternyata yang mereka sebut ‘masa depan’ itu hanyalah potongan kain merah yang ditempelkan di kepala banteng, dia akan terus mengejarnya tapi tidak akan sampai kepadanya.

Karena masa depan itu, ketika Anda sampai kepadanya, ia menjadi masa kini, dan masa kini itu akan menjadi masa lalu, kemudian Anda akan menanti masa depan yang baru lagi.

Sungguh masa depan yang hakiki adalah dengan Anda menjadikan Allah ridho, dengan Anda selamat dari neraka-Nya, dan dengan Anda masuk ke dalam surga.

[Terjemahan bebas dari perkataan Syeikh Thantawi -rohimahulloh-]

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Istri Anda Tuh Dulunya Cantik Sekali, Namun Kini …

Sobat, dulu sebelum menikah, anda percaya bahwa wanita yang kini telah menjadi istri anda adalah wanita yang sangat cantik, sampai-sampai anda ndak kuasa untuk menahan rasa cinta kepadanya, lalu anda meminangnya dan akhirnya anda menikahinya.

Namun setelah pernikahan yang menyatukan anda dengannya berlalu beberapa saat, bisa jadi kini anda merasa istri anda ternyata biasa-biasa saja. Bahkan ada beberapa orang yang merasa salah pilih istri, karena kini ia sadar bahwa istri tetangga ternyata lebih cantik dibanding istrinya.

Sobat! Tahukah anda bahwa sebenarnya anda tidak salah pilih, dan istri anda tetap saja yang tercantik bagi anda, hanya saja arah hembusan angin setan telah berbalik arah.

Kemarin semasa dia masih haram untuk anda sentuh karena belum menikah, setan dengan kencang menghembuskan bisikan dan godaan agar anda segera menjamahnya. Namun kini setelah ia halal untuk anda, setan merubah arah hembusannya, setan berusaha meniup badai kekecewaan, persengketaan, dan kebencian agar anda bercerai darinya. Karena itu dahulu ilmu sihir terkuat yang ada di zaman Nabi Sulaiman ‘alaihissalam ialah sihir untuk memisahkan suami dari istrinya.

Kemaren setan bangga bila anda kumpul kebo sebelum nikah, sedangkan kini setan bahagia bila anda cekcok apalagi bila anda bercerai menghancurkan istana rumah tangga anda, baik melalui isu hijaunya daun milik tetangga atau dengan layu dan menguningnya daun anda sendiri.

Karenanya, setelah anda berkeluarga pandai-pandailah mengenali kelebihan dan pengorbanan istri anda, agar cinta terus bersemi di dalam rumah tangga anda. Sebagaimana pandai-pandailah menyadari kesalahan atau kekurangan diri anda, agar anda bertambah sadar betapa tabahnya istri anda menerima anda sebagai suaminya.

Selamat mencoba resep rumah tangga bahagia ini.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah