Faidah Ayat : Al Fath – 29…

Allah Ta’ala memuji para shahabat dalam surat al fath ayat 29 dalam ayat itu Allah berfirman:

ليغيظ بهم الكفار

Agar membuat orang orang kafir marah kepada mereka.

Imam Malik berkata, “Siapa yang di hatinya ada kemarahan kepada para shahabat Nabi, maka ia terkena ayat tersebut.” (Arruwah ‘an malik hal 259)

Maka berhati hatilah saudaraku..
Dari orang yang membenci para shahabat Nabi..
Karena sebetulnya mereka ingin membatalkan islam..

Imam Abu Zur’ah Ar Raazi berkata:
“Bila kamu melihat orang yang menjelek jelekkan para shahabat, maka ketahuilah bahwa ia zindiq.
Karena kita meyakini bahwa rosul itu benar dan alquran juga benar.
Dan yang membawa al quran dan hadits nabi kepada kita adalah para shahabat.
Sebetulnya mereka ingin menikam para pembawanya agar membatalkan al quran dan hadits… (Ushulussunnah hal 54)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Faidah : Meremehkan Manusia…

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إذا قال الرجل هلك الناس فهو أهلكهم

Apabila seseorang berkata, “Orang orang telah rusak/binasa.” Maka dia yang paling rusak.” (HR Muslim no 2623)

Imam An Nawawi rahimahullah berkata:
“Para ulama bersepakat bahwa maksud hadits ini adalah untuk orang yang mengatakan demikian karena meremehkan manusia dan menganggap dirinya lebih. Adapun jika ia mengucapkan demikian karena sedih terhadap apa yang menimpa dirinya dan manusia berupa kekurangan dalam menjalankan agama, maka itu tidak mengapa.”

Al Khothobi berkata, “artinya senantiasa seseorang mencela manusia dan menyebutkan keburukan mereka dan menganggap bahwa manusia sudah rusak atau sejenisnya. Apabila ia melakukan itu maka ia yang paling rusak keadaannya akibat dosa dari memburuk burukkan mereka. Bahkan bisa jadi ia merasa bangga dengan dirinya dan memandang bahwa dirinya lebih baik dari mereka.”
(Syarah shahih Muslim 16/175).

Demikianlah..
Orang yang selalu memandang orang lain jelek..
Seakan tidak ada kebaikan pada mereka..
Ia tidak sadar bahwa sebetulnya dia yang paling jelek diantara mereka..
Kewajiban kita adalah untuk senantiasa mendoakan kebaikan dan hidayah..
Dan memandang sedikit amalan kita..
Mungkin mereka diberi taubat oleh Allah..
Mungkin mereka lebih takut kepada Allah..
Mungkin mereka lebih menyembunyikan amalan sholehnya..
Sementara kita, hanya sibuk memuji diri dan ingin diakui..
Allahul Musta’an..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Siapa RAJA DI AKHERAT Dari Kalangan Makhluk..?

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Para ulama, penguasa yang adil, ahli jihad, ahli sedekah yang memberikan hartanya untuk keridhaan Allah, mereka itulah para raja di akherat.

Lembaran-lembaran amal kebaikan mereka terus bertambah, dan terus terisi dengan amal-amal kebaikan meski mereka sudah di perut bumi, selagi jejak-jejak kebaikan mereka masih ada di muka bumi.

Sungguh betapa besarnya kenikmatan itu, dan betapa agungnya kemuliaan itu. Allah khususkan hal itu untuk hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki..”

[Thoriqul Hijrotain 2/824]

———-

Oleh karena itu, harusnya kita semangat dalam menuntut ilmu, sehingga Allah muliakan kita menjadi para ulama pembela agama-Nya.

Jika banyak manusia berlomba-lomba menjadi raja di dunia.. maka harusnya kita lebih semangat untuk menjadi raja di akherat.. karena nikmat dunia hanyalah sementara, sedang nikmat di akherat akan kekal selamanya..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bagaimana Kegiatan Wanita Muslimah Di Bulan Ramadhan..?

Syeikh Sulaiman Arruhaili -hafizhohulloh- mengatakan:

Kegiatan seorang muslimah sama dengan kegiatan seorang laki-laki.”

Hanya saja ada tambahan ibadah bagi seorang muslimah, yaitu bersungguh-sungguh dalam melayani suami dan keluarganya, dia menyiapkan makanan yang mencukupi mereka. Sungguh itu merupakan ibadah kepada Allah azza wajall, bila dia berharap pahala dari sisi Allah.

Maka dalam kegiatan itu terdapat pahala dan bisa memperbanyak pahala kebaikannya.

Dan seyogyanya seorang muslimah jika menyiapkan makanan, menyibukkan lisannya dengan berdzikir kepada Allah.

Jadi, dia bisa memasak sambil membaca tasbih (subhanallah), dia bisa memasak sambil membaca tahlil (laa ilaaha illallaah), dia bisa memasak sambil berdzikir.

Sehingga dia mendapatkan pahala yang agung dari amalannya itu, dan kegiatannya menyiapkan makanan tidak akan menjauhkannya dari ibadah kepada Rabb-nya di siang bulan Ramadhan.

Maka, sungguh beruntung seorang muslimah yang melayani suami dan anggota keluarganya sambil berharap pahala dari Allah azza wajall, meski begitu dia tidak lupa untuk terus berdzikir kepada Allah dan melakukan ibadah yang bisa dia lakukan di siang Ramadhan.

Sungguh dia telah meraih kemenangan yang sangat besar.

?قناة فوائد الشيخ أ.د. سليمان بن سليم الله الرحيلي :
https://goo.gl/ABwf0c

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Open House…

Saudaraku,
Bagaimana jika istana negara open house selama bulan puasa ini?

Kita akan menyaksikan ribuan bahkan jutaan orang akan berbondong-bondong dan mengantri untuk menyampaikan hajat mereka atau sekedar bertemu dengan bapak presiden.

Jika demikian, mengapa pada hari-hari ini kita tidak mengangkat tangan ke langit lalu memanjatkan doa dan meminta semua hajat kita kepada ALLAH?!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tiga doa yang tidak akan tertolak: doa orang tua, doa orang yang sedang berpuasa, dan doa seorang musafir”.
(HR. Baihaqi dalam As Sunanul Kubra)

Dimanapun dan kapanpun saat kita berpuasa, ingatlah selalu bahwa pintu langit itu selalu terbuka untuk kita, dengan mudah kita dapat mengetuknya tanpa antrian panjang dan berdesak-desakkan!!!

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 8 : Penetapan Hari Kebangkitan…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 8 :

Tata cara Al Qur’an menetapkan hari kebangkitan.

– Mengabarkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah dan kehendakNya yang pasti berjalan

– mengingatkan hamba tentang penciptaannya pertama kali. Bahwa bila Dia mampu menciptakan manusia dari sesuatu yang tidak ada, maka Dia mampu untuk mengembalikan ciptaanNya.

– menghidupkan bumi yang telah mati, sebagai bukti bahwa Dia mampu menghidupkan manusia yang telah mati.

– kekuasaan Allah untuk menciptakan langit dan bumi yang amat besar. Maka membangkitkan manusia tentu lebih mudah.

– Menetapkan bahwa Allah tak mungkin menciptakan manusia sia sia. Tidak diberikan perintah dan larangan, dan tidak diberikan pahala dan siksa? Itu semua mustahil bagi Allah Ta’ala.

– Allah memperlihatkan bagaimana Allah membangkitkan orang yang telah meninggal di dunia ini, sebagaimana dalam kisah sapi betina, kisah Nabi Uzair yang diperlihatkan kepadanya bagaimana Allah membangkitkan keledai yang telah menjadi tulang belulang, kisah Nabi Ibrahim yang diperlihatkan kepadanya kebangkitan burung yang telah terpotong potong badannya dsb.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 9 : Cara Perintah Kepada Kaum Mukminin Untuk Kepada Hukum Syar’at…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

MUTIARA SALAF : Perbanyak Sholat Malam Di 10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah mengatakan:

“Adapun di sepuluh malam terakhir Ramadhan, kaum muslimin (hendaknya) menambah kerajinan mereka dalam ibadah, karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan untuk mencari lailatul qadar yang lebih utama dari seribu bulan.

Maka orang yang biasanya shalat 23 rekaat di awal ramadhan, mereka bisa membaginya di sepuluh malam akhir, mereka bisa shalat 10 rekaat di awal malam yang mereka namakan shalat teraweh, dan shalat 10 rekaat di akhir malam, mereka memanjangkannya beserta shalat witir 3 reka’at, mereka biasa menyebutnya shalat qiyam.

Ini (sebenarnya) hanyalah perbedaan nama saja, karena semua shalat ini bisa disebut teraweh, bisa juga disebut qiyam.

Adapun orang yang biasanya hanya shalat 11 atau 13 reka’at di awal bulan, dia bisa menambah 10 rekaat lagi di sepuluh malam terakhir yang dilakukan akhir malam dan memanjangkannya, untuk mencari keutamaan 10 malam terakhir dan untuk menambah usaha dalam amal kebaikan.

Orang seperti ini ada contohnya dari para generasi salaf dari kalangan sahabat dan yang lainnya, yang mereka shalat 23 reka’at sebagaimana telah lalu. Dengan demikian mereka bisa menggabungkan dua pendapat, pendapat 13 rekaat di 20 malam pertama, dan pendapat 23 rekaat di 10 malam terakhir.”

[Kitab: Ithaafu ahlil iman bi majalismi syahri romadhon]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah