Pertanyaan Di Kubur Itu Tentang Wali Atau Nabi…?

Eh, kalau dikubur tuh ditanya tentang wali atau tentang nabi ya?

Banyak dari ummat Islam yang menjadikan ucapan atau pendapat guru, atau imam atau walinya bagaikan wahyu yang turun dari langit, bahkan melebihi wahyu yang telah terbukti turun dari langit.

Apapun ayat dan haditsnya dengan mudah diabaikan dan dicampakkan, kalau terbukti menyelisihi ucapan wali atau qutub timur atau selatan atau  yang serupa. Dan sebaliknya apapun kata wali dan qutub timur atau selatan, utara atau selatan, niscaya dipercayai tanpa perlu ditakwil apalagi ditolak.

Kadang kala saya sendiri heran, sebanarnya para wali tuh siapa ya? apakah mereka itu lebih tinggi maqamnya dibanding para rasul dan nabi? atau mungkin juga mereka telah disandingkan dengan Allah Ta’ala? na’uzubillah min zalika.

Sabar mas, baca status ini ndak usah sambil terengah-engah nafasnya. Akan labih bijak bila anda mencoba meneeladani sikap bijak seorang muslim sejati berikut ini:

Sahabat Ibnu Abbas menuturkan :

يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُم حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، أَقُولُ: قَالَ رَسُوْلُ الله صلى اله عليه وسلم، وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
”Hampir-hampir diturunkan atas kalian bebatuan dari langit, aku katakan kepada kalian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalian membantahnya dengan perkataan Abu Bakar dan Umar”.

Imam Ahmad bin Hambal menuturkan :”Aku sangat heran terhadap orang-orang yang mengetahui sanad dan keabsahannya, akan tetapi mereka malah memilih pendapat Sufyan, padahal Allah Ta’ala telah berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasulullah) akan ditimpa fitnah, atau ditimpa azab yang pedih” (Surat An Nur 63), Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan fitnah disini? Maksud fitnah disini adalah syirik, karena mungkin saja bila ia menolak sebagian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan terbetik dihatinya suatu kesesatan, sehingga ia binasa”.

Setahu saya, di alam kubur kelak kita tuh ndak ditanya: ikut qutub timur, atau barat atau selatan atau utara. atau sulthanul auliya’ syeikh abdul Qadir Al Jailany atau lainnya, namun yang ditanya tuh 3 hal:
1. Siapa Tuhan-mu?
2. Siapa nabimu?
3. Apa agamamu?

Jadi woles aja kali, cukup baca syahadatain, belajar Al Qur’an dan As Sunnah dengan benar, walau ndak kenal sama sulthanul auliya’ atau lainnya.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Yang Seharusnya Kita Lakukan Ketika Orang Dekat Kita Sedang Marah

Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kau melihat temanmu marah dan mulai mengatakan sesuatu yang tidak pantas, maka hendaknya jangan kau pedulikan sama sekali perkataannya… karena keadaannya itu seperti keadaannya orang yang sedang mabuk, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Tapi sabarlah ketika itu, jangan kau layani dia, karena setan telah mengalahkannya, tabi’atnya bergolak, dan akalnya sudah tertutupi.

Oleh karena itu ketika kamu melayaninya, atau bereaksi melawannya; kamu seperti orang waras yang melayani orang gila, atau seperti orang sadar yang memaki orang pingsan, sehingga kamu yang pantas dicela.

Tapi lihatlah dia dengan mata kasih sayang… dan ketahuilah bahwa bila dia sadar, pasti akan menyesali apa yang terjadi, dan mengakui jasamu dalam kesabaranmu… setidaknya kamu terima perlakuannya ketika dia marah hingga dia tenang.

Keadaan ini hendaknya diperhatikan oleh seorang ANAK ketika orang tuanya marah, begitu pula seorang ISTERI ketika suaminya marah, hendaknya dia membiarkannya puas dengan apa yang dikatakannya dan tidak melayaninya, maka dia akan kembali sendiri dengan rasa menyesal dan meminta maaf.

Ketika keadaan marah dan perkataannya dilawan, tentu permusuhan akan semakin jadi, dan saat dia sadar akan melakukan tindakan yang melampui tindakannya saat sedang ‘mabuk’.

Tapi, kebanyakan orang mengambil selain langkah ini; ketika mereka melihat orang marah, mereka melawan perkataan dan perbuatannya, padahal ini bukan tindakan yang tepat, namun tindakan yang tepat adalah apa yang kusebutkan tadi, dan tidaklah ada yang memahami hal ini, melainkan mereka yang berilmu.

[Kitab Shoidul Khothir, hal: 296].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kesabaran Dalam Iman…

Ali bin Abi Thalib berkata : Kesabaran dalam iman itu bagaikan kepala pada jasad, mungkinkah jasad akan hidup tanpa kepala??

Demikian pula iman, butuh kesabaran..
Ia memberi nutrisi hati tuk mentaati ilahi..
Namun sabar itu mudah tuk diucapkan, tetapi sulit.. Panas.. Dan berat..

Ketika iman berkata : “tujuan hidupku mencari keridlaan ar Rahman..
Kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan..
Disanalah kesabaran mendapat kesegaran..

Bukankah Rabbuna berfirman :

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, ia berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun..
Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami akan dikembalikan..

Mereka itu mendapat pujian dari Rabb, dan rahmatNya, dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah..

Saudaraku..
Apakah kita mengira dibiarkan mengucapkan: “Kami beriman”. Setelah itu kita tidak diuji ??
Tidak, demi Allah..
Ujian pasti kan menerpa..
menyaring keimanan..

Dikala ujian silih berganti..
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan umatnya agar semakin mendekat kepada ilahi..

Suatu malam beliau bangun tiba-tiba dan bersabda: Subhanallah.. Fitnah apa yang diturunkan di malam ini?..

Bangunkanlah para pemilik kamar itu..
Berapa banyak orang berpakaian di dunia, ia telanjang di akhirat..?

Moga untaian kata ini sedikit memberi kehidupan di hati kita..
Untuk menempuh jalan menuju Allah..

Bersabarlah..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Bersabarlah Di Dalam Mengamalkan As Sunnah…

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata,
“Demi Dzat Yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia, menegakkan As-Sunnah itu berada di antara dua kelompok. (Kelompok) yang ghuluw dan (kelompok) yang bersikap meremehkan. Maka bersabarlah kalian di dalam mengamalkan As-Sunnah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa merahmati kalian.

Sesungguhnya pada waktu yang lalu Ahlus Sunnah adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Maka demikian pula pada waktu yang akan datang, mereka adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang tidak mengikuti kemewahan manusia. Tidak pula mengikuti kebid’ahan manusia. Mereka senantiasa bersabar di dalam mengamalkan As-Sunnah sampai bertemu dengan Rabb mereka. Maka hendaknya kalian pun demikian.”

(Syarah Ath-Thahawiyyah, 2/326)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

 

Miliki Pesugihan Yang Cepat Bikin Sugih…

Mau jadi orang kaya? Terbayang deh, jadi kaya tuh bisa punya apartemen, vila, kendaraan yang serba mewah dan harta yang tentu saja melimpah?

Mudah kok, miliki saja pesugihan. Ndak usah kawatir, karena ndak perlu tumbal, atau sesajian, atau mantra dan kemenyan. Cukup heningkan cipta, lalu pusatkan pikiran, daaaaaan sekejap anda menjadi orang kaya raya, bahkan bisa jadi yang paling kaya.

Mau tahu, caranya? Temukan resepnya pada hadits berikut:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Bukanlah kaya raya itu karena anda memiliki harta benda yang melimpah, namun kekayaan yang sejati ialah jiwa yang senantiasa merasa berkecukupan. (Muttafaqun ‘alaih)

Alaaaah, kalu ini caranya yang miskin tetap saja miskin, yang susah tetap saja susah, hidup di gubuk tetap saja di gubuk, tidak akan berubah menjadi istana yang megah. Mungkin demikian gumam anda, bukankah demikian sobat?

Tenang sobat, ketahuilah bahwa inilah sejatinya biang kemiskinan yang sejati, ketika anda pesimis alias tidak beriman kepada ajaran agama anda sendiri. Kalau demikian cara berpikir anda, maka anda tidak akan pernah merasa menjadi orang kaya raya, walaupun anda telah memiliki segalanya.

Sahabat Abu Said mengisahkan: Suatu hari ia mengalami kelaparan hebat hingga ia mengikatkan batu ke perutnya. Untuk mengatasi kemiskinan ini, istrinya menyarankan agar ia meminta harta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Istri beliau mengusulkan hal ini karena ia mengetahui banyak orang yang meminta kepada beliau dan beliau memberi harta kepada mereka .

Setiba di rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat Abu Said mendapatkan beliau sedang berkhutbah dan bersabda : 
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعُفَّهُ الله ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ الله 
Barang siapa berupaya menjaga kehormatan dirinya, niscaya Allah menjaga kehormatannya. Barang siapa berusaha untuk merasa berkecukupan (kaya), niscaya Allah melimpahkan kecukupan (kekayaan) kepadanya.

Mendengar ucapan beliau ini, segera sahabat Abu Said membalikkan badannya dan pulang. Tidak selang berapa lama, Allah Ta’ala benar-benar melimpahkan kekayaan kepadanya, hingga beliau mejadi lelaki Anshar yang paling kaya. (Bukhari, Muslim dll)

Sobat! Percayalah, semua itu sangatlah mudah, bagi Allah, karena seluruh rejeki adalah milik-Nya, dan Ia kuasa memberi anda apapun yang Ia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman:

فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ 
Maka carilah rezqi di sisi Allah dan beribadahlah kepada-Nya. (Surat Al Ankabut 17)

Hanya saja yang jadi masalah! Benarkah anda sudah mempersiapkan kantong dan gudang untuk menyimpan kekayaan yang akan Allah berikan? Dan sudahkan anda menyiapkan mental anda agar pantas dan layak menjadi orang kaya.

Betapa banyak orang yang kekayaannya telah melimpah, namun jiwanya masih saja kerdil dan sempit tak ubahnya orang fakir, bahkan ia merasa dirinya sebagai orang termiskin di dunia. Ia bersikap kikir, nan pelit, bukan hanya kepada orang lain, bahkan kepada dirinya sendiri, hartanya terus ia simpan dan simpan, bukan dinikmati.

Kalau anda berkata: la bagaimana lagi, perut hanya cukup menampung sepiring makanan, badan hanya bisa memakai sepasang baju, kantong hanya bisa membawa beberapa kartu ATM dan alasan lain yang serupa.

Ya, betul alasan anda, namun bila anda cerdas niscaya anda dapat membawa seluruh harta anda kemanapun anda pergi dan menikmati seluruh harta anda. Ingin tahu caranya? Percayakan kepada para malaikat pencatat amalan, sehingga mereka akan terus membawakannya untuk anda agar dapat anda nikmati semuanya, kelak di surga.

Selamat menjadi orang kaya raya, di dunia hingga di akhirat.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Fenomena Gunung Es : Edisi Curhat…

Akhi ukhti…

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sejak beberapa pekan belakangan ini media diributkan dengan berbagai peristiwa memilukan

Pemerkosaan anak dibawah umur sampai berujung pembunuhan
Belasan Anak-anak SD yang mabuk dengan lem fox dan ditemukan alat kontrasepsi di tas mereka
Lebih parah lagi 5 anak SMP(14 tahun) dan 3 anak SD( 12 tahun dan 9 tahun) yang memerkosa secara rame-rame anak umur 13  di surabaya ?
Apalagi!!!

Semua ini adalah  fenomena  gunung es, hari hari akan menyingkap yang lebih dahsyat dan menakutkan

Siapa yang harus disalahkan ?
kalau ternyata semua itu adalah disebabkan kita semua, ditambah lagi pendidikan yang mengarah kesana tanpa disadari atau memang ada tangan tangan jahil yang menginginkannya ?

Aku mau curhat ni…

Hari ini, tgl 6 Sya’ban ketika sedang mengajari anak yang duduk di  kelas 3 SD, mata pelajaran bahasa Inggris.
Dan ada sesuatu yang membuat perutku mulas dan emosiku membara serta jantungku berdetak keras…

Ternyata anak SD kelas 3 telah diajari kemaksiatan yang kelak dapat  berujung kepada pemerkosaan

Di unit  9
Dengan judul Ms Lia is Beautiful

Ada gambar 2 anak laki SD dengan seragam putih merah, celana pendek yang tentunya adalah gambaran untuk bocah kelas 3 SD
Dua anak itu sedang berbincang kemudiAn lewatlah seorang cewek dengan setelan pakaian  warna abu-abu  dengan span pendek Selutut layaknya seorang guru atau pegawai negeri, membawa lembaran putih di tangannya.

Lihathah obrolan dua bocah SD itu tentang cewek yang lagi lewat

Look ! The woman is Beautiful , Who is She?
Bocah yang satunya menjawab, “She is Ms lia, She is tall too.

Mungkin kau akan berpikir kalau aku berlebihan…
Cobalah kau renungkan, apa tujuan anak kelas 3 SD diajarin hal ini?
What for ?

Kalau buku- buku sekolah saja mengajarkan hal seperti ini, bagaimana dengan yang lainnya ?

Iklan-iklan di pinggir jalan yang mengumbar aurat dan membakar birahi
Majalah-majalah setengah porno yang dijual bebas…
Gambar- gambar di koran setengah bugil
Artis-artis dan penyanyi-penyanyi yang senantiasa tampil seksi tidak karuan
Sinetron-sinetron yang mengajarkan pacaran dan berduaan dengan lawan jenis
Warnet-warnet yang bebas dimasuki anak-anak
Game-game anak dengan lakon-lakon setengah telanjang
Pramugari, pramusaji, SPG, para pelayan mall yang semuanya mengumbar aurat
Pergaulan bebas di sekolahan…
Di jalan di pasar di kantor pemandangan yang mengundang birahi dipertontonkan
Sangsi terhadap pelaku kriminal yang tidak membuat jera

Setelah semua faktor perusak di atas yang dibuat dan diresmikan, apakah pantas kita marah lalu mengutuk apabila terjadi pemerkosaan ?

Akhirnya kita sendiri yang pantas dikutuk,
seperti seorang ayah yang melemparkan anaknya ke kolam lalu dia berpesan,
” Ananda, berhati- hatilah jangan sampai  dirimu basah”

AKHI ukhti…

Tidak adalah solusi yang dapat menyelamatkan manusia dari berbagai permasalahan, dari segala ketakutan dan kecemasan, dari segala kepedihan dan kesengsaraan  kecuali satu….

Kembali kepada ajaran Islam, yang Allah turunkan untuk umat manusia
Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan Islam abal-abalan

Dan ketahuilah mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim

Dan pelaku pelaku pemerkosaan juga mayoritasnya adalah muslim, atau mungkin semuanya muslim

Kenapa itu terjadi?
Mana Islam mereka?

Mereka hanya mendapatkan pendidikan Islam yang minim sekali
Mereka tidak mendapatkan hak yang cukup untuk belajar Islam…

Islam adalah agama yang menebarkan ketentraman dan kedamaian
Menjaminkan kesejAhteraan bagi seluruh umat manusia

Dalam permasalahan pemerkosaan dan pencabulan Islam telah memberikan solusi sejak 15 abad yang lalu, solusi yang paten dan terbukti…

Islam tidak HANYA melarang perzinaan namun islam melarang manusia mendekati perzinaan

Mulai dari perintah menutup aurat
Perintah Menundukkan pandangan
Memisahkan anak- anak tidur di ranjang setelah umur 10 tahun
Memerintahkan agar anak-anak tidak masuk ke kamar ortunya kecuali dengan izin khususnya di waktu- waktu orang tua melepaskan pakaiannya

Larangan berduaan dengan yang bukan mahrom nya

Perintah untuk segera menikah
Larang Safar tanpa mahrom

Larangan duduk di pinggir jalan kecuali memang terpaksa dan memberikan hak jalan
Larangan menyentuh wanita yang bukan mahromnya
Larangan berucap yang lemah lembut(menggoda) bagi wanita
Dan lainnya

Semua itu bukanlah untuk mengekang manusia atau mengeruhkan kehidupannya

Namun demi memberikan kesejahteraan bagi umat manusia, anak-anak dan orang tua serta negara
Agar tidak terjadi perzinaan apalagi pemerkosaan

Bila kita meninggalkan aturan sang pencipta….

Maka azab Allah yang akan turun
Orang tua akan ditimpa ketakutan dengan anak anaknya

Pemerintah akan kelelahan memadamkan api yang memang disulut dengan sengaja

Para guru dan pengajar akan disibukkan untuk mengobati luka-luka yang dibikin oleh media

Para ulama dan tokoh agama akan diberi pekerjaan untuk membersihkan sampah-sampah yang dengan sengaja ditebarkan

Para kalapas akan kebingungan dengan penuhnya penjara dengan pelaku-pelaku kriminal

DPR akan dibebani untuk memikirkan sangsi yang tepat untuk pelaku pemerkosaan di bawah umur yang para pelaku sejatinya memang didukung oleh lingkungan, pendidikan dan media serta sarana lainnya

Komisi perlindungan anak akan berteriak-teriak meminta keadilan

Psikiater geram sampai terkena stroke karena kasihan dengan para korban

Lalu sampai kapan kita akan begini?
Bagaimana kelak masa depan anak-anak kita

There in Only One way….

BACK TO ISLAM

Ramadhan hampir tiba
Ini  adalah momentum berharga bagi umat Islam Indonesia
Untuk kembali mengkaji apa itu Islam
Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dipahami oleh para sahabatnya, Islam yang pernah menaklukkan Persia dan Romawi menebar keadilan di bumi   penuh kedhaliman pada waktu itu

Berusahalah untuk Mengkhususkan waktu untuk membuka lembaran lembaran Alquran
Dan mengamalkan dalam diri, keluarga dan kehidupan

Kita hanya sementara di sini
Semua kesenangan dan kesedihan juga hanya sementara
Ada dua tempat abadi
Surga atau Neraka
Dan hanya ada satu jalan menuju surga
ISLAM

Syafiq Basalamah, حفظه الله

Ikut Shalat Berjama’ah Ketika Imam SEDANG Ruku’, Apakah Bertakbir Untuk Takbirratul IHRAM Atau Ruku’…?

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rohimahullah ditanya : Saya masuk masjid dan saat itu jama’ah sedang ruku’. Apakah dalam keadaan seperti ini, saya harus membaca takbiratul ikhram dan takbir ruku’ (membaca dua takbir?). Dan haruskan saya membaca do’a isftitah.

Jawab.
Apabila seorang muslim masuk masjid dan imam sedang ruku’, maka dia harus ikut ruku bersama imam dengan dua kali takbir, yaitu takbiratul ihram kemudian dia berhenti, lalu takbir untuk ruku’ ketika dia membungkukkan badannya untuk ruku’. Dan dalam keadaan seperti ini, dia tidak usah membaca doa iftitah dan Al-Fatihah karena sempitnya waktu.

Dalam hal ini dia terhitung mendapat satu raka’at. Hal ini berdasarkan hadits Abu Bakrah As-Saqafi Radhiyallahu ‘anhu di dalam Shahih Bukhari.

“Bahwa pada suatu hari dia masuk masjid dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (beserta para jama’ah) sedang ruku’. Lalu Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu ruku’ sebelum sampai shaf. Kemudian (sambil ruku’) dia berjalan menuju shaf. (setelah selesai shalat) Nabi bersabda kepadanya ; Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah semangatmu (dalam kebaikan) tapi jangan diulang lagi” [HR Abu Dawud : 586]

Dan ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu menambah satu rakaat lagi. Hal ini menunjukkan bawha orang yang masuk dalam shalat jama’ah ketika imam sedang ruku’, dia dihitung mendapat satu raka’at. Dan juga menunjukkan bahwa kita tidak boleh ruku’ sendirian di belakang shaf. Tapi harus masuk dulu ke dalam shaf, baru kita ruku’, walaupun hal ini bisa menyebabkan kita tertinggal (dari ruku’nya imam). Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepad Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah semangatmu (dalam kebaikan) tapi jangan diulang lagi”

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penolong

Ref : https://almanhaj.or.id/2312-ikut-shalat-berjamaah-ketika-imam-sedang-ruku-apakah-bertakbir-untuk-takbiratul-ikhram-atau-ruku.html

Jika Masbuk Mendapati Imam Sedang Ruku’ / Sujud, Apakah Setelah Takbirratul Ihrom Posisi Tangan Sedekap Lalu Ikut Gerakan Imam…?

Pertanyaan :

Assalamu’alaykum Ustadz, jika kita masbuk dan Imam sedang ruku’, kita khan Takbirratul ihrom dahulu, lalu Posisi tangan, apakah sedekap dahulu terus takbir intiqol lalu ruku bersama Imam ? Atau tidak perlu sedekap Ustadz ? Jadi maksudnya, setelah takbiratul ihram, tangan lurus ke Bawah terus takbir intiqol lalu ikut ruku’ ..? Syukron lakum

Jawaban :
Irfan Helmi,  حفظه الله تعالى

Pertanyaan senada pernah kami tanyakan ke Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, hafizhohullah, murid senior syaikh Al-Albani rahimahullah.

Beliau menjawab:
“…Lakukan takbiratul ihrom dengan mengangkat kedua tangan, terus langsung ruku’ atau ikuti gerakan Imam TANPA sedekap. Karena posisi sedekap dilakukan saat Imam baca qiroah Al-Fatihah atau surat yang lain
*(حالة القراءة)*_

Allahu a’lam

Apakah Makmum yang Mendapatkan Ruku’ Mendapatkan Raka’at Padahal Tidak Membaca Al Fatihah…?

Dalam salah satu hadits disebutkan: “Barangsiapa yang mendapati ruku’ (yakni imam sedang ruku’ pada saat sholat Jama’ah, pent) maka ia telah mendapatkan raka’at” dan dalam hadits lain (Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam) bersabda: “Tidak ada sholat bagi siapa yang tidak membaca Al Fatihah”. Bagaimanakah cara menggabungkan antara kedua hadits tersebut?

Penggabungan/Kompromi untuk kedua hadis ini bahwa barangsiapa yang mendapati ruku’, maka ia telah mendapatkan raka’at, berlaku untuk orang yang memiliki udzur karena ia tidak mendapatkan imam saat berdiri sehingga ia sempat membaca (Al Fatihah, -pent). Sementara Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam ketika Abu Bakrah menyebutkan bahwasanya dia hanya mendapatkan ruku’, Nabi tidak memerintahkan Abu Bakrah untuk mengganti raka’at tersebut (1). Hal ini menunjukkan bahwa rukun membaca Al Fatihah gugur jika seseorang tidak mendapati imam kecuali sedang ruku’.

Begitu pula jika makmum lupa untuk membacanya atau tidak tahu akan hal tersebut maka kewajiban membaca Al-Fatihah menjadi gugur baginya. Raka’atnya dianggap telah sempurna. Akan tetapi membaca Al Fatihah merupakan rukun bagi imam dan orang yang shalat sendirian. Mereka harus membacanya. Adapun bagi makmum, gugur kewajiban tersebut darinya jika ia tidak tahu, atau lupa, atau ia datang pada saat imam sedang ruku’.

****
(1). Keterangan: Hadits yang dimaksud adalah hadits berikut:
Dari Abi Bakrah –radhiyallaahu ‘anhu– bahwasanya ia mendapati Nabi –shallallaahu’alaihi wa sallam– ketika beliau sedang ruku’, maka ia pun ruku’ sebelum ia sampai ke shaf shalat jama’ah. Maka ia menyampaikan hal tersebut kepada Nabi – shallallaahu’alaihi wa sallam-, lalu beliau bersabda: “Semoga Allah menambahkan semangat kepadamu, janganlah engkau mengulanginya.” (Shahih, HR.Bukhari, Abu Daud, dan An Nasa’i; terdapat dalam “Shahiihul Jaami’” no. 3565)

***

artikel muslimah.or.id
Marji’aan:
www.binbaz.org.sa

Ref : https://muslimah.or.id/3506-apakah-makmum-yang-mendapatkan-ruku-mendapatkan-rakaat-padahal-tidak-membaca-al-fatihah.html

Menebar Cahaya Sunnah