Membuka Telapak Tangan Ketika Salam…

Bismillah was shalatu was salamu ala rasulillah, amma badu,

Fenomena salam dengan membuka tangan. Salam ke kanan, membuka tangan kanan, salam ke kiri dengan membuka tangan kiri. Ada juga salam ke kanan membuka tangan kanan, namun ketika salam ke kiri, telapak tangan tidak dibuka.

Saya pernah bertemu dengan orang yang mempraktekkan semacam ini, dan ketika saya tanya, beliau menjawab, ketika salam ke kanan, tangan kanan dibuka, dengan harapan terbukalah pintu surga. Salam kiri tetap ditutup, tertutuplah pintu neraka. Itu alasannya, dan beliau sama sekali tidak menyebutkan dalil.

Sebenarnya kebiasaan semacam ini pernah dilakukan sebagian sahabat di zaman Nabishallallahu alaihi wa sallam. Kemudian beliau ingatkan dan beliau melarangnya.

Dari Jabir bin Samurahradhiyallahu anhu, “Ketika kami shalat bersama Rasulullahshallallahu alaihi wa sallam, kami mengucapkan ‘Assalamu alaikum wa rahmatullah  Assalamu alaikum wa rahmatullah’ sambil berisyarat dengan kedua kanan ke samping masing-masing. Kemudian Rasulullahshallallahu alaihi wa sallammengingatkan, “Mengapa kalian mengangkat tangan kalian, seperti keledai yang suka lari? Kalian cukup letakkan tangan kalian di pahanya kemudian salam menoleh ke saudaranya yang di samping kanan dan kirinya.” (HR. Muslim 430, Nasai 1185, dan yang lainnya)

Larangan ini menunjukkan bahwa membuka telapak tangan ketika salam, termasuk kesalahan dalam shalat. Jika ini telah ditegaskan salah oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, layakkah dilestarikan dan dipraktekkan?

Allahu alam.

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

(islam.istiqomah)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam
image

Kekayaan Dan Kemiskinan Adalah Cobaan…

Tidak setiap orang yang diberikan kenikmatan
dunia adalah orang yang mulia di sisi Allah.
Sebagaimana pula, tidak setiap orang yang
dibatasi rizkinya adalah orang yang hina di
sisi-Nya. Sebab kekayaan dan kemiskinan,
kelapangan dan kesempitan, itu semua adalah
cobaan dari Allah untuk menguji hamba-Nya.

Siapakah diantara mereka yang menunaikan
kewajiban syukur dan sabar sehingga Allah
akan membalas mereka dengan balasan yang
melimpah. Dan siapakah diantara mereka
yang tidak menunaikan kewajiban itu sehingga
menyebabkan dirinya berhak mendapatkan
siksaan yang amat berat.

(Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 923-924)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Nasehat Penuh Makna…

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

“Ridhalah dengan apa yang Allah tetapkan bagimu, maka engkau akan menjadi salah satu manusia yang paling kaya.

Jauhilah apa yang telah diharamkan Allah untukmu, maka engkau akan menjadi salah satu manusia yang paling wara’.

Laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, maka engkau akan menjadi manusia yang paling taat.

Dan janganlah engkau berpaling dari mengadu kepada Yang paling menyayangimu, kepada orang yang belum tentu mengasihimu.

Serta minta tolongkah kepada Allah, maka engkau akan menjadi salah satu dari hamba yang dekat denganNya”. 

(Untaian Hikmah Pelembut Jiwa, Syaikh Shalih Ahmad Asy Syami Hal 68)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Cara Hidup Tenang Menurut Islam…

Nasihat Syaikh Utsaimin رحمه الله تعالى :

“Kita jumpai manusia zaman sekarang
pergi berlibur ke berbagai tempat,
untuk bersenang-senang, untuk
mengenyahkan luka dan letih jiwanya.
Padahal sebenarnya, yang mampu
menghilangkan itu semua adalah iman.
Iman yang sejati mengantarkan jiwa
menuju ketenangan sejati.

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang
beriman. Beriman di dunia, dan selamat
dari azab Allah pada hari kiamat kelak.”

(Tafsir Juz ‘Amma, 1:206)

Sumber: WanitaSalihah.Com

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Berbaik-Sangkalah Kepada Saudaramu…

Ketika dia mengingatkanmu agar jangan melakukan ritual yang tidak dituntunkan oleh nabi tercinta shallalahu ‘alaihi wasallam, itu bukan karena dia melarangmu beribadah. Tapi agar anda selamat dari kerugian, akibat ibadah yang tidak berpahala, karena nabi shallalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka amalan itu ditolak (percuma, tanpa pahala).” [HR. Muslim]

Ketika ada orang lain mengingatkan anda agar jangan membeli emas, karena itu sebenarnya emas palsu, pantaskah anda membencinya ?

Seharusnya anda sangat berterima kasih kepadanya, dan berusaha mencari dan membeli emas yang asli. Begitu pula dalam masalah ibadah, harusnya anda berterimakasih lalu mencari dan melakukan ibadah yang benar-benar ada tuntunannya dari nabi shallalahu ‘alaihi wasallam.

Jika kita harus berhati-hati dalam masalah dunia, tentunya kita harus lebih berhati-hati dalam masalah akhirat.

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

image

Menebar Cahaya Sunnah