Koreksi Diri Sendiri

** Jika anda sholat berjama’ah lantas tidak bisa khusyu’ maka jangan salahkan imam, dengan alasan suara sang imam buruk…,

** Jika anda berkaca lantas tampak wajah anda yang kurang rupawan maka jangan salahkan cermin…

** jika anda memiliki rambut yang kurang berkilau maka jangan salahkan sampo yang anda pakai…

** jika anda belajar lantas kurang paham apa yang disampaikan guru maka janganlah salahkan sang guru….

** jika … jika…

Belajarlah menyalahkan dan mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyalahkan orang lain.

Para salaf menasehati agar kita tatkala melihat orang lain berusahalah untuk melihat kebaikan-kebaikan mereka, adapun tatkala melihat diri kita sendiri maka hendaklah kita berusaha melihat kekurangan-kekurangan kita agar kita tidak tertimpa penyakit ujub, dan mengakui serta menghargai kelebihan orang lain, serta berusaha mencari udzur untuk kesalahan orang lain.

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Sahabat Sejati

Sahabatmu yang menasehatimu
adalah sahabat yang sayang padamu
sehingga ingin kebaikan bagimu..

Adapun sahabat yang membiarkanmu
dalam kesalahan tanpa menasehatimu
adalah sahabat yang telah menipumu..

Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

Hasad

Jika anda hasad sungguh anda sedang teradzab, karena hasad adalah siksaan hati yang sangat pedih..

Maka lawanlah hasad tersebut agar anda bahagia.

Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

Kisah : Balasan Nan Indah

Abu Ibrahim bercerita,

Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas.. kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang..

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung.. matanya buta.. dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍمِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً ..الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍمِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. ..

“Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia.. Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia..”

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh.. ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi.. kedua tangannya buntung.. matanya buta.. dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya..

Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya..? atau isteri yang menemaninya..? ternyata tak ada seorang pun..

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku.. ia lalu bertanya: “siapa..? siapa..?”

“Assalaamu’alaikum.. aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini..” jawabku, “Tapi engkau sendiri siapa..?” tanyaku.

“Mengapa engkau tinggal seorang diri di tempat ini..? Di manakah istrimu, anakmu, dan kerabatmu..? lanjutku.

“Aku seorang yang sakit.. semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal..” jawabnya.

“Namun kudengar engkau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia..!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara..?!?” ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu.. tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah engkau mengabulkannya..?” tanyanya.

“Jawab dahulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu..” kataku.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia.. bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir..”

“Betul..” jawabku.

Lalu ia berkata: “Berapa banyak orang yang gila..?”

“Banyak juga..” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia..” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku..” tanyanya.

“Iya benar..” jawabku.

“Berapa banyak orang yang tuli tak mendengar..?” katanya.

“Banyak juga..” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb..” katanya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku..” tanyanya.

“Iya benar..” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara..?” tanyanya.

“Wah, banyak itu..” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb..” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya.. mengharap pahala dari-Nya.. dan bersabar atas musibahku..?” tanyanya.

“Iya benar..” jawabku. lalu katanya, “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit..? mereka merugi di dunia dan akhirat..!!”

“Banyak sekali..”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb..” katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu.. dan aku semakin takjub dengan  kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah..

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau.. mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya.. tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’.

Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya.. mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar..

Aku pun menyelami fikiranku makin jauh.. hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan,

“Hmmm.. bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah engkau mengabulkannya..?”

“Iya.. apa permintaanmu..?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun.. dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku..

sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja.. dan engkau tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya..”

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya..

Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut.. aku tak tahu harus memulai dari arah mana..

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu.. maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.

Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong.. rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung..

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah..

Aku pun turun dari bukit.. dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam..

Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian.. ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya..?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua.. aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana..?

Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam.. maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan.

Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya, ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah..?”

Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu.. siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam..?”

“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah..” jawabnya.

“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya..?” tanyaku kembali.

“Tentu Ayyub..” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung.. ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya..” jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah..” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya.. namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya.. hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya.. lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya..

Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka.. nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku..

Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian..? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya.. maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya..?”

“Iya..” jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya.. namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah.. Abu Qilabah..!!”

Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh..

Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah..

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah.. ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna.. ia berjalan-jalan di tanah yang hijau.. maka aku bertanya kepadanya:

“Hai Abu Qilabah.. apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini..?”

Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu.. maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali

Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.

Ref : https://konsultasisyariah.com/23673-kisah-kesabaran-tanpa-batas.html

Renungan Bagi Para Da’i…

قال خلف بن تميم رحمه الله :
سمعت سفيان الثوري بمكة وقد كثر الناس عليه، فسمعته يقول: ضاعت الأمة حين احتيج إلى مثلي

Kholaf bin Tamim berkata : Aku mendengar Sufyan Ats-Tsaury di Mekah -tatkala banyak orang mengerumuni beliau- (karena luasnya ilmu beliau-pen), maka aku mendengar beliau berkata, “Umat menjadi terbengkalai tatkala dibutuhkan orang sepertiku” (Tahdzibul Hilyah 2/363)

Lihatlah Imam Sufyan Ats-Tsaury yang tenar akan ilmu dan takwanya, akan tetapi beliau tidak merasa ujub dan merasa bangga tatkala dikerumuni oleh banyak orang yang ingin menimba ilmunya darinya. Maka jangan sampai sebagian kita para da’i yang sangat minim ilmunya tapi selalu merasa umat membutuhkannya?, merasa kalau tidak ada dia maka umat dan dakwah akan terbengkalai?

Hendaknya kita tetap terus berdakwah dengan menghadirkan kebahagiaan bahwasanya Allah masih menggunakan kita untuk dakwah, Allah masih memasukan kita dalam rel dakwah. Tanpa ujub apalagi merasa “sangat” dibutuhkan umat.

Justru kita yang sangat butuh untuk berdakwah untuk menyelamatkan diri kita. Jangan sampai ujub, sungguh kalau kita pun tidak ada maka Allah akan menyiapkan da’i-da’i yang lebih berilmu dan dan lebih ikhlash dari pada kita.

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Hidup Mulia Di Rindu Surga…

Jangan malu dengan masa lalu seburuk apapun itu, karena yang terpenting adalah bagaimana untuk berubah menjadi lebih baik, di masa sekarang dan untuk masa depan nantinya.

Justru yang harusnya malu itu ketika kita merasa nyaman dengan keburukan, tanpa ada usaha untuk mau berubah menjadi lebih baik.

Bukankah kita saksikan sejarah mencatatkan bagaimana masa lalunya Umar Ibn Khattab, masa lalunya Khalid ibn Walid, masa lalunya Abu Sofyan dan Hindun istrinya.

Sungguh hanya dengan memahami islamlah kemuliaan itu akan Nampak, keadilan dan perubahan hakiki itu akan terwujud.

Jelaslah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kepada siapa saja hamba-Nya yang berkeinginan kuat untuk berubah, bukankah Allah itu bagaimana prasangka hamba-Nya.

Pintu Taubat dan Ampunan-Nya seluas langit dan bumi, tidakkah kita tergerak untuk menjemput Rahmat-Nya? Ataukah kita tetap Nyaman dengan keburukan hidup sekarang?

Hmmm… Masa lalu, tenanglah saudaraku, aku disini bersamamu, mari langkahkan hati, kokohkan niat menuju perubahan hakiki. Kebahagiaan dunia akhirat yang kita nanti.

Saudaraku, kesempatan itu masih ada, waktu itu masih tersisa, maka tidakkah kita tergiur untuk menyisakan nafas yang tersisa ini, dengan satu tujuan “hidup mulia di rindu surga.”

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Bertaubat…

Saya melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka.
Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah di tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan.

Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku: cukup..cukup…! Saya mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.

Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: “Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!” Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya.

Saya tidak tahu, apa yang sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihat saya dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:
Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahiku untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah aku cicipi dalam perjalanan ini.

Aku mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajahku. Sesak dadaku. Aku merasa sangat hina. Aku merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasadku, layaknya cambuk. Akupun bingung dan bertanya pada diriku: “Sampai kapan kelalaian ini akan kualami? Kemana lagi aku harus melaju? Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan?”
Lalu tadi aku ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.

Akupun menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubatku?” Kujawab dengan firman Allah yang artinya,
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.”

Pelajaran:
Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?

Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri. Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan.

Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,
“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”
Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:
“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).

Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh Ustadz Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى )

Courtesy of Risalah Islam

Syiah: HomoSeks Dan Sodomi Itu Ibadah…

Ada satu risalah yang ditulis salah satu tokoh syiah, dia bergelar al-Mufassir (ahli tafsir), al-Muhaddits (ahli hadis), dan al-Muarrikh (ahli sejarah) versi syiah. Dia bernama Samahah Sayid Mulah Zadah Ridha.

Dia menyatakan,

كان قد سألني بعض الأصحاب أن أكتب له رسالة مختصرة في وصف وفضائل وطء الأدبار ، تكون جامعة وكافية وشافية… ولما كثر الإلحاح والطلب صرفت بعض الوقت قبيل وطء صبياني الحسان في كتابة هذه الرسالة النفسية وسميتها ” الإخبار بما صح في ضرب الحلق من فضائل مروية عن سادة آل البيت وآثار معتبرة وأخبار”.

Ada sebagian kawan yang memintaku untuk menulis risalah ringkas tentang cara dan keutamaan menyetubuhi dubur, yang lengkap dan komprehensif… ketika permintaan semakin banyak, aku sediakan waktu khusus, sebelum aku menyetubuhi anak-anakku yang cakep, untuk menulis risalah yang mulia ini. Yang aku beri nama: “al-Ikhbar bima shahha fi dharbil halqi min fadhail, marwiyah ‘an sadati alil bait, wa atsaar mu’tabarah wa akhbar.” Artinya, “Informasi terkait riwayat yang shahih tentang keutamaan menyetubuhi dubur. Berdasarkan riwayat dari pemuka ahlil bait dan riwayat-riwayat yang diterima.”

Selanjutnnya Zadah Ridha memberikan mukadimah,

وأقول بداية أن الله خلق الأدبار لتكون موضعاً شريفاً للأزْبَـار ، وحكمتها تضاهي حكمه خلق الليل والنهار ، والوطء مرغوبٌ فيه وقت الإقامة والأسفار ، فالإسْتُ الحصن الحصين وهي العلاج إذا فقد الطب عمل يسير يعود بالنفع على فاعليه بالأجر الكثير رؤية الإست عبادة ، ولمسها عبادة وتقبيلها عبادة ، ووطئها عبادة ، والنظر إلي الدبر، والبحث عنه عباده ومجرد التفكير في الإست أو الدبر هو عبادة محضة

Saya awali dengan pernyataan, bahwa Allah menciptakan dubur untuk menjadi tempat mulia bagi azbar (penis). Hikmahnya seperti hikmah penciptaan siang dan malam. Senggama sangat diinginkan ketika itu, baik ketika di rumah maupun ketika safar. Pantat adalah pelindung, yang menjadi obat ketika tidak ada dokter. Amal yang mudah tapi memberikan manfaat dan pahala besar bagi pelakunya. Melihat pantat itu ibadah, mengelus pantat ibadah, menciumnya ibadah, menyetubuhinya ibadah, melihat dubur ibadah, mengarah ke dubur ibadah, membayangkan pantat dan dubur juga ibadah.

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…

baca selengkapnya di:

https://konsultasisyariah.com/26479-syiah-homoseks-dan-sodomi-itu-ibadah.html

#SyiahBukanIslam

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Kasih Sayang Allah…

Termasuk kasih sayang Allah
adalah Ia menjadikan kehidupan di
dunia ini tampak rumit dan keruh,
sehingga manusia tidak betah dan
tidak merasa tenang tinggal di
dalamnya.

Allah menggiring mereka dengan
berbagai cobaan dan ujian.
Sehingga dia akan merasa rindu
dengan kenikmatan abadi di kampung
akhirat dan berada di sisiNya.

Ibnul Qayyim, رحمه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Kejujuran Mengantarkan Ke Surga…

Kejujuran adalah sebuah akhlak yang sangat mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian wajib untuk jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga” (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kejujuran adalah jalan yang lurus dimana orang yang tidak menempuh jalan tersebut, dia akan celaka dan binasa. Dengan kejujuran inilah, akan terbedakan siapakah yang munafik dan siapakah orang yang beriman, dan siapakah yang termasuk penduduk surga dan siapakah yang termasuk penduduk neraka.”

(Madaarijus Salikin, 2/ 257)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Menebar Cahaya Sunnah