Sukses Yang Sesungguhnya…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Sukses yang sesungghnya adalah sukses di akhirat, percuma sukses di dunia dalam berbagai bidang tapi di akhirat merugi. Karena kerugian di akhirat adalah kerugian yang sesungguhnya.

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Az-Zumar 15)

Yang terbaik adalah sukses di dunia dan di akhirat.

image

Jangan Tertipu…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
Hatim Al Ashom berkata:
Jangan tertipu dengan tempat yang suci..
Tidak ada tempat yang lebih suci dari surga..
Namun nabi Adam berbuat kesalahan di dalamnya..

Jangan tertipu dengan banyaknya ibadah..
karena Iblis tadinya ahli ibadah..
tapi ia melakukan perbuatan yang nista..

Jangan tertipu dengan banyaknya ilmu..
karena Bal’am bin ba’ura diberi ilmu yang dalam..
tetapi ia lepas darinya..
padahal ia mengetahui nama yang paling agung..

Jangan tertipu karena berteman dengan orang orang shalih..
karena tidak ada yang lebih shalih dari Rasulullah..
tetapi kaum munafiqin tidak beriman walaupun bertemu dengan Nabi..

Adab Penting Ketika Ucapan Salam Kita Tidak Dijawab…

Aris Munandar, حفظه الله تعالى

سئل الإمام أحمد عن رجل مر بجماعة فسلم عليهم فلم يردوا عليه السلام فقال:
يسرع في خطاه لا تلحقه اللعنة مع القوم

Imam Ahmad mendapatkan pertanyaan mengenai seorang yang bertemu dengan sekelompok orang. Tatkala dia mengucapkan salam tidak ada satu pun yang menjawab salam. Jawaban beliau, “Hendaknya orang tersebut segera bergegas meninggalkan mereka agar dia tidak tertimpa laknat yang diturunkan kepada orang orang tersebut” (Adab Syar’iyyah karya Ibnu Muflih al Hanbali 1/379)

image

Dahsyatnya Pergi Ke Masjid…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

# 3 Amalan yang Diperbincangkan para Malaikat #
——————————————————
Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ahuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَانِي اللَّيْلَةَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُوْرَةٍ قَالَ: أَحْسَبُهُ، قَالَ: فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ اْلأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: لاَ، قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيَيَّ، أَوْ قَالَ: فِي نَحْرِي، فَعَلِمْتُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ، قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، هَلْ تَدْرِي فِيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ اْلأَعْلَى، قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ فِي الْكَفاَّرَاتِ وَالْكَفَّارَاتُ الْمَكْثُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ وَالْمَشْيُ عَلَى اْلأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ وَإِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ فِي الْمَكَارِهِ وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ وَمَاتَ بِخَيْرٍ وَكَانَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.”

‘Malam tadi Rabb-ku datang kepadaku dalam bentuk yang paling indah, aku menyangka bahwa itu terjadi di dalam mimpi. Kemudian Dia berfirman kepadaku, ‘Wahai Muhammad, apakah engkau tahu apa yang menjadi bahan pembicaraan para Malaikat ?’

Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu.’

Lalu Allah meletakkan tangan-Nya di antara kedua pundakku, sehingga aku merasakan dingin di dada atau di dekat tenggorokan, maka aku tahu apa yang ada di langit dan bumi.

Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, tahukah engkau apa yang menjadi bahan pembicaraan para Malaikat?’

Aku menjawab, ‘Ya, aku tahu. Mereka membicarakan al-kafarat.’

Al-kafarat itu adalah
*** berdiam di masjid setelah shalat,
*** melangkahkan kaki menuju shalat berjama’ah, dan
*** menyempurnakan wudhu’ dalam keadaan yang sangat dingin.

Barangsiapa yang melakukannya, maka ia akan hidup dengan baik dan wafat dengan baik pula, ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari di mana ia dilahirkan dari (rahim) ibunya.”

[Jaami’ at-Tirmidzi bab Tafsiir al-Qur-aan ‘an Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam surat Shaad (IV/173-174 no. 3233 dengan diringkas). Syaikh al-Albani berkata: “Hadits ini shahih.” (Shahiih Sunan at-Tirmidzi II/ 98 dan Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib I/194)]

subhanallah..
orang selalu pergi ke masjid dijamin hidupnya dalam keadaan baik, wafatnya pun dalam keadaan baik.
siapakah yang tidak ingin wafat dalam keadaan baik ??

Imam bu Dawud rahimahullah meriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu anhu, dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
“Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta’ala, yaitu
*** orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian
*** orang yang pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan
*** orang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh syaikh al Albani).

dijamin oleh Allah ??
luar biasa.. 
lebih dari jaminan hari tua..
atau jaminan asuransi kesehatan..
atau jaminan jaminan dunia lainnya..
karena itu tak menjamin surga..
harapan seorang mukmin adalah mendapat jaminan dari Allah..
pencipta alam semesta..

Satu Haji Atau Umrah Tidak Boleh Untuk Dua Orang…

Almanhaj

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, رحمه الله تعالى

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Alhamdulillah, saya setiap tahun pergi ke Mekkah untuk umrah dalam bulan Ramadhan. Pada suatu ketika saya niat umrah untuk bapak saya dan pada kesempatan lain saya niat umrah untuk ibu saya. Tapi dalam kesempatan terakhir saya niat umrah untuk keduanya. Maka ketika saya bertanya tentang umrah terkahir saya ini dijawab bahwa umrah saya dinilai untuk saya sendiri dan tidak untuk kedua orang tua saya. Apakah demikian itu benar ?

Jawaban
Ya itu benar. Ulama menyatakan bahwa satu umrah tidak dapat diniatkan untuk dua orang. Satu umrah hanya untuk satu orang. Adakalanya untuk seseorang, atau untuk bapaknya atau untuk ibunya. Dan tidak mungkin seseorang niat umrah untuk dua orang. Dan jika dia melakukan demikian itu maka umrahnya tidak untuk kedua orang, tapi menjadi untuk dirinya sendiri.

Tapi saya ingin mengatakan, bahwa seyogianya seseorang menjadikan amal shaleh yang dilakukan diniatkan untuk dirinya sendiri, baik umrah, haji, sedekah, shalat, membaca Al-Qur’an atau yang lainnya. Sebab seseorang butuh kepada amal-amal shalih tersebut yang akan datang kepadanya hari yang dia berharap bila dalam catatan amalnya terdapat suatu kebaikan. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membimbing umatnya untuk memalingkan amal shalihnya kepada bapaknya atau ibunya, juga tidak kepada orang yang masih hidup atau orang yang telah meninggal. Tapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk mendo’akan orang yang meninggal dalam iman. Di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal ; sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shaleh yang mendoa’akan kepada (orang tua)nya” [Hadits Riwayat Muslim dan lainnya]

Maka renungkanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Anak shalih yang mendo’akan kepada (orang tua)nya”, dan beliau tidak mengatakan, “Anak shalih yang membaca Al-Qur’an, shalat dua raka’at, haji, umrah atau puasa untuknya”. Namun beliau mengatakan, “Anak shalih yang mendo’akannya”.

Padahal rangkaian hadits berkaitan dengan amal shalih. Maka demikian itu menunjukkan bahwa yang utama bagi seseorang adalah mendo’akan kedua orang tuanya dan bukan beramal shalih yang diperuntukkan mereka berdua. Meskipun demikian tidak mengapa baik seseorang beramal shalih dan diperuntukkan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya. Hanya saja haji dan umrah tidak dapat diniatkan untuk dua orang sekaligus.

Ref : http://almanhaj.or.id/content/1218/slash/0/satu-haji-atau-umrah-tidak-boleh-untuk-dua-orang-mewakili-haji-orang-lain-namun-dia-tidak-mampu/

Cintailah Sekadarnya…

Badru Salam, حفظه الله تعالى.

Dari Abu Hurairah -ia memarfu’kannya- berkata:
“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya..
mungkin suatu hari nanti, kamu akan membencinya..
Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya..
mungkin suatu hari kamu akan mencintainya..”
(Dikeluarkan oleh At Tirmidzi no 1997 dengan sanad yang shahih).

maksudnya..
janganlah kita mencintai seseorang atau membencinya secara berlebihan..
karena mungkin suatu hari nanti kita malah kebalikannya..
ketika seseorang mencintai sesuatu secara berlebihan..
lalu orang yang ia cintai tersebut melakukan sesuatu yang tak sesuai harapannya..
terkadang malah berubah menjadi kebencian..
kecuali bila cinta dan bencinya karena Allah..
itulah sekuat sekuat tali iman..

image

Benarkah Menjawab Adzan Bisa Mendapatkan Syafa’at Nabi…?

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Benarkah menjawab adzan bisa mendapatkan syafaat Nabi?.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu diantara amal yang dijanjikan bisa menjadi sebab mendapatkan syafaat di hari kiamat adalah menjawab adzan dan berdoa setelah adzan.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang dilantunkan muadzin, lalu bacalah shalawatlah untukku, karena barangsiapa yang bershalawat untukku, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah kepada Allah untukku al-wasilah, karena dia adalah satu kedudukan di surga yang tidak sepatutnya, kecuali untuk seorang hamba Allah; dan aku berharap, (bahwa) akulah ia. Barangsiapa yang memohonkan untukku al-wasilah, maka akan mendapat syafaatku.” (HR. Muslim 875, Nasai 686 dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

Siapa yang mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Maka halal baginya untuk mendapatkan syafaatku pada hari kiamat. (HR. Bukhari 514, Ahmad 14993 dan yang lainnya).

Catatan:

Dalam hadis di atas, doa setelah adzan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada kalimat “innaka laa tukhliful mii’aad”.

Hadis ini menunjukkan bahwa melakukan rangkaian amal:

Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin
Membaca shalawat setelah menjawab adzan
Membaca doa setelah adzan.
Termasuk diantara sebab untuk mendapatkan syafaat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan yang sangat ringan, berpahala besar. Selayaknya untuk kita rutinkan.

Allahu a’lam

https://konsultasisyariah.com/26258-cara-mendapat-syafaat-nabi.html

Berbagilah… Walaupun Yang Mendengarkanmu Hanya Sedikit…

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Syeikh Abdul Karim Alu Khudheir -hafizhahullah- mengatakan:

“Kajian-kajianku dulu hanya dihadiri oleh jumlah yang sangat sedikit, itupun kajiannya sering putus-putus, dan ini merupakan hal yang biasa di masa awal mengajar.

Sayangnya banyak dari para penuntut ilmu yang meninggalkan taklim karena sedikitnya jumlah yang hadir.

(Tapi itu tidak masalah, karena) orang yang paling pertama mengambil manfaat dari taklim itu adalah pengajarnya.

Pernah kukatakan kepada salah seorang dari mereka (yang mengajar): satu orang ini, kamu lebih membutuhkannya daripada kebutuhannya terhadapmu, walaupun kamu harus membayarnya dengan uang (agar dia hadir).
.
Di tahun 1395 H, ketika Syeikh Binbaz sampai di kota Riyadh, kita dulu duduk di majlis beliau, jumlah kami saat itu bisa dipastikan tidak sampai 10 orang, dan keadaan ini berlangsung hingga tahun 1400 H, padahal beliau adalah Syeikh Binbaz.

Begitupula Syeikh Ibnu Jibrin, di tahun 1397 H, yang hadir di majlisnya hanya satu orang, kemudian setelah itu orang-orang mendatangi majlisnya.

Seorang ulama harus diuji dengan sedikitnya jumlah (orang yang hadir di majlisnya), kemudian jika dia tetap teguh dan Allah mengetahui ketulusan niatnya, Dia akan jadikan manusia mendatanginya”

Faedah ini disebutkan oleh Syeikh di pertemuan yang beliau adakan dalam rangka khatamnya kajian Tafsir Qurthubi.

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan:

“Bersegeralah dalam menyambut keberkahan ilmu, dengan saling memberikan faedah ilmu di antara kalian, karena kalian itu tidak bisa sampai kepada apa yang diinginkan dari kalian”.

[Al-Adab Asy-Syar’iyyah 2/168]

Surga Bagi Anakku…

Alhikmah.

Dari kisah nyata.

Sore itu seorang ibu dan dua anaknya sedang duduk-duduk istirahat di pelataran Masjid Haram. Ibu tersebut itu masih terpesona dengan keindahan dan kemuliaan Ka’bah sementara angin bertiup dan cuaca semakin memburuk. Badai angin kencang berdebu menerpa para jama’ah yang saat itu sedang berada di luar bangunan.

Mereka duduk berada dekat dengan dispenser zamzam. Kedua anaknya semangat berlari bergantian membawakan ibunya gelas berisi air zamzam yang sejuk dan memercikkan ke kepala dan wajah ibunya. Ibu tersebut merasa sangat bersyukur sehingga ia pun berdo’a “Ya Allah, berikanlah surga bagi anak-anakku.”

Tiba-tiba terdengar sesuatu yang begitu keras, ibu tersebut menoleh cepat, sementara anak-anaknya sedang kembali berlari menuju dispenser zamzam. Saat yang bersamaan itu juga atap masjid ambruk beberapa meter di hadapannya dan mengenai kedua anaknya.

Subhanallah Kedua malaikat kecil itu sudah tiada dan insya Allah telah menjadi syuhada. Insya Allah apa yang dido’akan ibunya menjadi kenyataan.

(Dikisahkan oleh ibu dari 2 anaknya yang menjadi korban runtuhnya crane di Mekkah, 1436H)

Pelajaran penting bagi setiap orang tua. Do’a mereka sungguh mustajab jika ditujukan pada anak-anaknya. Jika mereka ingin anaknya menjadi sholeh, maka do’akanlah.

Dalam hadits disebutkan, “Tidak do’a yang tidak tertolak yaitu do’a orang tua, do’a orang yang berpuasa dan do’a seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi)

Perlu ingat, do’a dalam hadits di atas disebutkan umum, artinya mencakup do’a yang berisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya. Jika orang tua mendo’akan jelek pada anaknya, maka itu pun akan terkabulkan. Sehingga orang tua mesti hati-hati mendo’akan anaknya.

Hendaklah orang tua mencontoh para Nabi orang sholeh yang selalu mendoakan kebaikan pada anak keturunannya. Lihatlah contoh Nabi Ibrahim alaihis salaam di mana beliau berdo’a, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Mari doakan kebaikan bagi anak kita, sebagai anak janganlah sampai durhaka pada orang tua agar mereka mendo’akan yang terbaik bagi kita.

(Alhikmahjkt)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1697883150426408&substory_index=0&id=1552396991641692

image

Menebar Cahaya Sunnah