Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (3)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal ketiga yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan mengingatkan diri akan indahnya pahala yang Allah janjikan bagi orang yang memaafkan dan bersabar, sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Balasan keburukan adalah keburukan yang semisal dengannya. Namun siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat buruk padanya), maka pahalanya ditanggung Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim”. [Asy-Syuro: 40].

Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan kelas-kelas manusia dilihat dari sikap mereka ketika diganggu:

(a) Orang yang zalim, yaitu orang yang membalas keburukan melebihi batasan haknya. Ini Allah sebut di akhir ayat.

(b) Orang yang proporsional (muqtashid), yaitu orang yang membalas keburukan sesuai batasan haknya. Ini Allah sebut di awal ayat.

(c) Orang yang mulia (muhsin), yaitu orang yang memaafkan dan meninggalkan haknya sama sekali. Ini Allah sebut di tengah ayat.

Hendaknya seorang hamba juga mengingat panggilan kehormatan di hari kiamat nanti: “Berdirilah, orang pahalanya dalam tanggungan Allah!”, maka tidaklah dapat berdiri melainkan orang yang mengampuni dan berbuat baik kepada orang yang menzaliminya.

Ketika, seseorang ingat hal ini, dan juga mengingat bahwa pahala agung itu akan luput darinya dengan tindakan membalas dan mengambil penuh haknya, tentu akan menjadi mudah baginya untuk bersabar dan memaafkan.

[Jami’ul Masa’il, 1/169].

————

Intinya, dengan mengingatkan diri kepada pahala agung yang dijanjikan Allah ta’ala kepada hamba yang bersabar dan memaafkan saat dizalimi, bahkan di akherat nanti akan mendapatkan panggilan kehormatan… dan dengan membalasnya, dia akan kehilangan kesempatan untuk meraih pahala besar tesebut… maka, kita akan semakin mudah untuk bersabar dalam menghadapi gangguan dan celaan orang lain.

Haruskah Anda Menembak Semua Musuh ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat, bermimpi bisa mengalahkan semua musuh dan bahkan menumpas semua musuh itu sangatlah mudah. Namun kenyataannya, sekedar mengalahkan satu musuh saja kadang kala mengharuskan kita menguras segala tenaga dan kemampuan kita. Dalam kondisi semacam ini, anda pasti terpaksa menghemat amunisi anda, memilih sasaran yang tetap lalu membidiknya dengan tepat pula.

Dalam kondisi semacam ini bisa jadi anda harus menerima kenyataan bahwa ada musuh yang harus anda lawan dengan tangan kosong alias dengan kepalan tangan anda, karena sayang kepada amunisi anda bukan kepada musuh anda. Dan bisa jadi anda terpaksa harus membiarkan musuh melenggang pergi karena anda tidak ingin kehabisan tenaga dan amunisi.

Dan bisa jadi ada pula musuh yang terpaksa anda beri “makan” agar ia menjinak sehingga membiarkan anda menghadapi musuh lain yang lebih berbahaya.

Kondisi semacam ini terjadi dalam segala bentuk permusuhan sampaipun permusuhan dalam urusan agama. Alangkah bijaknya bila anda pandai menghemat amunisi untuk ditembakkan kepada musuh yang paling berbahaya dan paling berat, sedangkan sebagian musuh barang kali cukup anda selesaikan dengan kepalan tangan anda. Dan bisa jadi pula anda musuh yang untuk saat ini perlu anda memberinya “umpan” agar jinak walau hanya untuk sementara.

Anda harus paham dan menyadari bahwa amunisi dan tenaga anda tidak akan pernah cukup untuk menumpas seluruh musuh secara bersamaan. Namun percayalah bahwa bila anda pandai mengatur amunisi dan perlawanan anda dengan baik, niscaya anda bisa mengalahkan semua musuh anda.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (2)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal kedua yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:
Dengan mengakui dosa-dosanya, bahwa Allah menjadikan mereka melakukan hal buruk kepadanya adalah karena dosa yang ada padanya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Musibah apapun yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh tangan-tangan kalian sendiri, padahal Dia telah banyak memaafkan.” [Asy-Syuro: 30].

Maka, apabila seorang hamba menyadari bahwa semua musibah yang dialaminya adalah disebabkan dosa-dosanya, tentu dia akan menyibukkan dirinya dengan taubat dan istighfar dari dosa-dosanya, karena itulah yang menjadi penyebab datangnya gangguan mereka terhadapnya.

Dengan begitu, dia akan terhindar dari tindakan mencela mereka, atau menyalahkan mereka, atau menjelek-jelekkan mereka.

Bila engkau melihat seseorang menjelek-jelekkan manusia saat mereka menyakitinya, dan dia tidak introspeksi diri dengan menyalahkan dirinya dan beristighfar, maka ketahuilah bahwa musibahnya memang benar-benar nyata.

Dan apabila hal itu menjadikannya bertaubat, beristighfar, dan mengatakan “ini memang karena dosa-dosaku”, maka musibah itu menjadi kenikmatan yang ada pada dirinya.

Sahabat Ali bin Abi Thalib -rodhiallohu anhu- telah mengatakan pesan mutiara: “Jangan sampai seorang hamba berharap melainkan kepada Rabb-nya, dan jangan sampai seorang hamba khawatir kecuali terhadap dosanya.”

Diriwayatkan pula dari beliau dan yang lainnya: “Tidaklah musibah turun, melainkan karena sebab dosa. Dan tidaklah ia diangkat, melainkan dengan taubat.”

[Jami’ul Masa’il, 1/169].

———-

Intinya, jika Anda diganggu atau disakiti orang lain, maka ingatlah bahwa penyebabnya adalah dosa-dosa yang Anda lakukan…

Oleh karenanya, tidak perlu Anda membalasnya, tapi sibukkan diri dengan banyak istighfar dan taubat, sehingga musibah itu diangkat oleh Allah ta’ala…

Dengan langkah ini pula, kita bisa menjadikan musibah itu mendatangkan nikmat kebaikan.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (1)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar (dalam menghadapi gangguan manusia) ini.

Pertama: Dengan mengikrarkan bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan para hamba-Nya; baik geraknya, diamnya, bahkan keinginannya.

Maka, apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sebaliknya yang tidak Dia kehendaki takkan terjadi.

Sehingga tidak ada satupun partikel di alam ini bisa bergerak, baik di alam yang atas maupun di alam yang bawah, kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Jadi semua hamba itu hanyalah sebagai alat saja.

Maka, lihatlah kepada Dzat yang menjadikan manusia itu mengganggumu, jangan kau lihat kelakuan (buruk) mereka terhadapmu; niscaya kamu akan menjadi tenang, tanpa kegalauan ataupun kesedihan.

[Jami’ul Masa’il, 1/168].

Harapan Dan Cita-Cita Dalam Berumah Tangga…

Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله تعالى

Setiap orang memiliki harapan dan cita-cita, termasuk dalam membina rumah tangga.

Ada yang ingin mencari pasangan yang gantengnya selangit…

Karena dia suka itu, dan akan membanggakannya… Namun ingat keelokan wajah tidak akan bertahan lama

Ada yang ingin mencari pasangan anak keturunan orang terpandang…

Karena dengan itu dia bisa menaikkan derajatnya di hadapan manusia… Namun ingat kemuliaan sesorang tergantung dengan ketakwaannya

Allah Ta’ala berfirman:

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dia antara kalian”. (QS. Al-Hujurat:13).

Ada yang ingin mencari pasangan yang kaya raya…

Karena dia mengira dengan banyaknya harta hidupnya akan bahagia

Padahal kebahagiaan hakiki hanya dapat diraih dengan keimanan kepada Allah Ta’ala

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tiga tanda kebahagian:

1. Bersyukur
2. Sabar
3. Beristighfar

Dan keadaan seseorang akan selalu berputar, antara mendapat karunia yang melimpah, di timpa musibah atau terjerumus dalam lubang dosa.

Seorang yang beriman tatkala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah ‘Azza wa jalla, kemudian dia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Jika ditimpa musibah, dia yakin
bahwa itu semua atas kehendak Allah ‘Azza wa jalla, lalu dirinya ridha dan sabar.

Dan bila pada suatu waktu ia terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa jalla dan kemudian segera bertaubat dan beristighfar.

Ketiga hal tersebut menunjukan, bahwa kebahagian hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah ‘Azza wa jalla.
Keimanan merupakan tempat bersandar seorang Muslim pada setiap keadaan.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لأمرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ وليسَ ذلكَ لأحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا

“Sungguh sangat menakjubkan perkara (kondisi) seorang Mukmin. Seluruh perkara (kondisinya) baik, dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia pun bersyukur dan itu adalah terbaik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim)

Dan ada pula yang ingin mencari pasangan yang pandai agamanya…

Karena dia ingin belajar dan memperdalam agamanya, dan paling tidak dia akan dibimbing untuk memahami agamanya dan mengamalkannya

Dan itu merupakan hal yang ada pada naluri setiap kita, namun…

Ingatlah pesan Nabi kita صلى الله عليه و سلم dalam hal ini, yang mengigatkan kita untuk mencari orang yang baik agama dan akhlaknya,

وقد قال صلى الله عليه وسلم: ” إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير” رواه الترمذي وغيره.

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Apabila datang kepada kalian seorang pemuda yang kalian sukai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian. Kalau tidak, akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar di muka bumi”. (HR. at-Tirmidzi).

Maka dari itu mintalah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar menetapkan hati kita untuk selalu ta’at kepada-Nya dan mintalah agar pasangan kita selalu mengingatkan dan membimbing kita ke jalan-Nya dan untuk selalu ta’at Kepada-Nya.

Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita semua.

Bersabarlah Saudaraku…

Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى

Allah ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)

Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbasradhiyallahu’anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya. ” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/391]

Menebar Cahaya Sunnah