Pahala menunjukkan kebaikan…

image

Penjelasan Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang menunjukkan kepada suatu amal kebaikan kemudian orang lain melakukan kebaikan tersebut, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.

Sebagai contoh, apabila ada seorang yang membutuhkan bantuan meminta kepada kita untuk membantunya, namun kita tidak mampu memberikan bantuan dan kita katakan datanglah kepada fulan yang mampu untuk membantu anda. Kemudian orang tersebut membantunya, maka kita pun mendapatkan pahala sebagaimana orang yang membantu tersebut mendapatkan pahala.

Demikian pula halnya orang yang mendakwahkan orang lain kepada hidayah, kemudian orang tersebut mengikutinya, maka dia pun mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikuti hidayah tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

Sebaliknya, barangsiapa menunjukkan atau mengajak orang lain kepada kesesatan atau kemaksiatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang melakukannya.

و الله تعالى أعلم،
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم.

✒ Ust Riki Lc

Courtesy of JODOH.

Faedah…

Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

– Tak ada satupun hadits sohih yang menyebutkan tentang kapan waktu terbaik untuk berbekam. Oleh karena itu setiap orang boleh berbekam kapan saja menurut kebutuhannya setelah berkonsultasi dengan ahli bekam yang berpengalaman.

– Dosis dan takaran berbagai macam herbal yang disebutkan di dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hendaknya dikembalikan kepada para ahli yang berkompeten dibidangnya, dalam hal ini dokter, apoteker atau para ahli yang berpengalaman.

Merekalah yang nantinya akan menentukan apakah jenis herbal ini cocok untuk pasien atau tidak. Sebab tidak semua jenis herbal cocok untuk semua kalangan. Terkadang obat untuk penyakit anu justru racun bagi penyakit lainnya.

Wallahu a’lam.

(Faidah dari mudzakarah Kitab At-Thib dari Sohih Bukhori bersama Prof. DR. Dhiyaurrahman Al-A’dzamy -hafidzahullah-)

________________
Madinah 07-01-1437 H
ACT El-Gharantaly

Ibu…

Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Sahabat…
Bila engkau  masih memiliki seorang ibu, maka kejarlah baktimu disisa waktunya.

Agar tak ada sesal bila suatu hari nanti engkau mengetuk pagi, namun tak kau dapati tempat untuk mengucap kata “Ibu”.

Semua yang pergi mungkin berganti. Tapi hanya ada satu ibu, dan ia takkan pernah tergantikan.

__________
Madinah 04-01-1437 H
ACT El-Gharantaly

Umur…

Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى

Saudaraku..
Dalam perniagaan ini kita memiliki modal yang tak kita ketahui jumlahnya..

Kita tidak tau pula kapan modal ini expired..
Ia adalah umur..

Terbatas dan sesaat..
Jika telah dibelanjakan maka tak dapat kembali..

Wahai saudaraku.
Modal ini jika telah berjalan pasti habis..

* Belilah dagangan yang bermanfaat tuk bekal akhirat..
Perjalanan masih panjang.. Juta-an tahun..
Yang tak kau ketahui berapa lamanya..
Jangan kau buang modalmu sia sia..
Engkau akan rugi dan merugi..

* Sungguh celaka jika modalnya digunakan untuk membeli racunn.. Racun untuk ke neraka yang akan direngguhnya..
Naudzubillah mindzalik

* Semoga hati kita dijauhkan dari berkeinginan maksiat..

* Ibnu Uqail Al-Hanbali berkata:
“Sesungguhnya aku tidak menghalalkan bagi diriku untuk menyia-nyiakan sesaatpun dari umurku.”

* Suatu saat Amr bin Abdu Qais melewati sekumpulan manusia yang sedang berleha-leha. Mereka lalu mengajaknya untuk duduk
bersama, maka ia menjawab: “Tahanlah matahari dari peredarannya agar aku dapat
bercakap-cakap dengan kalian.”

* Inilah di antara untaian hikmah yang keluar dari lisan-lisan mereka, semuanya menunjukan betapa berharganya waktu di sisi mereka.

Dunia Yang Untuk Anda, Bukan Anda Yang Untuk Dunia..!

“Sungguh mengherankan; jika manusia mengejar dunia yang diciptakan untuknya, hingga seakan-akan dia yang diciptakan untuknya -wal iyaadzu billah-, dia melayani dunia dengan pelayanan yang luar biasa, dia memforsir badannya dan pikirannya, (mengorbankan) kesantaiannya dan waktu bersama keluarganya (untuk dunia).

Lalu apa (hasilnya)..?

Bisa jadi dia kehilangan dunia itu dalam sekejab..! Bisa jadi dia keluar dari rumahnya lalu tidak kembali lagi.. tidur di atas ranjangnya, lalu tidak bangun lagi.. dan ini nyata adanya.

Dan mengherankannya lagi, fenomena-fenomena ini kita saksikan, tapi hati-hati ini keras.

Kita menyaksikan seorang yang akad nikah dengan seorang perempuan, lalu meninggal sebelum dia menggaulinya, padahal dia sangat berhasrat dan telah lama menginginkannya, namun kematian menghalanginya.

Kita melihat banyak orang yang surat-surat undangan pernikahannya sudah bersama mereka, lalu mereka meninggal padahal si pengantin wanita masih di mobil mereka.

Jadi, apa gunanya dunia jika sampai seperti ini dalam menipu..?

Oleh karena itu, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam -yang sangat penyayang, sangat penyantun, dan sangat simpati terhadap kaum mukminin- telah mengabarkan; bahwa beliau khawatir terhadap kita, bila dunia ini dibuka untuk kita, sehingga kita saling berlomba untuk mendapatkannya, dan inilah yang terjadi.

Maka waspadalah saudaraku, jangan sampai kehidupan dunia ini menipumu, dan jangan sampai pula (setan) penipu mengelabuimu.

Bila Allah meluaskan rizkimu dan kamu bersyukur, maka itulah yang baik bagimu, sebaliknya bila Dia menyempitkan rizkimu dan kamu bersabar, maka itulah yang baik bagimu.

Adapun menjadikan dunia sebagai target utamamu dan tujuan akhir ilmumu, maka ini adalah kerugian di dunia dan di akherat.

Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari berbagai cobaan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

[Oleh: Syeikh Utsaimin, Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/687].

Diterjemahkan oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Oplosan…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Betapa sering saya mendengar atau membaca kata di atas! Akibatnya saya kadang berpikir, kok ada ya orang yang mau minum bensin atau etanol? Padahal sudah banyak korban yang bergelimpangan, mati konyol!

Sekian lama saya merenungkan hal ini, hingga akhirnya saya berkesimpulan itulah salah satu akibat dari kecanduan. Terlanjur kecanduan akhirnya membabi buta, tidak lagi peduli dengan nasib yang akan menimpanya. Hanya ada satu ambisi mereka, melampiaskan kecanduannya. Semua itu karena jiwa mereka sebelum raganya telah mati akibat kecanduannya.

Karena itu Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk segera bertaubat setiap kali berbuat dosa, agar tidak kecanduan berbuat dosa.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“إن المؤمن إذا أذنب ذنباً كانت نكتةٌ سوداء في قلبه. فإن تاب ونَزَع واستغفر صُقِل منها، وإن زاد زادت حتى يغلَّف بها قلبه، فذلك الران الذي ذكر الله في كتابه: { كلا، بل ران على قلوبهم }”. رواه الترمذي، 

Seorang mukmin bila berbuat dosa maka dititikkan warna hitam dalam hatinya, namun bila ia bertaubat dan segera meninggalkan dosanya maka hatinya kembali cemerlang bersih. Akan tetapi bila ia mengulangnya kembali maka warna hitam di hatinya akan terus bertambah hingga suatu saat nanti benar benar menyelimuti seluruh hatinya. Itulah jelaga yang Allah Taala sebutkan pada firman-Nya: ” tidaklah sekali-kali, sejatinya hati mereka telah berjelaga akibat dari dosa dosa yang telah mereka lakukan. ( At Tirmizy dll)

Bisa jadi, awalnya mereka hanya menonton para peminum khomer atau oplosan, tanpa dirasa pada diri mereka tumbuh rasa penasaran untuk mencoba dan akhirnya mereka ikut kecanduan. Karena itu dalam islam, anda dilarang untuk duduk bersama peminum khomer.

Sobat! Jangan biarkan diri anda dijangkiti Panyakit ketagihan. Segera bebaskan diri anda dari segala bentuk kesalahan dan kemungkaran, agar jiwa anda tidak mati sebelum matinya raga anda.

Bersahabat dengan orang jahat, juga demikian, segera tinggalkan agar anda tidak ketagihan berteman dan menyaksikan perbuatan jahat, bisa jadi suatu saat anda akan penasaran ikut mencoba kejahatannya.

Betapa banyak saudara kita yang saat ini mulai merasa enjoy bersahabat bahkan dipimpin oleh orang kafir. Bila kondisi ini terus berkepanjangan bisa jadi mereka merasa penasaran untuk mencoba agama orang kafir dan akhirnya benar benar ikut kafir. Paling kurang muncul anggapan bahwa kafir sama saja dengan muslim atau bahkan lebih baik dibanding muslim, na’uzubillah.

Bulatkan tekad, satukan langkah, abaikan ego pribadi dan segera selamatkan anak cucu anda dari jerat jerat kekufuran. Apa yang akan anda katakan kepada Allah bila kelak anak cucu anda dicekoki “oplosan kekufuran” oleh pemimpin kafir, gara gara anda membiarkan orang kafir memimpin dan mengatur urusan anda dan urusan anak cucu anda.

Perumpamaan Orang Yang TERGODA Dengan Dunia

Ada sesendok madu yang jatuh ke lantai, lalu datanglah semut mencicipinya dari PINGGIRNYA.. setelah itu dia pergi meninggalkannya.

Namun rasa madu itu terlalu nikmat baginya, maka dia pun kembali untuk melahapnya.. kemudian dia berusaha meninggalkannya lagi.

Belum jauh dia meninggalkannya, dia merasa belum cukup dengan apa yang dinikmatinya dari PINGGIRAN madu itu, akhirnya dia pun memutuskan masuk ke TENGAH madu itu untuk menikmati manisnya lebih banyak lagi.

Maka sampailah dia di pertengahannya, dan mulai menikmati manisnya madu itu dengan lebih leluasa…

Tapi, ketika dia ingin keluar, ternyata dia tidak bisa, kaki-kakinya telah masuk lengket dalam madu itu… dan keadaannya terus seperti itu hingga dia mati.

========

Begitulah dunia, manisnya akan terus menggoda… jangan sampai kita terlena dengannya.

Tapi, gunakanlah dia untuk mendapatkan PAHALA akherat, bukan HANYA untuk menikmatinya SAJA.

Semoga kita selalu mendapat taufiq-Nya dalam memperlakukan dunia.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Baca Cepat Dapat Banyak… Atau Baca Dengan Tartil Tapi Dapat Dikit ?!

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Orang-orang berbeda pendapat tentang mana yang lebih afdhol, apakah membaca (Alqur’an) dengan tartil tapi yang dibaca menjadi sedikit, ataukah membaca dengan cepat sehingga yang dibaca menjadi banyak? Ada dua pendapat dalam hal ini:

(Pendapat Pertama):

Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas -rodhiallohu anhuma- dan yang lainnya berpendapat: bahwa membaca dengan tartil dan tadabbur dengan kuantitas bacaan yang sedikit; lebih afdhol daripada bacaan yang cepat dengan kuantitas banyak.

Mereka yang memilih pendapat ini berhujjah; karena tujuan membaca (Alqur’an) adalah memahaminya, mentadabburinya, mendalaminya, dan mengamalkannya. Adapun membaca dan menghapalnya adalah wasilah (yang mengantarkan) kepada makna-maknanya, sebagaimana sebagian ulama salaf mengatakan:

“Alqur’an itu turun untuk diamalkan, maka buatlah bacaannya menjadi amalan”.

Oleh karenanya, (yang disebut) Ahlul Qur’an adalah mereka yang mengetahui isinya dan mengamalkannya, meskipun mereka belum menghapalnya di luar kepala.

Adapun orang yang telah menghapalnya, namun tidak mengamalkan isinya; maka dia bukanlah Ahlul Quran, meskipun dia telah menegakkan huruf-hurufnya setegak busur panah.

Mereka (juga) berdalil: karena iman adalah amalan yang paling afdhol, sedang memahami dan mentadabburi Alqur’an itulah yang membuahkan keimanan.

Adapun hanya membacanya tanpa memahami dan mentadabburinya, maka itu bisa dilakukan oleh orang yang baik dan orang yang buruk, bisa dilakukan oleh orang mu’min dan orang munafik, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-

مثل المنافق الذي يقرأ القرآن، كمثل الريحانة، ريحها طيب، وطعمها مر

“Perumpamaan orang MUNAFIK yang membaca Alqur’an , seperti tumbuhan rehanah (kemangi), baunya enak, tapi rasanya pahit”.

Dan manusia dalam hal ini ada empat tingkatan: (a) Ahli Qur’an dan Iman, inilah manusia yang paling utama. (b) Orang tidak Ahli Qur’an dan Iman. (c) Orang yang diberi hapalan Qur’an, tapi tidak diberi keimanan. (d) Orang yang diberi keimanan, namun tidak diberi hapalan Qur’an.

Mereka mengatakan: Sebagaimana orang yang diberi keimanan tanpa hapalan Qur’an itu lebih utama daripada orang yang diberi hapalan qur’an tanpa keimanan, maka begitu pula orang yang diberi (kelebihan) mentadabburi dan memahami isi Alqur’an saat membacanya itu lebih utama daripada orang yang diberi (kelebihan) banyak dan cepat dalam membaca tapi tanpa tadabbur.

Mereka juga berdalil: bahwa inilah petunjuk Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, sungguh beliau dahulu membaca Surat Alqur’an dengan tartil sehingga surat itu menjadi lebih panjang dari surat yang lebih panjang darinya. Beliau juga pernah sholat malam dengan SATU AYAT hingga pagi tiba.

(Pendapat Kedua):

Sedang para sahabatnya Imam Syafi’i -rohimahulloh-, mereka mengatakan: Bacaan yang banyak lebih utama, sebagaimana haditsnya Ibnu Mas’ud -rodhiallohu anhu-, bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

من قرأ حرفا من كتاب الله، فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، لا أقول: الم حرف، ولكن ألف حرف، ولام حرف، وميم حرف

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabulloh; maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dengan pahala sepuluh kali lipatnya, aku tidak mengatakan: Alif Lam mim, itu satu haruf, namun Alif itu satu huruf, Lam itu satu huruf, dan Mim itu satu huruf”. (HR. Attirmidzi dan dia menshahihkannya).

Mereka juga berdalil: karena Utsman bin Affan membaca Alqur’an (30 juz) dalam satu rekaat, dan mereka atsar-atsar dari banyak generasi salaf tentang banyaknya bacaan qur’an mereka.

Yang benar dalam masalah ini adalah dengan dikatakan:

bahwa pahala bacaan dengan tartil dan tadabbur itu lebih agung dan mulia kedudukannya, sedang pahala bacaan yang banyak itu lebih banyak jumlahnya.

Maka, orang yang pertama itu seperti orang yang bersedekah dengan permata yang berharga tinggi, atau orang yang memerdekakan budak yang harganya mahal sekali. Sedang orang yang kedua itu seperti orang yang bersedekah dengan dirham yang banyak, atau orang yang memerdekakan beberapa budak yang harganya murah.

Disebutkan dalam Shohih Bukhori, bahwa Qoatadah mengatakan: Aku telah bertanya Anas tentang bacaannya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Maka dia menjawab: “Beliau dahulu benar-benar memanjangkan bacaannya”.

Syu’bah mengatakan: Abu Jamroh mengatakan kepada kami: aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa aku orang yang cepat membaca, bisa saja aku membaca Qur’an dalam semalam; sebanyak sekali atau dua kali. Maka Ibnu Abbas mengatakan: “Sunguh bila aku membaca satu surat saja, itu lebih aku senangi, daripada aku melakukan apa yang kamu lakukan itu. Jika kamu harus melakukannya, maka bacalah dengan bacaan yang didengar kedua telingamu, dan dipahami oleh hatimu!.

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Janganlah kalian membaca Qur’an dengan cepat seperti bacaan syair, jangan pula ngawur membacanya seperti suara kurma kering yang bertabrakan, berhentilah pada keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati dengannya, jangan sampai tujuan salah seorang dari kalian selesai hingga akhir suratnya”.

[Oleh Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-, Kitab: Zadul Ma’ad 1/327-329]

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Kerinduan Orangtua…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Kita -sebagai orang tua-sering rindu kepada anak kita, ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin ngobrol dengannya. Betapa bahagianya kita tatkala melihat tawa anak kita.

Begitu pula ibu dan ayah kita, bisa jadi di masa tua mereka rindu kepada kita, maka janganlah kita baru menjenguk mereka atau menelpon mereka jika kita yang rindu. Kerinduan mereka kepada kita tidak harus menunggu kerinduan kita kepada mereka. Apalagi kita sering sibuk sehingga kerinduan terhadap mereka terlupakan dan terabaikan.

Terlebih lagi orang tua malu untuk menyatakan kerinduannya kepada kita…
Kapan lagi? Mumpung mereka masih bisa melihat tawa kita…

Waktu untuk kesibukan kita belum tentu sepanjang umur orang tua kita.

Menebar Cahaya Sunnah