Anda Ingin BAHAGIA… Ingat, Hanya SATU KUNCINYA

KEBAHAGIAAN… yang merasakannya adalah HATI.

Oleh karenanya, hati menjadi KUNCI kebahagiaan seseorang… Sayang banyak orang salah jalan, dan mencari kebahagiaan dengan memanjakan diri dan nafsunya.

Padahal harusnya dia HANYA membutuhkan SATU KUNCI kebahagiaan !!

Kunci tersebut adalah: DEKATNYA dia dengan Allah ta’ala.

⚉  Oleh karena itulah Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Ingatlahlah bahwa dengan ber-DZIKIR (mengingat-Ku); hati-hati akan menjadi tenang”. [Surat: Arro’d: 28].

⚉  Oleh karena itu pula Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan kepada sahabat tercintanya Abu Bakar, saat puncak kecemasan menghampirinya di dalam goa, sebagaimana dikisahkan oleh Alqur’an (yang artinya):

“Janganlah BERSEDIH, karena sungguh Allah BERSAMA kita”. [Attaubah: 40].

⚉  Oleh karena ini pula, Allah memerintahkan kepada mereka yang terkena musibah untuk mengatakan:

“Inna lillahi wa inna ilahi rojiun” (Sungguh kami milik ALLAH, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali). [Albaqoroh: 156].

Oleh karenanya, ketika memerintahkan bersabar, Allah berfirman (yang artinya):

“Bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah BERSAMA orang yang bersabar”. [Al-Anfal: 46].

⚉  Oleh karena ini pula, mereka yang baru MASUK ISLAM akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara, karena kontrasnya jarak mereka dengan Allah, antara sebelum masuk Islam dengan sesudah masuk Islam.

👉🏼  Kebahagiaan itu ketika KITA semua dekat dengan KEKASIH HATI KITA… Allah yang Maha Pengasih dan Maha Mengasihi.

Ya Allah sayangilah kami, dan ampunilah kami, karena kebodohan kami tentang-MU… Sungguh Engkau Maha Dekat dan sudi memperkenankan do’a kami.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

‎Beda‬ Antara Khilafiyah Dan Ijtihadiyah…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Sebagian orang tidak bisa membedakan masalah khilafiyah dan ijtihadiyah.

Masalah khilafiyah adalah masalah yang diperselisihkan.
Sedangkan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang tidak ada nash yang sharih tidak pula ijma ulama.

Yang perlu diingat:
Tidak setiap masalah khilafiyah itu masuk dalam kategori ijtihadiyah.
Tidak setiap yang diperselisihkan diterima pendapatnya. Seperti perselisihan antara ahlussunnah dengan syi’ah. Atau perselisihan ahlussunnah dengan khawarij dan murji’ah.

Karena bila telah ada nash yang sharih atau ijma ulama, pendapat yang menyelisihinya dianggap menyimpang dan sesat.

Sedangkan masalah ijtihadiyah maka kita tidak boleh saling memaksakan pendapat. Apalagi memvonisnya pelakunya sebagai ahlul bid’ah.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Sebagaimana kaum muslimin berbeda pendapat apakah lebih utama tarji’ dalam adzan atau tidak. Apakah lebih utama mengganjilkan iqomah atau menduakan, apakah sholat fajar lebih utama di waktu gelap atau di waktu agak terang, apakah qunut subuh disunnahkan atau tidak, apakah bismillah dibaca dengan keras atau sirr, dan sebagainya.

Ini adalah masalah ijtihadiyah diperselisihkan oleh para ulama terdahulu. Setiap mereka mengakui ijtihad ulama lainnya. Siapa yang benar, ia mendapat dua pahala dan siapa yang telah berijtihad lalu salah, maka kesalahannya dimaafkan.

Ulama yang memandang lebih kuat pendapat Asy Syafii tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Malik.
Siapa yang menguatkan pendapat Ahmad, tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Asy Syafii dan seterusnya.
(Majmu fatawa 20/292).

Imam Asy Syathibi berkata: Bukan kebiasaan para ulama memutlakkan lafadz bid’ah untuk masalah furu’ (ijtihadi).
(Al I’tisham 1/208).

Inilah sikap yang benar dalam masalah intihadiyah. Adapun masalah khilafiyah maka wajib kita lihat apakah ia termasuk kategori ijtihadiyah atau bukan.

Wallahu a’lam

Nasehat Bagi Orang Yang Berkata : Mending TIDAK TAHU Hukumnya Agar Tidak Berdosa

Mending TIDAK TAHU hukumnya, sehingga ketika kita melakukannya, kita tidak berdosa..

========

Sekilas tampak logis, tapi sebenarnya :

1. Ketidak-tahuan yang DISENGAJA adalah perbuatan dosa, karena dia telah meninggalkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Menuntut ilmu (agama) adalah kewajiban bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah: 224, dishohihkan oleh Syeikh Albani) .. Oleh karenanya, kita wajib mengetahui ilmunya dahulu apapun yang kita lakukan.

2. Ketidak-tahuan dalam hal agama akan mendatangkan banyak kerugian.  Sebagaimana dalam masalah duniawi, kita akan sulit maju kecuali dengan ilmu dunia, begitu pula dalam masalah akherat, kita akan sulit menjadi mulia kecuali dengan ilmu agama.

3. Ketidak-tahuan adalah sesuatu yang berusaha kita hindari dalam hal dunia .. lalu bagaimana mungkin ketidak-tahuan menjadi sesuatu yang kita cari dalam hal akherat..?!

————

Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, menjadikan kita bermanfaat dengan ilmu tersebut, dan memberikan kita keikhlasan dalam amal dan perbuatan, aamiin.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Bolehkah Mengucapkan Selamat Tahun Baru..?

Ucapan selamat itu ada beberapa keadaan:

1. Ucapan selamat karena datangnya sesuatu perkara mubah yang menjadikan seseorang bahagia, tanpa terikat dengan waktu sama sekali… ucapan selamat ini terkait dengan datangnya nikmat tertentu, bukan terkait dengan datangnya waktu tertentu.

Seperti: ucapan selamat untuk pernikahan, ucapan selamat atas lahirnya anak, ucapan selamat atas kelulusan sekolah, atau diterima di universitas tertentu, atau lulus diterima PNS, atau yang semisalnya.

Ini semua termasuk perkara adat kebiasaan yang dibolehkan, bahkan bisa jadi pelakunya mendapatkan pahala, karena dengan jalan itu dia bisa memasukkan kebahagiaan ke dalam hati orang lain.

2. Ucapan selamat karena datangnya momen tertentu, seperti hari raya, atau datangnya tahun tertentu, atau bulan tertentu, atau hari tertentu… maka yang dibolehkan hanya pada tiga momen, yaitu ucapan selamat untuk hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan masuknya bulan Ramadhan, karena adanya dalil yang jelas dalam tiga momen ini.

Adapun selain itu, maka tidak diperbolehkan, karena tidak adanya contoh atau tuntunannya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ataupun dari para sahabatnya.

Contohnya seperti: Ucapan selamat tahun baru, baik hijri atau masehi. Ucapan selamat millenium baru, baik hijri ataupun masehi. Ucapan selamat untuk hari isro mi’roj. Ucapan selamat untuk maulid. Ucapan selamat ulang tahun kita. Ucapan selamat untuk hari ibu… dst.

Semua contoh ucapan selamat ini tidak pernah ada contohnya, tidak pernah ada tuntunannya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabat beliau, bahkan tidak juga dari para ulama generasi salaf… padahal dorongan untuk melakukan itu telah ada di zaman mereka, dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk melakukannya, serta mereka mampu melakukannya… meskipun demikian, tidak ada satupun riwayat yang mengabarkan bahwa satu saja dari mereka pernah melakukannya.

Itu menunjukkan bahwa ucapan-ucapan selamat di momen-momen itu tidak disyariatkan dan bukan kebaikan, karena seandainya itu suatu kebaikan tentunya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya, wallohu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ilmu Anda BERMANFA’AT..?

Ilmu yang bermanfa’at, adalah: Ilmu yang diamalkan oleh pemiliknya, sehingga keadaannya berubah menjadi LEBIH BAIK.

Semakin banyak ilmunya yang diamalkan, semakin banyak pula ilmunya yang bermanfa’at.

Sehingga bukanlah syarat bermanfa’atnya ilmu seseorang; DIA HARUS DIIKUTI OLEH BANYAK ORANG… Oleh karenanya, ada seorang Nabi yang TANPA pengikut sama sekali, dan itu bukan berarti ilmu NABI tersebut tidak bermanfa’at.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat, maka ada seorang Nabi dan yang ikut bersamanya satu kelompok kecil, ada seorang Nabi dan yang ikut bersamanya (hanya) SATU DUA orang, dan ada juga seorang Nabi (tapi) TIDAK bersamanya seorang pengikutpun”. [HR. Bukhori: 5752, dan Muslim: 374]

———–

Intinya: Janganlah risau jika hanya ada sedikit orang yang mendengar Anda, tetaplah berpegang-teguh dengan KEBENARAN dan terapkanlah dalam hidup Anda… Dengan begitu Ilmu Anda menjadi bermanfa’at.

Dari sini kita juga bisa memahami, bahwa manfa’atnya Ilmu seseorang bisa untuk dirinya sendiri, dan bisa juga untuk orang lain… wallohu a’lam.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

 

Ucapan Ibnu Mas’ud Rhodiyallahu ‘anhu…

Muhammad Nuzul Dzikry, حفظه الله تعالى

Al Hasan Al Bashri (tabi’in) pernah berucap:

“Semoga ALLAH merahmati Ibnu Mas’ud (sahabat Nabi), seakan-akan beliau berbicara langsung dengan kalian saat berkata:

“Orang yang zuhud pada hari ini seperti orang yang mencintai dunia pada masa kami..
Orang yang semangat beribadah pada hari ini seperti orang yang lalai pada masa kami.
Orang yang alim pada hari ini seperti orang bodoh di masa kami.” (Adab Al Hasan Al Bashri Libnil Jauzi 46).

Jika ini hasil pengamatan Ibnu Mas’ud pada masa itu, maka bagaimana jika beliau melihat “semangat” kita dalam belajar dan beramal, “kerja” kita dalam berdakwah dan “klaim zuhud” kita pada hari ini??!!

Dan aneh-nya, saat ini masih banyak orang dengan bangganya memamerkan “keshalihan dan ibadahnya” yang tidak ada seujung kuku keshalihan dan ibadah ulama terdahulu.

Sujud Sahwi Setelah Salam

Jika imam sujud sahwi setelah salam, apakah makmum mengikutinya..?

=====

Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan :

Intinya: Jika sujud (sahwi) nya imam sebelum salam, maka makmum wajib mengikutinya, apapun keadaannya.

Jika sujud (sahwi) nya imam SETELAH SALAM, maka apabila makmum tidak ketinggalan sama sekali; dia wajib mengikuti (sujud sahwinya) imam.

Namun, apabila makmum ketinggalan sebagian (masbuq *) dari sholat imamnya, maka dia tidak usah mengikuti (sujud sahwi) imamnya, karena adanya udzur bagi dia untuk tidak mengikutinya (yaitu: adanya pemisah antara dia dengan sholatnya, berupa salam).

Maka, apabila makmum (masbuq tsb) mendapati lupanya imam, dia wajib sujud sahwi setelah salam. Dan apabila lupanya imam terjadi sebelum dia masuk bersamanya, maka dia tidak wajib sujud sahwi (setelah itu).

[Majmu’ Fatawa Syeikh Al-Utsaimin 14/46].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

NOTE :
(*) Masbuq dalam istilah para Ulama fikih adalah orang yang ketinggalan imam dalam sebagian roka`at sholat atau seluruhnya atau mendapati imam setelah satu roka`at atau lebih. (Haasyiyah Ibnu Abidîn, 1/400)

ref: https://almanhaj.or.id/7483-masbuq-dalam-shalat

IMAM AHMAD -rohimahulloh- Menjawab Syubhat Kelompok Jahmiyyah Tentang Tiga Ayat Alqur’an…

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

“Sungguh satu hari di sisi Tuhanmu itu seperti 1000 tahun menurut perhitungan kalian”. [Al-Hajj: 47].

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian dia naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadar lamanya 1000 tahun menurut perhitungan kalian”. [Assajdah: 5].

“Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Allah dalam sehari yang kadar lamanya 50.000 tahun”. [Alma’arij: 4].

———

Imam Ahmad -rohimahulloh- mengatakan yang intinya:

Adapun ayat pertama, maka itu adalah bagian dari hari-hari ketika Allah menciptakan langit-langit dan bumi, Dia menciptakannya dalam 6 hari, kadar lama setiap harinya 1000 tahun.

Adapun ayat kedua, maka itu adalah tentang MALAIKAT JIBRIL, dahulu dia turun kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan naik ke langit lagi dalam sehari yang kadar lamanya 1000 tahun. Hal itu dikarenakan dari langit ke bumi itu sama dengan perjalanan 500 tahun, sehingga turunnya 500 tahun, dan naiknya 500 tahun, maka jadilah 1000 tahun.

Adapun ayat ketiga, maka itu adalah tentang hisab pada hari kiamat, maksudnya: seandainya yang menghisab (amal) para makhluk itu selain Allah, maka dia tidak akan dapat menyelesaikannya dalam sehari yang kadar lamanya 50.000 tahun.

Dan Allah bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu SETENGAH HARI dari hari dunia, jika Dia mulai menghisab (amal) para makhluknya. Itulah maksud firman Allah ta’ala: “Cukuplah Kami sebagai penghisab”. [Al-Anbiya’: 47], yakni karena cepatnya hisab tersebut.

[Kitab: Arroddu Alaz Zanadiqoh Wal Jahmiyyah, Imam Ahmad bin Hanbal, hal: 182].

Muliakanlah Kitabullah… Jangan Menjadikannya Sebagai Penghias Barang…

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Termasuk sikap mengagungkan Kitabullah = ketika ahli kaligrafi tidak mempermainkan Kitabullah ‘azza wajall dalam penulisannya.

Karena sebagian ahli kaligrafi -hadahumulloh- menulis Kitab (Alqur’an) yang Agung ini dalam bentuk .. bangunan, atau menara, atau masjid. Dan lebih keji lagi, mereka yang menulisnya dalam bentuk manusia yang sedang ruku’ atau sujud.

Tindakan mempermainkan kitabullah macam apa ini..?! Tindakan menghinakan kitabullah seperti apa ini..?! seakan-akan kitabullah adalah (hiasan) pahat yang bisa kalian pakai untuk menghias tembok-tembok kalian, atau yang lainnya.

Jika para ulama berbeda pendapat dalam masalah ‘bolehnya menulis Alqur’an dengan metode penulisan yang dikenal di zaman ini’ (bukan dengan metode penulisan utsmani), lalu bagaimana dengan orang yang menulis Alqur’an dalam bentuk pahatan, atau tembok, atau menara, atau yang lainnya.

Sungguh ini perkara HARAM, siapapun yang tahu kemuliaan Kitabullah dan tahu perkataan para ulama tidak akan ragu dalam masalah ini.

Oleh karena itu, aku memperingatkan mereka yang ahli kaligrafi dan aku (juga) memperingatkan mereka yang meminta ahli ahli kaligrafi, dari menuliskan Kitabullah dalam bentuk gambar-gambar dan pahatan-pahatan ini.

Dan aku katakan: ‘Muliakanlah Kitabullah, karena sungguh Kitabullah (jauh) lebih mulia dan lebih agung daripada dijadikan pahatan di tembok dalam bentuk rumah, atau dalam bentuk menara, atau dalam bentuk masjid, atau lebih keji lagi dibentuk seperti manusia.

Maka dari itu, waspadalah wahai para hamba Allah, jangan sampai kalian menghinakan Kitabullah, jangan sampai pengagungan kalian terhadap Kitabullah menipis, karena bila keagungan Kalamullah di hati seseorang menipis, maka akan menipis pula keagungan semua Syariat Islam di hatinya. Kami memohon hidayah kepada Allah untuk kami dan mereka.

Dan barangsiapa memiliki sebagian dari perkara ini, maka hendaklah dia segera menghilangkannya sebagai bentuk taubat kepada Allah azza walla, dan juga sebagai bentuk mengagungkan dan menghormati Kitabullah..”

Penterjemah,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah