Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
TERKAIT SHOLAT SUNNAH 4 ROKA’AT SETELAH SHOLAT ‘ISYA
Syaikh al-Albany rohimahullah berpendapat dengan memberikan posisi atsar ini ‘Hukum rofa’ (sampai kepada Nabi)’ dimana diperbolehkan berhujjah dengannya serta mengamalkannya.
Seraya beliau (Syaikh al-Albani rohimahullah) mengatakan,
“Hadits telah shohih sampai kepada para shahabat (mauquf) dari sekelompok para shahabat. Kemudian Ibnu Abi Syaibah meriyawatkan semisalnya dari ‘Aisyah, Ibnu Mas’ud, Ka’b bin Mati’, Mujahid, Abdurrahman bin Aswad sampai kepada mereka semua. Semua sanadnya shohih –kecuali Ka’b- meskipun hanya sampai para shahabat, tapi ia mendapatkan hukum rofa’ (sampai kepada Nabi) karena perkara ini tidak dapat disampaikan semata dengan menggunakan logika sebagaimana yang nampak..”
(Silsilah Ahadits Dho’ifah, no. 5060)
Wallahu a’lam
Hadits ini merupakan sebuah anjuran untuk menutupi aib seorang muslim, baik aib secara fisik maupun aib yang ada pada perbuatannya. Maka, selayaknya seorang muslim apabila mengetahui suatu aib pada diri muslim yang lain, hendaknya ia berusaha untuk tetap merahasiakan hal tersebut kecuali ada sebuah kemaslahatan dalam membicarakan aib tersebut kepada orang lain. Sama saja, apakah aib itu berupa aib fisik, maupun aib dalam hal agama, harta, atau kehormatannya.
Adapun ganjaran bagi orang yang menutupi aib orang lain adalah sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas. Yaitu, pada di akhirat kelak Allah akan menutupi aib yang ada pada dirinya berupa kekurangan dan dosa-dosa yang pernah dilakukannya dari seluruh makhluk. Ini merupakan sebuah ganjaran yang besar. Karena, seluruh amalan setiap manusia akan ditampakkan oleh Allah ta’ala. Maka, jika Allah menutupi dosa-dosanya dari hadapan seluruh makhluk, berarti itu merupakan kemuliaan dan keutamaan yang besar.
Semoga Allah menutupi dan menghapus dosa-dosa kita yang tampak maupun yang tidak pernah kita tampakkan di dunia. Aamiin.
Walhamdulillahi robbil ‘alamin.
Ust Riki Lc
Courtesy of JODOH
@ Kutipan faidah dari khutbah shalat Istisqa yang disampaikan oleh DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
Indonesiaku sayang, Indonesiaku malang. Kekeringan yang tak kunjung hilang, krisis yang semakin eksis, bencana yang banyak melanda, kekacauan yang tak karuan dan longsor multi dimensi datang silih berganti. Apakah bumi tak lagi layak untuk dihuni? Apakah alam tak lagi bersahabat? Siapakah dalang dibalik kekacauan ini? Apa solusinya?
Allah ta’ala berfirman
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Ternyata, manusialah dalang semua kerusakan ini. Bukan alam yang tidak bersahabat atau bumi yang tak layak untuk dihuni. Namun sayang, manusia justru menuding alam seraya berkata, “Bumi tidak layak untuk dihuni”. Betul bahwa bumi tak akan layak untuk dihuni bila manusia terus bertahan dengan kepongahannya. Sebaliknya, keberkahan langit dan bumi akan Allah kembalikan tatkala manusia kembali kepada-Nya. Tapi, itulah manusia.
Ternyata, manusialah yang mengeksploitasi bumi dan merusak alam. Sadarkah kita dengan hal itu? Kitalah yang tidak bersahabat dengan alam dan kita jugalah yang tidak ramah kepada lingkungan. Kita lebih mementingkan kepuasan nafsu daripada panggilan iman dan rintihan alam. Maha benar Allah yang telah mengabarkan bahwa kerusakan ini akibat ulah tangan manusia.
Lantas, apa kesalahan fatal yang dibuat manusia sehingga bencana terus datang dan berulang? Illegal logging? Penggundulan hutan? Buang sampah sembarangan? BUKAN. Bukan itu semua. Tapi ada kesalahan X yang banyak dilupakan manusia.
Apakah manusia lupa bahwa di masa nabi Nuh belum ada eksploitasi alam seperti zaman kita, tapi kenapa banjir bandang datang bertandang? Lupakah kita bahwa di masa kaum nabi Sholeh dan nabi Luth belum ada penggundulan hutan dan perusakan alam seperti zaman kita, tapi kenapa gempa yang dahsyat datang mengguncang? Mungkin ada yang berkata, “Itu hanya kejadian alam. Apa masalahnya?.”
Wahai kaum muslimin, siapakah yang mengatur kegiatan di alam ini? Siapakah yang menciptakan alam semesta? Apakah semua terjadi secara alami tanpa ada yang mengatur? Ya Allah… Dimana iman dan pembenaran terhadap Al-Quran? Kemana perginya?
Sadarlah dan percayalah bahwa semua terjadi karena kesalahan X yang banyak dilupakan. Apa kesalahan itu? Sikap menentang ketetapan-Nya dan melanggar aturan-Nya. Bukankah Allah telah menyebutkan
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Allah menegur kita dengan sangat lembut dan sopan. Allah menegur kita melalui seruan azan, tangisan yatim, isakan si miskin, dan deruan angin bencana. Adakah yang mendengar?
Allah timpakan paceklik, tsunami, banjir bandang dan tanah longsor agar manusia kembali kepada Allah. Allah sangat sayang kepada kita. Buktinya, Allah hanya menghendaki agar kita merasakan SEBAGIAN dari akibat perbuatan buruk yang kita lakukan. Ya, SEBAGIAN dan bukan semuanya.
Sadarlah, sadarlah dan sadarlah.
Mujahid mengingatkan kita semua dengan ucapannya
البهائم تلعن عصاة بني آدم إذا أمسك المطر وتقول : هذا من شؤم ذنوب بني آدم
Saat hujan tak kunjung turun, hewan-hewan ternak melaknat para pendosa seraya berkata, “Semua ini akibat dosa-dosa manusia.” (Tafsir Sirajul Munir: 1/95)
Pelaku dosa menghalangi turunnya hujan. Pelaku dosa membuat murka Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Lalu, apa solusinya?
Hanya ada satu solusi untuk atasi semua bencana ini dan tidak ada duanya. Yaitu mengetuk pintu ampunan Allah dengan istigfar dan taubat. Tatkala tanda kemurkaan Allah mulai tampak, Nabi Nuh berpesan kepada umatnya
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“maka aku berkata (kepada mereka), “mohonlah ampunan dari Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya dia akan menurunkan hujan yang deras kepada kalian.” (QS. Nuh: 10-11)
Siapapun kita dan apapun profesi yang kita jalani, percayalah bahwa Allah sangat senang dengan pertaubatan kita. Wahai kaum muslimin, kembalilah ke jalan Allah dan lepaskanlah jubah kesombongan dari diri kita. Apa yang bisa kita sombongkan dihadapan-Nya? Kenapa kita lancang bermaksiat kepada-Nya?
Allah ta’ala berfirman
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), dan Dia Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Kita tidak punya apa-apa… Kembalilah… Bertaubatlah… Sebelum semuanya terlambat…
Diary Muslim Plus, Sabtu 3 Okt 2015
Hadits diatas, selain menerangkan sifat-sifat yang dikategorikan sebagai bentuk nifaq, juga menegaskan akan pentingnya bersifat jujur, tepat janji, & amanah, yang merupakan kebalikan dari sifat nifaq diatas.
Sifat nifaq merupakan penyakit hati, dimana hanya si pelaku yang tahu & sadar akan hal tersebut. Bila ia hinggap didalam hati seseorang, maka ia akan merusak orang tersebut & juga orang yang ada disekitarnya.
Mengingat akan bahaya sifat nifaq yang begitu besar bagi kehidupan manusia, Allah Ta’ala (dengan rahmat-Nya kepada kaum mukminin) memberitahukan kepada hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam akan sifat orang-orang yang dihinggapi penyakit nifaq. Sehingga mereka bisa mengambil langkah-langkah pencegahan sebelum mereka dirusak oleh sifat tersebut.
Dahulu, orang munafik benar-benar menyembunyikan sifatnya (khawatir bila diketahui khalayak ramai). Namun, melihat kondisi manusia yang kian waktu kian menjauh dari petunjuk Allah & Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, sifat ini semakin nampak atau bahkan sengaja ditampakkan. Allahul musta’an. Bila demikian halnya, maka tugas kita bukanlah menghukumi bahwa si fulan munafik. Akan tetapi, tugas kita adalah berdoa meminta perlindungan kepada Allah agar terjauh dari sifat nifaq tersebut.
اللهم اهدنا لأحسن الأخلاق لا يهدي لأحسنها إلا أنت واصرف عنا سيئها لا يصرف عنا سيئها إلا أنت.
والله تعالى أعلم.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
✒ Ust Ridwan Arifin Lc
(Jodoh)
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Ungkapan di atas adalah arti dari pepatah arab yang berbunyi:
الجنون فنون
Ada orang gila yang terekspresi dengan bertelanjang ria, ada pula yang dengan memaki maki setiap orang yang dijumpai, ada pula yang dengan berbicara sendiri dan ada pula yang berbicara tanpa kenal aturan dan batasan.
Dan menurut para dokter jiwa, gila itu bertingkat tingkat, ada yang parah seperti yang tergambar pada sikap aneh di atas. Ada pula yang sedang, belum sampai telanjang namun hampir telanjang atau bahkan memakai baju tanpa pernah dicuci.
Ada pula yang ringan, diantaranya dengan berbicara ngelantur alias ngalor ngidul ndak karuan, seakan lupa arah timur dari barat, walaupun penampilannya masih necis bersih dan perlente.
Dari mereka ada yang berkata bahwa istri tetangga adalah istrinya juga, ada lagi yang berkata bahwa ia mengetahui hal gaib, dan ada lagi yang berkata dirinya adalah keturunan malaikat, ada pula yang mengaku sholat subuh di Makkah, Zhuhurnya di Istiqlal Jakarta sedangkan Asharnya di masjid kampungnya. Dan ada pula yang ngakunya baru selesai menunaikan ibadah haji, padahal bukan bulan haji, malah ada pula yang mengaku BISA BERHAJI DUA KALI setahun.
Lebih unik lagi, ada yang mengaku bahwa Ka’bah datang berkunjung ke rumahnya, bukannya ia yang thawaf mengelilingi Ka’bah namun Ka’abahlah yang mengelilingi dirinya.
Dan masih banyak lagi ekspresi penyakit mental alias gila.
Ketika melihat ulah atau mendengar ucapan mereka hanya ada satu sikap yang pantas anda lakukan, yaitu merasa iba kepada mereka dan bersyukur anda selamat dari petaka yang menimpa mereka.
الحمد لله الذي عافاني مما ابتلاك به وفضلني على كثير مما خلق تفضيلا
Segala puji hanyak milik Allah Yang telah menyelamatkan aku dari petaka yang menimpamu, dan benar benar telah memberiku banyak kelebihan dibanding kebanyakan makhluq ciptaan-Nya.
Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :