Perumpamaan Orang Yang TERGODA Dengan Dunia

Ada sesendok madu yang jatuh ke lantai, lalu datanglah semut mencicipinya dari PINGGIRNYA.. setelah itu dia pergi meninggalkannya.

Namun rasa madu itu terlalu nikmat baginya, maka dia pun kembali untuk melahapnya.. kemudian dia berusaha meninggalkannya lagi.

Belum jauh dia meninggalkannya, dia merasa belum cukup dengan apa yang dinikmatinya dari PINGGIRAN madu itu, akhirnya dia pun memutuskan masuk ke TENGAH madu itu untuk menikmati manisnya lebih banyak lagi.

Maka sampailah dia di pertengahannya, dan mulai menikmati manisnya madu itu dengan lebih leluasa…

Tapi, ketika dia ingin keluar, ternyata dia tidak bisa, kaki-kakinya telah masuk lengket dalam madu itu… dan keadaannya terus seperti itu hingga dia mati.

========

Begitulah dunia, manisnya akan terus menggoda… jangan sampai kita terlena dengannya.

Tapi, gunakanlah dia untuk mendapatkan PAHALA akherat, bukan HANYA untuk menikmatinya SAJA.

Semoga kita selalu mendapat taufiq-Nya dalam memperlakukan dunia.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Baca Cepat Dapat Banyak… Atau Baca Dengan Tartil Tapi Dapat Dikit ?!

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Orang-orang berbeda pendapat tentang mana yang lebih afdhol, apakah membaca (Alqur’an) dengan tartil tapi yang dibaca menjadi sedikit, ataukah membaca dengan cepat sehingga yang dibaca menjadi banyak? Ada dua pendapat dalam hal ini:

(Pendapat Pertama):

Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas -rodhiallohu anhuma- dan yang lainnya berpendapat: bahwa membaca dengan tartil dan tadabbur dengan kuantitas bacaan yang sedikit; lebih afdhol daripada bacaan yang cepat dengan kuantitas banyak.

Mereka yang memilih pendapat ini berhujjah; karena tujuan membaca (Alqur’an) adalah memahaminya, mentadabburinya, mendalaminya, dan mengamalkannya. Adapun membaca dan menghapalnya adalah wasilah (yang mengantarkan) kepada makna-maknanya, sebagaimana sebagian ulama salaf mengatakan:

“Alqur’an itu turun untuk diamalkan, maka buatlah bacaannya menjadi amalan”.

Oleh karenanya, (yang disebut) Ahlul Qur’an adalah mereka yang mengetahui isinya dan mengamalkannya, meskipun mereka belum menghapalnya di luar kepala.

Adapun orang yang telah menghapalnya, namun tidak mengamalkan isinya; maka dia bukanlah Ahlul Quran, meskipun dia telah menegakkan huruf-hurufnya setegak busur panah.

Mereka (juga) berdalil: karena iman adalah amalan yang paling afdhol, sedang memahami dan mentadabburi Alqur’an itulah yang membuahkan keimanan.

Adapun hanya membacanya tanpa memahami dan mentadabburinya, maka itu bisa dilakukan oleh orang yang baik dan orang yang buruk, bisa dilakukan oleh orang mu’min dan orang munafik, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-

مثل المنافق الذي يقرأ القرآن، كمثل الريحانة، ريحها طيب، وطعمها مر

“Perumpamaan orang MUNAFIK yang membaca Alqur’an , seperti tumbuhan rehanah (kemangi), baunya enak, tapi rasanya pahit”.

Dan manusia dalam hal ini ada empat tingkatan: (a) Ahli Qur’an dan Iman, inilah manusia yang paling utama. (b) Orang tidak Ahli Qur’an dan Iman. (c) Orang yang diberi hapalan Qur’an, tapi tidak diberi keimanan. (d) Orang yang diberi keimanan, namun tidak diberi hapalan Qur’an.

Mereka mengatakan: Sebagaimana orang yang diberi keimanan tanpa hapalan Qur’an itu lebih utama daripada orang yang diberi hapalan qur’an tanpa keimanan, maka begitu pula orang yang diberi (kelebihan) mentadabburi dan memahami isi Alqur’an saat membacanya itu lebih utama daripada orang yang diberi (kelebihan) banyak dan cepat dalam membaca tapi tanpa tadabbur.

Mereka juga berdalil: bahwa inilah petunjuk Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, sungguh beliau dahulu membaca Surat Alqur’an dengan tartil sehingga surat itu menjadi lebih panjang dari surat yang lebih panjang darinya. Beliau juga pernah sholat malam dengan SATU AYAT hingga pagi tiba.

(Pendapat Kedua):

Sedang para sahabatnya Imam Syafi’i -rohimahulloh-, mereka mengatakan: Bacaan yang banyak lebih utama, sebagaimana haditsnya Ibnu Mas’ud -rodhiallohu anhu-, bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

من قرأ حرفا من كتاب الله، فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، لا أقول: الم حرف، ولكن ألف حرف، ولام حرف، وميم حرف

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabulloh; maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dengan pahala sepuluh kali lipatnya, aku tidak mengatakan: Alif Lam mim, itu satu haruf, namun Alif itu satu huruf, Lam itu satu huruf, dan Mim itu satu huruf”. (HR. Attirmidzi dan dia menshahihkannya).

Mereka juga berdalil: karena Utsman bin Affan membaca Alqur’an (30 juz) dalam satu rekaat, dan mereka atsar-atsar dari banyak generasi salaf tentang banyaknya bacaan qur’an mereka.

Yang benar dalam masalah ini adalah dengan dikatakan:

bahwa pahala bacaan dengan tartil dan tadabbur itu lebih agung dan mulia kedudukannya, sedang pahala bacaan yang banyak itu lebih banyak jumlahnya.

Maka, orang yang pertama itu seperti orang yang bersedekah dengan permata yang berharga tinggi, atau orang yang memerdekakan budak yang harganya mahal sekali. Sedang orang yang kedua itu seperti orang yang bersedekah dengan dirham yang banyak, atau orang yang memerdekakan beberapa budak yang harganya murah.

Disebutkan dalam Shohih Bukhori, bahwa Qoatadah mengatakan: Aku telah bertanya Anas tentang bacaannya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Maka dia menjawab: “Beliau dahulu benar-benar memanjangkan bacaannya”.

Syu’bah mengatakan: Abu Jamroh mengatakan kepada kami: aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa aku orang yang cepat membaca, bisa saja aku membaca Qur’an dalam semalam; sebanyak sekali atau dua kali. Maka Ibnu Abbas mengatakan: “Sunguh bila aku membaca satu surat saja, itu lebih aku senangi, daripada aku melakukan apa yang kamu lakukan itu. Jika kamu harus melakukannya, maka bacalah dengan bacaan yang didengar kedua telingamu, dan dipahami oleh hatimu!.

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Janganlah kalian membaca Qur’an dengan cepat seperti bacaan syair, jangan pula ngawur membacanya seperti suara kurma kering yang bertabrakan, berhentilah pada keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati dengannya, jangan sampai tujuan salah seorang dari kalian selesai hingga akhir suratnya”.

[Oleh Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-, Kitab: Zadul Ma’ad 1/327-329]

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Kerinduan Orangtua…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Kita -sebagai orang tua-sering rindu kepada anak kita, ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin ngobrol dengannya. Betapa bahagianya kita tatkala melihat tawa anak kita.

Begitu pula ibu dan ayah kita, bisa jadi di masa tua mereka rindu kepada kita, maka janganlah kita baru menjenguk mereka atau menelpon mereka jika kita yang rindu. Kerinduan mereka kepada kita tidak harus menunggu kerinduan kita kepada mereka. Apalagi kita sering sibuk sehingga kerinduan terhadap mereka terlupakan dan terabaikan.

Terlebih lagi orang tua malu untuk menyatakan kerinduannya kepada kita…
Kapan lagi? Mumpung mereka masih bisa melihat tawa kita…

Waktu untuk kesibukan kita belum tentu sepanjang umur orang tua kita.

Anda Ingin BAHAGIA… Ingat, Hanya SATU KUNCINYA

KEBAHAGIAAN… yang merasakannya adalah HATI.

Oleh karenanya, hati menjadi KUNCI kebahagiaan seseorang… Sayang banyak orang salah jalan, dan mencari kebahagiaan dengan memanjakan diri dan nafsunya.

Padahal harusnya dia HANYA membutuhkan SATU KUNCI kebahagiaan !!

Kunci tersebut adalah: DEKATNYA dia dengan Allah ta’ala.

⚉  Oleh karena itulah Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Ingatlahlah bahwa dengan ber-DZIKIR (mengingat-Ku); hati-hati akan menjadi tenang”. [Surat: Arro’d: 28].

⚉  Oleh karena itu pula Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan kepada sahabat tercintanya Abu Bakar, saat puncak kecemasan menghampirinya di dalam goa, sebagaimana dikisahkan oleh Alqur’an (yang artinya):

“Janganlah BERSEDIH, karena sungguh Allah BERSAMA kita”. [Attaubah: 40].

⚉  Oleh karena ini pula, Allah memerintahkan kepada mereka yang terkena musibah untuk mengatakan:

“Inna lillahi wa inna ilahi rojiun” (Sungguh kami milik ALLAH, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali). [Albaqoroh: 156].

Oleh karenanya, ketika memerintahkan bersabar, Allah berfirman (yang artinya):

“Bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah BERSAMA orang yang bersabar”. [Al-Anfal: 46].

⚉  Oleh karena ini pula, mereka yang baru MASUK ISLAM akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara, karena kontrasnya jarak mereka dengan Allah, antara sebelum masuk Islam dengan sesudah masuk Islam.

👉🏼  Kebahagiaan itu ketika KITA semua dekat dengan KEKASIH HATI KITA… Allah yang Maha Pengasih dan Maha Mengasihi.

Ya Allah sayangilah kami, dan ampunilah kami, karena kebodohan kami tentang-MU… Sungguh Engkau Maha Dekat dan sudi memperkenankan do’a kami.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

‎Beda‬ Antara Khilafiyah Dan Ijtihadiyah…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Sebagian orang tidak bisa membedakan masalah khilafiyah dan ijtihadiyah.

Masalah khilafiyah adalah masalah yang diperselisihkan.
Sedangkan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang tidak ada nash yang sharih tidak pula ijma ulama.

Yang perlu diingat:
Tidak setiap masalah khilafiyah itu masuk dalam kategori ijtihadiyah.
Tidak setiap yang diperselisihkan diterima pendapatnya. Seperti perselisihan antara ahlussunnah dengan syi’ah. Atau perselisihan ahlussunnah dengan khawarij dan murji’ah.

Karena bila telah ada nash yang sharih atau ijma ulama, pendapat yang menyelisihinya dianggap menyimpang dan sesat.

Sedangkan masalah ijtihadiyah maka kita tidak boleh saling memaksakan pendapat. Apalagi memvonisnya pelakunya sebagai ahlul bid’ah.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Sebagaimana kaum muslimin berbeda pendapat apakah lebih utama tarji’ dalam adzan atau tidak. Apakah lebih utama mengganjilkan iqomah atau menduakan, apakah sholat fajar lebih utama di waktu gelap atau di waktu agak terang, apakah qunut subuh disunnahkan atau tidak, apakah bismillah dibaca dengan keras atau sirr, dan sebagainya.

Ini adalah masalah ijtihadiyah diperselisihkan oleh para ulama terdahulu. Setiap mereka mengakui ijtihad ulama lainnya. Siapa yang benar, ia mendapat dua pahala dan siapa yang telah berijtihad lalu salah, maka kesalahannya dimaafkan.

Ulama yang memandang lebih kuat pendapat Asy Syafii tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Malik.
Siapa yang menguatkan pendapat Ahmad, tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Asy Syafii dan seterusnya.
(Majmu fatawa 20/292).

Imam Asy Syathibi berkata: Bukan kebiasaan para ulama memutlakkan lafadz bid’ah untuk masalah furu’ (ijtihadi).
(Al I’tisham 1/208).

Inilah sikap yang benar dalam masalah intihadiyah. Adapun masalah khilafiyah maka wajib kita lihat apakah ia termasuk kategori ijtihadiyah atau bukan.

Wallahu a’lam

Nasehat Bagi Orang Yang Berkata : Mending TIDAK TAHU Hukumnya Agar Tidak Berdosa

Mending TIDAK TAHU hukumnya, sehingga ketika kita melakukannya, kita tidak berdosa..

========

Sekilas tampak logis, tapi sebenarnya :

1. Ketidak-tahuan yang DISENGAJA adalah perbuatan dosa, karena dia telah meninggalkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Menuntut ilmu (agama) adalah kewajiban bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah: 224, dishohihkan oleh Syeikh Albani) .. Oleh karenanya, kita wajib mengetahui ilmunya dahulu apapun yang kita lakukan.

2. Ketidak-tahuan dalam hal agama akan mendatangkan banyak kerugian.  Sebagaimana dalam masalah duniawi, kita akan sulit maju kecuali dengan ilmu dunia, begitu pula dalam masalah akherat, kita akan sulit menjadi mulia kecuali dengan ilmu agama.

3. Ketidak-tahuan adalah sesuatu yang berusaha kita hindari dalam hal dunia .. lalu bagaimana mungkin ketidak-tahuan menjadi sesuatu yang kita cari dalam hal akherat..?!

————

Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, menjadikan kita bermanfaat dengan ilmu tersebut, dan memberikan kita keikhlasan dalam amal dan perbuatan, aamiin.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Bolehkah Mengucapkan Selamat Tahun Baru..?

Ucapan selamat itu ada beberapa keadaan:

1. Ucapan selamat karena datangnya sesuatu perkara mubah yang menjadikan seseorang bahagia, tanpa terikat dengan waktu sama sekali… ucapan selamat ini terkait dengan datangnya nikmat tertentu, bukan terkait dengan datangnya waktu tertentu.

Seperti: ucapan selamat untuk pernikahan, ucapan selamat atas lahirnya anak, ucapan selamat atas kelulusan sekolah, atau diterima di universitas tertentu, atau lulus diterima PNS, atau yang semisalnya.

Ini semua termasuk perkara adat kebiasaan yang dibolehkan, bahkan bisa jadi pelakunya mendapatkan pahala, karena dengan jalan itu dia bisa memasukkan kebahagiaan ke dalam hati orang lain.

2. Ucapan selamat karena datangnya momen tertentu, seperti hari raya, atau datangnya tahun tertentu, atau bulan tertentu, atau hari tertentu… maka yang dibolehkan hanya pada tiga momen, yaitu ucapan selamat untuk hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan masuknya bulan Ramadhan, karena adanya dalil yang jelas dalam tiga momen ini.

Adapun selain itu, maka tidak diperbolehkan, karena tidak adanya contoh atau tuntunannya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ataupun dari para sahabatnya.

Contohnya seperti: Ucapan selamat tahun baru, baik hijri atau masehi. Ucapan selamat millenium baru, baik hijri ataupun masehi. Ucapan selamat untuk hari isro mi’roj. Ucapan selamat untuk maulid. Ucapan selamat ulang tahun kita. Ucapan selamat untuk hari ibu… dst.

Semua contoh ucapan selamat ini tidak pernah ada contohnya, tidak pernah ada tuntunannya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabat beliau, bahkan tidak juga dari para ulama generasi salaf… padahal dorongan untuk melakukan itu telah ada di zaman mereka, dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk melakukannya, serta mereka mampu melakukannya… meskipun demikian, tidak ada satupun riwayat yang mengabarkan bahwa satu saja dari mereka pernah melakukannya.

Itu menunjukkan bahwa ucapan-ucapan selamat di momen-momen itu tidak disyariatkan dan bukan kebaikan, karena seandainya itu suatu kebaikan tentunya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya, wallohu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ilmu Anda BERMANFA’AT..?

Ilmu yang bermanfa’at, adalah: Ilmu yang diamalkan oleh pemiliknya, sehingga keadaannya berubah menjadi LEBIH BAIK.

Semakin banyak ilmunya yang diamalkan, semakin banyak pula ilmunya yang bermanfa’at.

Sehingga bukanlah syarat bermanfa’atnya ilmu seseorang; DIA HARUS DIIKUTI OLEH BANYAK ORANG… Oleh karenanya, ada seorang Nabi yang TANPA pengikut sama sekali, dan itu bukan berarti ilmu NABI tersebut tidak bermanfa’at.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat, maka ada seorang Nabi dan yang ikut bersamanya satu kelompok kecil, ada seorang Nabi dan yang ikut bersamanya (hanya) SATU DUA orang, dan ada juga seorang Nabi (tapi) TIDAK bersamanya seorang pengikutpun”. [HR. Bukhori: 5752, dan Muslim: 374]

———–

Intinya: Janganlah risau jika hanya ada sedikit orang yang mendengar Anda, tetaplah berpegang-teguh dengan KEBENARAN dan terapkanlah dalam hidup Anda… Dengan begitu Ilmu Anda menjadi bermanfa’at.

Dari sini kita juga bisa memahami, bahwa manfa’atnya Ilmu seseorang bisa untuk dirinya sendiri, dan bisa juga untuk orang lain… wallohu a’lam.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

 

Ucapan Ibnu Mas’ud Rhodiyallahu ‘anhu…

Muhammad Nuzul Dzikry, حفظه الله تعالى

Al Hasan Al Bashri (tabi’in) pernah berucap:

“Semoga ALLAH merahmati Ibnu Mas’ud (sahabat Nabi), seakan-akan beliau berbicara langsung dengan kalian saat berkata:

“Orang yang zuhud pada hari ini seperti orang yang mencintai dunia pada masa kami..
Orang yang semangat beribadah pada hari ini seperti orang yang lalai pada masa kami.
Orang yang alim pada hari ini seperti orang bodoh di masa kami.” (Adab Al Hasan Al Bashri Libnil Jauzi 46).

Jika ini hasil pengamatan Ibnu Mas’ud pada masa itu, maka bagaimana jika beliau melihat “semangat” kita dalam belajar dan beramal, “kerja” kita dalam berdakwah dan “klaim zuhud” kita pada hari ini??!!

Dan aneh-nya, saat ini masih banyak orang dengan bangganya memamerkan “keshalihan dan ibadahnya” yang tidak ada seujung kuku keshalihan dan ibadah ulama terdahulu.

Sujud Sahwi Setelah Salam

Jika imam sujud sahwi setelah salam, apakah makmum mengikutinya..?

=====

Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan :

Intinya: Jika sujud (sahwi) nya imam sebelum salam, maka makmum wajib mengikutinya, apapun keadaannya.

Jika sujud (sahwi) nya imam SETELAH SALAM, maka apabila makmum tidak ketinggalan sama sekali; dia wajib mengikuti (sujud sahwinya) imam.

Namun, apabila makmum ketinggalan sebagian (masbuq *) dari sholat imamnya, maka dia tidak usah mengikuti (sujud sahwi) imamnya, karena adanya udzur bagi dia untuk tidak mengikutinya (yaitu: adanya pemisah antara dia dengan sholatnya, berupa salam).

Maka, apabila makmum (masbuq tsb) mendapati lupanya imam, dia wajib sujud sahwi setelah salam. Dan apabila lupanya imam terjadi sebelum dia masuk bersamanya, maka dia tidak wajib sujud sahwi (setelah itu).

[Majmu’ Fatawa Syeikh Al-Utsaimin 14/46].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

NOTE :
(*) Masbuq dalam istilah para Ulama fikih adalah orang yang ketinggalan imam dalam sebagian roka`at sholat atau seluruhnya atau mendapati imam setelah satu roka`at atau lebih. (Haasyiyah Ibnu Abidîn, 1/400)

ref: https://almanhaj.or.id/7483-masbuq-dalam-shalat

Menebar Cahaya Sunnah