Ustadz Favoritku…

Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى

Mempavoritkan seorang ustadz itu wajar dan lumrah. Apalagi bila ilmu dan akhlaknya ma shaa Allah.

Namun terkadang sering jatuh kepada sikap berlebihan. Marah karena ustadznya, benci karena ustadznya, cinta juga karena ustadznya. 
Ketika ustadznya menghukumi untuk menghajr seseorang, maka ia hajr orang tersebut tanpa melihat sebab musababnya dan tanpa tabayyun terlebih dahulu. 

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah memberi kita nasehat. Beliau berkata:

فإذا كان المعلم أو الأستاذ قد أمر بهجر شخص، أو بإهداره وإسقاطه وإبعاده ونحو ذلك، نظر فيه، فإن كان قد فعل ذنبًا شرعيا، عوقب بقدر ذنبه بلا زيادة. وإن لم يكن أذنب ذنبًا شرعيا، لم يجز أن يعاقب بشيء لأجل غرض المعلم أو غيره.

Apabila seorang guru atau ustadz menyuruh untuk menjauhi seseorang atau menghajrnya atau semisalnya, hendaknya dilihat; bila orang tersebut telah melakukan dosa secara syariat maka ia diberi sanksi sebatas dosanya saja dan tidak boleh lebih. 
Dan bila ia tidak melakukan dosa secara syariat, maka tidak boleh memberinya sanksi hanya karena mengikuti keinginan guru. (Majmu fatawa jilid 28).

Coba deh perhatikan perkataan beliau yang indah ini.. 
Terkadang ustadz kita mencela atau mengkritik seseorang, lalu kita ikut mencelanya dan terkadang menyikapinya bagaikan musuh. Padahal kalaupun misalnya ia salah, hendaknya diberi udzur terlebih dahulu, mungkin ia jatuh kepada kesalahan karena kelalaian atau yang lainnya.

Seorang ustadzpun seharusnya jangan malah membuat semakin besar api permusuhan, sehingga akibatnya ikhwah pun terkotak kotak bahkan tidak saling menegur.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah dalam majmu fatawa jilid 28 berkata menasehati kita:

وليس للمعلمين أن يحزبوا الناس ويفعلوا ما يلقي بينهم العداوة والبغضاء، بل يكونون مثل الأخوة المتعاونين على البر والتقوي كما قال تعالى: { وَتَعَاوَنُواْ على الْبرِّ وَالتَّقْوَي وَلاَ تَعَاوَنُواْ على الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ }8].

para guru tidak boleh mengotak ngotak manusia dan melakukan sikap yang menimbulkan permusuhan dan kebencian. Tetapi hendaknya mereka bagaikan saudara yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَتَعَاوَنُواْ على الْبرِّ وَالتَّقْوَي وَلاَ تَعَاوَنُواْ على الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. (QS Al Maidah:2).

Terkadang ketika ustadz gak suka sama seseorang, ia ungkapkan kepada murid muridnya sehingga timbul permusuhan dan kebencian. Padahal tak layak ia lakukan demikian. Tapi hendaknya ia memberi contoh yang baik kepada murid-muridnya untuk memberi seribu udzur kepada sesama kaum mukminin dan tidak mudah mencela atau berburuk sangka.

Inilah nasehat untuk diriku dan ikhwah sekalian. Semoga bermanfaat.

Itulah Indonesia…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Nampaknya; kata kata di atas jawaban yang tepat untuk menggambarkan kondisi negri kita. Carut marut negara, masyarakat, sosial, budaya, politik dan ekonomi yang berkepanjangan nampaknya belum cukup sebagai bukti belum mampunya bangsa ini dalam menyelesaikan masalah sendiri. Namun demikian, lihatlah betapa garang dan tanpa malu banyak komentator yang mengkritisi dan menyalah nyalahkan negara lain.

Jakarta macet semakin macet, ekonomi semaki seret, politik semakin ruwet, namun demikian, media kita gegap gempita “menggurui” Saudi dalam mengurusi jamaah haji.

Ngurusi jamaah haji yang hanya berjumlah 200 ribu saja kacau balau, mau nggurui yang selalu ngurusi 5 juta jamaah haji.

Daftar tunggu yang ndak jelas kapan ada solusinya, dana talangan haji, pemondokan dan lain lain sampai saat ini terus bermasalah, namun demikian para komentator terkesan begitu pandai menyelesaikan masalah haji di Mina, Arafah , Makkah dan Muzdalifah.

Setelah sekian lama saya mikir, nampaknya saya menemukan jawaban paling tepat yaitu “itulah indonesia”.

Marilah kita bercermin sebelum berbicara, agar tidak memalukan. Sepatutnya kita menyadari bahwa apapun ucapan kita pastilah kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah.

Sering Terlintas Di Hati… Do’a Saya Diterima Gak Ya…?

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Dosa-Dosa Lidah…

Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى

Bila kita pikirkan, ternyata kebanyakan dosa lidah itu adalah dosa dosa besar..
Coba deh kita perhatikan dosa dosa lidah:

Pertama: Berkata tanpa ilmu.

Ini adalah tonggak kesesatan. Allah Ta’ala berfirman:

رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)

Dalam ayat itu, Allah menyebutkan dosa dosa dengan dimulai yang terkecil lalu besar dan semakin besar. Allah menutupnya dengan berbicara atas Allah dengan tanpa ilmu.

Ya, karena ia adalah asal muasal segala kesesatan. Munculnya syirik, bid’ah, dan maksiat adalah akibat berkata tanpa ilmu.

Kedua: Dusta.

Dusta bertingkat tingkat derajatnya. Yang paling besar adalah berdusta atas nama Allah dan RasulNya.
Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

Selanjutnya adalah berdusta atas nama para shahabat dan para ulama. Karena dusta semacam ini menipu kaum awam, sehingga mereka terjatuh dalam jurang kesesatan.

Selanjutnya berdusta dalam pembicaraan.
Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda yang artinya: “Inginkah kalian kuberitahukan mengenai dosa besar yang paling besar?” Beliau menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah”. Maka beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orangtua”. Lalu beliau duduk padahal sebelumnya dalam keadaan bersandar, kemudian melanjutkan sabdanya: “Ketahuilah, juga ucapan dusta.” Dia (Abu Bakrah) berkata, “Beliau terus saja mengatakannya berulang-ulang hingga kami mengatakan, “Sekiranya beliau diam”. (HR. Al-Bukhari no. 78 dan Muslim no. 5975).

Ketiga: ghibah.
Ghibah adalah menyebut kejelekan saudara kita di belakangnya. Ia bagaikan memakan bangkai saudara sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Janganlah kalian menggunjingkan satu sama lain. Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Tawwab (Maha Penerima taubat) lagi Rahim (Maha Menyampaikan rahmat).” [QS Al Hujurat: 12]

Keempat: Mencaci maki muslim.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر

Mencaci maki muslim adalah kefasiqan dan memeranginya adalah kekafiran. Muttaf alaihi.

Dan dosa dosa lidah lainnya. Oleh karena itu Nabi mengatakan bahwa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam api Neraka adalah lidah dan kemaluan.

Menebar Cahaya Sunnah