Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى
“Itu kan kebaikan, kenapa dilarang?!”… Inilah sanggahan yang sering kita dengar dari sebagian orang yang terjatuh dalam amalan bid’ah saat diingingatkan.
Sungguh, perkataan ini merupakan tanda kurang-tahunya dia tentang bid’ah.. Jika dia mengetahui hal-hal berikut, tentu ucapan itu tidak akan terlontar darinya.
1. Ranah bid’ah adalah ibadah, sehingga tidak mungkin terlihat sebagai keburukan… semua bid’ah tentunya terlihat baik, karena berupa ibadah yang dibuat-buat dan dimodivikasi sehingga terlihat mulia dan sangat pas.
2. Bid’ah bukan sekedar amalan yang tidak diterima… Tapi, dia merupakan DOSA yang harus ditinggalkan, sebagaimana sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam:
“Jauhilah hal-hal yang baru (dalam agama), karena semua perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah KESESATAN”. [HR. Abu Dawud:4607 dan yang lainnya, shahih].
3. Ketika bid’ah sudah biasa dilakukan, maka sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- akan dilihat sebagai sebuah kekurangan, bahkan suatu kemungkaran.
Diantara contohnya, adalah bersalam-salaman setelah shalat fardhu.
Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu tidak pernah bersalam-salaman setelah salam dari shalat fardhu… ini menunjukkan bahwa diantara sunnah nabi adalah tidak bersalam-salaman setelah shalat fardhu.
Nah, ketika bid’ah bersalam-salaman setelah shalat ini menjadi kebiasaan di suatu tempat, maka meninggalkannya akan dianggap suatu kekurangan, bahkan suatu kemungkaran.
Padahal dahulu Nabi -shollallohu alaihi wasallam- meninggalkan hal itu dan tidak melakukannya, pantaskah kita katakan bahwa amaliah Nabi itu kurang, atau bahkan suatu kemungkaran?!
Ulama besar dari madzhab syafi’i, Al-Izz bin Abdussalam (w 660 H) telah menegaskan:
“Bersalam-salaman setelah shalat subuh dan shalat ashar termasuk amalan BID’AH… Dahulu Nabi -shollallohu alaihi wasallam- setelah shalat; membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dan beristighfar tiga kali, kemudian beliau pergi…. Dan semua kebaikan ada dalam tindakan mengikuti Rosul shallallohu alaihi wasallam. (Oleh karenanya) Imam Syafi’i menganjurkan kepada imam untuk pergi setelah salamnya”. [Al-Fatawa, karya: Al-Izz bin Abdussalam, hal: 46-47].
Tidak bisa dipungkiri, bahwa orang yang sudah terbiasa bersalam-salaman setelah shalat fardhu, kemudian dia tidak melakukannya atau melihat orang lain tidak melakukannya, tentu dia merasa kurang afdhol, padahal justru itulah sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam… pantaskah sunnah Nabi dianggap kurang afdhol?! Atau pantaskah ajaran beliau dirasa ada yang kurang?!
Semoga bermanfaat…
Ustaz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Yang menyaksikan kisah nyata ini berkata :
Suatu hari aku di Mekah, di salah satu supermarket. Setelah aku selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukan ke dalam kereta barang maka akupun menuju tempat salah satu kashir untuk antri membayar.
Didepanku ada seorang wanita bersama dua putri kecilnya dan dibelakang mereka ada seorang pemuda yang persis di hadapanku di posisi antrian.
Aku perhatikan ternyata setelah menghitung lalu sang kashir mengatakan, “Totalnya 145 real”. Lalu sang wanitapun memasukan tangannya ke tas kecil utk mencari-cari uang, ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 real dan beberapa lembar pecahan sepuluhan real. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan real miliki mereka berdua hingga akhirnya terkumpulah uang mereka 125 real.
Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, “Bu.., yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting bu..”.
Tiba-tiba aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 real di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat.
Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada sang wanita dengan penuh kesopanan dan ketenangan seraya berkata, “Ukhti, perhatikan, mungkin uang 50 real ini jatuh dari tas kecilmu…”.
Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 realan tersebut dari lantai lalu ia berikan kepada sang wanita.
Sang wanitapun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kashir, kemudian wanita itupun pergi.
Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjaannya di kashir iapun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri. Akupun segera menyusulnya lalu aku berkata, “Akhi…sebentar dulu…, aku ingin berbicara denganmu sebentar”.
Lalu aku bertanya kepadanya, “Demi Allah, bagaimana kau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi ?”
Tentunya pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya dan aku menenangkannya serta menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Mekah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi.
Lalu iapun berkata, “Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala sang wanita dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kashir…, akan tetapi Robmu Allah Subhaanahu wa ta’aala telah mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku tidak menjadikan sang wanita malu dihadapan kedua putrinya…
Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya-tanya lagi dan biarkan aku pergi”.
Aku berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” (QS Al-Lail 5-7)
Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.
————-###————–
Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :
لَأَنْ أَعُضَّ عَلَى جَمْرَةٍ حَتَّى تَبْرُدَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقُوْلَ لِشَيْءٍ قَدْ قَضَاهُ اللهُ : لَيْتَهُ لَمْ يَكُنْ
“Sungguh aku menggigit bara api hingga dingin lebih aku sukai daripada aku berkata kepada suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah : “Seandainya tidak terjadi”
(Az-Zuhd, Abu Dawud hal 128)
Dalam hadits :
فَإِنَّ لَو تَفتح عمل الشيطان
“Sesungguhnnya perkataan “seandainya” membuka amalan syaitan”
Diantara amalan syaitan :
– Menjadikan pengucapnya sekaan-akan protes terhadap keputusan dan takdir Allah, karena ucapan “seandainya” sering diucapkan tatkala terjadi apa yang tidak disukai
– Menjadikan pengucapnya hanya berangan-angan sesuatu yang mustahil, kata pepatah : “Air susu ibu yang sudah dikeluarkan tidak bisa dimasukan kembali”. Dan syaitan suka seseorang mengangan-angankan sesuatu yang mustahil sehingga terlalaikan dari cita-cita yang mungkin diraih. Mengembalikan masa lalu adalah perkara yang mustahil
– Menjadikan pengucapnya bersedih, dan diantara tujuan syaitan adalah menjadikan seorang mukmin bersedih agar ia futur dan terabaikan dari aktifitas-aktifitasnya yang bermanfaat, atau agar ia tidak bersemangat dalam beraktifitas.
Yang seharusnya diucapkan seorang mukmin tatkala mengalami sesuatu yang dibenci adalah “Qoddarollahu wa maa syaa-a fa’ala”
(ini sudah taqdir Allah, dan Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”
Mari semangat beraktifitas…, yang berlalu biarlah berlalu…, jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki yang ada dihadapan kita…
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Sebagian kaum muslimin mengira bahwa ucapan di atas adalah wajar bahkan benar. Seakan mereka lupa bahwa para salaf yang nota bene adalah para sahabat nabi; tabiin; tabiut tabiin dan ulama’ sepeninggal mereka adalah ummat yang paling mulia akhlaqnya.
Sebagaimana mereka adalah generasi yang paling baik dalam mengemban misi dakwah sebagai penerus perjuangan para nabi alaihimussalam.
Pemerintahan pada zaman beberapa masa di khilafah Umawiyah dan juga Abbasiyah tidak seindah yang dibayangkan oleh sebagian orang.
Pada sebagian zaman itu; sebagian khalifah membunuh banyak ulama’ hanya karena perbedaan idiologi semisal masalah ” al Qur’an adalah kalam ilahi”. Sebagaimana mereka juga memenjarakan dan bahkan membunuh sebagian ulama’ dengan tuduhan subversi “makar merebut kekuasaan”.
Bahkan sebagian khalifah telah menunda nunda shalat hingga akhir waktu bahkan kadang kala keluar batas waktunya. Dan masih banyak lagi kisah kelam yang pernah menghiasi lembaran sejarah para ulama’ salaf.
Namun seberat apapun yang mereka alami; mereka tetap teguh berprinsip bahwa Islam adalah satu satunya solusi bagi seluruh problematika ummat. Islam telah utuh sebagaimana firman Allah Ta’ala:
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا
“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian dan menggenapkan kenikmatan-Ku atas kalian dan Aku juga telah merestui Islam sebagai agama kalian.”
Hasilnya? Islam tetap jaya hingga akhirnya Islam tetap menyebar dan memimpin dunia. Berbagai cobaan berhasil mereka lalui dengan tanpa merubah syariat islam atau garis perjuangan tanpa perlu mengadopsi berbagai ajaran dan hasil pikiran orang.
Semua problemtika ummat mereka selesaikan dengan kembali ke jalan Allah dan meneladani sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan keteladanan salafusshalih.
Mungkin anda berkata: kok bisa dengan bersahaja dan hanya mempelajari islam; mengamalkan dan mendakwahkan Islam seutuhnya tanpa pengurangan atau penambahan semua problematika dapat terselesaikan? Padahal di zaman kita; dengan sarana berbagai tekhnologi; hasil pemikiran para ilmuan; dan metode perubahan atau penyegaran ummat Islam masih saja terpuruk bahkan seakan semakin terpuruk.
Betul sobat! Ingat bahwa semua tekhnologi tergantung kepada yang menggunakannya; sebagai contoh HP atau Komputer yang ada di depan anda; bisa berguna dan bisa juga menjadi biang petaka bagi Islam.
Hasil penelitian manusia pastilah cacat alias tidak sempurna seiring ketidak sempurnaan para ilmuan yang menelitinya; dan akibatnya hasilnya juga tidak akan pernah sempurna.
Terlebih dari itu semua; kejayaan dan pertolongan sejatinya hanyalah milik Allah. Kalau Allah menghendaki maka pasti terjadi dan bila Allah belum menghendaki maka seluruh upaya manusia pastilah akan berujung pada kebuntuan. Simaklah firman Allah Ta’ala:
قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيء قدير
“Katakan : Ya Allah; wahai Penguasa segala kerajaan; Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau juga mencabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau juga menghinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di Tangan-Mulah segala kebaikan; sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu sungguhlah berkuasa.” (Ali Imran 26)
Sobat! Masihkah ada alasan untuk mencari solusi dari selain kembali kepada jalan atau agama Allah seutuhnya?
Dahulu Khalifah Umar radhiallahu anhu menjelaskan tentang resep keberhasilannya menundukkan Romawi dan Persia dengan berkata:
نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة بغيره أذلنا الله
“Kita adalah satu kaum yang Allah muliakan berkat agama Islam; sehingga acap kali kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam; pasti Allah timpakan kehinaan kepada kita.”
Inilah resep manjur dan mujarab kejayaan ummat; bukan dengan memodifikasi islam dengan harokah hasil rekayasa sebagian manusia atau metode lainnya. Allahu Akbar.
Penulis,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :