Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Sebagian kaum muslimin mengira bahwa ucapan di atas adalah wajar bahkan benar. Seakan mereka lupa bahwa para salaf yang nota bene adalah para sahabat nabi; tabiin; tabiut tabiin dan ulama’ sepeninggal mereka adalah ummat yang paling mulia akhlaqnya.
Sebagaimana mereka adalah generasi yang paling baik dalam mengemban misi dakwah sebagai penerus perjuangan para nabi alaihimussalam.
Pemerintahan pada zaman beberapa masa di khilafah Umawiyah dan juga Abbasiyah tidak seindah yang dibayangkan oleh sebagian orang.
Pada sebagian zaman itu; sebagian khalifah membunuh banyak ulama’ hanya karena perbedaan idiologi semisal masalah ” al Qur’an adalah kalam ilahi”. Sebagaimana mereka juga memenjarakan dan bahkan membunuh sebagian ulama’ dengan tuduhan subversi “makar merebut kekuasaan”.
Bahkan sebagian khalifah telah menunda nunda shalat hingga akhir waktu bahkan kadang kala keluar batas waktunya. Dan masih banyak lagi kisah kelam yang pernah menghiasi lembaran sejarah para ulama’ salaf.
Namun seberat apapun yang mereka alami; mereka tetap teguh berprinsip bahwa Islam adalah satu satunya solusi bagi seluruh problematika ummat. Islam telah utuh sebagaimana firman Allah Ta’ala:
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا
“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian dan menggenapkan kenikmatan-Ku atas kalian dan Aku juga telah merestui Islam sebagai agama kalian.”
Hasilnya? Islam tetap jaya hingga akhirnya Islam tetap menyebar dan memimpin dunia. Berbagai cobaan berhasil mereka lalui dengan tanpa merubah syariat islam atau garis perjuangan tanpa perlu mengadopsi berbagai ajaran dan hasil pikiran orang.
Semua problemtika ummat mereka selesaikan dengan kembali ke jalan Allah dan meneladani sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan keteladanan salafusshalih.
Mungkin anda berkata: kok bisa dengan bersahaja dan hanya mempelajari islam; mengamalkan dan mendakwahkan Islam seutuhnya tanpa pengurangan atau penambahan semua problematika dapat terselesaikan? Padahal di zaman kita; dengan sarana berbagai tekhnologi; hasil pemikiran para ilmuan; dan metode perubahan atau penyegaran ummat Islam masih saja terpuruk bahkan seakan semakin terpuruk.
Betul sobat! Ingat bahwa semua tekhnologi tergantung kepada yang menggunakannya; sebagai contoh HP atau Komputer yang ada di depan anda; bisa berguna dan bisa juga menjadi biang petaka bagi Islam.
Hasil penelitian manusia pastilah cacat alias tidak sempurna seiring ketidak sempurnaan para ilmuan yang menelitinya; dan akibatnya hasilnya juga tidak akan pernah sempurna.
Terlebih dari itu semua; kejayaan dan pertolongan sejatinya hanyalah milik Allah. Kalau Allah menghendaki maka pasti terjadi dan bila Allah belum menghendaki maka seluruh upaya manusia pastilah akan berujung pada kebuntuan. Simaklah firman Allah Ta’ala:
قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيء قدير
“Katakan : Ya Allah; wahai Penguasa segala kerajaan; Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau juga mencabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau juga menghinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di Tangan-Mulah segala kebaikan; sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu sungguhlah berkuasa.” (Ali Imran 26)
Sobat! Masihkah ada alasan untuk mencari solusi dari selain kembali kepada jalan atau agama Allah seutuhnya?
Dahulu Khalifah Umar radhiallahu anhu menjelaskan tentang resep keberhasilannya menundukkan Romawi dan Persia dengan berkata:
نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة بغيره أذلنا الله
“Kita adalah satu kaum yang Allah muliakan berkat agama Islam; sehingga acap kali kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam; pasti Allah timpakan kehinaan kepada kita.”
Inilah resep manjur dan mujarab kejayaan ummat; bukan dengan memodifikasi islam dengan harokah hasil rekayasa sebagian manusia atau metode lainnya. Allahu Akbar.
Penulis,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah mengatakan, “Adapun memelihara anjing dihukumi haram bahkan perbuatan semacam ini termasuk dosa besar –Wal ‘iyadzu billah–. Karena seseorang yang memelihara anjing selain anjing yang dikecualikan (sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits di atas, pen), maka akan berkurang pahalanya dalam setiap harinya sebanyak 2 qiroth (satu qiroth = sebesar gunung Uhud).” (Syarh Riyadhus Shalihin, pada Bab “Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk Berburu, Menjaga Hewan Ternak atau Menjaga Tanaman”)
Kesimpulan:
Hukum memelihara anjing adalah haram dan termasuk dosa besar kecuali anjing yang digunakan untuk berburu, untuk menjaga tanaman dan hewan ternak.
Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap perkara yang Dia larang. Hanya Allah yang beri taufik.
Ref : http://rumaysho.com/umum/akibat-seorang-muslim-memelihara-anjing-234.html
http://rumaysho.com/umum/hukum-memelihara-anjing-1717.html
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Sobat! Anda pernah melihat pengendara sepeda motor yang telah sukses memodif sepeda motornya sehingga menimbulkan suara sangat brisik& asap yang mengepul?
Ada lagi yang mengganti lampu remnya dengan warna putih sehigga sangat menyilaukan mata pengandara yang dibelakangnya?
Bagaimana perasaan anda saat itu?
Bisa jadi pak polisi mrnilang mereka dan anda sebagai masyarakat juga kadang kala mengumpat mereka. Andai kuasa barang kali anda akan mengusir mereka dari jalanan.
Ini adalah nasib yang bisa dialami oleh para modifikator kendaraan.
Tidak jauh; nasib yang dialami oleh para modifikator agama. Kelak di hari qiyamat; mereka akan kena tilang bukan oleh polisi namun oleh malaikat.
Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu mengisahkan: pada suatu hari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallaam mendatangi kuburan, lalu beliau mengucapkan salam:
ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺩَﺍﺭَ ﻗَﻮْﻡٍ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ، ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻜُﻢْ ﻟَﺎﺣِﻘُﻮﻥَ
“Semoga keselamatan senantiasa menyertai kalian wahai penghuni kuburan dari kaum mukminin, dan kami insya Allah pasti akan menyusul kalian“.
Selanjutnya beliau bersabda: “aku sangat berharap untuk dapat melihat saudara-saudaraku“.
Mendengar ucapan ini, para sahabat keheranan, sehingga mereka bertanya: “bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab :
ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ﻭَﺇِﺧْﻮَﺍﻧُﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪُ
“Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah ummatku yang akan datang kelak“.
Kembali para sahabat bertanya:
“wahai rasulullah, bagaimana engkau dapat mengenali ummatmu yang sampai saat ini belum terlahir?“.
Beliau menjawab:
ﺃَﺭَﺃَﻳْﺖَ ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻟَﻪُ ﺧَﻴْﻞٌ ﻏُﺮٌّ ﻣُﺤَﺠَّﻠَﺔٌ ﺑَﻴْﻦَ ﻇَﻬْﺮَﻱْ ﺧَﻴْﻞٍ ﺩُﻫْﻢٍ ﺑُﻬْﻢٍ ﺃَﻟَﺎ ﻳَﻌْﺮِﻑُ ﺧَﻴْﻠَﻪُ
“Menurut pendapat kalian, andai ada orang yang memiliki kuda yang di dahi dan ujung-ujung kakinya berwarna putih dan kuda itu berada di tengah-tengah kuda-kuda lainnya yang berwarna hitam legam, tidakkah orang itu dapat mengenali kudanya?”
Para sahabat menjawab : “tentu saja orang itu dengan mudah mengenali kudanya“.
Maka Rasulullah menimpali jawaban mereka dengan bersabda:
ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻢْ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﻏُﺮًّﺍ ﻣُﺤَﺠَّﻠِﻴﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀِ، ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻓَﺮَﻃُﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤَﻮْﺽِ ﺃَﻟَﺎ ﻟَﻴُﺬَﺍﺩَﻥَّ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻋَﻦْ ﺣَﻮْﺿِﻲ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺬَﺍﺩُ ﺍﻟْﺒَﻌِﻴﺮُ ﺍﻟﻀَّﺎﻝُّ
“Sejatinya ummatku pada hari qiyamat akan datang dalam kondisi wajah dan ujung-ujung tangan dan kakinya bersinar pertanda mereka berwudlu semasa hidupnya di dunia“.
Aku akan menanti ummatku di pinggir telagaku di alam mahsyar.
Dan ketahuilah bahwa akan ada dari ummatku yang diusir oleh Malaikat, sebagaimana seekor onta yang tersesat dari pemiliknya dan mendatangi tempat minum milik orang lain, sehingga iapun diusir.
Melihat sebagian orang yang memiliki tanda-tanda pernah berwudlu, maka aku memanggil mereka: “kemarilah“.
Namun para Malaikat yang mengusir mereka berkata:
ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ : ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻗَﺪْ ﺑَﺪَّﻟُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪَﻙَ
“sejatinya mereka sepeninggalmu telah merubah-rubah ajaranmu“.
Mendapat penjelasan semacam ini, maka aku (Rasulullah) berkata:
ﺳُﺤْﻘًﺎ ﺳُﺤْﻘًﺎ ﻟِﻤَﻦْ ﺑَﺪَّﻝَ ﺑَﻌْﺪِﻱ
“menjauhlah, menjauhlah wahai orang-orang yang sepeninggalku merubah-rubah ajaranku” (diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim).
Muungkin anda berkata: sedemikian beratkah hukuman yang ditimpakan kepada para modifikator agama Islam?
Ya; betul& itu pantas untuk mereka terima; karena semasa mereka hidup di dunia merekadengan kejamnya melemparkan tuduhan bahwa “hanya dengan Islam saja” urusan ummat tidak akan selesai. Mereka dengan darah dinginnya mengatakan bahwa uswah nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya sudah kadaluarsa sehingga harus dimodernisasi agar bisa sejalan dengan perkembangan zaman. Keji bukan tuduhan semacam ini?
Dahulu imam Malik berkata:
من ابتدع في الاسلام بدعة فقد زعم أن محمدا خان الرسالة
Siapapun yang membuat suatu bid’ah berarti dia telah menuduh Nabi Muhammad telah berkhinanat dalam menyampaikan kerasulannya.
Sobat! Anda tidak ingin bernasib seperti mereka? Tentu jawabannya: tidak.
Karena itu, jagalah kemurnian ajaran Islam dan amalkan seutuhnya tanpa ditambah atau dikurangi.
Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang mendapat syafaat Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallaam pada hari kiyamat kelak. Amiin
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Sobat, tahukan anda bahwa di jalan raya banyak berseliwaran kendaraan kendaraan hasil karya tangan tangan kreatif, alias modivikasi. saking kreatifnya, sampai-samp[ai anda tidak lagi dapat mengenali merek, kemampuan dan berbagai hal tentang kendaraan tersebut.
Menurut anda, mobil bermerekkan TOYOTA (misalnya) yang telah dimodivikasi total itu layak untuk disebut sebagai mobil TOYOTA?
Dan tepatkah, bila anda ingin membeli mobil baru bermerek TOYOTA untuk menjadikan mobil hasil modivikasi itu sebagai acuan anda untuk menilai kemampuan atau keunggulan mobil TOYOTA?
Bila benda semisal kendaraan yang telah dimodivikasi total tidak lagi dapat dijadikan acuan dalam penilaian, dan tidak pula bisa disamakan dengan mobil aslinya, maka demikian pula hal hal lainya, tanpa terkecuali urusan agama.
Agama Islam yang telah dimodivikasi dengan budaya lokal, kejawen, atau nasional, atau AD/ART organisasi, atau pergerakan, tidak pula pantas dijadikan acuan untuk menilai Islam.
Orang-orang yang kreatif memodifikasi ajaran agama Islam, dengan mencampur adukkannya dengan budaya lokal, atau AD/ART atau doktrin kelompok juga tidak lagi pantas dijadikan sebagai acuan untuk menilai Ummat Islam, apalagi mewakili mereka terlebih lagi mewakili generasi terbaik dari ummat islam atau yang sering disebut dengan SALAFUS SHOLEH.
SALAFU SHOLEH adalah generasi hasil orisinil pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sedangkan kelompok yang telah memodovikasi islam dengan budaya, doktri kelompok, atau lainnya tak ubahnya bagaikan mobil modivikasi, yang bahan dasarnya Islam namun hasil akhirnya sudah samar, sesamar mobil hasil modivikasi. Karena itu akan lebih baik jujur saja, seperti para pemuda kreatif yang mengakui bahwa kemdaraan mereka adalah hasil modivikasi dan bukan lagi ori, demikian pula agama sebagian orang yang faktanya adalah hasil modivikasi bukan lagi ori. Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab.