Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى
Di saat marah, tersinggung, atau bahkan terancam, sering kali anda berpikiran: perang saja lah, saya tidak takut? Apalagi bila dalam diri anda mengalir darah muda yang bergemuruh dan meledak ledak.
Namun, pernahkah anda berpikir walau hanya sejenak, akankah semangat muda ini terus bergelora dalam diri anda?
Sobat! Apa yang terjadi pad diri anda bukanlah hal yang aneh, karena semangat semacam itu dirasakan oleh semua orang.
Walau demikian, fakta dan sejarah telah membuktikan bahwa, gemuruh semangat muda yang anda rasakan itu, biasanya akan surut bahkan bisa jadi sirna tatkala anda telah mulai menginjak umur tua. Bahkan, kalaupun belum menginjak masa tua, akan tetapi faktanya ketika genderang perang benar-benar telah ditabuh, betapa banyak dari para pemuda yang tiba tiba nyalinya menciut atau bahkan sirna.
Fenomena semacam ini telah diabadikan dalam Al Qur’an:
( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدَّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً )
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: Tahanlah tanganmu dari berperang, tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat. Namun tatkala diwajibkan untuk berperang, tiba tiba sebagai dari mereka takut kepada sesama manusia (musuh) serupa dengan takut mereka kepada Allah atau bahkan melebihinya (lebih takut kepada manusia). Dan mereka berkata: Wahai Tuhan kami, mengapa Engkau mewajibkan peperangan atas kami,? Mengapa tidak Engkau tunda kewajiban berperang atas kami hingga beberapa waktu lagi? Katakanlah kepada mereka: Sesungguhnya kesenangan dunia hanyalah sedikit, sedangkan kesenangan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa sedangkan kamu tidak akan dizhalimi sedikitpun.” (An Nisa’ 77)
Ayat di atas, mengisahkan perihal para sahabat yang semasa di Makkah begitu menggebu gebu untuk berperang melawan orang orang kafir Quraisy. Namun tatkala mereka telah berhijrah ke Madinah dan jihad telah diwajibkan, ternyata sebagian sahabat yang kemarin begitu menggebu gebu untuk berjihad melawan Quraisy, mulai dijangkiti rasa takut dan gentar. Demikian dijelaskan oleh beberapa riwayat hadits Imam An Nasa’i dan juga ulama’ ahli tafsir semisal Imam Ibnu Katsir pada kitab tafsirnya 2/359.
Ayat di atas menggambarkan bahwa ternyata ada perbedaan antara semangat dan kenyataan. Disaat belum ada seruang perang, banyak pemuda yang hobi mengelus-elus kepalnya seakan tidak sabar lagi untuk berperang, namun pada ketika jihad benar benar telah dikobarkan, banyak dari mereka yang mundur dengan teratur.
Bila hal itu bisa terjadi pada kaum muslimin bahkan para sahabat dan pada jihad melawan orang-orang yang benar-benar kafir, maka tentu sangat mungkin untuk terjadi pada diri kita. Apalagi bila ternyata perangnya melawan saudara sendiri sesama ummat Islam.
‘Amir bin Saad bin Abi Waqqash mengisahkan, bahwa suatu hari saudaranya yaitu Umar mendatangi ayahnya yaitu sahabat Saad bin Abi Waqqash lalu ia berkata: Wahai ayahku! Mereka bergelut memperebutkan kemulian/kekuasaan dunia, sedangkan engkau mengasingkan diri bersama onta dan domba-dombamu ? Sahabat Saad menjawab: Wahai nak, apakah engkau ingin aku menjadi pemimpin dalam kekacauan (fitnah)? Tidak, aku tidak sudi, sampai engkau memberiku sebilah pedang yang bila aku tebaskan kepada seorang mukmin maka tumpul dan tidak mempan, namun bila aku tebaskan kepada orang kafir maka pedang itu tajam dan mampu membunuhnya. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ ».
“Sejatinya Allah mencintai hamba-Nya yang bertaqwa, kaya (mandiri), dan terasing (tidak dikenal/masyhur).” (Ahmad dan lainnya)
Subhanallah, betapa pentingnya kita dalam kondisi semisal saat ini untuk meneladani jiwa besar sahabat Saad bin Abi Waqqash radiallahu ‘anhu. Ya Allah, jauhkanlah ummat Islam dari petaka kekacauan dan perpecahan.
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى
Sobat! Anda seorang pemuda? Mungkin ucapan di atas sering terlontar dari lisan anda, terlebih bila anda mengetahui musuh-musuh Islam mulai banyak berkeliaran dan membuat ulah.
Anda geram dan geregetan, ingin segera bertindak dan mengobrak abrik barisan musuh-musuh agama Islam. Saking geramnya, barang kali anda sering melontarkan ucapan di atas, atau paling kurang anda latah dengan ikut-ikut mengucapkan sesumbar : “anda jual, saya beli “.
Sobat! Memang sekilas terdengar hebat dan pemberani, namun tahukah anda bahwa sikap semacam ini sejatinya adalah awal dari kekalahan. Ungkapan ungkapan semisal di atas mencerminkan anda mulai hanyut dalam emosi dan terpancing oleh ulah musuh. Bahkan barang kali tanpa anda sadari anda telah terperangkap dalam sebagian jebakan dan perangkap musuh .
Karena itu sesumbar semisal di atas bukanlah sikap bijak, namun hanya mencermikan sikap emosional dan ceroboh, gegabah dengan meremehkan kekuatan musuh dan lengah karena terlalu mempercayai kekuatan diri sendiri. Karena itu camkanlah petuah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
أَيُّهَا النَّاسُ ، لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوفِ ،
“Wahai seluruh manusia, janganlah kalian mendambakan datangnya musuh, dan sebaliknya hendaknya kalian memohon keselamatan kepada Allah. Namun bila pada suatu saat engkau benar-benar berhadapan dengan musuh, maka tabahlah, dan ingatlah selalu bahwa surga terletak di bawah kilatan pedangmu.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Karena itu kalau anda memiliki pedang, asahlah pedang anda dan rahasiakan keberadaan pedang anda, agar anda dapat mengejutkan musuh anda dengan pedang anda yang selalutajam dan siap dihunus setiap saat. Sungguhlah bodoh bila anda menentang nenteng pedang anda kemana-mana dan menunjukkannya kepada musuh, karena bila ada melakukan hal itu, niscaya musuh segera menyiapkan panah atau minimal pedang yang lebih panjang dan lebih tajam dari pedang anda.
Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى
Sungguh betapa banyak nikmat Allah kepada kita. Dari mulai terlahir ke dunia hingga sekarang, nikmat Allah tidak pernah berhenti mengalir kepada kita. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, nikmat Allah selalu tercurah. Bahkan, ketika tidur pun nikmat itu tetap ada. Setiap detik yang kita lalui, nikmat Allah tidak pernah putus menghampiri kita. Karena saking banyaknya, mustahil kita mampu menghitungnya.
Kewajiban kita sekarang hanya satu, yaitu mensyukurinya. Dengan bersyukur, hidup kita akan semakin bahagia dan beruntung. Sebaliknya, dengan mengkufuri nikmat, hidup kita akan semakin sengsara dan penuh dengan kesulitan.
A.MAKNA BERSYUKUR
Bersyukur artinya seseorang memuji Allah ta’ala yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepadanya. Baik berupa kenikmatan jasmani seperti harta benda, kesehatan, keamanan, anak, istri dan lain sebagainya. Atau yang berupa kenikmatan rohani seperti iman, islam, petunjuk, ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang lurus dan benar dalam beragama, selamat dari segala penyimpangan dan kesesatan, rasa senang, lapang dada, hati yang tenang dan lain sebagainya.
Nikmat Allah ta’ala yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya itu sangat banyak, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu menghitungnya, sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَإِنْ تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
“Apabila kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan bisa menghitungnya”. (QS. An Nahl : 18)
B.HUKUM BERSYUKUR
Bersyukur merupakan kewajiban bagi setiap hamba yang beriman, sebagaimana firman Allah ta’ala:
فاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْنِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْنِ
“Ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku akan ingat kepadamu, bersyukurlah kepadaKu dan jangan kamu kufur (ingkar)”. (QS. Al Baqarah : 152)
Kenikmatan yang banyak itu wajib disyukuri oleh setiap orang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan hari Kiamat, karena kesemuanya itu datang dari Allah ta’ala, Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu pun dari para makhluk-Nya, akan tetapi justru merekalah yang sangat membutuhkan Allah. Sebagaimana firman Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
C.KEUTAMAAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH
Orang yang bersyukur kepada Allah akan mendapatkan banyak keutamaan dan manfaat, diantaranya:
1.Mendapatkan tambahan nikmat dari Allah.
Allah ta’ala berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”. (QS. Ibrahim : 7)
2.Selamat dari siksaan Allah.
Allah ta’ala berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Tidaklah Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa’ : 147)
Yang dimaksud Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya ialah Allah memberi pahala terhadap amal-amal hamba-hamba-Nya, mema’afkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya.
3.Mendapatkan pahala yang besar.
Allah ta’ala berfirman:
وَسَيَجْزِ اللهُ الشَاكِرِيْنَ
“Dan Allah akan memberi ganjaran pahala bagi orang-orang yang bersyukur ”. (QS. Ali ‘Imran : 144)
D.Bagaimanakah Mensyukuri Nikmat Allah?
Agar dapat mewujudkan rasa syukur kepada Allah ta’ala atas segala limpahan nikmat-Nya, maka ada 3 cara yang harus ditempuh oleh seorang hamba, yaitu:
1.Bersyukur Dengan Hati.
Maksudnya seorang hamba mengetahui dan mengakui bahwa semua kenikmatan yang ada pada dirinya itu datangnya dari Allah ta’ala. Tidak boleh sedikit pun merasa bahwa kenikmatan apapun yang dimilikinya baik berupa harta kekayaan, kedudukuan atau jabatan, kesehatan atau kesuksesan lainnya adalah diperoleh karena hasil jerih payanya sendiri, atau karena ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya, bukan karena kehendak Allah ta’ala.
2.Bersyukur Dengan Lisan.
Yaitu lisan seorang hamba yang beriman selalu mengucapkan puji syukur kepada Allah setiap kali mendapatkan suatu kenikmatan, baik dengan ucapan الحمد لله (Alhamdulillah) atau membasahi lidahnya dengan doa dan dzikir yang maknanya mengandung puja-puji syukur kepada-Nya.
3.Bersyukur Dengan Anggota Badan.
Segala nikmat yang dirasakan oleh orang yang beriman, akan dijadikan sebagai pendorong baginya untuk lebih banyak dan bersemangat di dalam beribadah kepada Allah. Sehingga semakin banyak kenikmatan yang diperolehnya, maka semakin meningkat pula ibadahnya kepada Allah.
Dan termasuk dalam makna bersyukur dengan anggota badan ialah menjaga dan menjauhkan anggota badan dari segala perbuatan dosa dan maksiat yang mendatangkan dosa dan kemurkaan dari Allah.
Di antara salah satu cara agar kita mampu menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur kepada-Nya ialah dengan melihat kepada orang-orang yang derajatnya dalam urusan dunia di bawah kita, seperti melihat masih banyaknya orang yang lebih miskin daripada kita dalam hal harta benda. Atau kita melihat kepada orang-orang yang kurang sempurna dalam hal fisik (cacat jasmani), sementara kita memiliki fisik atau badan yang sempurna dan sehat. Adapun dalam urusan agama dan akhirat (yakni keimanan dan ketaatan, atau ilmu dan amal ibadah), maka hendaknya kita melihat kepada orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi daripada kita. Karena dengan demikian, kita semakin terdorong untuk bersemangat dalam menambah keimanan, ilmu agama, dan amal ibadah, serta semakin sungguh-sungguh untuk menjauhi segala perbuatan dosa dan maksiat yang akan menghancurkan dan menyengsarakan kehidupan kita di dunia dan akhirat.
Kita memohon kepada Allah ta’ala agar menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya, dan menganugerahkan kepada kita kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى
Syiah Imamiyyah adalah Syiah 12 Imam, disebut juga Syiah Rofidhoh… Inilah paham syiah yang menjadi dasar Negara Iran sekarang ini… Dan paham tersebut merupakan paham syiah paling radikal dan ekstrim dibandingkan dengan paham syiah lainnya.
Sungguh disamping paham mereka berpengaruh buruk pada kerukunan umat Islam, dia juga mengancam kesatuan sebuah Negara, sebagaimana dibuktikan oleh sejarah kelam mereka, semoga Allah menjaga NKRI dari makar mereka, amin.
Oleh karenanya, para ulama Ahlussunnah Empat Madzhab menolak keras paham ini, sebagaimana dijelaskan dalam nukilan-nukilan berikut ini:
Pendapat Imam Pertama, Abu Hanifah (wafat: 150 H):
“Madzhab Imam Abu Hanifah: bahwa orang yang mengingkari kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq -rodhiallohu anhu-; maka dia kafir. Begitu pula orang yang mengingkari kekhilafahan Umar bin Khottob -rodhiallohu anhu-…
Masalah ini telah disebutkan dalam kitab-kitabnya (madzhab hanafi), seperti dalam Kitab Al-Ghoyah karya Assaruji, Kitab Fatawa Zhohiriyyah dan Badi’iyyah, dan Kitab Al-Ashl karya Muhammad bin Hasan.
Dan yang jelas, mereka mengambil keterangan ini dari imam mereka Abu Hanifah -rodhiallohu anhu-, dan beliau adalah orang yang PALING TAHU tentang kelompok syiah, karena beliau adalah penduduk Kufah yang merupakan tempat munculnya paham Rofidhoh”. [Oleh: Imam Taqiyyuddin Assubki, dalam kitabnya: Fatawa Subki, 2/587].
Pendapat Imam Kedua, Malik bin Anas (wafat: 179 H):
Imam Malik -rohimahulloh- mengatakan: “Orang yang mencela para sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak memiliki bagian dalam Islam”. [Kitab: Assunnah, karya Abu Bakar bin Khollal, 3/493].
Pendapat Imam Ketiga, Asy-Syafi’i (wafat: 204 H):
Imam Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan: “Siapapun yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bukan seorang imam (pemimpin), maka dia adalah seorang yang berpaham Rofidhoh”. [Kitab: Siyaru A’lamin Nubala’, karya: Adz-Dzahabi, 10/31].
Beliau juga mengatakan: “Aku tidak melihat seorang pun dari pengikut paham sesat; lebih pendusta dalam pengakuannya dan lebih pembohong dalam persaksiannya, melebihi kelompok Rofidhoh”. [Kitab: Alintiqo, karya Ibnu Abdil Bar, hal: 79].
Pendapat Imam Keempat, Ahmad bin Hambal (wafat: 241 H):
Abdulloh putra Imam Ahmad mengatakan: aku pernah bertanya kepada ayahku, siapakah kelompok Rofidhoh itu?, beliau menjawab: “Orang yang mencela dan mengecam Abu Bakar dan Umar”. [Kitab: Assunnah, karya: Abu Bakar bin Khollal, 3/492].
Abu Bakar al-Marrudzi mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan Aisyah? Maka beliau menjawab: “Aku menganggapnya tidak berada di atas Islam”. [Kitab: Assunnah, karya: Abu Bakar bin Khollal, 3/493].
Bahkan Imam Assam’aani -rohimahulloh- (wafat: 562 H) mengatakan:
“Umat Islam telah ber-ijma’ SEPAKAT tentang kafirnya Syiah Imamiyyah, karena mereka meyakini sesatnya para sahabat Nabi, mengingkari ijma’nya mereka, dan menyandarkan kepada mereka hal-hal yg tidak pantas bagi mereka”. [Kitab: Al-Ansab, karya: Assam’aani, 6/365].
——–
Semoga bermanfaat, dan menjadi masukan bagi pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia… tidak lain, agar KESATUAN Indonesia tetap utuh, dan kaum muslimin terjaga akidahnya dengan baik…