Tanda Mencintai Sesama Mukmin…

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Tanda mencintai sesama mukmin nampak pada hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berikut ini, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

Mencintai bisa jadi berkaitan dengan urusan diin (agama), bisa jadi berkaitan dengan urusan dunia. Rinciannya sebagai berikut.

1- Sangat suka jika dirinya mendapatkan kenikmatan dalam hal agama, maka wajib baginya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapatkan hal itu. Jika kecintaan seperti itu tidak ada, maka imannya berarti dinafikan sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Jika seseorang suka melakukan perkara wajib ataukah sunnah, maka ia suka saudaranya pun bisa melakukan semisal itu. Begitu pula dalam hal meninggalkan yang haram. Jika ia suka dirinya meninggalkan yang haram, maka ia suka pada suadaranya demikian. Jika ia tidak menyukai saudaranya seperti itu, maka ternafikan kesempurnaan iman yang wajib.

Termasuk dalam hal pertama ini adalah suka saudaranya mendapatkan hidayah, memahami akidah, dijauhkan dari kebid’ahan, seperti itu dihukumi wajib karena ia suka jika ia sendiri mendapatkannya.

2- Sangat suka jika dirinya memperoleh dunia, maka ia suka saudaranya mendapatkan hal itu pula. Namun untuk kecintaan kedua ini dihukumi sunnah. Misalnya, suka jika saudaranya diberi keluasan rezeki sebagaimana ia pun suka dirinya demikian, maka dihukumi sunnah. Begitu juga suka saudaranya mendapatkan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia lainnya, hal seperti ini dihukumi sunnah.

Kesimpulannya, mencintai orang mukmin sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri jika berkaitan dengan hal dunia, dihukumi sunnah. Sedangkan jika berkaitan dengan hal agama, dihukumi wajib mencintai saudaranya semisal yang kita peroleh.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk mencintai saudara kita yang beriman sebagaimana kita suka mendapatkan hal yang sama.

Bolehkah Mengatakan Ini Hanyalah Kebetulan?

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Bolehkah kita mengatakan “wah, kebetulan sekali kita bertemu” atau kalimat semacam itu?

Kalau kita menyatakan kebetulan dengan maksud bahwa hal itu terjadi tidak dengan takdir Allah, maka jelas keliru karena Allah sudah menakdirkan atau menetapkan itu sebelumnya. Tak mungkin Allah mengetahui belakangan atau secara kebetulan mengetahuinya.

Perlu dipahami: rukun beriman pada takdir ada empat yaitu kita meyakini Allah mengetahui segala peristiwa sebelum terjadi, Allah telah mencatatnya, Allah menghendakinya, dan Allah menciptakannya.

Penjelasan lengkapnya adalah keterangan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berikut.

Misalnya ada yang bertanya, “Wahai Syaikh, tadi engkau mengatakan ujian yang diajukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah secara kebetulan. Apakah pernyataan kebetulan itu dilihat dari kita –selaku manusia- ataukah dilihat dari perbuatan Allah?”

Jawabnya, “Tidak mungkin kita mengatakan bahwa perbuatan Allah itu kebetulan. Karena Allah Ta’ala telah mengetahui sesuatu sebelum terjadi. Akan tetapi jika dipandang dari sisi manusia, maka kebetulan itu mungkin. Penyebutan seperti itu seringkali kita temukan dalam sunnah dengan disebut ‘kebetulan ini dan itu’. Seperti itu tidaklah masalah.

Misalnya ada yang bertanya lagi, “Bolehkah engkau berkata ‘aku telah bertemu denganmu hari ini secara kebetulan’?

Jawabnya, “Seperti itu tidaklah masalah. Karena memang dilihat dari sisi kita sebagai manusia, pertemuan ketika itu memang kebetulan, tak direncanakan sebelumnya.” (Syarh Shahih Al Bukhari, 1: 129).

Semoga bermanfaat.

Memikirkan Kapan Datangnya Pertolongan Allah…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ketika melihat kondisi saudara-saudara kita seiman di Suriah, Palestina yang di zholimi oleh Yahudi, Syi’ah dll, kadang timbul pikiran kapan pertolongan Allah akan tiba untuk mereka.

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

 

Belum Dapat Hidayah… Begitu Katanya…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ada seseorang yang bila di ajak untuk melakukan ketaatan kepada Allah, ia menolak dengan alasan belum dapat hidayah dari Allah. Bagaimana menyikapinya ?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

SATU Ucapan Salam Dengan 30 Kebaikan…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Pernah ada seseorang datang kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “SEPULUH (kebaikan).”

Kemudian datang orang lain, dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum warohmatulloh”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka beliau mengatakan: “DUA PULUH (kebaikan).”

Kemudian datang orang lain lagi, dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum warohmatulloh wabarokatuh”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka beliau mengatakan: “TIGA PULUH (kebaikan).”

[HR. Albaihaqi dalam Al-Adab: 214, Syeikh Muqbil mengatakan: hadits hasan sesuai syaratnya Imam Muslim].

———

Subhanallah… Begitu Maha Pemurahnya Allah ta’ala terhadap hambanya… Tinggal Anda sekarang, apakah Anda “pemurah” terhadap diri Anda sendiri?!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yg beramal saleh, maka itu untuk dirinya sendiri”. [QS. Fush-shilat: 46].

Ketika Dalam Kesulitan Ekonomi, Apakah Do’a Minta Harta Atau Ilmu ?

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ketika seseorang dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, do’a apakah yang sebaiknya dipanjatkan ? apakah minta harta atau ilmu ?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Melakukan Maksiat Karena Takdir..?

Bagaimana menyikapi orang yang melakukan kemaksiatan dan dia menganggap perbuatan maksiatnya itu karena memang sudah ditakdirkan Allah.

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

 

Masihkah Ada Di Antara Kita Yang Membela ISIS?

Ustadz Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

Wahai kaum muslimin…

Setelah kita menyaksikan mereka membunuh, menyembelih serta membakar kaum muslimin???

Masihkah ada di antara kita yang menyatakan mereka (ISIS) adalah kelompok tidak sesat dan mereka memiliki manfaat untuk Suria???

Ayyuhal ikhwah..

Kalau ada di antara kita yang masih memiliki pemikiran demikian, hendaknya segera bertaubat kepada Allah Azza Wa Jalla. Karena pada hakekatnya mereka adalah orang-orang khawarij yang selalu ingin membunuh Ahlussunnah dari kaum muslimin sebelum para penyembah berhala.

Saudaraku kaum muslimin dan muslimah bagi mereka yang ikut-ikutan mendukung kelompok ISIS ini, hendaklah mereka ruju‘ dan kembali kepada jalan yang benar ya’ni jalan yang ditempuh oleh salaful ummah.

Dan jangan terfikir sama sekali untuk bergabung bersama mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan dunia dengan cara bom bunuh diri yang mereka pakaikan kepada anda yang demikian merupakan ciri khas kelompok ini.

Wahai saudaraku kaum muslimin dan muslimah, hendaknya kita semua tetap mendengar dan taat kepada pemerintah dan penguasa kita, selama tidak diperintah untuk maksiyat yang kita hidup dibawah kekuasaannya. Dan tidak boleh memerangi penguasa kita yang sah. Dan mencaci mereka di hadapan manusia, sungguh yang demikian bukan akhlak ahlus sunnah.

Aku memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar Ia senantiasa memperbaiki kondisi kaum muslimin di manapun berada terutama di negeri tercinta ini. Dan semoga Allah memberi hidayah kepada para pemuda kaum Muslimin baik laki-laki maupun wanita kepada setiap kebaikan, semoga Allah menjaga negeri kita baik pemerintah maupun masyarakatnya dari setiap kejelekan, semoga Allah memberi taufiq kepada setiap kebaikan dan melindungi dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu daya orang-orang fajir (jahat). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Yakin Dikabulkan…

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»

“Berdoalah dengan yakin bahwa Allah mengabulkan doamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR At-Thirmidzi)

Jika doa iblis saja dikabulkan, Allah berfirman :

قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.”

قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS Al-A’raaf :14-15)

Jika orang musyrik terkadang doanya dikabulkan…, Allah berfirman :

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-Ankabuut : 25)

Lantas bagaimana tidak dikabulkan seorang mukmin yang berdoa di sepertiga malam terakhir, seraya mengadahkan kedua tangannya, disertai aliran air mata???

Menebar Cahaya Sunnah