Merendahkan Diri Untuk Meninggikan Mutu

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Tawadlu (rendah diri) merupakan akhlak yang sangat mulia. Jika dikerjakan karena Allah maka akan meninggikan derajat di sisi Allah. Semakin seseorang tidak angkuh maka semakin tinggi derajatnya di sisi-Nya.

Akan tetapi ada orang yang merendahkan dirinya di hadapan orang lain dengan tujuan riyaa’, agar orang lain memujinya dan mengenalnya sebagai orang yang tawadlu…, ia ingin meninggikan mutunya di hadapan orang lain dengan pura-pura merendahkan dirinya.

Maka janganlah engkau demikian wahai hamba Allah..!!!.
Tawadhu’ lah engkau dari lubuk hatimu yang paling dalam, dengan penuh kesadaran bahwa tidak ada pada dirimu sesuatu yang patut kau banggakan dan sombongkan, semuanya titipan dan amanah dari Allah yang akan dimintai pertanggung jawabannya.

 

Beginilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Menyikapi Nuzulul Qur’an

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan?

Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur’an; diturunkannya Al Qur’an secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Al Baqarah 185)

Peringatan terhadap turunnya Al Qur’an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.

Pernahkan pada suatu anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan juga ulama’ terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?
Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas tentang apa yang beliau lakukan.

(كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ) رواه البخاري
“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari).

Demikianlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur’an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur’an dalam shalatnya?

Simaklah penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:

)الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ)
Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. ….
Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)

Demikianlah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Al Qur’an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur’an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih.

Inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.

Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?
Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu pada bulan Ramadhan?

Imam As Syafi’i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak enam puluh (60) kali.

Anda merasa sebagai pengikut Imam As Syafi’i? Inilah teladan beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al Qur’an.

Buktikanlah saudaraku bahwa anda adalah benar-benar penganut mazhab Syafi’i yang sebenarnya.

Al Aswab An Nakha’i setiap dua malam menghatamkan Al Qur’an.
Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur’an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.

Demikianlah teladan ulama’ terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na’uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.

Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah.Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az Zumar 23).

Dan oleh firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ الأنفال 2-4
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (Al Anfaal 2-4)

Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.

Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur’an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?

Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur’an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya?

Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk merubah peringatan Al Qur’an dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?

Kepala Kebaikan

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Umar bin khathab radhiallahu ‘anhu berkata:

لكل شيء رأس، ورأس المعروف تعجيله.

“Segala sesuatu itu mempunyai kepala.. dan kepala kebaikan adalah bersegera melakukannya..”

(mawa’idz shohabah)

Akhlak Mulia Sebab Keselamatan Dari Segala Kejahatan

Ustadz Djazuli, حفظه الله تعالى

Islam adalah agama akhlak

Sehingga diturunkan ke bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Tahukah anda apa itu akhlak yang dimaksud oleh Islam ?

Akhlak menurut Islam adalah Ilmu & amal.

Yaitu ilmu tentang Allah & tentang segala hal yang dicintai Allah & mengamalkannya.

Aisyah berkata tentang akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.

Tahukah anda akhlak luhur dapat menyelamatkanmu dari kejahatan?

Simak pernyataan Khadijah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi Allah, Dia tidak akan meninggalkanmu, sebab engkau adalah orang yang selalu menjaga silaturahmi, menolong orang kesulitan, membantu orang yang lemah & menjamu tamu..”

Saudaraku! Ibu kita khadijah memberi pemahaman bahwa orang baik & berakhlak akan selalu dijaga oleh Allah dari segala hal yang membahayakannya..

Berkata Imam Nawawi,
“Pernyataan Khadijah memberi pelajaran penting bahwa akhlak & perangai yang baik adalah sebab keselamatan dari segala kejahatan.” (Syarh sahih Muslim (2/202)

Penderitaan Orang Yang Riyaa’…..

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sesungguhnya orang yang riyaa’ terus dalam penderitaan…

(1). Ia menderita sebelum beramal, hatinya gelisah mencari-cari pujian orang lain, gelisah mencari-cari kesempatan kapan bisa dipuji.

(2). Ia juga menderita tatkala sedang beramal…, karena Ia harus beramal dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya karena Ia ingin dipuji. Jika Ia merasakan amalannya/sholatnya/ceramahnya kurang baik maka Ia menderita karena Ia sadar bahwa pujian yang Ia harapkan tidak akan pernah terwujud.

(3). Ia juga menderita setelah beramal, karena hatinya gelisah menanti-nanti kapan pujian dan sanjungan tersebut datang…!!

(4). Jika Ia telah dipuji… terkadang Iapun masih menderita dengan kekecewaan, karena pujian yang Ia raih tidak seperti yang Ia harapkan… tidak sebanding pengorbanan dan persiapan amalan yang telah Ia lakukan.

(5). Kalaulah ia dipuji dengan pujian yang ia harapkan maka ia hanya bahagia sementara, setelah itu hatinyapun akan gelisah lagi menanti-nanti kapan datang pujian berikutnya.

(6). Dan yang paling mengenaskan.. penderitaannya diakhirat kelak…,ia akan dipermalukan oleh Allah dihadapan khalayak. Allah membeberkan kedustaannya/riya’nya..selama ini orang terdekatnya menyangkanya sholeh atau ikhlas ternyata…????

Allah juga menghinakannya dengan memerintahkannya untuk mencari ganjaran dari orang-orang yang dahulu ia harapkan pujian mereka..Dan bisa jadi akhirnya Allah memasukkannya kedalam neraka..

Wal’iyaadzu billah..

Aduuh, Sombongnyaa !

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Kerongkongan terasa kering keronta, perut terasa lapar, akibatnya badan terasa lemas, konsentrasi berkurang, dan produksi turun. Mood andapun berantakan; emosional, mudah tersinggung, dan empati kepada orang sekitarpun tak menentu.

Coba anda berdiri di depan kaca, amatilah raut wajah anda. Lesu, muram dan mungkin ketampanan atau kecantikan yang selama ini melekat di wajah anda terkikis atau bahkan telah sirna.

Mungkin demikianlah gambaran tentang diri anda pada setiap siang hari di bulan Ramadhan, terlebih-lebih bila pada pagi harinya anda tertidur sehingga tidak sempat menyantap makan sahur.

Apa gerangan yang menjadikan diri anda demikian adanya? Bukankah selama ini anda dikenal sebagai seorang yang gagah perkasa,cerdas, cakap, sigap dan berpenampilan menawan?

Mengapa semua ini terjadi pada diri anda? Apa yang menjadikan diri anda berubah total sedemikian rupa, padahal anda tidak sedang menderita sakit, atau didera masalah berat, juga tidak sedang dililit hutang?

Selanjutnya, coba bandingkan diri anda setelah anda meneguk seteguk air dan menyantap sesuap nasi. Semuanya jadi berubah, anda kembali ceria, raut wajah anda kembali menawan, mood andapun kembali normal, ketangkasan dan kecerdasan andapun kembali seperti sedia kala.

Subhanallah! Ketampanan, kecerdasan, ketangkasan, kegagahan, yang selama ini anda sandang ternyata tergantung dengan sesuap nasi dan seteguk air.

Sedemikian besarkah peranan sesuap nasi dan seteguk air dalam hidup anda, sampai-sampai kehidupan anda menjadi berubah hanya karena telat makan dan minum?

Mungkinkah kepandaian anda, kegagahan, dan ketampanan anda selama ini sebenarnya terletak pada nasi sesuap dan air seteguk?

Bila demikian adanya, mengapa selama ini ada keangkuhan dan kesombongan dalam kehidupan anda? Mengapa kecongkakan senantiasa menghiasi lembaran sejarah hidup anda?

Bila demikian, mengapa anda seakan tidak butuh kepada kasih sayang dan pertolongan Allah, sehingga anda jarang mengangkat tangan untuk berdoa kepada-Nya?

Saudaraku! Simaklah petuah Luqman Al Hakim kepada putranya:

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Al Isra’ 37)

Apa yang dapat anda lakukan bila ternyata segala kehebatan anda tergantung kepada sesuap nasi dan seteguk air? Mungkinkah dengan kesombongan dan keangkuhan anda mampu menembus bumi dan mengalahkan ketinggian gunung

Saudaraku! Apalah artinya kesombongan dan keangkuhan, bila ternyata nilai kegagahan, kecakapan, dan kecerdasan anda hanya seberat sesuap nasi dan seteguk air, sehingga sekedar anda telat makan dan minum sejenak saja, semuanya mulai meredup.

Coba anda bayangkan, andai rasa lapar dan haus yang anda rasakan sekarang ini berkepanjangan sebagaimana yang dirasakan oleh banyak orang, akankah kegagahan, ketampanan dan ketangkasan masih melekat pada diri anda?

Subhanallah! Ternyata semua yang anda miliki tidak lagi berguna, di saat anda terhalang dari seteguk air dan sesuap nasi. Betapa hinanya kehidupan dunia yang anda perjuangkan selama ini.

Pada suatu hari Ibnu As Simaak manemui Harun Ar Rasyid. Tak berapa lama, Harun Ar Rasyid merasa haus, sehingga iapun segera memerintahkan agar diambilkan air minum. Tanpa pikir panjang seorang pelayan segera membawa bejana yang berisi air dingin. Sebelum Harun Ar Rasyid meminum air itu, ia berkata kepada Ibnu As Simaak: Berilah aku petuah! Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Ibnu As Simaakpun segera berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin! Berapakah engkau akan menebus air minum itu bila engkau sedang kehausan dan ternyata aku kuasa menghalangimu darinya? Harunpun menjawab: Dengan separoh kerajaanku. Selanjutnya Ibnu As Simaak berkata: Silahkan engkau menikmati air minummu.

Seusai Harun Ar Rasyid minum air itu, Ibnu As Simaak kembali bertanya: Bayangkan, andai aku kuasa menghalang-halangi air minum yang telah engkau minum untuk keluar dari tubuhmu (menyumbat saluran air senimu), berapakah biaya yang akan engkau keluarkan agar air senimu dapat keluar? Harun Ar Rasyidpun kembali menjawab: Sebesar sisa kerajaanku.

Mendengar jawaban ini, Ibnu As Simakpun menimpalinya dengan berkata: “Suatu kerajaan yang separohnya dihargai dengan seteguk air, dan sisanya dihargai dengan air seni, tidaklah pantas untuk diperebutkan.” Mendengar petuah ini, spontan Harun Ar Rasyidpun menangis tersedu-sedu. (Tarikh At Thobary 6/538 & Al Bidayah wa An Nihayah 10234)

Demikianlah fakta diri anda, masihkah anda tergoda untuk bersikap angkuh, sombong dan merasa hebat?

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya kesempurnaan diri anda terletak pada kerendahan hati anda, semakin anda rendah hati, maka semakin tinggi derajat anda disisi Allah dan di sisi masyarakat.

Akan tetapi semakin anda merasa angkuh dan merasa tinggi, maka semakin rendah kedudukan anda di sisi Allah dan juga di sisi masyarakat.

(مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ) رواه أحمد وغيره وحسنه الألباني

“Barang siapa merendah diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya.” (Riwayat Ahmad dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani).

Dan sebagian ulama’ terdahulu berkata:

مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ ، فَهُوَ فِي نَفْسِهِ صَغِيرٌ ، وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ عَظِيمٌ ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ، فَهُوَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ صَغِيرٌ ، وَفِي نَفْسِهِ كَبِيرٌ ، حَتىَّ لَهُوَ أَهْوَنَ عَلَيهِمْ مِنْ كَلْبٍ أَوْ خِنْزِيرٍ

“Barang siapa merendah diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya. Dengan demikian ia merasa dirinya kecil tidak berarti, akan tetapi masyarakat memandangnya sebagai orang yang mulia nan terhormat. Dan barang siapa yang berlaku sombong, niscaya Allah menghinakannya, sehingga masyarakat memandangnya sebagai orang hina, walaupun ia merasa sebagai orang besar, sampai-sampai di mata masyarakat ia lebih hina dibanding anjing atau babi.”

Demikianlah saudaraku! Ibadah puasa telah menyingkap siapa sebenarnya jati diri anda. Bersyukurlah kepada Allah Yang masih memberi kesempatan kepada anda untuk mengenal siapa sebenarnya diri anda. Dengan demikian anda tidak hanyut oleh kenikmatan Allah sehingga lupa daratan dan bersikap angkuh lagi sombong.

Apa yang saya paparkan di atas, bukan berarti larangan anda menikmati makanan yang lezat, mengenakan pakaian yang bagus dan menikmati kehidupan dunia lainnya. Nikmatilah karunia Allah, akan tetapi pada waktu yang sama, ketahuilah bahwa kekayaan dunia bukanlah standar kemuliaan seseorang.

(إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلاَقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ وَإِنَّ اللهَ لَيُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ أَحَبَّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الدِّينَ إِلاَّ مَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ) رواه الحاكم وغيره وصححه الألباني

“Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi akhlaq/perangai kalian, sebagaimana Allah telah membagi-bagi rizqi kalian. Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan kekayaan dunia kepada orang yang Ia cintai dan juga kepada orang yang tidak Ia cintai. Sedangkan Ia tidak pernah memberi kedudukan dalam agama (akhlaq mulia) kecuali kepada orang yang Ia cintai. Dengan demikian, orang yang telah dikaruniai kedudukan dalam agama (akhlaq mulia) berarti Allah telah mencintainya.” (Riwayat Al Hakim dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)

Jelaslah, bahwa apa yang selama ini didoktrinkan oleh sebagian orang tua: “harga diri seseorang dipandang dari penampilannya”, tidak pada tempatnya.

Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang dinilai dari kesucian jiwa dan keluhuran akhlaqnya.

(رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ) رواه مسلم

“Mungkin saja orang yang berpenampilan kusut, senantiasa diusir dari pintu rumah orang, akan tetapi bila bersumpah memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah mengabulkannya.” (Riwayat Muslim).

Bila anda berjiwa luhur dan berakhlaq mulia, maka dimata anda segala gemerlap dunia menjadi remeh.

Semoga ibadah puasa anda dapat meninggikan derajat jiwa anda dan merubah akhlaq anda menjadi semakin mulia.

Wallahu a’alam bisshowab.

Biasakanlah Berterus Terang Dari Awal

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Membantu saudara sangatlah baik, akan tetapi jika terkadang kita tidak bisa membantunya maka lebih baik sejak awal kita terus terang “tanpa sungkan-sungkan” untuk berkata kepadanya “Maaf akhi/ukthi saya tidak bisa membantu anda kali ini”. Daripada kita memberikan harapan kepadanya dengan mengatakan “INSYAA ALLAH SAYA USAHAKAN” padahal dalam hati sebenarnya kita tidak mau atau tidak mampu membantunya.

Akhirnya diapun terus berharap dan terus menagih “INSYAA ALLAH” yang telah kita ucapkan. Sehingga kitapun membohonginya dengan memberi harapan palsu dan kitapun terganggu dengan tagihan-tagihannya.

Seandainya sejak awal kita menyatakan ketidaksiapan kita maka dia akan mencari bantuan orang lain dan tidak berharap dengan janji kosong kita belaka.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Hancur Karena Ambisi

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Sebagian manusia hancur karena ambisinya.. jika ia tidak hancur didunia maka ia akan hancur di akhirat..

Ambisi tersebut adalah ambisi ke AKUan pada dirinya..

Waspadalah waspadalah..
Kejahatan terkadang bukan karena kurang ilmu.. namun karena hati masih memiliki penyakit yang parah.. diantaranya, kurang ikhlas, kurang ridho pada pembagian Allah, kurang takut akhirat, hasad dan dengki, ingin pamer amalan, kesombongan dan merasa diri adalah yang terbaik..

Waspadalah penyakit-penyakit tersebut.. karena hal tersebut akan menghancurkan anda..

Leburlah penyakit itu dengan pembersihan hati dan merasa butuh kepada ampunan Allah ta’ala niscaya anda akan menjadi lebih baik dari sekarang,.

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Penggunaan Kata “Insyaa Allah” Untuk 3 Fungsi Yang Benar, Dan 1 Fungsi Yang Salah

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

(1) untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi dalam doa ziarah qubur (Dan Kami insyaa Allah akan menyusul kalian wahai penghuni kuburan). Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah ((Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki masjidil haram insyaa Allah dalam keadaan aman) QS Al-Fath : 27

(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita, “Bulan depan saya akan umroh insyaa Allah”

(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.

(4) Yaitu salah penggunaan fungsi : Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tidak mau hadir, maka iapun berkata, “Insyaa Allah”

Atau tatkala diminta bantuan lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”

Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan malah digunakan untuk menolak.

Berlomba-Lombalah Dalam Kebaikan

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi tanggal 01-08-1435 H / 30-05-2014 M
oleh : Syeikh Abdul Bari Al-Tsubaiti -hafidhzahullah- Imam dan Khatib Masjid Nabawi

Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah,,,amma ba’du :

Allah ta’ala berfirman :

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS.Al-Muthaffifin :26).

Seorang muslim sejati selalu berlomba-lomba dalam ketaatan, dan selalu bersegera dalam kebaikan, karena umur itu pendek dan ajal itu terbatas, seorang yang pandai dan berakal selalu bersegera sebelum datangnya halangan dan rintangan ; sungguh tidaklah sama antara yang bersegera menuju kebaikan dan yang berlambat-lambat, juga antara yang berlomba-lomba kepada keutamaan dan yang memberatkan diri kepadanya.

Berlomba-lomba yang terpuji memperkaya kehidupan, dan menjadikan seorang muslim berambisi untuk mengangkat dirinya dan menanjak dengan ilmu dan amalnya agar berusaha menuju kesempurnaan.

Mengalir ruh saling berlomba-lomba dalam jiwa orang-orang yang memiliki semangat yang tinggi, dan yang paling tinggi diantara mereka adalah para Nabi shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihim, Nabi Musa ‘alaihissalam menangis ketika dilampaui oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena iri, dikatakan kepadanya : apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab : (saya menangis karena seorang anak laki-laki diutus setelahku, -akan tetapi- pent. masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari ummatku) (HR.Bukhari). Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia pernah bersabda : (saya berharap menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa membangkitkan semangat saling berlomba-lomba kepada para sahabatnya, agar mereka menaiki tangga yang menyampaikan mereka kepada tujuan, serta menggambarkan kepada mereka tujuan-tujuan yang tinggi dalam hadits-hadits yang tak terhitung jumlahnya ; diantaranya : sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
(Tidak ada saling berlomba diantara kalian kecuali pada dua perkara : Seorang laki-laki yang Allah Azza wa Jalla karuniakan kepadanya hafalan Al-Qur’an dan ia membacanya dalam shalat siang dan malam, serta mengikuti isinya, kemudian seorang laki-laki lain berkata : jika Allah mengaruniakan kepadaku seperti apa yang ia karuniakan kepada Fulan, maka aku akan mengerjakan seperti apa yang dikerjakan oleh Fulan, dan seorang laki-laki yang Allah karuniakan kepadanya harta dan ia berinfak dan bersedekah, kemudian berkata laki-laki lain seperti apa yang diucapkan yang tadi).


Baca selengkapnya disini:
http://www.firanda.com/index.php/artikel/khutbah-jum-at-masjid-nabawi-terjemahan/718-berlomba-lombalah-dalam-kebaikan

Menebar Cahaya Sunnah