Demo Buruh…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat!
Hari buruh telah berlalu, dan demo buruhpun telah berlalu. Namun saya merasa saat inilah yang tepat untuk mengajak saudara-saudaraku kaum buruh untuk duduk dan berpikir sejenak? Untuk apa saudara demo? Menuntut kenaikan gaji? Pelayanan? Hak? Dan apa lagi yang saudara tuntut dengan demo saudara?

Sobat!
Sederhana solusinya: tinggalkan profesi sebagai buruh maka sekejap seluruh hak saudara kembali berada di tangan saudara . Jadilah juragan alias jadilah wirausahawan niscaya anda tidak akan pernah merasa perlu untuk memperingati hari buruh apalagi bersusah payah turut turun ke jalan berdemo.

Saudaraku! Sadarkah saudara bahwa “kaum juragan” tempat saudara bekerja, sebenarnya sangat diuntungkan dari demo saudara? Bagi mereka semua masalah terasa sederhana:
Pemerintah menaikkan UMR, maka mereka menaikkan harga jual produksi. Pemerintah memutuskan agar perusahaan memberi insentif ini dan itu, maka “kaum juragan” dengan mudah memaksa anda untuk memungut tuntutan saudara dari masyarakat bahkan dari anda sendiri, harga produk dinaikkan, target produksi dan pendapatan mereka tingkatkan, dan ujung-ujungnya anda pula yang puyeng dan pusing tujuh keliling.

Bahkan rasa rasanya “kaum juragan” lah yang selama ini mendanai dan mendorong “kaum buruh” untuk berserikat dan berdemo. Karena mereka akan lebih mudah mengatur dan menggiring kaum buruh yang berada dalam satu wadah dibanding masing-masing buruh beridiri sendiri . Kaum juragan lebih mudah bersekongkol alias menyusun konspirasi bersama dedengkot “wadah kaum buruh” dibanding bila kaum buruh terpencar pencar tanpa ada wadah yang menyatukan mereka.

Saudaraku! Coba pikirkan, adakah kaum buruh yang berhasil menguasi atau memenangkan emilu suatu negara? Manakah yang lebih baik bagi anta meneruskan status sebagai “kaum buruh” atau segera menyingsingkan lengan baju untuk keluar dari status “buruh” menjadi Juragan?

Sadarilah sahabatku sekalian, “kaum juragan” sejatinya senang dan terus bermimpi bila kita semua menjadi buruh, karena kaum buruh pastilah berstatus sebagai komsumen.

Ingatlah baik-baik bahwa sistem perekonomian yang saat ini berkuasa di dunia termasuk negara kita adalah perekonomian kapitalis, yang kaya harus tetap kaya dan semakin kaya dan sebaliknya yang miskin harus miskin dan kalau bisa semakin miskin.

Camkanlah baik-baik, bahwa satu-satunya hal yang sangat dibenci oleh “kaum juragan” ialah bila kaum buruh mulai bermimpi menjadi wirausahawan atau pengusaha. Karena mimpi-mimpi semacam inilah yang mengancam eksistensi mereka. Adapun demo-demo kaum buruh dan berbagai “wadah kaum buruh” sejatinya semakin mengukuhkan mereka sebagai “kaum juragan” dan mengabadikan saudara sebagai “kaum buruh”. Dengan kekuatan finansial, mereka bisa memesan undang undang dan peraturan. Dan dengan kekuatan finansial, mereka bisa menaikan dan menurunkan target pemasaran, pendapatan dan nilai jual produk mereka.

Sobat! Segera pikirkan baik-baik bagaimana caranya agar pada hari buruh yang akan datang saudara menjadi kompetitor “kaum juragan” jangan terus hanyut memikirkan apa tuntutan yang akan anda ajukan pada hari buruh yang akan datang. Renungkan baik-baik pesan dan inspirasi yangdisampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits berikut

عن رافع بن خديج قال: قيل يا رسول الله! أي الكسب أطيب؟ قال: (عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور) رواه أحمد والطبراني والحاكم وصححه الألباني

“Sahabat Rafi’ bin Khadij menuturkan: “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:Wahai Rasulullah! Penghasilan apakah yang paling baik? Beliau menjawab: “Hasil pekerjaan seseorang dangan tangannya sendiri, dan setiap perniagaan yang baik.” (Riwayat Ahmad, At Thabrany, Al Hakim, dan oleh Syeikh Al Albany dinyatakan sebagai hadits shahih).

Selamat berjuang menjadi kaum juragan, semoga Allah segera mewujudkan mimpi indah saudara sebagai juragan dan bukan lagi buruh atau karyawan. Amiin

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.