Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli حفظه الله تعالى menjelaskan,
“Dan di antara perkara yang benar-benar aku peringatkan dengan PERINGATAN YANG KERAS yaitu :
📌 SIKAP BERMUDAH-MUDAHAN (MEREMEHKAN) ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM SALING BERKOMUNIKASI (MENGOBROL) MELALUI MEDIA-MEDIA (SOSIAL) INI.
Karena sesungguhnya, hal tersebut termasuk di antara jerat jerat syetan yang paling besar pada hari ini, dan bagian dari langkah-langkah syetan.
Dan aku memandang bahwa realita yang ada memaksa kita untuk mengatakan: sesungguhnya tidak boleh bagi seorang laki-laki berbicara dengan seorang perempuan di media media ini .. tidak boleh pula bagi perempuan berbicara dengan laki laki di media media tersebut, kecuali dalam kondisi darurat.
📌 BAHKAN, JIKA SEORANG PEREMPUAN MEMILIKI PERTANYAAN UNTUK DIAJUKAN KEPADA SEORANG SYAIKH (GURU/ULAMA), aku memandang seyogianya ia memberitahu suaminya atau memberitahu saudara laki-lakinya agar dialah yang berbicara dengan Syaikh tersebut.
Kecuali jika memang dalam kondisi darurat dan pertanyaannya adalah jenis perkara yang tidak bisa ia perlihatkan kepada orang lain (laki-laki kerabatnya) atau yang semisalnya, itu pun harus dengan sikap kehati-hatian yang sangat tinggi.
Karena realitanya, wahai saudara-saudaraku, hal ini telah menjadi jerat perangkap, bahkan bagi sebagian orang-orang yang sholeh.
Percakapan dimulai dengan saling menasihati, mengingatkan kepada Allah,
– wahai ukhti (saudariku) bertakwalah kepada Allah
– wahai ukhti bertaubatlah kepada Allah
namun setelah itu si perempuan mengirimkan emotikon bunga mawar.
Lalu setelah beberapa waktu, barangkali si laki-laki berganti mengirimkan emotikon bunga mawar. Akhirnya syetan pun berhasil menjerat keduanya.
📌 MAKA JANGANLAH SESEORANG TERPEDAYA DENGAN KEBAIKAN YANG ADA PADA DIRINYA (MERASA AMAN DARI FITNAH), melainkan sudah sepantasnya ia menjauhkan diri dari segala sarana dan pintu-pintu (yang dapat mengantarkan pada keburukan).”