Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
All posts by BBG Al Ilmu
Renungan Hadits…
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وليأتين على الناس زمان يتعلمون فيه القرآن، يتعلمونه ويقرأونه، ثم يقولون قد قرأنا وعلمنا، فمن ذا الذى هو خير منا ؟ فهل فى أولئك من خير ” . قالوا يا رسول الله، من أولئك ؟ .. قال :
” أولئك منكم، وألئك هم وقود النار ”
Benar benar akan datang kepada manusia suatu zaman, mereka mempelajari al Qur’an dan menghafalnya. Kemudian mereka berkata, “Kita telah menghafal dan memahaminya, maka adakah orang yang lebih baik dari kami ?”
Nabi bersabda, “Apakah (menurut kalian) mereka ada kebaikannya?”
Para shahabat berkata, “Siapakah mereka wahai Rasulullah ?”
Beliau bersabda, “Mereka itu termasuk dari kalian (umat islam). Mereka itu adalah bahan bakar api Neraka.”
(HR Ath Thabrani, hasan lighairihi).
Sebuah hadits yang perlu kita camkan..
Merasa lebih baik karena keilmuan atau ibadah atau hafalan dan sebagainya membuat amalan tersebut sia sia..
⚫ Mungkin kita merasa telah memperjuangkan islam..
⚫ Mungkin kita merasa telah banyak hafal ayat dan riwayat..
⚫ Mungkin kita merasa telah dalam ilmunya..
⚫ Lalu kita merasa paling baik dan meremehkan orang lain..
Seperti ini sifat orang orang yang akan menjadi bahan bakar api Neraka…
Na’udzu billahi min dzalik..
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Ketika Ditanya Bolehkah YASINAN..?
Dakwah itu tidak serampangan …
Butuh pertimbangkan waktu yang pas untuk menyampaikan suatu materi.
Butuh memberikan jawaban yang pas juga ketika ada yang bertanya.
Contoh, kita tidak setuju dengan acara “selamatan kematian”. Ketika kita mendapatkan pertanyaan dari masyarakat yang masih sulit dinasihati meninggalkan tradisi semacam tadi, maka jawaban yang seperti ini yang bagus diberi …
1- Bapak ngaji saja dulu, kapan-kapan insya Allah akan tahu hukumnya.
2- Anak hendaklah banyak doakan orang tua, jangan bergantung pada orang lain.
—
Kenapa jawaban seperti di atas yang diberi..?
1- Karena iya terus-terusan ngaji (tholabul ilmi) lebih baik, daripada diberi jawaban hukumnya langsung, dan kemudian pergi dan tidak datang-datang lagi.
2- Solusi kedua akan menyemangati anak-anak untuk rajin ibadah dan akan terus memperbaiki diri.
Dua jawaban seperti itu akan sebagai pengalihan dan solusi.
Jawaban akan berbeda ketika kita memberikan materi dan ditanya di kalangan yang sudah paham dan mudah menerima dakwah.
Moga paham …
# Silakan dipraktikkan untuk hal lainnya. Ini penerapan kami langsung.
Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى
Sebar atau Tidak Yaa..?
Imam asy-Syâthibî (w. 790 H) menjelaskan patokan perkara apa yang boleh disebarkan dan apa yang tidak boleh disebarkan,
“Patokannya: (Langkah pertama) engkau timbang perkara itu dengan syariat.
Jika dibenarkan secara syariat, maka (langkah kedua) pertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan darinya, tatkala disampaikan pada zaman dan masyarakat yang ada saat itu.
Seandainya tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan), maka (langkah ketiga) timbanglah perkara itu dengan pikiranmu, kira-kira akal masyarakat (telah mampu untuk memahami perkara itu), sehingga mereka mau menerimanya atau tidak?.
Bila engkau pertimbangkan bahwa akal mereka telah mampu; maka (langkah keempat) sampaikanlah kepada masyarakat umum, jika perkara itu bisa diterima secara umum. Atau sampaikan pada komunitas terbatas, jika perkara itu tidak cocok untuk disampaikan secara umum.
Andaikan perkara yang akan engkau sampaikan tidak memenuhi syarat-syarat di atas, maka yang selaras dengan maslahat menurut syariat dan akal sehat, adalah perkara tersebut tidak engkau sampaikan.”
Al-Muwàfaqât (5/172).
Renungan malam…
DIA Bukan Saudaramu…!
Allah jalla wa ‘ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Hanyalah orang-orang yang beriman itu bersaudara.” [Al-Hujurat: 10]
Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
لا يحل للمسلم أن يصف الكافر أيا كان نوع كفره؛ سواء كان نصرانيا، أم يهوديا، أم مجوسيا، أم ملحدا لا يجوز له أن يصفه بالأخ أبدا، فاحذر يا أخي مثل هذا التعبير، فإنه لا أخوة بين المسلمين وبين الكفار أبدا، الأخوة هي الأخوة الإيمانية كما قال الله عز وجل إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Tidak halal bagi seorang muslim untuk menyebut orang kafir dengan sebutan ‘saudara’. Orang kafir apa pun sama saja, apakah ia seorang Nasrani, Yahudi, Majusi atau Ateis, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyebut orang kafir itu sebagai ‘saudara’ selama-lamanya.
Berhati-hatilah wahai saudaraku dengan ungkapan seperti ini, karena sesungguhnya tidak ada persaudaraan antara kaum muslimin dan orang-orang kafir (non muslim) selama-lamanya.
Ukhuwah adalah persaudaraan iman, sebagaimana firman Allah ta’ala, ‘Hanyalah orang-orang yang beriman itu bersaudara.’ (Al-Hujurat: 10).”
[Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 3/43, no. 402]
Sofyan Chalid Ruray, حفظه الله تعالى
Dulu Imam Malik bin Anas Paling Anti Dengan Fanatik…
Imam Malik adalah guru Imam Syafi’i; begitu besar ilmu yang beliau wariskan kepada Imam Syafi’i, salah satunya ialah pengagungan kepada dalil dan anti fanatik.
Begitu keras sikap Imam Malik terhadap fanatik kepada selain Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Salah satu ucapan beliau yang terkenal mencela sikap fanatik sekaligus sebagai wejangan yang beliau sampaikan kepada murid muridna ialah ucapan beliau berikut:
كل يؤخذ من قوله ويرد الا صاحب هذا القبر
Ucapan setiap manusia boleh diterima dan juga boleh ditolak selain ucapan penghuni kuburan ini ( Nabi shallallahu alaihi wa sallam)
Namun demikian, tidak semua murid beliau berhasil mengamalkan pesan dan pendidikan beliau ini. Sepeninggal beliau; mulailah sikap taasshub bersemi dengan subur; sampai sampai murid-murid beliau tidak lagi bersemangat mempelajari hadits hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dilakukan oleh guru mereka. Para murid lebih bersemangat dan fokus mempelajari buku tulisan imam Malik dan ucapan ucapan beliau yang dibukuka oleh murid murid beliau “Al Mudawwanah“.
Majlis-majlis murd beliau lebih sering menukil ucapan Imam Malik bukan lagi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terus berkelanjutan pada banyak ulama mazhab Maliky&kitab kitab karya mereka sebagai buktinya. Kitab-kitab fiqih Malik lebih banyak dipenuhi dengan nukilan dari ucapan imam Malik dan murid-muridnya dibanding dalil.
Karena itu dahulu Imam Syafi’i begitu getol mengingatkan dan berusaha mengembalikan teman teman atau adik-adik seperguruan beliau agar kembali pada metode dan teladan sang guru yaitu Imam Malik rahimahullah.
Bila ini terjadi pada murid-murid Imam Malik; bagaimana dengan murid-murid saya dan juga ulama ulama atau kiyai atau ustadz zaman sekarang.
Murid tidak selalu merepresentasikan guru seutuhnya; karena ada murid yang gagal paham dan ada murid yang dadanya sempit dan ada murid yang mbeling ndak nurut kepada gurunya.
Ya Allah limpahkanlah ilmu yang bermanfaat kepada murid murid hamba-Mu ini dan kepada para penuntut ilmu secara umum. Amiin.
Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Penyesalan…
الصَّمْتُ زَيْنٌ وَالسُّكُوْتُ سَلاَمَةٌ ***
فَإذَا نَطَقْتَ فَلاَ تَكُنْ مِهْذَارًا (وفي رواية :مِكْثَارًا )
مَا إِنْ نَدِمْتُ عَلَى سُكُوْتِي مَرَّةً ***
وَلَقَدْ نَدِمْتُ عَلَى الْكَلاَمِ مِرَارًا
Tidak berbicara itu indah, dan diam adalah keselamatan…
Maka jika engkau berbicara hendaknya janganlah ngawur (suka banyak omong).
Tidaklah aku menyesali atas sikap diamku sekali kecuali aku telah menyesali berkali-kali atas omonganku…
Kata jika telah kau ucapkan maka ia akan lepas tidak bisa lagi kau menguasainya…
Maka kuasailah kata-kata sebelum terlanjur kau melepaskannya.
Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Faidah Hadits…
Para shahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah islam apa yang paling utama? Beliau menjawab: Yaitu orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Al Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa islam itu berderajat ada yang paling utama dan ada yang kurang darinya. Tidak seperti yang diyakini kaum khowarij dan murjiah bahwa Islam dan iman tidak berderajat dan tidak bercabang cabang tapi hanya satu saja.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, karena paling utama menunjukkan keimanan yang naik.
Hadits ini juga menunjukkan fiqih dalam beramal, yaitu hendaknya dalam beramal kita mencari amal yang paling utama.
Badru Salam, حفظه الله تعالى