All posts by BBG Al Ilmu

Shalat Rawatib Setelah Mendengar Iqomat Bagi Muslimah…

PERTANYAAN:

Assalamu’alaykum ustadz, mohon penjelasannya.

Saya seorg wanita yg mendirikan shalat fardhu di rumah spt yg disyariatkan. Pertanyaan saya, bila saya sedang mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dzuhur 4 rakaat, lalu saya mendengar iqomat dikumandangkan di masjid dekat rumah, maka apakah saya jg harus memutus shalat qobliyah saya? Ataukah itu hanya berlaku bagi para jamaah yg sdg shalat qobliyah di masjid? Mengingat adanya hadits ttg larangan shalat sunnah setelah terdengar iqomat.

Mohon penjelasannya ustadz, karena saya kerap bimbang bila shalat qobliyah dzuhur saya blm selesai, tp saya sudah mendengar iqomat di masjid.
Jazaakallahu khairan utk jawabannya.

JAWABAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

“Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tak ada shalat selain shalat wajib.” HR. Muslim no.710

Syaikh Utsaimin rahimahullah menerangkan:
Maksudnya bila anda ingin melaksanakan shalat dengan imam tersebut, apabila anda tidak ingin melaksanakan shalat bersama dia maka boleh bagi anda untuk melaksanakan shalat nafilah (bukan wajib.pent). Seandainya di samping anda ada dua masjid dan anda mendengar iqomat salah satunya sedangkan anda ingin melaksanakan shalat rawatib kemudian anda melaksanakan shalat di masjid kedua maka itu tidak apa-apa. Asy-Syarh al-Mumti’ 4/167-168

Berdasarkan hal itu maka boleh bagi anda untuk melaksanakan shalat sunnah Rawatib meski iqomat sudah dikumandangkan mengingat anda tidak melaksanakan shalat jama’ah di masjid yang dikumandangkan iqamat di dalamnya.

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

Ref : http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/shalat-rawatib-setelah-mendengar-iqomat.html

Kisah Suami Ndak Mengenali Istrinya…

Anda bayangkan, seorang suami yang sejak menikah kesusahan mengenali istrinya, selama ini ia hanya kenal nama panggilan istrinya saja, sedangkan nama lengkapnya ia tidak kenal.

Suatu hari sang suami mendengar berita bahwa istrinya mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Segera sang suami meluncur ke rumah sakit untuk menemui istrinya. Sesampai di rumah sakit, penjaga bertanya: Mau menemui siapa pak? ia berkata: mau menemui istriku, yang bernama BUNGA.

Petugas kembali bertanya: ibu BUNGA yang siapa ya?, di sini ada 5 pasien yang bernama BUNGA.

Lelaki itu menjawab: waduh, saya tuh kenalnya ya BUNGA saja, demikian setiap hari aku memanggilnya.

Barangkali anda akan berkata: ndak masuk akal aaah, ceritanya ngawur, mana ada orang yang kayak gitu, kalaupun ada itu pasti orang gila alias ndak waras. La wong, setiap malam tidur bareng, sering dikasih itu lagi, kok ndak kenal wajah atau nama lengkapnya.

Tenang sobat, kalau sekedar suami tidak kenal istrinya selain namanya saja anda katakan sebagai orang gila, ndak waras dan ndak masuk akal. Namun tahukah anda bahwa anda telah melakukan hal yang lebih parah dari itu ?

Anda mengaku sebagai hamba Allah, anda menyadari bahwa anda tiada henti bergelimang dalam kenikmatan-Nya, namun demikian benarkah anda sudah mengenal Allah selain nama-Nya saja?

Sudahkah anda tahu sifat sifat Allah Ta’ala dan hak-hak-Nya yang harus anda tunaikan ?

Dan sudahkah anda tahu bahwa syahadat La Ilaaha Illallahu yang anda ucapkan tiada pernah sempurna bila tidak memenuhi persyaratannya. Dan tahukah anda syarat syarah sahnya syahadat anda?

Berikut 7 syarat sahnya syahadat Laa ilaaha illallah :
1. Al Ilmu (berilmu tentang kandungan syahadat yang anda ucapkan)
2. Al Yaqin (meyakini kandungan persaksian anda tanpa ada keraguan sedikitpun) .
3. Al Ikhlash (meikhlaskan seluruh amal ibadah anda hanya untuk-Nya ).
4. Ash Shidqu (membenarkan semua firman dan kabar dari Allah tanpa pernah mendustakannya sedikitpun).
5. Al Mahabbah (mencintai Allah seutuhnya melebihi cinta anda kepada selain-Nya).
6. Al Inqiyadu (menaati setiap perintah dan meninggalkan seluruh larangan).
7. Al Qabulu (menerima seluruh syari’at Allah tanpa pilah pilih).

Bagaimana, sudah tahu sekarang, siapa yang lebih keterlaluan, suami di atas atau diri anda yang tidak kenal Allah Ta’ala Yang menciptakan, memberi segala kenikmatan kepada anda ?

Hayo, ngaji tauhid, iman, dan akidah lagi, agar benar benar kenal Allah Ta’ala yang kita sembah dan kita agungkan.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Hidayah Itu Allah Yang Memberikan

Keikhlasan dan ketakwaan seseorang, memang sangat mempengaruhi diterimanya dakwah dan nasehatnya.

Tapi, jangan sampai kaidah ini dibalik.. jangan sampai kita beranggapan bahwa jika pendengarnya tidak tersentuh oleh nasehatnya, berarti ustadznya kurang ikhlas atau minim takwa saat menyampaikan ilmunya.

Mengapa demikian..?

Karena Allah-lah yang berkehendak memberikan hidayah, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Sungguh kamu (Muhammad), tidak akan mampu memberikan hidayah kepada orang yang kau cintai, namun Allah-lah yang mampu memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki..” [Al-Qashash: 56].

Dan Allah bisa saja berkehendak tidak memberikan hidayah kepada suatu kaum yang telah dinasehati oleh seorang pendakwah yang super ikhlasnya dan tinggi takwanya.

Diantara bukti yang sangat kuat dalam masalah ini adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

“Telah ditampakkan kepadaku seluruh ummat manusia, maka akupun melihat seorang nabi; bersamanya sekelompok orang, (kulihat juga) seorang nabi; bersamanya satu dua orang, (bahkan aku melihat) ada seorang nabi; yang tidak satu pun orang bersamanya..” [HR. Muslim: 374].

Lihatlah, di sana ada seorang NABI yang dakwah dan nasehatnya tidak diterima oleh ummatnya sama sekali.. mungkinkah kita katakan, ada nabi yang kurang ikhlas, atau minim takwa..?! Tentunya tidak.

Pintu husnuzhon harusnya kita buka lebih lebar.. daripada pintu su’uzhon.. apalagi bila sasarannya adalah pendakwah yang terlihat baik dan saleh, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jangan Meremehkan Sesuatu Yang Terlihat Kecil

Dalam masalah kemaksiatan sahabat Abu Bakar -rodhiallohu ‘anhu- pernah mengatakan:

“Sungguh Allah bisa saja mengampuni dosa besar, maka janganlah engkau putus asa (karenanya). Dan bisa saja Dia meng-adzabmu karena dosa kecil, maka janganlah engkau terlena (karenanya)..”

[Syarah Shahih Bukhori, karya Ibnu Batthol, 10/203].

Sedangkan dalam masalah ketaatan, Ibnul Mubarok -rohimahullah- pernah mengatakan:

“Betapa banyak amalan kecil, dibesarkan oleh niat. (Sebaliknya) betapa banyak amalan besar, dikecilkan oleh niat..”

[Jami’ul Ulum Wal Hikam, karya Ibnu Rojab, 1/71].

Hal ini juga telah ditegaskan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam sabdanya:

“Jangan sampai engkau meremehkan kebaikan apapun, walaupun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang bersahabat..” [HR. Muslim: 2626].

Lihatlah bagaimana beliau memberikan contoh perbuatan yang kecil dan sederhana, namun demikian, beliau melarang kita meremehkannya.

——-

Jika kita melatih diri untuk memperhatikan yang kecil-kecil, insya Allah yang besar akan semakin kita perhatikan.. sebaliknya bila kita sering menyepelekan yang kecil-kecil, maka lambat laun kita juga akan menyepelekan sesuatu yang besar.

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Negara Saudi Akhirnya Membolehkan Perayaan Maulid ..??

Beberapa teman menanyakan tentang kebenaran berita di atas, apakah benar demikian, ataukah itu isu dari berita yang telah dipelintir.

Beberapa kali saya jawab, bahwa itu hanyalah berita yang dipelintir oleh media saja.. itu hanya berita hoax, alias isu dan kabar burung.

Dan Alhamdulillah ulama yang dijadikan sandaran sumber isu tersebut akhirnya memberikan klarifikasi tentang berita tersebut, beliau adalah Syeikh Abdullah Al-Muthlaq -hafizhahullah-.

Berikut ini berita yg memuat klarifikasi beliau, dan dibuat oleh halaman berita “Sabaq”.

“Syeikh Abdullah Al-Muthlaq, seorang penasehat dewan kerajaan dan anggota kibar ulama, telah mengeluarkan klarifikasi mengenai pendapatnya tentang perayaan Maulid Nabi, untuk membantah isu ysng beredar, yang mengatakan bahwa:

‘Saudi akhirnya mengakui (perayaan) Maulid Nabi, dari seorang anggota dalam dewan kerajaannya, dan dia menganggap itu termasuk amal saleh.’

… … …

Syeikh Abdullah Al-Muthlaq mengatakan dalam klarifikasinya: bahwa telah disandarkan kepadaku akhir-akhir ini bahwa aku membolehkan perayaan maulid (kelahiran) Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, makhluk paling mulia, dan kekasihku. Dan bahwa aku memasukkannya dalam ibadah-ibadah yang bisa mendekatkan kaum muslimin kepada Allah ta’ala.

Ini adalah kedustaan yang disandarkan kepadaku dan tindakan membohongi kaum muslimin secara umum yang mereka berprasangka baik kepada para ulamanya.

Seandainya orang-orang yang berdusta melalui judul berita yang mereka susun sendiri, membaca perkataanku yang dia sebutkan di bawah judulnya, tentu mereka akan tahu bahwa aku tidak membolehkan perayaan maulid (kelahiran) orang terkasih dan terpilih (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Sungguh orang yang paling besar dalam kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Ali bin Abi Thalib, Dua putranya; Hasan dan Husein, dan para Khulafa’ Rosyidin yang lainnya seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Umar bin Abdul Aziz -radhiallahu anhum- dan juga selain mereka; tidak ada satu pun yang melakukan maulid tersebut, mereka juga tidak mengajak manusia untuk melakukannya. Hal itu juga tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau tidak juga mengajak kepadanya.

Para penyair dari kalangan sahabat -radhiallahu anhum- yang mencintai Nabi -shallallahu alahi wasallam- dengan kecintaan yang agung, seperti: Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Ka’ab bin Zuhair, dan selainnya, mereka tidak pernah memuji Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dengan pujian yang diberikan oleh para penyair maulid, seperti Al-Bushairi dan yang lainnya, sungguh mereka telah melampui batas dalam memuji beliau, hingga mereka jatuh dalam kesyirikan yang tidak diridhai oleh beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak akan beliau terima, bahkan beliau telah memperingatkan dan melarang umat beliau darinya.”

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Sumber:https://sabq.org/%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D9%84%D9%82-%D9%8A%D8%B1%D8%AF-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%81%D8%AA%D9%88%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D9%85%D8%A7-%D9%86%D8%B3%D8%A8-%D8%A5%D9%84%D9%8A-%D8%A7%D9%81%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D8%A1-%D9%88%D9%83%D8%B0%D8%A8

Istriku Menikahkanku Dengan Temannya…

Kata sebagian orang istri menerima dimadu bahkan pro aktif mencarikan madu untuk suaminya adalah bagian dari kesetiaan, dan bukti bahwa istrinya benar benar beriman dengan syariat poligami; lebih sempurna bila siap hidup serumah.

Bagi saya sih; masyaAllah banget gitu kalau ada wanita yang bisa gitu.

Saya tuh cuma heran saja, kok istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ndak ada yang melakukan hal ini ya? Kalau ada yang tahu riwayatnya; tolong dibagi.

Yang ada tuh Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang menwarkan adiknya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dinikahi. Ummu Habibah sangat cemburu bila menyaksikan suami tercintanya menggandeng tangan wanita lain. Namun kalau memang terpaksa harus menyaksikan suaminya menggandeng tangan wanita lain; maka lebih baik tangan saudarinyalah yang beliau gandeng.

Makanya masyaAllah banget deh, bila ada wanita yang iman dan akhlaknya di bawah ummu habibah malah pro aktif nawar nawarkan suaminya kepada wanita lain; seakan tidak memiliki rasa cemburu, ndak bisa mbayangkan gimana cara wanita itu memendam rasa cemburunya.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Faidah Ayat : Menyebarkan Berita Bohong…

Allah Ta’ala berfirman tentang kisah ifik:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.
(An Nuur: 15)

Ayat ini berbicara tentang kisah Aisyah yang dituduh berzinah. Tersebar dari mulut ke mulut menjadi issu yang hangat.

Allah turunkan ayat ini sebagai peringatan untuk kita agar berhati-hati membicarakan kehormatan seorang muslim. Jangan mudah menerima tuduhan begitu saja. Namun hendaklah benar-benar kita periksa.

Ketika kita menganggap remeh suatu dosa, maka menjadi besar di sisi Allah. Oleh karena itu Allah mengatakan: Dan kamu menganggapnya ringan, padahal di sisi Allah besar.

Masuk dalam ayat ini semua orang yang gemar menebar issu bohong yang berhubungan dengan kehormatan ssorang hamba Allah yang shalih.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Faidah Hadits: Bekam…

Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa hasil usaha dari membekam adalah khobits (tidak baik). Namun dalam hadits ibnu Abbas disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan upah kepada orang yang membekam beliau. HR Bukhari dan Muslim.

Ini menunjukkan bahwa usaha dari membekam adalah khobits yang halal, sebab jika haram tentu Nabi tidak akan memberi upah kepada pembekamnya. ini adalah pendapat jumhur ulama.

Namun sabda Nabi: khobits memberikan isyarat agar lebih baik mencari penghasilan yang lain.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى