All posts by BBG Al Ilmu

Hasil Bukan Tujuan…

Ketika kita berdakwah dan memperjuangkan agama.. Seringkali kita tergesa-gesa ingin melihat hasilnya..
Sehingga ketika terasa lambat hasilnya, kita pun menjadi arogan dan keras..
Lalu menamai sikap arogan dengan nama-nama yang menipu..
Sebagai jihad atau nama lainnya..

Saudaraku..
Hasil itu bukanlah tujuan..
Yang terpenting kita sudah berbuat sesuai syari’at dan mengikuti manhaj dakwah para Nabi..
Allah Ta’ala berfirman:

فاصبر إن وعد الله حق فإما نرينك بعض الذي نعدهم أو نتوفينك فإلينا يرجعون

“Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu pasti benar. Maka boleh jadi kami perlihatkan sebagian janji Kami (ketika kamu masih hidup) atau Kami wafatkan kamu (terlebih dahulu). Maka kepada Kamilah mereka dikembalikan.” (Ghofir: 77)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata,
“Allah Ta’ala berfirman: Boleh jadi kami perlihatkan kepadamu wahai Muhammad ketika kamu masih hidup sebagian janji Kami untuk mengadzab kaum kafir itu. Atau kami wafatkan kamu terlebih dahulu sebelum adzab itu turun kepada mereka.”

Saudaraku..
Janganlah kekesalan dan kemarahan membuat kita tergesa gesa ingin segera melihat hasil perjuangan..
Kita tidak akan ditanya oleh Allah tentang hasil usaha kita..
Tapi kita akan ditanya tentang tata cara perjuangan kita..
Apakah sesuai dengan manhaj para Nabi dan Rasul..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Musibah Juga Ada Manfaatnya…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Seandainya saja tidak ada ujian dan cobaan di dunia, tentunya seorang hamba akan terkena banyak penyakit; takabur, ujub, diktator, dan keras hati, yg itu semua adalah sebab kebinasaan dia, cepat atau lambat”

[Zadul Ma’ad 4/179].

——-

Oleh karena itu, lihatlah hikmah dari setiap kejadian yang Anda alami, dan ambillah sisi positifnya.

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya bisa baik, ini tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin.


Jika mendapatkan kebaikan; dia bersyukur, dan itu baik untuknya. (sebaliknya) jika tertimpa musibah; dia bersabar, dan itu juga baik untuknya”

[HR. Muslim: 2999].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Kisah Imam Ahmad bin Hambal…

Ahli sejarah mengisahkan, Dahulu Imam Ahmad tiada pernah duduk mengajarkan ilmu Hadits atau untuk berfatwa kecuali setelah berumur 40 tahu, dan setelah namanya dikenal di berbagai penjuru negri Islam. dampaknya, tatkala beliau mulai duduk mengajarkan ilmu, masyarakat berbondong-bondong membanjiri majlis beliau, sampai-sampai menurut sebagian ahli sejarah jumlah orang yang menghadiri majlis beliau ditaksir mencapai 5 ribu orang. Namun demikian dari jumlah tersebut hanya ada 500 orang yang mencatat ilmu dari beliau. Adapun sisanya, hanya mau belajar dari akhlaq, meneladani perilaku dan dan sikap beliau.

Biasanya beliau duduk menyampaikan ilmu setelah sholat Ashar, majlis beliau penuh dengan nuansa kewibawaan, penghormatan kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Manaqib Imam Ahmad bin Hambal oleh Ibnu Al Jauzi dan S÷yar A’alam An Nubala’ oleh Az Zahaby 11/316)

Nah, ini terjadi pada diri Imam Ahmad bin Hambal, kondisi serupa pasti juga terjadi dengan imam-imam lainnya. Karena itu sepatutnya kini kita, saya dan juga anda bercermin, tidak mudah-mudah mengaku sebagai murid seorang syiekh atau ulama’ atau kiyai atau ustadz, karena bisa jadi selama ini anda hanya menjadi penggemar. yang hanya duduk sesaat, sepekan sekali, atau sebulan sekali, dan atau bahkan hanya seingatnya atau sesempatnya, dan itupun tidak sepenuhnya menimba ilmu, bisa jadi hanya mengisi waktu liburan atau luang belaka.

Bila demikian, layakkah anda mengaku sebagai murid syeikh yang anda hadiri majlisnya? sehingga dengan status tersebut anda layak merepresentasikan pendapat, sikap dan akhlaq syeikh atau guru anda? Jangan-jangan anda bagaikan orang yang mengenakan baju kebesaran, kepanjangan dan kelebaran, ya tentu ndak pantes, bahkan memalukan.

Contohnya saya sendiri: saya pernah hadir beberapa majlisnya Syeikh Ibnu Utsaimin, Syeikh Ibnu Baaz, Syeikh SHoleh bin Fauzan, Syeikh Rabi’ Al Madkhaly, Abdul Muhsin Al ‘Abbad dll, namun demikian tentu sangat memalukan bila saya mengaku sampai lancang petentang petenteng mengaku sebagai murid mereka, karena saya sadar bahwa saya tidak layak menyandang status tersebut, karena saya menyadari betapa bodoh dan sedikit ilmu dan amal yang saya miliki sangat berbeda dengan para syeikh tersebut.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Berkat Jasa Orang Tua..

SObat! anda merasa letih dan lelah mendidik anak anda? jangan kawatir, esok anda akan menikmati hasilnya, simak hasil yang tidak lama lagi akan menjadi milik anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sejatinya Allah sungguh akan meninggikan derajat seorang hamba yang sholeh di dalam surga, hingga ia keheranan dan berkata: Wahai Tuhanku, dari mana aku mendapatkan kedudukan setinggi ini? Allah menjawab: Berkat anakmu yang senantiasa memohonkan ampunan untukmu. (Ahmad, Al Baihaqi dan lainnya).

Inilah investasi yang sebenarnya, jadi untuk apa ada rasa lelah atau letih atau bahkan putus asa dalam mendidik anak anda ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ulama’ Arab Tidak Tahu Fiqih Waqi’ Indonesia…

Akhir akhir ini mulai terdengar kembali suara suara sumbang tentang fatwa fatwa ulama’ besar, sekaliber Bin Baz, Al Utsaimin, Al Albani, Al Abbaad, dll bahwa fatwa fatwa mereka tidak relevan dengan apa yang terjadi di indonesia. Dalihnya bukan karena dalil mereka lemah atau terbukti salah, namun karena fatwa mereka dianggap tidak sesuai dengan fakta yang di lapangan atau negri kita. Ulama’ ulama’ tersebut tidak memiliki fiqih waqi’ Indonesia.

Ulama’ ulama’ lokal yang hanya boleh atau layak memberikan fatwa tentang problematika yang terjadi di Indonesia, karena ulama’ indoensia lebih tau tentang waqi’ (realita) yang ada di Indonesia, dibanding ulama’ ulama’ arab.

Ya Fiqih Waqi’ yang kala itu disuarakan oleh ahlul bid’ah, khowarij, dan anak keturunannya untuk menentang fatwa fatwa ulama’ ulama’ besar, kini mulai disuarakan kembali.

Namun anehnya, bila para ahli fiqih waqi’ diminta agar merinci lebih detail tentang fiqih waqi’ yang mereka kuasai, dan tidak dikuasai ulama’ arab, sehingga menyebabkan fatwa fatwa ulama’ arab tidak relevan dengan apa yang terjadi di negri kita, mereka semua bungkam.

Bagaimana tidak bungkam? Para pengagum fiqih waqi’ bukanlah ahli ijtihad dan juga bukan ahli fatwa, sehingga wajar bila tidak mampu merinci berbagai hal seputar waqi’ (realita) yang memiliki korelasi dengan hukum syari’at.

Ya, topeng fiqih waqi’ kembali diproduksi secara masal dan diobral, untuk menjadi senjata pamungkas mempertahankan sikap atau pendapat yang mereka ingin paksakan. Faqih waqi’ dijadikan tameng terakhir untuk melindungi sikap fanatik buta dan kesombongan terhadap orang lain.

Padahal, kalau memang mau menolak atau membandingkan fatwa ulama’, seharusnya berani merinci, apa saja realita realita yang berbeda sehingga menyebabkan fatwa para ulama’ tidak relevan, agar dapat dikaji secara terbuka, bukan asal klaim menyelisihi waqi’ (realita) tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Kalau sekedar klaim tanpa bukti nyata, maka itu namanya ASMUNI alias asal muni, dan seperti itu mudah dilakukan oleh siapapun.

Hasbunallah wa ni’mal wakil.

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Lebih Baik Dari Emas dan Perak…

Dari Tsauban ia berkata,

”Ketika turun ayat “Walladziina yaknizuunadzahabawal fidlah”,
Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan.
Sebagian shahabat berkata, “Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Bila ada harta lain yang lebih baik, kita akan mengambilnya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang paling utama adalah lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri yang mukminah yang membantu keimanannya.”

HR At Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits hasan.” Dan Ibnu Majah. Lihat shahih targhib no 1499.

LISAN yang basah dengan DZIKIR..

HATI yang QANA’AH dan BERSYUKUR..

WANITA SALIHAT yang membantu suaminya beriman kepada Allah..

ITULAH HARTA YANG AMAT BERHARGA..

Badru Salam, حفظه الله تعالى

 

Ref : http://www.salamdakwah.com/baca-artikel/lebih-baik-dari-emas-dan-perak.html

Dilema Senioritas…

Di berbagai masjid, ditemukan banyak sekali imam dan muazzin yang sangat dilematis menyikapinya, dilihat dari umur, ya sudah cukup bahkan sangat tua, dilihat dari konsistensinya, juga tidak diragukan lagi, seakan tiada pernah luput dari sholat di masjid, pokoknya masyaAllah banget gitu.

Namun di sisi lain, mereka memiliki banyak kekurangan, yang paling menonjol ialah kekurangan ilmu, bacaannya ndak faseh, makharij hurufnya wallahu a’alam, tajwidnya juga seakan tidak tercium sama sekali. Belum lagi masalah suaranya yang sudah nampak payah, dan masih banyak lagi kekurangannya. Semoa Allah Ta’ala menerima semua amalan mereka, keteguhan mereka dalam memakmurkan masjid, namun haruskah semua itu tetap dipertahankan, padahal di barisan belakangnya sudah banyak anak-anak muda yang jos bacaannya, juga rajin sholat berjamaahnya, dan suaranya juga luar biasa, seakan imam Masjidil Haram Mekkah atau Masjid Nabawi Madinah.

Kalau secara aturan hukum syari’at maka jelas, sebagaimana yang disebutkan pada hadits berikut:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة فإن كانوا في الهجرة سواء فأكبرهم سنا

Yang paling berhak menjadi imam (sholat) di suatu masyarakat ialah yang paling banyak bacaannya (hafalannya), dan bila mereka sama dalam hal bacaan (hafalan) maka orang yang paling mengetahui sunnah (berilmu), dan bila dalam hal ilmu sama, maka orang yang paling dahulu hijrah, dan bila dalam hal hijrah sama, maka orang yang paling tua. (Muslim, At Tirmizy dan ini adalah teks riwayat Imam At Tirmizy)

Skala prioritas dalam hal ini terletak pada yang paling banyak hafalan, lalu paling banyak ilmu dan paling dahulu hijrah (islam) dan selanjutnya barulah mempertimbangkan aspek umur.

Mungkin dahulu, di saat belum ada yang lebih pantas dibanding beliau-beliau, mereka adalah pilihan paling tepat, namun kini, setelah banyak santri santri lulus dari pesantren, masihkah pilihan zaman duhulu relevan dipertahankan?

Kalau anda berkata: hormatilah orang tua, maka sudah sepatutnya yang tua juga menyayangi yang muda. Hormat dan kasih sayang itu tidak buta, dan juga bukan dalil, Sudah sepatutnya ada regenerasi imam dan muazzin, agar sepeninggal yang tua, masjid tidak mengalami kevakuman imam atau muazzin.

Sebagaimana, mumpung yang tua masih ada, mereka bisa memberikan arahan dan pengawasan kepada yang muda, sehingga kelak bisa istiqamah sebagaimana orang-orang tua dapat istiqamah menjadi imam hingga masa tua. Senioritas tidak sepatutnya diposisikan sebagai alasan untuk mematikan kreatifitas, regenerasi dan kesempatan untuk berkarya bagi yang muda.

Semoga ke depan senioritas tidak lagi dijadikan alat untuk memupus anak anak muda dan kelebihan anak anak muda tidak dijadikan sebagai senjata untuk merendahkan yang tua.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى