All posts by BBG Al Ilmu
Do’a keluar rumah…
1). Berdoa ketika keluar rumah
Ada doa yang ringan dan mudah dihafal, meskipun sering kelupaan sehingga tidak diamalkan. Doa itu adalah
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
BISMILLAHI, TAWAKKALTU ’ALA ALLAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.
Keutamaan:
Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan doa ini,
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟
”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemduian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya: ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’
Seketika itu setan-setanpun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya,
’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (HR. Abu Daud 5095, Turmudzi 3426, dan dishahihkan al-Albani)
Keterangan:
Makna: ”disampaikan kepadanya”, yang menyampaikan adalah Malaikat. Malaikat itu mengatakan kepada orang yang membaca doa ini ketika keluar rumah, ’Wahai hamba Allah, kamu telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, 9/271).
Doa kedua yang dianjurkan untuk dibaca ketika keluar rumah, untuk menghindari kezaliman adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ
ALLAHUMMA INNI A-’UDZU BIKA AN ADHILLA AW UDHALLA AW AZILLA AW UZALLA AW AZLIMA AW UZLAMA AW AJHALA AW YUJHALA ‘ALAYYA.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari: aku tersesat, atau aku menyesatkan, atau aku tergelincir, atau aku digelincirkan, atau aku mendhalimi, atau aku didhalimi, atau kebodohanku atau dibodohi.”
Sumber doa:
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,
مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ…
“Setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahku, beliau mengarahkan pandangannya ke langit, kemudian berdoa: Allahumma a-‘udzu bika an adhilla… (HR. Abu Dawud 5094, Nasai 5486, Ibnu Majah 3884, dan dishahihkan al-Albani).
Keterangan:
1. Doa ini menunjukkan bagaimana ketergantungan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Allah. Sekalipun beliau seorang nabi, beliau tetap memohon perlindungan kepada Allah.
2. Doa ini dibaca persis ketika di luar rumah, sambil menengadahkan pandangan ke langit. Sebagaimana yang dituturkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.
Sumber: https://konsultasisyariah.com/22104-doa-agar-dijamin-aman-ketika-keluar-rumah.html
Ketika Ketakutan Dikuasai Cina…
Ketakutan dan kekhawatiran itu wajar. Namun tentunya jangan sampai membuat kita bersikap arogan dan extrim..
Semuanya harus dihadapi dengan ilmu dan ketaqwaan..
Cobalah rengungi ayat ini:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (Ali Imron: 173)
Imam Abu Ja’far Ath Thobari rahimahullah berkata:
فزادهم ذلك من تخويف من خوَّفهم أمرَ أبي سفيان وأصحابه من المشركين، يقينًا إلى يقينهم، وتصديقًا لله ولوعده ووعد رسوله إلى تصديقهم، ولم يثنهم ذلك عن وجههم الذي أمرهم رسول الله صلى الله عليه وسلم بالسير فيه، ولكن ساروا حتى بلغوا رضوان الله منه،
“Ketika mereka ditakut takuti oleh seseorang bahwa pasukan Abu Sufyan dan pasukan kaum musyrikin (akan menyerang), bertambahlah keyakinan mereka, dan semakin membenarkan janji Allah dan rosulNya, DAN TIDAK MEMBUAT MEREKA BERPALING DARI MELAKSANAKAN PERINTAH ROSUL untuk berjalan menuju tempat yang telah diperintahkan oleh beliau, namun mereka tetap berjalan sampai mendapatkan keridloan Allah. (Tafsir Ath Thobari).
Subhanallah…!!
Demikianlah ahli ilmu dan iman. ketakutan dan kekhawatiran tidak membuat mereka terprovokasi. Tidak juga membuat berpaling dari perintah rosul..
Saudaraku..
Kekhawatiran yang ditebar saat ini hadapilah dengan tawakkal dan kembali kepada Allah..
Jangan sampai memalingkan kita dari berilmu dan beramal. Teruslah istiqomah di atas jalan salafusholeh.
yakinlah, sehebat apapun makar kaum kuffar untuk menghancurkan islam pasti akan rapuh di hadapan sabar dan ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah:
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ الله بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Dan jika kamu terus bersabar dan bertaqwa, tidak akan membahayakanmu tipu daya mereka sedikitpun. (Ali Imron:121).
Tipu daya kaum kafir kafir akan berhasil di saat kesabaran dan ketaqwaan kita rapuh..
Aplikasi “Bekal Muslim”…
Bismillahirrahmannirrahim
Assalamualaikum Warhamatullahi Wabarakatuh
Allahumma Shali ‘Alaa Nabiyina Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam
Download yu aplikasi bekal muslim ke dalam androidmu
aplikasi yang sesuai bagi para penuntut ilmu, ada kajian berupa tulisan maupun berupa video. Bisa tanya jawab langsung dengan Ustadz Badru Salam dan berbagai macam hal lain yang insya Allah bermanfaat bagi penuntut ilmu
Oiya di aplikasi ini ada materi daurah al-fawaid hari ini juga loh
yuk di download dan di share ke teman, shahabat dan handai taulan kita di
https://play.google.com/store/apps/details?id=sms.com.bekalmuslim
Syukron Semoga Bermanfaat.. Jangan lupa di share yah
Sudah Sholat 60 TAHUN, Tapi…
Sudah sholat 60 tahun, tapi tidak ada sholat yang diterima sama sekali..
=====
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menyabdakan (yang artinya):
“Sungguh ada orang yang telah sholat 60 tahun, tapi tidak ada satupun sholatnya yang diterima, (karena) kadang dia menyempurnakan ruku’nya tapi tidak menyempurnakan sujudnya, kadang pula dia menyempurnakan sujudnya tapi tidak menyempurkan ruku’nya..”
[Dihasankan oleh Syeikh Albani dalam Assilsilah Ash-shohihah 6/81].
——-
Sungguh kita perlu melihat diri kita masing-masing, sudahkah sholat kita sesuai dengan tuntunan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam..? Sudahkah sholat kita memenuhi syarat dan rukunnya..?
Mungkin juga kita perlu bertanya kepada orang lain yang mumpuni agamanya; sudahkan sholat kita baik menurut pandangan dia… karena bisa jadi kita merasa sholat kita sudah baik dan benar, tapi ternyata masih belum lurus sesuai aturannya.
Ingatlah bahwa sholat adalah amalan ibadah yang sangat urgen dalam hisab di hari kiamat nanti, hal ini telah ditegaskan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau (yang artinya):
“Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat nanti adalah sholat; apabila baik sholatnya, akan baik pula amal-amal dia yang lainnya, tapi apabila rusak sholatnya, akan rusak pula amal-amal dia yang lainnya..” [Assilsilah Ash-Shahihah 3/343].
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Dari Dekapan Bidadari Dunia Ke Pelukan Bidadari Akhirat
Kata orang: ‘Hidup di dunia ini memang serba susah, gini salah gitu salah. .’
Mereka bilang: ‘Punya uang masalah bahkan pusing, bingung nyimpan dan menginvestasikannya. Ndak punya uang juga buat kepala puyeng..’
‘Memiliki kendaraan bermasalah tidak memiliki kendaraan juga bermasalah..’
‘Punya istri cantik, seakan nyepake tanggane (nyiapkan untuk tetangga). Punya suami guanteng juga repot, makan hati; karena sering jadi godaan banyak wanita. Namun punya istri atau suami jelek juga susah, gini masalah, gitupun masalah, repot..’
‘Aisyah rodhiallahu ‘anha mengisahkan: suatu malam Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam secara diam-diam keluar dari rumahku dan meninggalkanku seorang diri di tempat tidur. Kepergian beliau ini menjadikan aku merasa cemburu. Sekembalinya beliau dari luar rumah, beliau memahami sikapku yang sedang hanyut dalam rasa cemburu. Segera beliau bertanya kepadaku: ‘apakah engkau sedang ditimpa rasa cemburu..?’
Mendapat pertanyaan seperti ini, Aisyah menjawab:
وما لي لا يغار مثلي على مثلك؟
‘Mana mungkin wanita seperti aku tidak terus ditimpa rasa cemburu karena memiliki suami seperti engkau (suami idaman setiap wanita)..?’ (Riwayat Muslim)
Pada kisah lain, suatu hari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke rumah ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha seusai mengiringi jenazah ke kuburan Baqi’. Kala itu ‘Aisyah sedang mengeluhkan rasa pening di kepalanya, sehingga ‘Aisyah berkata kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam: ‘aduh, peningnya kepalaku..’
Namun ternyata Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga mengeluhkan hal yang sama dan bersabda: ‘aku juga merasakan pening di kepalaku..’ Selanjutnya beliau seakan ingin mencairkan suasana, dan mencandai istrinya dengan bersabda:
«ما ضرك لو مت قبلي، فغسلتك وكفنتك، ثم صليت عليك، ودفنتك؟»
‘Apa salahnya bila engkau meninggal duluan sebelumku, maka aku sendirilah yang akan memandikanmu, lalu mengkafanimu, selanjutnya menyolatimu, dan aku pula yang akan menguburkanmu..”
Mendengar candaan Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam ini, ‘Aisyah berkata:
لكأني بك، والله لو فعلت ذلك لقد رجعت إلى بيتي فأعرست فيه ببعض نسائك،
‘Sungguh aku mengira, bila hal itu terjadi, maka aku sudah bisa bayangkan bahwa sepulangmu ke rumahku dari menguburkanku, niscaya engkau segera bersenang senang dengan sebagian istrimu yang lainnya di rumahku ini..’
Mendengar jawaban ‘Aisyah ini, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum-senyum..” (Riwayat Ahmad dan lainnya)
Demikianlah sobatku, memiliki suami seperti Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu kebahagiaan dan kebanggaan. Namun dari sisi lain, membutuhkan jiwa besar dan lapang dada, karena ternyata istri-istri beliau sering dirundung kekawatiran (kecemburuan) kalau kalau suaminya diambil orang, alias menikah lagi dengan wanita lainnya.
Betapa bahagianya ‘Aisyah Rodhiallahu ‘Anha yang telah mendapat karunia menjadi salah satu istri Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan bahkan menjadi istri beliau yang paling beliau cintai, sampai-sampai tatkala beliau meninggal dunia, beliau menghembuskan nafas akhirnya di pangkuan dan pelukan Aisyah rodhiallahu ‘anha.
‘Aisyah rodhiallahu ‘anha mengisahkan kejadian romantis ini dengan berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُوُفِّيَ فِي بَيْتِي، وَفِي يَوْمِي، وَبَيْنَ سَحْرِي وَنَحْرِي، وَأَنَّ اللَّهَ جَمَعَ بَيْنَ رِيقِي وَرِيقِهِ عِنْدَ مَوْتِهِ: دَخَلَ عَلَيَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَبِيَدِهِ السِّوَاكُ، وَأَنَا مُسْنِدَةٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ، فَقُلْتُ: آخُذُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ: «أَنْ نَعَمْ» فَتَنَاوَلْتُهُ، فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ، وَقُلْتُ: أُلَيِّنُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ: «أَنْ نَعَمْ» فَلَيَّنْتُهُ، فَأَمَرَّهُ،
‘Tatkala Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, beliau sedang berada di dalam rumahku, pada hari giliranku, di dalam pelukanku, aku medekap beliau dengan dada dan leherku, dan di mulut beliau sungguh demi Allah telah bercampur air liurku bersama air liur beliau..
Ketika saudaraku Abdurrahman masuk ke rumahku, dan di tangannya terselip sebatang kayu siwak, dan aku sedang menyandarkan tubuh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ke dadaku, aku melihat beliau memandangi kayu siwak yang ada di tangan Abdurrahman, sehingga aku paham bahwa beliau menginginkan siwak tersebut.
Segera aku bertanya kepada beliau: ‘aku mintakan siwak itu untukmu..?’
Beliau menaganggukkan kepalanya sebagai pertanda beliau benar-benar menginginkannya. Segera aku mengambilnya dari tangan Abdurrahman dan aku serahkan kepada beliau, namun ternyata kayu siwak itu terasa keras bagi beliau.
Segera aku bertanya kepada beliau: ‘apakah engkau mau aku lunakkan terlebih dahulu kayu siwak itu..?’
Kembali beliau mengangguk setuju. Akupun segera melunakkan kayu siwak itu dengan gigiku, setelah lunak aku berikan kepada beliau dan beliau menggosok giginya dengan kayu siwak itu.
Pada riwayat lain ‘Aisyah berkata :
فَجَمَعَ اللَّهُ بَيْنَ رِيقِي وَرِيقِهِ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنَ الدُّنْيَا، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الآخِرَةِ
‘Dengan demikian, Allah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada hari terakhir beliau di dunia dan hari pertama beliau di alam akhirat..’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Romantis sekali, bidadari dunia menghantar suami tercinta ke pelukan bidadari akhirat dari pangkuannya.
Ya Allah, karuniakan hamba-Mu ini keharmonisan dalam rumah tangga seperti yang Engkau karuniakan kepada Nabi-Mu shollallahu ‘alaihi wa sallam bersama istri beliau tercinta ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha. Amiin
Dan semoga Allah Ta’ala membinasakan orang orang yang membenci ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha.
Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
Agar Bisa Khusyu’ Dalam Sholat
Sebelum sholat, ingatlah kenikmatan yang tiada terhingga yang telah Allah berikan kepada kita, nikmat iman, kesehatan, keluarga, anak istri, tempat tinggal, kebahagiaan, rasa aman, dll
Sekarang kita mau ngucapin syukur kita kepada Allah, hanya menghadap Allah sekitar 5 menit, dan lagi pula kalau kita pandai bersyukur dengan sholat kita, maka Allah akan menambah anugrahNya kepada kita.
Apakah waktu yang sebentar ini lantas kita tetap saja tidak pandai bersyukur..?!
Menghadap Allah mau berterima kasih tapi pikirannya kemana-mana..?!
Semoga memudahkan kita khusyuk, karena amalan yang pertama Allah nilai dari kita pada hari kiamat adalah sholat.
Jangan sampai kita pandai dalam amalan yang lain sementara sholat kita berantakan..
Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى
Bagaimana Bacaan Shalawat Yang Benar..?
Pertanyaan:
Bagaimanakah cara bersholawat kepada Nabi Muhammad yang benar sehingga kita memperoleh pahala dan keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan di atas?
Jawab:
Bismillah. Cara bersholawat kepada Nabi Muhammad yang benar dan sesuai dengan tuntunannya adalah dengan mengucapkan sholawat ibrahimiyyah, yaitu sebagaimana berikut ini:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allohumma Sholli ‘Ala Muhammadin Kamaa Shollaita ‘Ala aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid. Allohumma Baarik ‘Ala Muhammad Kamaa Baaromta ‘Ala aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid.
Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:
Dari Ka’b bin Ujrah Radhiyallaahu ‘anhu. Ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar menuju kami lalu kami pun berkata, ‘Kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?’ Beliau menjawab, “Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allohumma Sholli ‘Ala Muhammadin Kamaa Shollaita ‘Ala aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid. Allohumma Baarik ‘Ala Muhammad Kamaa Baaromta ‘Ala aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid.
(Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 3370, dan imam Muslim no. 406).
Atau bisa juga dengan bacaan sholawat yang lebih pendek, yaitu:
صلى الله عليه وسلم.
(shallallahu ‘alaihi wasallam), atau dengan membaca ( Allahumma Sholli wa Sallim ‘Ala Nabiyyina Muhammad) atau dengan lafazh lain yang maknanya seperti itu.
Demikianlah beberapa keistimewaan sholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan bacaan sholawat yang benar sebagaimana dijelaskan di dalam hadits-hadits yang shohih.
Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله
Tetaplah Menjaga Akhlak Saat Berbeda Pendapat…
Ingatlah bahwa orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya [HR. Abu Dawud: 4682]
====
Syeikh Binbaz -rohimahulloh- mengatakan:
“Apabila dalil telah tegak dalam suatu masalah, maka wajib hukumnya mengambil pendapat yang sesuai dengan dalil tersebut, baik dalil dari Kitabullah ataupun dari sunah Rasul -shallallahu ‘alaihi wasallam-, meskipun pendapat itu menyelisihi imam besar, bahkan walaupun menyelisihi sebagian sahabat.
Karena Allah mengatakan (yang artinya): “Jika kalian berselisih dalam suatu masalah, maka kembalikanlah masalah itu kepada Allah dan RasulNya”, Allah -subhanah- TIDAK mengatakan: “kembalikanlah kepada orang ini dan orang itu.”
Akan tetapi, sudah seharusnya ada langkah memastikan kabar yang sampai kepada kita, serta menghormati dan menjaga adab terhadap para ulama.
Jika seseorang menemukan pendapat yang lemah dari salah satu imam, atau ulama, atau ahli hadits yang tepercaya; (harusnya dia maklum bahwa) hal itu tidak menurunkan kedudukan mereka.
Harusnya dia menghormati para ulama, menjaga adab terhadap mereka dan mengatakan perkataan yang baik, serta tidak mencela dan merendahkan mereka.
Tapi harusnya dia menjelaskan yang benar beserta dalilnya, sekaligus mendoakan kebaikan untuk ulama tersebut, juga mendoakan agar dirahmati dan diampuni.
Beginilah harusnya akhlak seorang ulama terhadap ulama lainnya, (yaitu) menghormati para ulama karena kedudukan mereka, dan mengerti akan keagungan, keutamaan, dan kemuliaan mereka.”
[Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 26/305].
Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Gini Lo Sikap Orang Yang Berilmu…
Gini lo sikap orang yang berilmu, berbeda dengan sikap orang yang fanatik buta.
Imam Yunus As Shadafy menyatakan: aku tiada pernah menyaksikan orang yang lebih pandai dibanding As Syafii. Suatu hari aku berdiskusi dengannya dalam suatu masalah, selanjutnya kami berpisah tanpa ada kata sepakat. Dan di kemudian hari, aku berjumpa lagi dengan beliau, segera beliau menggandeng tanganku, lalu beliau berkata:
يا أبا موسى، ألا يستقيم أن نكون إخوانا وإن لم نتفق في مسألة
Wahai Abu Musa, bukankah indah bila kita tetap bersaudara (menjaga persaudaraan), walaupun kita tidak bersepakat (berbeda pendapat) pada suatu masalah ? (Tarikh Ibnu ‘Asaakir 14/403 & Siyar A’alam An Nubala’ 10/16)
Betapa indahnya andai kita dapat bersikap seperti Imam Syafii dengan Imam Yunus As Shadafy di atas. Betapa banyak dari kita yang gara gara bebeda pendapat, dalam masalah sepele, semisal menggerakkan jari ketika tasyahhud atau tidak, atau masalah sekolah formal atau sistem mulazamah, dan lainnya – ternyata sebagian kita telah kalang kabut mengobral tuduhan dan bersiap diri mengusir saudaranya dari “ahlissunnah wa al jama’ah”.
Anda tidak percaya? tunggu saja, kemungkinan akan ada yang nongol di kolom komentar (semoga saja tidak ada yang nongol)
Ya Allah, satukanlah ummat Islam di atas sunnah, dan jauhkanlah dari segala bentuk fitnah (kekacauan berpikir dan sikap) dan perpecahan. Amiin.
Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى


