All posts by BBG Al Ilmu

Jangan…

Dari Abu Dzar (semoga Allah meridhainya) – beliau berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

*لا تحقرن من المعروف شيئاً ، و لو أن تلقى أخاك بوجه طلق*

“Janganlah anda menganggap remeh kebaikan sedikitpun, walaupun menjumpai saudara anda dengan wajah yang berseri-seri” [HR Muslim no. 2626].

Dalam hadits ini terdapat larangan menyepelekan kebaikan, walaupun terasa sepele tetapi jika itu sebuah kebaikan maka bersemangatlah tuk melakukannya dengan selalu mengharapkan keridhaan Allah ta’ala…

● Meminjamkan pena tuk kawan menulis…

● Memegang tangan salah satu kita supaya tidak terpeleset atau terjatuh…

● Mengabarkan sesuatu yang dibutuhkan saudara kita walaupun terasa sepele…

● Sedekah tidak harus dengan harta…

● Senyuman dan perkataan yang baik itu juga sedekah…

Mari berbagi kebaikan…

Semoga Allah merahmati kita…

Abu Ya’la Kurnaedi,  حفظه الله تعالى

Nasehat Bagi Seseorang Yang Ditinggal Wafat Suami/Istri/Anak

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini

DO’A MEMOHON KERIDHOAN ATAS TAKDIR ALLAH

jangan lupa salah satu adab berdo’a adalah memulainya dengan :

● memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh) : yaa Hayyu yaa Qoyyuum..

● lalu membaca sholawat (contoh) : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

● lalu mulailah berdo’a

Rahasia Besar Seorang Ayah Yang Tidak Diketahui Seorang Anak

Mungkin ibuku lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku..?!

Semasa kecil, ibuku lah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es..!”

Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis di depan ibu.

Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh..!”

Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, karena beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku..?!

Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya.

Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayah lah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, Dimana, dan sedang apa diluar sana..?”

Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayah lah yang berkata: “Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama..”

Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, ‘kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam..’

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayah lah yang mengabari sanak saudara, ”Anakku sekarang sukses. Alhamdulillah..”

Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga.

Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan do’anya ibu, cuma bedanya ayah simpan do’a itu dalam hatinya.

Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya.

Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia.

Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis..?

Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdo’a, “Ya Allah Robbi, tugasku telah selesai dengan baik dengan pertolongan-Mu. Kami mohon kepada-Mu, bahagiakan lah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya..”

Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah :
 Anakku.. Memang ayah tidak mengandungmu,tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat di namamu..

Memang ayah tak melahirkanmu.. Memang ayah tak menyusuimu.. tapi dari keringatnya lah setiap tetesan yang menjadi air susumu..

Nak.. Ayah memang tak menjagai-mu setiap saat.. tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya

Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman..

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda.. karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu..

Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..

Bunda hanya ingin kau tahu Nak.. bahwa… Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..
.
Anakku.. Ketahui lah bahwa pada diri ayahmu lah juga terdapat surga bagimu.. Maka hormati dan sayangi ayahmu..

Ditulis oleh,
Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, حفظه الله تعالى

Apa Beda Langit Dan Bumi..?

Alaah, ya jelas saja jauh beda dan jelas perbedaannya. Langit di atas, bumi di bawah, langit nun jauh di sana, sedang bumi di bawah kaki anda.

Laah, kalau itu mah semua orang tahu atuh mas!

Namun tahukah saudara bahwa betapa banyak keindahan dan kenikmatan yang ada di langit, namun demikian tidak pernah ada orang yang berebut atau saling cemburu dalam urusan keindahan dan kenikmatan yang ada di sana, apalagi sampai jelek menjelekkan, atau gugat-gugatan, atau sikut-sikutan

Berbeda dengan bumi, sebanyak apapaun keindahan dan kenikmatan yang ada di bumi, perebutan, kecemburuan dan hasad terus saja terjadi antara dua orang aatau bahkan lebih. Alasannya, hanya satu memperebutkan kenikmatan atau keindahan yang ada di bumi.

Tahukah anda, mengapa tiada seorangpun yang berebut atau hasad gara gara kenikmatan dan keindahan yang ada di langit ?

Jawabannya sederhana: Karena anda tiada pernah merasa kawatir atau terancam tidak mendapat bagian dari keindahan atau kenikmatan tersebut. Sebanyak apapun orang memandangi dan menikmati keindahan dan kenikmatan langit, maka anda tidak kawatir akan kehabisan atau terhalangi dari mendapatkan hal yang serupa.

Berbeda dengan kenikmatan dan keindahan yang ada di bumi, semakin banyak orang mengambil dan menikmati, maka rasa kawatir dan takut semakin besar dalam diri anda; kalau kalau kehabisan dan akhirnya ndak kebagian. akhirnya, mulailah upaya memperebutkan bahkan menguasai agar tidak seorangpun turut mendapatkan kenikmatan yang ada di bumi tersebut.

Padahal, kalau anda orang yang beriman, seharusnya anda yakin bahwa rejeki anda tiada mungkin direnggut atau dikurangi oleh orang lain. Sebagaimana andapun juga tidak akan kuasa merebut rejeki orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنه لا تموت نفس حتى تستكمل رزقها وإن أبطأ عنها فاتقوا الله وأجملوا في الطلب ولا يحملنكم استبطاء الرزق أن تأخذوه بمعصية الله فإن الله لا ينال ما عنده إلا بطاعته

“Sesungguhnya tiada seorang jiwapun yang meninggal dunia hingga ia benar benar telah mengenyam seluruh jatah rejekinya, walaupun ia bermalas malasan menjemput rejekinya itu. Karenanya tegakkanlah ketaqwaan kepada Allah, dan tempuhlah jalan-jalan yang baik dalam mencari rejeki. Jangan sampai karena kalian merasa rejekimu telat datangnya, kalian menjemputnya dengan cara bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya karunia Allah tidaklah dapat digapai kecuali dengan menegakkan ketaatan kepada-Nya.” (Al Bazzaar dan lainnya)

Dalam riwayat lain dinyatakan:

لو أن ابن آدم هرب من رزقه كما يهرب من الموت لأدركه رزقه كما يدركه الموت

“Andai anak keturunan Adam hendak melarikan dirinya dari jatah rejekinya, sebagaimana ia berusaha melarikan diri dari kematian, niscaya rejekinya itu akan menghampirinya sebagaimana kematian menghampirinya.” (Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir)

Adanya kekawatiran semacam ini bukan hanya menimpa orang awam, orang yang berilmu juga bisa saja dijangkiti kekawatiran serupa, kawatir kehilangan murid, kawatir kehilangan peluang usaha, kawatir kedudukan sosialnya turun atau redup, dan seterusnya. Hanya orang-orang yang mendapat pertolongan dan bimbingan Allah saja yang dapat selamat dari penyakit hasad dan iri karena kawatir jatah rejekinya direbut orang.

Ya Allah lindungi diri ini dari penyakit hasad, iri dan kekawatiran akan jatah rejeki-Mu. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Agar Mata Hati Terbuka

Agar mata hati terbuka, sehingga kita bisa melihat hal ihwal dunia dengan lebih jernih.. dan berkata-kata dengan mutiara hikmah.

======

Imam Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan:

“Siapa yang ingin Allah bukakan hatinya, dan Allah berikan hikmah kepadanya; maka hendaklah dia berkholwat (menyendiri dengan ibadah), mengurangi makan, dan tidak bergaul dengan orang-orang yang bodoh dan sebagian ulama yang tidak memiliki sikap obyektif dan tidak memiliki adab”

[Manaqib Imam Syafi’i lil Baihaqi 2/172].

———

Ibarat pandangan seseorang kepada sesuatu yang sangat besar, semakin dia jauh dari benda itu, maka semakin menyeluruh pula pandangan dia terhadap sesuatu tersebut.

Begitu pula pandangan kita terhadap dunia, semakin kita menjauh dari dunia, kita akan dapat memandang hakekat dunia itu dengan lebih menyeluruh.

Apalagi bila Allah memberikan kita setitik ilmu-Nya karena kedekatan kita dengan-Nya, tentu akan semakin jelas pandangan mata hati kita terhadap dunia ini dan semakin lengkap pengetahuan kita tentangnya, wallohu a’lam.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

KAJIAN BERBAHASA INDONESIA DI MASJID NABAWI MADINAH — MUSIM UMRAH 1438 H / 2016 M

Pemateri: Ustâdz Abdullâh Roy, MA,  حفظه الله
Tempat: Pintu 19 (Badr)
Waktu: Setiap hari setelah Maghrib-Isya
(Mulai In-syaa Allah Hari Senin 21 Safar 1438 H/ 21 November 2016 M)

Materi: Penjelasan Kitab:

“الدروس المهمة لعامة الأمة”

(Pelajaran-Pelajaran Penting Untuk Segenap Ummat) karya Syeikh Abdul Azîz bin Abdullâh bin Bâz rahimahullâh.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Barangsiapa mendatangi masjidku (Masjid Nabawi) ini, tidak mendatanginya kecuali karena untuk mempelajari sebuah kebaikan atau mengajarkannya maka kedudukan dia seperti orang yang berperang di jalan Allâh, dan barangsiapa yang datang untuk selain itu maka dia seperti orang yang melihat barang milik orang lain (sesuatu yang bukan miliknya)” (HR.Ibnu Mâjah, dishâhihkan Syaikh al- Albâni rahimahullâh)

Doktor Ilmu Agama, TK Urusan Dunia…

Betapa banyak doktor bahkan profesor dalam ilmu agama, namun dalam urusan dunia TK kecil, contoh sederhana dalam urusan cukur rambut, pak Doktor atau Profesor dalam ilmu agama biasanya pergi ke tukang cukur yang bisa jadi sekolah saja tidak, baca Al Fatihah saja ketatal ketitil. Tapi ya apa boleh daya, ternyata dia ahli cukur rambut, atau tambal ban atau ahli bangunan atau tukang kayu, ya pak Doktor dan Profesor pun harus sadar, percayakan pekerjaannya kepada ahli dunia walau ndak berilmu agama sedikitpun.

Jadi kalau jadi Doktor atau Profesor dalam ilmu agama jangan petentang petenteng dalam urusan dunia, belajarlah percaya kepada ahlinya, walau dia ndak sekolah atau bahkan ndak pernah ngaji.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة

Bila suatu urusan dipercayakan kepada orang yang bukan ahlinya maka nantikan saja datangnya kiamat (kehancuran). (Muttafaqun ‘alaih)

Ya sebaliknya juga demikian, jadi jangan saling lancang dan curiga, namun belajar saling percaya dan saling bersinergi.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Profesor Dunia, TK Urusan Agama…

Walau profesor dalam ilmu dunia, namun kalau dalam urusan agama TK, ya bisa saja berbuat seperti anak Tk. Tuh, ada yang sampai jadi pengikut group penggandaan uang. Profesor yang harusnya berpikir kritis malah kolot bahkan ngajak masyarakat bersikap kolot, taqlid buta, mau maunya ditipu oleh dukun, ikut ikutan bukan malah menjadi pelopor kemajuan berpikir cerdas, bersikap proporsional, logis, dan ilmiyah. Masak uang digandakan, la kalau no serinya sama kan tidak sah, kalau no serinya tidak sama ya bukan menggandakan, itu nyetak sendiri namanya.

Urusan benar atau sesat memang erat kaitannya dengan hidayah bukan pendidikan formal atau kecerdasan atau tua dan muda. Karena ya mohonlah petunjuk dan bimbingan agar bisa istiqomah di jalan sunnah.

Ya itulah contoh profesor yang sudah kebelet nafsu, harusnya kritis malah fanatis, harusnya ilmiyah malah jahiliyah, harusnya jadi panutan malah jadi pecundang.

Urusan benar atau sesat memang erat kaitannya dengan hidayah bukan pendidikan formal atau kecerdasan atau tua dan muda. Karenanya mohonlah petunjuk dan bimbingan agar bisa istiqomah di jalan sunnah.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Ngajinya Saja Paling Nyunnah, Pasti Masuk Jannah…

Sobat! Iblis tuh sudah tuwuk alias kenyang dengan pengalaman dalam hal goda menggoda manusia, dari para nabi hingga orang paling bodoh semua penah digoda. Dari zaman kuno sampai zaman kini, Iblis adalah inisiator, inovator dan motifator kesesatan, jadi jangan pernah anda merasa lebih pengalaman dibanding Iblis, sampai sampai anda merasa aman alias pasti selamat dari perangkap Iblis.

Bukan hanya kakek anda yang pernah di goda, bahkan sampaipun nabi Adam dan Ibu Hawwa alaihimassalam sudah digoda oleh Iblis.

Karena itu, tiada cara untuk selamat dari perangkap setan kecuali dengan memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, hanya Dia yang kuasa menyelamatkan dan melindungi kita dari perangkap -perangkap Iblis. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Fusshilat 36)

Ya, dalam surat ini Allah hanya menyebutkan satu cara untuk bisa selamat dari godaan setan, yaitu berlindung kepada Allah Ta’ala.

Dan cermati kembali ayat di atas, ternyata perintah berlindung kepada Allah Ta’ala dari tipu daya setan itu ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu beliau paling berilmu, bertaqwa, perangainya paling baik dan … dan … . Bagaimana halnya dengan anda, yang ilmunya lemah, akhlaqnya wallahu Ta’ala a’alam, dan nafsunya juga luar biasa.

Kalau selama ini anda sudah sadar akan bahaya godaan Iblis dan balatentaranya dari arah bawah, kekafiran, kemunafikan, dan kemaksiatan, sudahkah anda sadar bahwa di arah sebaliknya Iblis juga telah memasang perangkapnya ? sikap ekstrim dalam beribadah, sikap, sombong, dan merasa aman seakan surga sudah berada di genggaman, adalah bagian dari perangkap Iblis.

Bisa jadi tanpa anda sadari kini anda telah dijangkiti perasaan: kalau sudah ngaji sunnah, apalagi ngajinya kepada ustadz paling nyunnah, pasti selamat dari kekufuran besar dan kecil, bid’ah besar dan kecil, dosa besar dan kecil, merasa paling baik, paling sempurna, pasti khusnul khatimah, dan paling cepat masuk surga. Adapun yang ngaji kepada ustadz ustadz lain tuh meragukan, ustadznya saja mumayyi’, alias mlenyek, plin plan, meragukan.

Sobat! Sadarilah bahwa perasaan semacam ini sejatinya adalah jalan pintas masuk neraka, bukan surga.

ابن أبي مليكة ، قال : « لقد أتى علي برهة من الدهر ، وما أراني أدرك قوما يقول أحدهم : إني مؤمن مستكمل الإيمان ، ثم ما رضي حتى قال : إن على إيماني جبريل وميكائيل ، ثم ما زال بهم الشيطان حتى قال أحدهم : إنه مؤمن ، وإن نكح أمه وأخته وابنته ، ولقد أدركت كذا وكذا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ما مات رجل منهم إلا وهو يخشى على نفسه النفاق »

Ibnu Abi Mulaikah menyatakan: sungguh telah tiba satu masa, aku sama sekali tidak pernah menduga akan menjumpai orang-orang yang beranggapan bahwa dirinya adalah seorang mukmin yang sempurna imannya, lalu ia belum puasa dengan angapannya tersebut hingga kemudian ia beranggapan bahwa imannya dijaga oleh Malaikat Jibril dan Mikail (imannya sekuat iman Malaikat Jibril dan Mikail) sehinga tiada mungkin berubah. Dan tidak hanya berhenti di situ, setan terus menggodanya hingga ada dari mereka yang beranggapan bahwa dirinya tetap saja sempurna keimanannya, walaupun ia telah terjerumus dalam dosa besar; menikahi ibu kandungnya, saudari kandungnya, dan putrinya sendiri. Sungguh aku pernah menjumpai sekian orang dari sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, tiada seorangpun dari mereka yang meninggal dunia kecuali dalam kondisi mengkawatirkan dirinya dijangkiti oleh kemunafikan. (Bukhari & Syarah Ushul I’itiqaad Ahlissunnah oleh Al Lilika’i dan ini adalah teks riwayat beliau)

Sobat! Ketahuilah bahwa Iblis tuh kalau ndak bisa memasukkan anda ke neraka melalui zina, merampok dan yang serupa, ia belum putus asa, ia berharap dapat menjungkalkan anda ke neraka lewat jurang kesombongan sebagaimana dahulu Iblis sendiri terjerumus ke dalam neraka karena kesombongan, yang menyebabkanya gengsi untuk hormat kepada nabi Adam ‘alaihissalam.

Ilmu anda tuh ndak cukup untuk menyelamatkan diri anda dari godaan Iblis, karena itu tumbuhkan dalam diri anda rasa kawatir dan di saat yang sama tumbuhkan pula rasa harap kepada Allah Ta’ala agar berkenan melindungi iman anda dengan memperbanyak doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku/jiwaku di atas agama-Mu. (Ahmad dan lainnya)

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى