All posts by BBG Al Ilmu

Kaidah Yang Perlu Difahami…

Semua kita mengetahui bahwa perkara yang haram adalah dosa yang harus dijauhi.
Namun..
Ada sebuah kaidah yang perlu diketahui.
Yaitu terkadang yang haram menjadi boleh bila keadaannya darurat.
Seperti menghindari mudlarat yang lebih besar.
Atau ada mashlahat yang lebih besar.

Dusta contohnya..
Nabi membolehkannya dalam tiga keadaan: mendamaikan dua muslim yang bertengkar, atau meridlakan istri atau dalam perang.
Alasannya karena mashlahatnya jauh lebih besar dari mudlarat dusta.

Gibah misalnya..
Menjadi boleh dalam enam keadaan, diantaranya untuk memperingatkan orang lain dari bahayanya.
Alasannya karena mashlahatnya jauh lebih besar dari mudlaratnya.

Nah, bila ada yang berdusta untuk mendamaikan dua orang yang bertengkar, apakah boleh kita katakan bahwa dia menghalalkan dusta atau mendukungnya?
Tentu tidak..

Sama halnya ketika ada sebagian ustadz yang membolehkan ikut pemilu karena menghindari mudlarat yang lebih besar..
Karena mengikuti kibar ulama seperti syaikh bin baz, syaikh al bani dll.

Apakah boleh kita katakan bahwa mereka mendukung demokrasi?
Tentu tidak..

Namun terkadang..
Kita dapati sebagian penuntut ilmu menjadi sempit dadanya, hanya karena tidak sesuai dengan pendapatnya..
Lalu ia menuduh para ustadz tersebut mendukung demokrasi yang memang bukan dari islam.

Padahal hendaknya kita memilah antara perkara yang sudah menjadi ijma’ dan ada nashnya..
Dengan masalah ijtihadiyah yang masih khilafiyah yang tidak ada nashnya.

Allahul Musta’an..

Badru Salam, حفظه الله تعالى

da201215

Dahsyatnya Pengaruh Bacaan Al Qur’an Untuk Rumah Kita…

Abu Huroiroh -rodhiallohu ‘anhu- mengatakan:

“Sungguh rumah akan benar-benar dilapangkan untuk penghuninya, dikunjungi oleh para malaikat, ditinggalkan oleh para setan, dan menjadi banyak kebaikannya, bila dibacakan Al Qur’an di dalamnya.

Sebaliknya, rumah akan benar-benar disempitkan untuk penghuninya, ditinggalkan oleh para malaikat, dikunjungi oleh para setan, dan menjadi sedikit kebaikannya, bila tidak dibacakan Al Qur’an di dalamnya”

[HR. Addarimy dalam Kitab Sunannya: 3352, shohih]

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

da250914

Allah Melihat Kepada Hati Dan Amal…

Surat Yusuf berisi tentang pujian terhadap Akhlak Nabi Yusuf alaihissalam.

Misalnya pujian bahwa beliau adalah
* seorang yang alim,
* seorang yang hakiim,
* seorang yang berbuat baik kepada yang lain,
* seorang yang sangat jujur,
* seorang penyabar,
* seorang yang bertaqwa… dst.

Ternyata tidak ada pujian dari Allah terhadap ketampanannya… Itu menunjukkan bahwa ketampanan tidaklah berharga di sisi Allah.

Untuk apa sebuah ketampanan, bila buruk tingkah laku orangnya?!

Hal ini selaras dengan sabda Nabi -shollalohu alaihi wasallam-:

إنَّ اللَّهَ لا ينظرُ إلى صورِكُم وأموالِكُم ، ولَكِن ينظرُ إلى قلوبِكُم وأعمالِكُم

“Sungguh Allah tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, tapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian.” [HR. Muslim]

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

da140814

Ketika Kita Sehat…

Ketika sehat..
lalu terkena pilek bagaimana rasanya..
pusing dan tidak enak..
tapi..
bila terbiasa sakit..
kita merasa sehat padahal sakit..

Demikian pula hati..
ketika sehat ia merasakan pedihnya maksiat..
ia merasa gelisah dengan penyakit hatinya..
namun kita sering tak merasakan penyakit hati..
karena kita sudah terbiasa dengan penyakit tersebut..

Allahul musta’an…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

da241213

Hindari Debat Kusir…(penghematan energi)

Hendaknya jauhi diskusi apalagi perdebatan di dunia maya (apalagi FB), karena banyak lawan/kawan diskusi kita tidak kita ketahui statusnya.

Bisa jadi yang sedang diskusi dengan kita ternyata anak kecil, atau yang tidak bependidikan sama sekali, preman yang bermulut kotor, bencong, dll.

Akhirnya diskusi tidak terarah, dan hanya menghabiskan energi.

Energi kita sebaiknya digunakan untuk yang lebih bermanfaat daripada melayani cacian dan makian. Kita doakan saja semoga para pencaci diampuni Allah dan mendapatkan hidayah sehingga hati kitapun lebih lega dan lebih siap menghadapi cacian dan makian tersebut.

Apalagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjamin istana di surga bagi yang meninggalkan perdebatan.

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Nabi Domokrasi Terbukti Palsu…

Tuh, Ameriko rusuh, hayo, gimana coba?, masih mau dikibuli atau dikadali pakai doktrin domokrasi, atau kebebasan mengutarakan pendapat atau memilih? buktinya, Amerikono rusuh, padahal mereka itu bak nabinya demokrasi, bahkan selama ini yang selalu memaksakan domokrasi kepada negara negara Islam.

Eeeh, tahunya, dusta,.

Sudah lah, hayo kembali saja ke Islam, pada masuk Islam, dan pada mempelajari lagi agama Islam, lalu mengamalkannya dalam setiap sendi kehidupan, percaya deeh, aman dan tentram.

Simak janji Allah Ta’ala berikut:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur 55)

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Dunia Atau Surga .. Pilihan Ada di Tanganmu

Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

“Siapa yang dunia menjadi ambisinya; Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefakiran ada di depan matanya, dan dunia tidaklah datang kepada dia kecuali yang Allah tulis untuknya.

Dan siapa yang akherat menjadi ambisinya; Allah akan sederhanakan urusannya, Allah jadikan kekayaan ada di dalam jiwanya, dan dunia -dengan terpaksa- akan tetap datang kepadanya.”

[HR. Attirmidzi: 2465 dan Ibnu Majah: 4105, dishahihkan oleh Al-Albani]

Yahya bin Mu’adz Arrazi -rohimahulloh- dahulu mengatakan:

“Meninggalkan dunia itu berat, tapi meninggalkan surga lebih berat, dan maharnya surga adalah meninggalkan dunia.”

[Tanbihul Ghofilin: 1/82].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Indonesia Pasti Berjaya Bila Semua Umat Islam Ngaji Tauhid… aaah masaaaak ? Salah kali…

Banyak orang yang ragu, bahkan seakan tidak lagi percaya bahwa solusi carut marut negri kita ialah dengan cara kembali mengaji dan mendalami agama kita, lalu mengamalkan dan mendakwahkannya.

Sampai-sampai banyak orang yang berkata: La kalau kita tidak ikut nyebur ke dunia politik, atau ikut memperebutkan kursi yang ada maka orang-orang kafirlah yang akan menguasai negri kita. Gitu to, gumam anda? La sekarang sudah jungkir balik saja kursi berhasil dikuasai oleh orang kafir, dan cecunguknya.

Betul sobat,
gara-gara anda jungkir balik rebutan kursi akhirnya anda lupa bahwa kursi itu sebenarnya milik Allah Ta’ala. Anda kira kursi itu milik rakyat, sampai-sampai anda terjerambab dalam kebutaan idiologi sesat: “suara rakyat adalah suara Tuhan”

Karena anda lupa pemilik kursi yang sebenarnya, akhirnya anda hanya berbekalkan otot, sedangkan otot anda tak sekuat otot orang-orang kafir, ya pantes saja anda kalah.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran 26)

Barang kali anda berkata: Waah, tambah ngawur saja nih, la kalau kita hanya ngaji dan ngaji, lalu beribadah dan berdoa saja, apa ya mungkin Islam dapat berkuasa ? Atau malah sebaliknya, Islam malah tersingkirkan ?

Sobat!
Inilah ujian iman yang sebenarnya. Barang kali ini salah satu hikmah yang dapat kita petik dari membaca surat Al Kahfi setiap hari Jum’at. Dalam surat ini dikisahkan bagaimana para pemuda Ashabul Kahfi, yang telah kehabisan akal dan cara untuk bisa mengislamkan ummatnya, hingga akhirnya mereka bersembunyi di dalam suatu gua, dan kemudian mereka tertidur selama 309 tahun.

Dan subhanallah, tatkala mereka terjaga dari tidurnya ternyata kaumnya telah berubah 100 %, mereka semua telah beriman.

Allah Ta’ala juga menceritakan kisah kaumnya Nabi Yunus ‘alaihissalam. Tatkala Nabi Yunus telah merasa kehabisan cara dan asa untuk mengislamkan kaumnya, beliau pergi agar tidak ikut terkena azab, namun subhanallah setelah kepergian beliau, ternyata kaumnya mendapat hidayah dan beriman, sedangkan beliau harus menerima takdir, ditelan ikan besar hingga beberapa saat.

Bagaimana sobat, masih ragu bahwa pemilik kursi yang sebenarnya adalah Allah ? mintalah kursi tersebut kepada pemiliknya yang sebenarnya. Bagaimana ya ? tentu dengan menegakkan iman anda, ibadah anda, rasa cinta anda, rasa takut anda dan pengagungan anda hanya kepada-Nya.

Percayalah, bila jiwa jiwa ummat Islam Indonesia telah suci dari noda noda syirik dan bid’ah, tiada akan pernah telat atau tertunda, kursi segera menjadi milik ummat Islam. Demikianlah janji Allah Ta’ala:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur 55)

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sesama Bis Kota Dilarang Saling Mendahului…

Menipu itu dosa, sedangkan lupa itu dimaafkan, akan tetapi betapa banyak penipu yang berkedok lupa. Akankah kedoknya menjadikan ia terbebas dari dosa ?

Ngemplang hutang itu dosa, sedang menunda pembayaran karena belum mampu itu dimaafkan, namun betapa banyak pengemplang hutang berkedok belum mampu, akankah kedoknya itu membebaskannya dari dosa ?

Taqlid tuh dianjurkan bagi orang yang tidak berilmu, sedangkan fanatik itu terlarang dan biang onar. Betapa banyak orang fanatik berkedok sedang bertaqlid, akankah kedoknya itu dapat membebaskan dirinya dari celaan dan dosa ?

Tahukah Anda bedanya antara taqlid dan fanatik ?
Orang taqlid tuh, tahu diri, kalau dirinya bodoh, sehingga menghargai pilihan orang lain,
sedangkan orang fanatik tuh hobinya hajar sana sini, bak jagoan turun gunung, seakan pintu surga tuh hanya miliknya sendiri.

Menjadi sopir bis kita tuh biasa saja, sedangkan mengendarai mobil balap di sikuit balapan tuh butuh keahlian dan kehebatan, betapa banyak pengemudi bis kota yang berperilaku seperti pembalap dengan mobil balapnya di sikuit balapan, akankah statusnya sebagai sopir bis kota membebaskannya dari kesalahan?.
Semoga sesama bis kota tidak saling mendahului apalagi balap balapan.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Merindukan Pemimpin Umat…

Umat Islam sekarang ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Umat Islam membutuhkan pemimpin-pemimpin yang kuat imannya, ahli ibadah, jujur, amanat, berakhlak mulia, cerdas, ikhlas, kapabel dan sayang kepada umat bahkan kepada seluruh manusia dan hewan sekalipun. Alhamdulillah, kita tidak kekurangan contoh pemimpin teladan. Para Rasul dan Nabi Alaihimush Shalatu Wassalam adalah teladan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah contoh teladan terbaik. Setelah para Rasul dan Nabi, Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhum dan masih banyak lagi pemimpin teladan dari generasi sahabat dan sesudah mereka. Kita mempelajari sirah mereka untuk kita contoh dan kita teladani. Dalam kesempatan ini penulis memuat salah satu contoh pemimpin umat yaitu Abdullah bin Qais Al Jasi rahimahullah.

Di masa kekhalifahan Utsman radhiallahu anhu, Gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu anhu mengangkat Abdullah bin Qais Al Jasi sebagai panglima angkatan laut yang pertama. Kaum muslimin belum pernah memiliki armada angkatan laut selama ini. Abdullah bin Qais sering berdoa memohon kepada Allah agar melindungi dan menyelamatkan tentaranya, agar tidak ada satupun di antara tentaranya yang tenggelam di laut. Rupanya Abdullah bin Qais khawatir kalau sampai terjadi prajuritnya yang tenggelam karena badai ombak di lautan akan mengakibatkan trauma bagi prajuritnya untuk naik kapal. Allah kabulkan doanya, doa dari seorang pemimpin yang adil, sayang kepada prajuritnya. Abdullah bin Qais telah mengikuti lima puluh pertempuran laut baik di musim panas maupun musim dingin. Selama itu tidak seorang pun dari prajuritnya yang tenggelam di laut.

Beliau lebih mengutamakan mengorbankan dirinya daripada bawahannya. Suatu hari beliau menaiki perahu ditemani seorang awak perahu pergi ke Marfa (pelabuhan) di daerah kekuasaan Romawi untuk memata-matai tentara musuh. Padahal sudah sewajarnya bagi seorang pemimpin untuk mengutus anak buahnya menjalankan tugas ini.

Awak perahu diperintahkannya untuk menjaga perahu, kemudian Abdullah bin Qais pergi sendiri. Abdullah bin Qais yang menyamar sebagai pedagang melihat kerumunan orang-orang miskin dari orang-orang kafir yang mendekatinya. Mereka adalah pengemis, Abdullah mengetahui dari pakaian mereka yang compang camping tapi mereka tidak meminta secara langsung. Mereka masih menjaga kehormatan diri mereka. Beliau terenyuh hatinya melihat orang-orang yang miskin dan dalam kesulitan ekonomi, lalu memberi uang yang banyak untuk setiap pengemis. Ia berharap uang tersebut dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk sebulan atau lebih. Orang-orang miskin itu sangat gembira dan langsung pulang ke daerah asal mereka semuanya untuk berkumpul dengan keluarga mereka.

Masya Allah! Alangkah lembut hati panglima perang ini. Apabila kepada orang kafir saja ia menolong dan membantu kesulitan mereka apalagi terhadap saudara sesama muslim. Islam mengajarkan kaum muslimin agar bersedekah kepada yang meminta secara langsung dan kepada orang yang membutuhkan bantuan tapi tidak menampakkan kesusahannya karena menjaga kehormatan dirinya.

Allah berfirman,

“…dan berilah makan kepada orang yang menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta dan kepada orang yang meminta…” (QS. Al Hajj 36)

Di antara pengemis ada seorang perempuan yang pulang ke daerahnya dan melaporkan apa yang dilihatnya di Marfa kepada tentara Romawi.

Pengemis perempuan: “Apakah kalian sedang mencari Abdullah bin Qais?”
Tentara Romawi: “Dimana dia?”
Pengemis perempuan: “Di Marfa.”
Tentara Romawi: “Bagaimana anda tahu bahwa dia Abdullah bin Qais!?”
Pengemis perempuan: “Dia seperti pedagang, tapi pemberiannya seperti pemberian seorang Raja. Dari situ aku tahu bahwa dia adalah panglima angkatan laut kaum muslimin Abdullah bin Qais yang sedang kalian cari.”

Astaghfirullah Al Adziim…! Ujian bagi orang beriman, dia telah berbuat baik tapi orang yang dibaikinya itu malah membalasnya dengan keburukan. Pengemis perempuan tadi tidak tahu berterima kasih. Yang penting baginya adalah keuntungan dan kebutuhannya terpenuhi. Dia tidak peduli dan tidak memikirkan untuk setia kepada orang yang telah berjasa kepadanya. Semoga Allah menghindarkan dan menjauhkan diri kita dari sifat khianat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang setia, pandai berterimakasih kepada manusia dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang bersyukur kepada Nya.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu berdzikir kepadaMu, untuk selalu mensyukuri nikmatMu dan untuk selalu beribadah kepadaMu dengan baik.”

Pasukan tentara Romawi segera mengejar ke Marfa dan langsung mengeroyok dan menyerang panglima Abdullah bin Qais. Abdullah bin Qais berusaha melawan mereka tapi musuh yang banyak menyebabkan Abdullah terdesak dan terbunuh. Semoga Allah menjadikannya sebagai syahid dan meninggikan derajatnya di Jannah. Semoga Allah kumpulkan bersama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya, amin.

Awak perahu yang menunggu di pantai segera pulang memberitahukan tentara kaum muslimin. Tentara kaum muslimin segera berangkat ke Marfa, terjadilah pertempuran di sana dan sebagian tentara muslimin  gugur sebagai syuhada insya Allah.

Sufyan bin Auf Al Azdi diangkat menjadi pemimpin baru pengganti Abdullah bin Qais. Pada awal memimpin perang, ia sering marah, berteriak dan memaki prajurit. Budak perempuan Abdullah bin Qais menegur panglima baru, “Sungguh kami kehilangan Abdullah, beliau tidak pernah berkata kasar saat memimpin perang!” Panglima baru bertanya, “Apa yang beliau katakan?”

Budak perempuan: “Berpetualang kemudian datang jalan keluar!”

Panglima baru menerima nasehat budak perempuan Abdullah bin Qais, ia meninggalkan sikap arogansinya kepada bawahannya. Ia selalu memberi semangat kepada prajuritnya dengan ucapan “Berpetualang kemudian datang jalan keluar!” Masya Allah! Seorang pemimpin yang tidak gengsi menerima nasehat dari seorang budak perempuan. Pemimpin-pemimpin yang beriman, bertakwa, merdeka jiwanya, bukan budak dari musuh Islam dan kaum muslimin, amanat serta berakhlak mulia, merekalah yang diharapkan dapat memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan izin Allah.

#####

Semoga dari kisah di atas kita mendapatkan inspirasi dan berusaha untuk memulai dari diri kita sendiri untuk menjadi pemimpin yang baik semampu kita. Jika kita sebagai pemimpin rumah tangga, maka berupayalah untuk menjadi pemimpin yang dicintai seluruh anggota keluarga. Kita berupaya menjadi pemimpin keluarga yang jika pergi meninggalkan rumah dinanti kehadirannya dan jika datang mereka bergembira dan tidak diharapkan kepergiannya, bukan sebaliknya.

Begitu pula pemimpin pemimpin di sekolah, di rumah sakit, di kantor, di lembaga atau yayasan, pemimpin di tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Walikota, Bupati, Gubernur, Menteri maupun Presiden. Hendaknya kita mengingat bahwa jabatan itu amanat dan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Di akhirat, manusia akan berusaha untuk menebus dengan dunia dan seisinya, yang penting agar bisa selamat di akhirat. Tapi hal ini mustahil kita lakukan, yang ada tinggal penyesalan. Maka di dunia inilah kesempatan untuk menebus dosa-dosa kita dengan bertaubat dan mengorbankan harta, waktu, ilmu dan apa yang kita miliki bahkan dengan jiwa kita sekalipun untuk menggapai keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.

Disamping kita berlatih terus untuk menjadi pemimpin yang terbaik di lingkungan kita masing-masing maka kita juga berdoa bermunajat kepada Allah,

“Ya Allah! Jadikan kami merasa aman di tanah air kami. Perbaikilah para pemimpin dan orang-orang yang memegang urusan kami. Jadikan pemimpin kami orang yang takut kepadaMu, bertaqwa kepadaMu, dan senantiasa mengikuti ridhaMu, wahai Rabb alam semesta.”

“Ya Allah! Berilah taufik kepada pemimpin kami terhadap perkara yang Engkau cintai dan ridhai, baik dari perkataan maupun perbuatan. Wahai Rabb yang Maha hidup dan Maha menjaga. Ya Allah! Perbaikilah orang-orang yang ada di sekelilingnya. Wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

“Ya Allah, karunikanlah untuk kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan (karuniakanlah untuk kami) ketaatan kepada-Mu yang dapat mengantarkan kami kepada surga-Mu, serta (karuniakanlah untuk kami) keyakinan hati yang dapat meringankan kami dari berbagai cobaan dunia. Jadikankan kami bisa menikmati dan memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama kami hidup. Dan jadikan semua itu sebagai pewaris bagi kami (tetap ada pada kami sampai kematian). Balaslah sakit hati kami kepada orang-orang yang telah menzalimi kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. (Ya Allah) Janganlah Engkau jadikan musibah kami pada dien kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.”

“Ya Allah, tambahkanlah untuk kami dan jangan kurangkan kami, muliakanlah kami dan jangan hinakan kami, berikanlah kepada kami dan jangan Engkau tahan kami, pilihlah (pemimpin yang baik) untuk kami dan jangan Engkau biarkan kami (dipimpin pemimpin yang zalim), jadikanlah kami ridha dengan apa-apa yang Engkau putuskan dan ridhailah kami.”

(Dinukil dari buku “Keteladanan dan Kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu anhu)

Fariq Gasim Anuz,  حفظه الله تعالى
Posted by Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى