All posts by BBG Al Ilmu

Musibah Yang Menimpa Agama…

Yazid bin Aban ar-Raqasyi rahimahullah berkata: “Suatu saat aku terluput dari sholat berjama’ah. Maka orang yang menyatakan ungkapan turut berduka cita hanya Abu Ishaq al-Bukhari seorang diri.”

Seandainya aku ditinggal mati seorang anak lelaki, niscaya lebih dari sepuluh orang yang akan berta’ziyah kepadaku sekarang ini. Hal itu disebabkan bagi manusia musibah dalam urusan dunia itu lebih besar daripada musibah yang menimpa agama.

(Kitab at-Tahajjud oleh Abdul Haq al-Isybili, hal. 55)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Hidayah Dari Sebuah Warung Kopi…

Dalam suatu majelisnya, Syaikh Utsman al-Khomis ditanya, “Hal apakah yang bisa menjadi sebab datangnya hidayah dan keistiqomahan pada seseorang?” Beliau menjawab, “Sangat banyak hal yang bisa mendatangkan hidayah. Di antaranya beliau bercerita tentang seorang pemuda Libiya yang diberi hadiah buku saku tentang dzikir oleh seorang pemuda dari Arab Saudi”. Kurang lebih, cerita beliau adalah sebagai berikut:

Ada seorang warga Libia, ia bersama ibu dan seorang saudari perempuannya pindah dari Libia untuk menetap di London. Ia mengatakan, di antara kami bertiga hanya ibuku saja yang shalat. Aku dan saudariku tidak shalat bahkan tidak mengerti shalat.

Suatu hari, aku datang di suatu kedai kopi, aku berkenalan dengan seorang laki-laki dari Arab Saudi. Di akhir perjumpaan, dia memberiku sebuah buku saku tentang dzikir. Aku merasa pemberiannya ini tidak bermanfaat sama sekali, shalat saja aku tidak, apalagi membaca dzikir. Tapi karena merasa tidak enak menolak, aku pun menerima pemberiannya dan kusimpan di saku baju. Sesampainya di rumah, kukeluarkan dari saku bajuku buku yang ia berikan, lalu kulemparkan hingga terperosok di bawah lemariku.

Setelah beberapa hari, di suatu malam, seperti biasa aku pulang dari aktivitas lalu aku menonton televisi. Aku mencari acara yang menarik di TV, dari chanel ke chanel lainnya namun tidak ada acara yang membuat aku tertarik. Lalu kubuka majalah, tidak juga aku merasa berselera berlama-lama membacanya. Setelah itu berselancar di dunia maya, juga tidak ada yang memikat perhatianku. Sudah, kututup pintu kamar dan tirai jendela, aku pun bersiap tidur.

Kubolak-balikkan badan, namun tidak juga rasa kantuk itu datang. Malah aku teringat akan buku saku yang diberikan laki-laki Arab Saudi tempo hari itu. Susah payah, akhirnya aku berhasil mengeluarkan buku itu dari bawah kolong lemariku.

Saat kubuka buku itu, ternyata berisi, barangsiapa mengamalkan ini akan mendapatkan hal ini, barangsiapa mengamalkan demikian maka pahalanya demikian. Saat itu, kondisi jiwaku adalah kondisi seseorang yang telah berputus asa dari rahmat Allah karena banyaknya dosa-dosa yang telah aku lakukan. Aku adalah seseorang yang telah berpasrah diri kalau ditetapkan sebagai penghuni neraka. Saat kubaca buku itu, ternyata pengampunan dosa dari Allah demikian mudahnya. Buku itu benar-benar memberikan kesan yang dalam bagi diriku. Hingga tak terasa aku membacanya hingga datang waktu subuh.

Saat itu kulihat ibuku sedang menunaikan shalat. Selesainya ibuku dari shalat, kukatakan kepadanya, “Ibu, aku ingin shalat”. Ibuku menjawab, “Mandilah terlebih dahulu”. Aku pun mandi kemudian menunaikan shalat. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi meninggalkan shalat.

Diceritakan kepada Syaikh Utsman al-Khomis bahwa orang ini kemudian menjadi seorang da’i yang cukup dikenal di London. Ia sangat bersemangat dalam berdakwah hingga mendakwahkan Islam di jalan-jalan ketika berjumpa dengan orang-orang non-Islam. Dan banyak orang mendapatkan hidayah Islam melalui dirinya.

Pelajaran:

1.Jangan remehkan hadiah sekecil apapun.

2.Jangan memvonis seseorang sudah tertutup darinya hidayah.

3.Biasakanlah memberi hadiah-hadiah yang bermanfaat kepada orang-orang untuk melembutkan hati mereka menerima dakwah.

4.Seseorang dengan profesinya masing-masing bisa memberikan hadiah. Seorang dosen bisa memberikan buku-buku bermanfaat kepada mahasiswanya karena nilai ujiannya yang baik atau lain sebagainya. Seorang pengusaha bisa memberikan hadiah kepada relasinya saat di awal jumpa. Seorang teman memberikan hadiah kepada temannya. Dll. Mungkin akan datang suatu hari, Allah bukakan kebaikan bagi mereka yang diberi hadiah tersebut.

5.Berdakwah bisa dilakukan dimana saja, sampai berjumpa dengan seseorang di sebuah warung kopi pun adalah kesempatan untuk berdakwah.

Sumber : kisah muslim

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Menisbatkan Diri Kepada Selain Ayah…

“Barangsiapa yang mengklaim (penisbatan dirinya) kepada selain bapaknya, padahal dia tahu bahwa dia bukan bapaknya, maka surga diharamkan baginya.” (muttafaq ‘alaih)

Ayah di sini adalah yang sifatnya halal dan bukan anak hasil perzinahan. Secara hukum syari, anak hasil perzinahan tidaklah diakui sebagai anak dari ayah biologisnya karena tercipta dengan sebab yang tidak dibenarkan oleh syariat, yaitu perzinaan.

Sebagian orang ada yang sengaja memalsukan nasab di dalam surat-surat dan dokumen penting untuk tujuan materi, karir, dsb. Ada juga yang melakukannya karena benci kepada sang ayah. Termasuk kasus yang telah umum dimana wanita setelah menikah lalu menisbatkan namanya dengan nama suaminya (menggantikan nama ayahnya dengan nama suaminya).

Kebiasaan dan perbuatan ini disadari ataupun tidak disadari patut untuk segera ditinggalkan, dihindari, karena adanya dalil pelarangan secara syar’i. Hal tersebut bisa menimbulkan permasalahan dalam perkara mahram, nikah, warisan, dsb.

Allah subhanahu wa taala berfirman, “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (QS Al-Ahzab: 5)

ANAK HASIL ZINA

Anak hasil zina (anak di luar nikah) tidak dinasabkan ke bapak biologis.

Anak zina pada asalnya dinasabkan kepada ibunya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka tidak dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya. (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth)

Berdasarkan keterangan di atas, jumhur ulama menyimpulkan bahwa anak hasil zina sama sekali bukan anak bapaknya. Karena itu, tidak boleh di-bin-kan ke bapaknya. Mengingat anak ini tidak punya bapak yang legal, maka dia di-bin-kan ke ibunya.

Wallahu a’lam bisshawwab

Courtesy of Alhikmahjkt & Mutiara Risalah Islam

Kedudukan orang yang mendustakan kebenaran…

(terjemahan QS Az- Zumar 32-33)

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? (32)

Dan orang yang membawa kebenaran [Muhammad] dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (33)

Ingatlah…

‏تذكر يوم تكون السريرة علانية

Ingatlah selalu satu hari
di mana SEGALA RAHASIA
kan ditampakkan…

As Sa’daan, حفظه الله تعالى

Courtesy of Twit Ulam