All posts by BBG Al Ilmu

Seandainya Masa Mudaku Kembali….!! (Sya’ir Lantunan Abul ‘Ataahiyah)

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

 

بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُ

Kutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….

Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna…

فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُ

Sungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….

Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…

. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُ

Masa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…

Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…

. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُ

Aduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali….

Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya…

Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…

Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…

Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.

Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya :

وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ
“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)

Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.

Al-Munawi rahimahullah berkata :

خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)

Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :

فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ

“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)

Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع

“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”

Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ

“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”

Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.

Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….

Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….

Diinginkan Kebaikan Oleh Allah…

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Abdullah bin Mughoffal radliyallahu anhu berkata, ” Ada seorang lelaki bertemu dengan seorang wanita yang pernah menjadi pelacur di masa jahiliyah.

Lalu lelaki itu mencandainya dan menjulurkan tangannya kepada wanita itu..
Wanita itu berkata, “Jangan begitu, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesyirikan dan mendatangkan Islam..

lelaki itu pergi meninggalkannya, dan menengok kepada wanita itu hingga wajahnya terbentur tembok..

Lalu ia mengabarkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam..
Beliau bersabda, “Kamu seorang hamba yang Allah inginkan kebaikan untukmu..

Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya apabila Allah menginginkan keburukan kepada seorang hamba..

Allah biarkan ia dengan dosanya..
Sampai Diberikan balasannya pada hari kiamat..

HR Ath Thabrani, AL Hakim dan AL Baihaqi..

Di zaman ini..
Berapa banyak mata kita melihat maksiat..
Namun dibiarkan oleh Allah tidak diberikan sanksi..

Astaghfirullah..

Makna Jihad Secara Umum…

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Jihad adalah mengeluarkan kesungguhan untuk merealisasikan apa yang Allah cintai.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Jihad ada dua macam:

Pertama: Jihad dengan senjata, ini adalah jihad yang banyak orang mampu melakukannya.

Kedua: Jihad dengan hujjah dan keterangan. Ini adalah jihad orang-orang khusus dari pengikut para rosul. Ini adalah jihadnya para ulama, bahkan ini adalah jihad yang paling besar karena manfaatnya yang amat agung, berat dan banyak musuhnya sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Furqan: 52.
(Miftaah Daarissa’adah 1/70).

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Jihad secara syara’ adalah mengeluarkan kesungguhan untuk memerangi orang kafir. Dan dimutlakkan juga untuk menjihadi hawa nafsu, setan dan orang-orang fasiq. (Fathul Baari 6/3).

Ini semua membantah pendapat yang mengatakan bahwa jihad hanya bermakna perang saja.
Bahkan ibnu Abbas berkata, “Mencari rizki yang halal adalah jihad.” (Al Adab Asy Syar’iyyah 2/277).

Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu berkata, “Membahas ilmu adalah jihad.” (Jami’ bayanil ‘ilmi hal. 94).

Mengapa Kamu Melakukan Itu…?

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Tahukah anda..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melihat seorang shahabat melakukan kesalahan..
Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan itu..

Seperti dalam kisah Mu’adz bin Jabal yang pulang dari Syam..
Lalu sujud kepada Rasulullah..
Padahal sujud kepada manusia adalah syirik besar..

Seperti dalam kisah Hathib bin Abi Balta’ah yang hendak membocorkan rahasia Allah dan RasulNya..
Padahal itu adalah pengkhianatan..

Namun..
Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung memvonisnya sesat…
Tidak..
Sekali-sekali tidak..
Beliau bertanya dahulu, “Apa yang membuatmu melakukan itu…
Barangkali ia tidak tahu..
Barangkali ia mempunyai alasan..

Subhanallah..
Tidak demikian di zaman ini..
Sebatas melihat saudaranya melakukan perbuatan yang ia anggap salah..
Segera vonis dilancarkan..
Fulan sesat..
Fulan hizbiy..
Fulan sururi..
Lalu segera ia menjauhinya..
Tak ada lagi ucapan salam untuknya..

Subhanallah..
Telah hilang kasih sayang di hati kita..
seakan..
Bila ia telah berhasil memvonis saudaranya..
Ia telah membela islam dan sunnah..
Sementara setan menyeringai gembira..
Karena ia telah membantunya untuk menyesatkan manusia..

Saudaraku..
Tidakkah kita takut bila vonis itu kembali kepada diri kita..
Bukankah salah dalam memaafkan lebih baik dari pada salah dalam memberikan sanksi..
Iya.. Demi Allah..

Ikuti Proses…

Ustadz Abu Fairuz, حفظه الله تعالى

Pelangi kan terlihat indah setelah hujan.
Laut kan tenang bak cermin selepas badai.
Emas kan elok setelah disepuh.
Gaharu kan harum setelah di bakar.
Permata kan bernilai setelah di dulang.

Semua kenikmatan dan keindahan melalui proses.
Siapa yang tak sudi ikuti proses..
Tak kan pernah merasakan keindahan dan kelezatan.
Proses itu berat,melelahkan dan menyakitkan. Tak semua sanggup menjalaninya.

Mutiara menjadi berharga setelah lokan menyakiti diri bertahun-tahun,mengeluarkan zat nacre untuk melapisi pasir menjadi mutiara.

Tiada yang lebih indah – setelah melihat wajah Allah- dari surga firdaus.
Mahalnya surga tak pernah di dapat dengan berleha-leha.
Ia ditebus dengan kerja keras, penderitaan,darah dan air mata.
Sudikah kita melalui proses tuk menggapai surga itu?.

Radio hang-Batam, 14 Rajab 1436 h/ 3 Mei 2015