All posts by BBG Al Ilmu

Istighfar-nya Nabi Ibrohim ‘Alayhissalam Yang Istimewa

Istighfar-nya Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang istimewa

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“ROBBANAGH-FIRLII WALI-WAALIDAYYA WALIL-MUKMININA YAUMA YAQUUMUL HISAAB..” [QS. Ibrohim: 41]

“Ya  Robb kami, ampunilah aku, dan kedua orangtuaku, dan seluruh kaum mukminin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)..”

PERBANYAKLAH BER-ISTIGHFAR SEPERTI INI, karena akan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan.

1. Allah akan lebih mendengar istighfar kita, karena kita menggunakan istighfarnya ‘kekasih’ Allah ta’ala, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

2. Ini merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, dan akan menjadikan keduanya BAHAGIA dan mulia di sisi-Nya.

3. Dengannya kita akan mendapatkan do’a malaikat, karena kita telah mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. [HR. Muslim, 2732]

4. Kita akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah kaum muslimin, karena kita telah memintakan ampun untuk mereka semua. [Shohihul Jami’, 6026]

*) Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang memohonkan ampun kepada Allah untuk kaum mukminin dan mukminah, niscaya allah akan mencatat baginya SATU PAHALA DARI SETIAP MUKMIN DAN MUKMINAH..”

( HR. ath Thobroni dan Imam Al Bukhori dalam Adab Mufrod dishohihkan oleh syekh Al Albani )

Bila jumlah orang-orang yang beriman baik yang masih hidup atau yang sudah wafat mencapai 1 milyar, maka Allah akan memberikan 1 milyar pahala SETIAP kali kita ber-istighfar 

5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].

6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]

7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]

Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

jangan lupa salah satu adab berdo’a adalah memulainya dengan :
.
▪️memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh) : yaa Hayyu yaa Qoyyuum..
.
▪️lalu membaca sholawat (contoh) : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad..
.
▪️lalu mulailah berdo’a..

Cinta Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam Itu WAJIB

Cinta Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu WAJIB, dan lebih mencintai beliau bukan berarti tidak mencintai para ulama, ataupun orang tua.

======

Hal ini bisa kita simpulkan dari sabda beliau:

“Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian, hingga aku lebih dia cintai melebihi orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya..” [HR. Bukhori dan Muslim].

Hadits ini juga menunjukkan bahwa harus ada derajat CINTA yang berbeda-beda di hati manusia. Dan beliau mengurutkannya sesuai dengan urutan yang semestinya: Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, lalu orang tua, lalu anak, baru orang lain.

Bila mereka sepakat dalam memerintahkan sesuatu, maka itulah yang harusnya dilakukan, contohnya: perintah berbakti kepada orang tua.

Namun bila perintahnya bertentangan, maka di sinilah manfaat mengetahui derajat cinta yang berbeda tersebut, misalnya:

Apabila Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- melarang kita untuk membuat perkara yang baru dalam agama, apapun bentuknya.. Lalu ada sebagian ulama atau orang tua menganjurkan untuk melakukan ‘maulid’ yang jelas termasuk perkara yang baru dalam agama.. Maka, manakah yang harusnya kita dahulukan..?!

Jika CINTA kita kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- lebih tinggi, tentu kita akan lebih mendahulukan larangan beliau dan tidak melakukan ‘perayaan maulid’.. dan inilah bentuk cinta yang sesungguhnya.

Sungguh tidak pantas, orang yang melanggar larangannya mengaku mencintai beliau.. Apalagi sampai menuduh orang yang ingin menerapkan larangan beliau dengan tuduhan ‘tidak cinta’ kepada beliau.

Salah seorang penyair mengatakan:

“Jika cintamu itu tulus, tentunya kau telah mentaatinya.. Karena pecinta sejati itu akan mentaati orang yang dicintainya..”

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Bagaikan Lebah

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
Perumpamaan Mukmin bagaikan lebah..
Memakan yang bermanfaat..
Mengeluarkan yang bermanfaat..
Bila hinggap..
Tidak membuat ranting patah..
Tidak pula merusak..
HR Ahmad..

Perumpamaan yang indah..
Lebah memakan yang bermanfaat..

Demikian pula mukmin, ia hanya memakan yang halal dan bermanfaat..

Lebah mengeluarkan manfaat..
Madu..
Propolis..
dan lainnya yang bermanfaat untuk kehidupan manusia..

Demikian pula mukmin..
Ucapannya bermanfaat..
Ilmunya, amalnya, bahkan bercandanya bermanfaat..

Lebah bila hinggap..
Tak membuat kerusakan..

Demikian pula mukmin..
Dimanapun ia berada tak pernah berbuat kerusakan..
Ia selalu memberi warna kebaikan..

Lebah amat suka kebersamaan..
Gotong royong tak kenal lelah..

Demikian pula mukmin..
mereka bagaikan satu tubuh..

Lebah tak pernah kenal putus asa..
Pekerja yang ulet dan gagah berani..
Itulah perumpamaan mukmin yang amat indah..

Akankah lebah lebih baik dari kita..??

Ditulis oleh,
Ustadz Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Shalat Malam Dalam Keadaan Ngantuk

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Seringkali kita melakukan shalat malam dalam keadaan ngantuk. Apa baiknya jika dalam keadaan capek dan ngantuk, kita memilih istirahat ataukah melanjutkan shalat malam (shalat tahajud)?

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّى فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِى لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

“Jika salah seorang di antara kalian dalam keadaan mengantuk dalam shalatnya, hendaklah ia tidur terlebih dahulu hingga hilang ngantuknya. Karena jika salah seorang di antara kalian tetap shalat, sedangkan ia dalam keadaan mengantuk, ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun tetapi ternyata ia malah mencela dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 212 dan Muslim no. 786).

Ibnu Hajar memberikan faedah untuk hadits di atas, “Hadits di atas menuntun kita untuk khusyu’ dalam shalat dan menghadirkan hati ketika melakukan ibadah. Hadits tersebut juga mengajarkan untuk menjauhi setiap yang dimakruhkan dalam shalat. Juga bolehnya berdoa dengan doa apa pun tanpa mesti mengkhususkan dengan doa tertentu.” (Fathul Bari, 1: 315)

Imam Nawawi juga menjelaskan, “Hadits di atas mengandung beberapa faedah. Di antaranya, dorongan agar khusyu’ dalam shalat dan hendaknya tetap terus semangat dalam melakukan ibadah. Hendaklah yang dalam keadaan ngantuk untuk tidur terlebih dahulu supaya menghilangkan kantuk tersebut. Kalau dilihat ini berlaku umum untuk shalat wajib maupun shalat sunnah, baik shalat tersebut dilakukan di malam maupun siang hari. Inilah pendapat madzhab Syafi’i dan jumhur (mayoritas) ulama. Akan tetapi shalat wajib jangan sampai dikerjakan keluar dari waktunya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata bahwa Imam Malik dan sekelompok ulama memaksudkan hadits tersebut adalah untuk shalat malam. Karena shalat malam dipastikan diserang kantuk, umumnya seperti itu.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 67-68).

Syaikh Musthofa Al Bugho menyatakan bahwa hadits di atas menjelaskan terlarangnya memaksakan diri dalam ibadah dan bersikap berlebih-lebihan. Jika seseorang berlebih-lebihan dalam ibadah, ia tidak bisa menggapai tujuan, malah dapat yang sebaliknya, yaitu mendapatkan dosa. (Nuzhatul Muttaqin, hal. 88).

Baca selengkapnya :
http://rumaysho.com/shalat/shalat-malam-dalam-keadaan-ngantuk-8430

Belajar Dari Abu Bakar As Shiddiq, Radhiallahu ‘Anhu…

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Semasa hidupnya Umar radhiallahu ‘anhu selalu berharap agar dapat menyaingi Abu Bakar. Hingga suatu hari menjelang perang Tabuk Rasulullah menyampaikan khutbah dan memotivasi sahabat-sahabatnya untuk berinfaq. Mendengar hal itu Umar berkata dalam hatinya, “Hari ini aku pasti dapat mengalahkan Abu Bakar. Umar mempunyai, Diapun membagi hartanya yang terdiri dari emas dan perak menjadi dua bagian, separoh untuk keluarganya dan separoh lagi untuk Allah. Melihat hal tersebut Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya, “Apa yang kau sisakan untuk keluargamu.?
“Aku tinggalkan sebanyak ini juga”, jawab Umar.

Umar duduk sejenak menunggu kedatangan Abu Bakar.
Tiba-tiba datanglah Abu bakar dengan harta yang sangat melimpah lalu meletakkannya di hadapan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-.

Melihat hal itu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bertanya: “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu..?
Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”.
Umar lalu menatap Abu Bakar dan berkata:
“Demi Allah.. Aku tidak akan bersaing dengan Abu Bakar lagi setelah hari ini”. ( HR. Tirmidzi )

Ibroh:
Di dalam Al-Qur’an Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya:

“Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”(QS: Ali’ Imran : 133).

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan:

“Ketika suatu kaum mendengar seruan, ”Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan”, juga seruan, ”Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa”, mereka memahami bahwa maksud dari ayat ini adalah, “hendaknya mereka bersungguh-sungguh agar setiap dari mereka menjadi pemenang menuju kemuliaan itu. Maka dahulu, perlombaan mereka pada tingkatan-tingkatan akhirat. Kemudian datanglah sesudah mereka kaum yang berlomba-lomba dalam hal-hal duniawi dengan segala bagiannya yang begitu cepat sirna”. (Lathaaiful maarif).

Dalam surat al Muthaffifiin, tatkala Allah menggambarkan kenikmatan penghuni surga, diakhir ayat ke 26 Dia menegaskan kepada kita agar melakukan perlombaan itu, sebagaimana tertulis:

”Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

”Begegaslah kalian dalam melakukan amal shaleh, sebelum terjadi berbagai fitnah (yang datang) bagaikan potongan-potongan malam gulita” (HR. Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi).

Ayat-ayat dan hadits di atas setidaknya menegaskan kepada kita, bahwa beradu cepat dalam kebaikan, adalah nafas dan naluri kehidupan seorang mukmin.

Kisah diatas juga mengajari kita tentang arti kongkrit kekokohan iman. Seringkali kita menganggap bahwa kitalah yang mengatur hidup ini.

Kita sering lupa bahwa Allah sajalah satu-satunya Pengatur alam semesta dan seisinya.
Kehendak-Nya yang berlaku.
Dan Abu Bakar mengajari kita tentang itu.

Lalu timbul pertanyaan, “Bolehkan kita menginfakkan seluruh harta yang kita miliki di jalan Allah tanpa menyisahkannya sedikitpun untuk keluarga..?

Jawabannya: “Boleh, jika iman kita sama seperti imam Abu Bakar”

Kehidupan Dunia…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du; 

Kehidupan dunia merupakan kehidupan yang semu, sesuatu yang dirasa nikmat tidak lain adalah cobaan dan ujian, hidup didalam nya adalah beban, perjalanan mengarungi nya sangat terasa cepat, tidak pernah akan lepas dari suka yang lenyap, duka yang datang, angan-angan yang kosong. 

Betapa kasihan orang-orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, di setiap perkara halal nya terdapat hisab dan perhitungan, barangsiapa yang menerjang haram nya mendapatkan siksa, orang yang serakah pada nya ia akan terfitnah, orang yang senantiasa butuh pada nya pasti ia akan merana, barangsiapa yang cinta pada nya akan terhina, barangsiapa yang menoleh pada nya ia akan terlena. 

Allah Ta’ala memberikan suatu gambaran tentang kehidupan dunia dalam firman Nya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang turun menguyur tanam-tanaman sehingga mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “. ( QS Al Hadid 20 ).

Didalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Hikmah memberikan gambaran tentang kehidupan duniawi yang mana para manusia saling berebut dan berkorban untuk nya, banyak yang terfitnah pada nya, digambarkan bahwasanya kehidupan tersebut tidak lebih dari suatu permainan yang tidak menghasilkan kecuali kelelahan, perbuatan sia-sia yang menyibukkan dari perkara yang lebih penting, perhiasan yang tidak akan merubah takdir seseorang, kemegahan yang tidak pernah membahagiakan pemilik nya, dibalik itu semua kehidupan ini sangatlah cepat berlalu, segera berubah dan berpindah, ibarat guyuran air hujan yang menimpa biji-bijian sayuran yang telah ditebarkan oleh para petani, sehingga menjadi tumbuh dan berkembang dengan cepat, lebat, hijau, rimbun, kemudian menguning, layu, dan membusuk.

Hal ini adalah gambaran terang tentang hakikat dunia yang mungkin seseorang berumur puluhan tahun didunia ibarat tumbuhan yang segera layu yang tidak akan bertahan lebih dari satu tahun bahkan separuh nya.

Gambaran cepat berlalu nya kehidupan ini adalah sebagai peringatan agar kita tidak tergiur dan bernafsu untuk menguasai nya jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang lebih kekal dan abadi yang didalam nya tidak pernah terlihat pandangan mata, terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terpikirkan oleh jiwa manusia.

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak akan bermanfaat harta benda dan keturunan, yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan, hari itu setiap manusia akan lari dari saudara nya, dari ayah dan ibunya, anak dan istrinya, masing masing memiliki urusan yang akan menyibukkan diri nya.

Manusia dalam mengarungi dunia ini terdapat dua kelompok;

Pertama :
adalah orang-orang yang sadar akan nilai kehidupan dunia sehingga ia tidak terlena, tidak menyibukkan urusan dunia dari ketaatan Tuhan nya, tidak menerjang batas dan rambu halal haram nya, ia akan lebih giat berbekal untuk akhirat nya dari dunia nya, orang-orang ini senantiasa takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sehingga surgalah tempat kembalinya.

Kedua :
adalah orang-orang yang tidak kenal Tuhan nya, lalai akan batas dan rambu halal haram nya, mengutamakan dunia memenuhi nafsu dan syahwat nya, dan tidak berharap perjumpaan dengan Sang Pencipta nya, maka sesungguhnya neraka Jahannam merupakan tempat kembali bagi nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupannya itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” ( QS Yunus 7-9 ).