All posts by BBG Al Ilmu

Amal Sholeh

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Amal sholeh merupakan suatu perniagaan yang menguntungkan dan bekal yang sangat berharga.

Allah Ta`ala berfirman, ” Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri “. (QS. Fathir 29~30).

Amal sholeh senantiasa akan mendatangkan kebahagiaan dan mengusir segala bentuk keburukan.

Allah Ta`ala berfirman, ” Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “. (QS. An Nahl 96~97).

Amal sholeh merupakan bekal dan tabungan untuk hari esok di hari kiamat.

Allah Ta`ala berfirman, “Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah. Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar “. (QS. Ar Rum 43~45).

Amal sholeh merupakan bekal untuk menggapai surga dan ridho Allah Ta`ala.

Allah Ta`ala berfirman, ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya “. (QS. Al Bayyinah 7~8).

Amal sholeh dan hati yang bersih nan suci merupakan barometer bagi seorang hamba yang akan mendapatkan penilaian dari Allah Ta`ala dan mendapatkan pahala dan ganjaran.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Sesungguhnya Allah Ta`ala tidak melihat pada tampilan dan harta kalian, akan tetapi melihat pada hati dan amalan amalan kalian “.

Amal sholeh merupakan pendamping bagi kita dan sebaik baik rekan yang senantiasa mengiringi kita setelah mati.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala seseorang telah wafat maka akan menghantarkan jenazah nya adalah tiga bagian, dan dua akan kembali yaitu keluarnya dan hartanya dan yang akan tersisa mendampingi nya adalah satu, yaitu amalnya.”

Para salaf ditanya tentang siapa teman yang terbaik? Maka dijawab, ” Amal sholeh.”

Maka renungkanlah bagaimana teman pendamping kita di hari kiamat di hari yang penuh kegundahan, kesendirian di liang kubur, sebagai mana diriwayatkan oleh sahabat Baro` ibnu A`zib dalam hadits yang panjang, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala jasad seseorang diletakkan di liang kubur maka datanglah seorang yang wajah nya indah, pakaian nya indah dan seraya berkata, “Berbahagia lah akan janji yang Allah janjikan kepada dirimu.” Maka ia berkata, siapa dirimu? Maka ia menjawab: Aku adalah amal sholeh mu “.

Di hari itu ia akan berbahagia dengan pendamping nya, diwaktu orang lain dalam keadaan merugi dan menyesal atas kelalaian yang telah diperbuat.

Amal seseorang tidak akan menjadi sholeh kecuali apabila ia ikhlas dan beramal sesuai petunjuk sunnah.

Sebagai mana firman Allah Ta`ala, “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al Kahfi 110).

Allah Ta`ala berfirman, ” Dia ~ Allah ~ Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun “. (QS. Al Mulk 2).

Berkata imam Fudhail ibnu Iyadh menafsirkan ayat ini, ” Yaitu yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan tuntunan sunnah “.

Maka ditanya kenapa hal ini terjadi, maka dijawab, ” Karena suatu amal ibadah jikalau ia ikhlas tetapi tidak sesuai sunnah maka tidak akan diterima, dan sebaliknya, jikalau suatu amal ibadah seseorang telah sesuai sunnah akan tetapi tidak ikhlas maka tidak akan pula diterima, sehingga menjadi satu amal ibadah yang ikhlas dan sesuai dengan ajaran sunnah, ikhlas artinya berbuat sesuatu hanya berniat karena Allah Ta`ala semata, dan sesuai dengan sunnah yaitu mengikuti petunjuk yang telah diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam “.

Semoga Allah Ta`ala menjadikan amalan kita menjadi amalan yang ikhlas karena Allah Ta`ala dan sesuai petunjuk Nabi sallallahu alaihi wa sallam.

Hukum Shalat Sambil Menahan Kencing dan Kentut

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Bagaimana jika seseorang shalat menahan kentut, apakah shalatnya sah?

Ada hadits yang bisa menjawab hal ini, yaitu hadits dari ‘Aisyah.

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan akhbatsan (kencing atau buang air besar).” (HR. Muslim no. 560).
Bagi ulama yang berpendapat bahwa khusyu’ termasuk dalam kewajiban dalam shalat, berarti maksud kata “laa” dalam hadits menunjukkan tidak sahnya shalat dengan menahan kencing. Sedangkan menurut jumhur atau mayoritas ulama bahwa khusyu’ dihukumi sunnah, bukan wajib. Sehingga “laa” yang dimaksud dalam hadits adalah menafikan kesempurnaan shalat atau hadits itu diartikan “tidak sempurna shalat dari orang yang menahan kencing”.

Jika demikian, bagaimana hukum menahan kencing atau buang air saat shalat?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa jika cuma merasakan ingin buang air kecil atau air besar tanpa menahannya, seperti itu masih dibolehkan shalat.

Dalam hadits dikatakan kencing atau buang air yang membuat masalah hanyalah jika ditahan. Bila tidak dalam keadaan menahan, maka tidak masalah untuk shalat karena hati masih bisa berkonsentrasi untuk shalat.

Syaikh Ibnu Utsaimin juga menyatakan bahwa menahan kentut (angin) sama hukumnya seperti menahan kencing dan buang air besar.

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, menahan kentut dihukumi makruh.
Imam Nawawi berkata, “Menahan kencing dan buang air besar (termasuk pula kentut, -pen) mengakibatkan hati seseorang tidak konsen di dalam shalat dan khusyu’nya jadi tidak sempurna. Menahan buang hajat seperti itu dihukumi makruh menurut mayoritas ulama Syafi’iyah dan juga ulama lainnya. Jika waktu shalat masih longgar (artinya: masih ada waktu luas untuk buang hajat, -pen), maka dihukumi makruh. Namun bila waktu sempit untuk shalat, misalnya jika makan atau bersuci bisa keluar dari waktu shalat, maka (walau dalam keadaan menahan kencing), tetap shalat di waktunya dan tidak boleh ditunda.”

Imam Nawawi berkata pula, “Jika seseorang shalat dalam keadaan menahan kencing padahal masih ada waktu yang longgar untuk melaksanakan shalat setelah buang hajat, shalat kala itu dihukumi makruh. Namun, shalat tersebut tetaplah sah menurut kami -ulama Syafi’i- dan ini yang jadi pendapat jumhur atau mayoritas ulama.” (Syarh Shahih Muslim, 5: 46)

Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik.

Ref : http://rumaysho.com/shalat/hukum-shalat-sambil-menahan-kencing-dan-kentut-7312

Manisnya Iman

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan ledzatnya memandang aurat wanita yang tidak halal baginya karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.

Sebaliknya barangsiapa yang memandang yang haram dengan meninggalkan rasa takut kepada Allah dan membuang rasa malu kepada Allah maka ia akan merasakan pahitnya kemaksiatan dalam hatinya…

Ya Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang menundukan pandangannya di dunia nyata dan dunia maya….Aaamiin

Pahit, Namun Nyata, Karena Itu Anda Harus Waspada

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Cemburu adalah satu hal yang sering kali menjadi awal dari permasalahan. Bukan sekedar masalah kecil, namun bisa jadi masalah yang terus membesar dan akhirnya meledak karena terlalu besar.

Rumah tangga sering kali berantakan berawal dari cemburu yang tidak dikendalikan. Sahabat berbalik menjadi musuh juga sering terjadi akibat dari cemburu yang terus diikuti.

Demkianlah seterusnya, cemburu yang tidak disikapi dengan bijak dapat menjadi awal dari permasalahan. Kondisi ini menimpa setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk para ulama’, ustadz, dan da’i. Sesama mereka terjadi rasa cemburu yang harus diwaspadai dan dikendalikan. Bila tidak, niscaya terjadi permasalahan serius lalu berkembang liar kemana mana, dan akhirnya memakan korban, bukan hanya mereka namun menyeret seluruh murid dan pengikutnya.

Sahabat Ibnu Abbas mengutarakan fakta ini dan memberikan resep tepat dalam mensikapinya:

اسْتَمِعُوا عِلْمَ الْعُلَمَاءِ وَلَا تُصَدِّقُوا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمْ أَشَدُّ تَغَايُرًا مِنَ التِّيُوسِ فِي زُرُوبِهَا

“Timbalah ilmu dari para ulama’, namun janganlah engkau mempercayai ucapan mereka tentang kawannya sesama ulama’. Demi Allah Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kecemburuan antara mereka itu lebih parah dibandingkan kecemburuan antara domba-domba jantan yang disatukan dalam satu kandang. (jami’ bayanil ilmi wa fadhli oleh Ibnu Abdil Bar)

Fakta ini tentu terasa pahit, bahkan mungkin anda tidak percaya, namun demikianlah kenyataannya. Mungkin juga anda berkata: kok demikian, bukankah mereka itu berilmu, masak bisa terjerumuh ke dalam kecemburuan alias iri ?

Benar sobat, mereka berilmu lagi bertaqwa, namun tetap saja anda harus menyadari mereka adalah manusia biasa yang tetap saja harus menghadapi cobaan Allah dan godaan setan. Dan pada setiap cobaan dan godaan ada yang berhasil melaluinya dengan selamat namun ada pula yang terperosok.

Apapun yang terjadi pada mereka, namun tetap saja anda hanya mempertanggung jawabkan amalan anda, karena itulah kalau mereka terperosok dalam kesalahan bukan berarti anda harus ikut memerosokkan diri. Bersikaplah bijak, sebagaimana yang dipesankan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallallahu ‘anhuma, timba ilmunya, sedangkan berbagai hal yang berbau kecemburuan sesama para ulama’, ustadz, dan da’i sepatutnya anda abaikan dan serahkan sepenuhnya kepada Allah

SERIAL FIKIH ANEH LDII : Surat Pernyataan Taubat

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Diantara fikih aneh madzhab Imam Islam Jama’ah (atau sekarang yang berubah menjadi LDII) adalah pertaubatan “orang dalam” harus disaksikan oleh imam atau para wakilnya. Jika seorang anggota “orang dalam” melakukan dosa dan hendak bertaubat atas dosanya maka harus melalui prosedur yang telah diatur dalam undang-undang Ijtihad Islam Jam’aah yaitu melalui prosedur surat pernyataan taubat.

Surat taubat tersebut berbentuk blanko yang berisi daftar kesalahan dan dosa yang telah ia lakukan, yang diakhiri dengan kewajiban membayar kaffaroh atas dosa-dosa yang telah ia lakukan tersebut. Semakin banyak dosa atau semakin besar dosa yang ia lakukan maka semakin besar dan banyak pula nilai nominal kaffarohnya.

Sebagai contoh barang siapa yang bersalaman antara lelaki dan perempuan yang bukan mahrom maka ijtihad imam menyatakan bahwa sekali salaman nilai nominal kaffarohnya sebesar nilai nominal perangko kilat khusus standar Kantor Pos Indonesia. Sehingga jika harga perangko naik maka harga nominal kaffaroh juga naik.

Karena wajar jika setelah hari raya banyak kaffaroh yang harus dibayar, karena banyak anggota orang dalam yang bersalam-salaman dengan wanita yang bukan mahromnya.

Barangsiapa yang nonton di bioskop maka ijtihad imam menyatakan bahwa nilai nominal kaffarohnya adalah nilai nominal ongkos transport pp ke bioskop ditambah harga tiket bioskop film yang dia tonton ditambah nilai jajanan snack dan minuman yang dikonsumsi dalam acara nonton bioskop tersebut.

Selain itu juga ada kaffaroh dalam bentuk menjadi pekerja bangunan atau di ladang namun tidak diberi upah.

Tinjauan Hukum Syar’i

Taubat merupakan ibadah yang agung di sisi Allah, bahkan Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat” (QS AL-Baqoroh : 222)

Taubat yang diterima oleh Allah adalah taubat yang memenuhi persyaratan taubat sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama;

– Meninggalkan dosa yang ia bertaubat darinya

– Menyesali dosa yang telah ia lakukan

– Bertekad untuk tidak kembali melakukan dosa tersebut

– Jika dosanya berkaitan dengan hak orang lain, maka ia harus mengembalikan hak tersebut kepada pemiliknya atau meminta dihalalkan.

Adapun taubat ala LDII maka ini merupakan taubat yang aneh yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya. Sungguh aneh LDII yang mengaku satu-satunya bersistem “mangkul”, entah mangkul dari mana sistem taubat yang ia buat.

Adapun kritikan terhadap sistem taubat LDII maka dari beberapa sisi :

Pertama : Sistem surat atau blanko taubat tersebut yang diajukan kepada pihak imam atau wakilnya mirip dengan sistem surat penebusan dosa yang dilakukan oleh pihak katolik dimana pelaku dosa datang menuju pastor lalu mengakui seluruh dosa-dosanya dihadapan pastor lalu membayar surat penebusan dosa kepada pihak gereja.

Kedua : Sistem ini mengajarkan agar pelaku dosa menjabarkan dosa-dosanya kepada orang lain, padahal Allah telah menutupi dosa-dosanya.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :

Baca selengkapnya disini:

http://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/791-serial-fikih-aneh-ldii-2-surat-pernyataan-taubat

Tahukah Anda…?

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Tahukah anda :
* satu-satunya negara yang sama sekali tidak ada perayaan natalan?
* satu-satunya negara yang tidak ada tempat penjualan bir apalagi lokalisasi perzinahan?
* satu-satunya negara yang jika telah dikumandangkan adzan maka toko-toko pun tutup?
* satu-satunya negara yang ditegakkan hukum had?
* satu-satunya negara yang memvonis hukuman mati bagi penyihir?

Tentu anda tahu jawabannya…
AKAN TETAPI…

Masih aja ada orang yang membenci negara tersebut…, bahkan mencari-cari kesalahan negara tersebut dan menutup mata dari kebaikan yang begitu banyak pada negara tersebut…, bahkan ada yang mengkafirkan negara tersebut….

Kesempurnaan hanyalah milik Allah…meskipun negara tersebut masih banyak kekurangan dan kesalahan akan tetapi ialah negara satu-satunya yang….yang…yang…. dst

Jika di zaman pemerintahan Utsman dan Ali bin Abi Tholib radiallahu ‘anhuma saja ada saja orang yang benci dan memberontak maka bagaimana dengan pemerintahan negera tersebut???!!

Manfaat Menanam Pohon Keikhlasan

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaa’id tatkala menjelaskan tentang Syajarotul Ikhlaash (Pohon Keikhlasan):

“Tahun itu bagaikan sebatang pohon, bulan-bulannya adalah dahan, hari-harinya adalah ranting, jam-jamnya adalah daun, dan nafas (detak jantung) adalah buahnya. Barangsiapa yang waktu-waktunya diisi dengan ketaatan, maka buah dari pohon yang ia miliki akan bagus. Akan tetapi barangsiapa yang waktu-waktunya dihabiskan dalam kemaksiatan maka pohonnya akan berbuah pahit.

Hanya saja untuk mengetahui buah mana yang manis atau pahit dapat diketahui pada musim panen ketika semua buah dipetik, yaitu pada hari yang dijanjikan (hari Kiamat). Ikhlas dan tauhid bagaikan sebatang pohon di dalam hati manusia, dahannya adalah amal perbuatan, sedang buahnya adalah kehidupan yang bahagia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat.

Sebagaimana pohon yang ada dalam surga yang terus berbuah, tak pernah berhenti, juga tidak terlarang diambil, buah dari pohon tauhid dan ikhlas di dunia ini demikian pula; tidak pernah terputus buahnya dan tidak pernah terlarang dicicipi.

Dan demikian pula Syirik, dusta, dan riya’ adalah pohon di dalam hati manusia. Buahnya di dunia ini adalah rasa takut, kegelisahan, kesempitan hati, dan gelapnya hati. Sedangkan buahnya di akhirat adalah zaqqum (makanan ahli neraka) dan azab yang kekal. Kedua pohon inilah yang disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an surat Ibrahim.” (Lihat Al-Fawaa’id, hal. 214)

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga kita semua semakin bertambah semangat dalam menanam dan memupuk pohon keikhlasan di dalam hati kita, dan bersungguh-sungguh dalam mencabut pohon syirik, riya’, dan dusta hingga ke akar-akarnya. Dan semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

(Klaten,7 Oktober 2014 M / 12 Dzulhijjah 1435 H)

Dimana Wanita Melaksanakan Sholat Gerhana ?

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Tanya :
Ustadz, berkaitan dengan sholat Gerhana yang dilaksanakan di masjid-masjid dan dihadiri kaum pria, bagaimana dengan wanita yang ingin melaksanakan sholat tersebut ? Bolehkah ikut sholat Gerhana di Masjid ?

Jawab :
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Boleh bagi wanita untuk ikut sholat gerhana berjama’ah di masjid jikalau tidak memberatkan dirinya, dan aman dari fitnah.

Jikalau ia sholat di rumah maka lebih baik, dan hendaknya banyak berdzikir dan berdo’a, serta mengajarkan tauhid kepada anak-anak nya.

والله أعلم بالصواب