All posts by BBG Al Ilmu

Syirik Yang Sering Diucapkan

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali  daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”

Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga ucapan seseorang Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.

Akhirnya beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, ”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen)  dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)

Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah) kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar). Syirik seperti ini ada 2 macam.

Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta’ala.

Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan). Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh syirik yang masih samar, dianggap remeh, dan sering diucapkan dengan lisan oleh manusia saat ini.

Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa
Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini –barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’.

Bersumpah dengan menyebut Nama selain Allah
Bersumpah dengan nama selain Allah juga sering diucapkan oleh orang-orang saat ini, seperti ucapan, ‘Demi Nyi Roro Kidul’ atau ‘Aku bersumpah dengan nama …’. Semua perkataan seperti ini diharamkan bahkan termasuk syirik. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam hatinya mengagungkan selain Allah kemudian digunakan untuk bersumpah. Padahal pengagungan seperti ini hanya boleh diperuntukkan kepada Allah Ta’ala semata. Barangsiapa mengagungkan selain Allah Ta’ala dengan suatu pengagungan yang hanya layak diperuntukkan kepada Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam). Namun, apabila orang yang bersumpah tersebut tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik ashgor (syirik kecil yang lebih besar dari dosa besar).

Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa [4]: 116).

Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.
Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do’a yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a’lamu (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan-Mu dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).

Baca selengkapnya : http://rumaysho.com/aqidah/syirik-yang-sering-diucapkan-394

1290. Benarkah Wanita Hamil Tidak Boleh Keluar Rumah Saat Bulan Purnama?

1290. BBG Al Ilmu – 307

Tanya :
Berkaitan dengan bulan purnama dan istri hamil, ada omongan orang-orang dulu yang menyatakan bahwa “jika sedang hamil tidak boleh keluar rumah ketika sedang gerhana bulan.”
Apakah ini pendapat batil ?
Apakah ada pengaruhnya ?

Jawab :
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Keyakinan yang demikian adalah keyakinan yang menyimpang dari agama, bahkan termasuk syirik, yang harus di hindari dan di terangkan kepada umat bahwa agama islam hanya bergantung kepada Allah Ta`ala, semua yang terjadi adalah kehendak Allah Ta`ala semata.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Senjata Tumpul Makhluk Liberal

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Jika kaum liberalis sudah kalah debat maka ada beberapa senjata pamungkas yang sering dikeluarkannya :

(1) “Tidak ada kebenaran/keyakinan yang absolut/pasti, semuanya relatif…”
Ini senjata paling diunggulkan kaum agama liberal…

Jawabannya : Berarti pernyataanmu ini juga relatif, lantas kenapa kaliannya menjadikannya sesuatu yang pasti/absolut??

(2) “Kami tidak mau mengobral ayat-ayat Allah….”, ini mereka ungkapkan untuk lari dari perdebatan dengan dalil. Mau mereka berdebat hanya pakai otak (baca = dengkul).

(3) “Jangan monopoli kebenaran…”, ini mereka ucapkan agar betapapun jelasnya kebenaran tapi menurut mereka kebenaran itu banyak versi??, benarlah.. tentu versi agam Islam berbeda dengan versi agama islam liberal !!

(4) “Jangan merasa benar, Allah yang lebih tahu siapa yang benar kelak di akhirat…”
Inilah senjata yang paling sering diucapkan mereka. Padahal terlalu banyak ayat yang memerintahkan kita untuk kembali kepada Al-Quran, karena Allah telah meletakan standar kebenaran dalam Al-Qur’an. Jika semuanya baru diketahui di akhirat, ya buat apa ada Qur’an dan hadits??. Anehnya senjata ini juga sering dipakai sebagiaan ahlul bid’ah tatkala kehabisan dalil.

ANEHNYA…agama liberal ini merasuk sebagian tokoh kaum ASWAJA ???

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua…

Amalan Untuk Kesembuhan Dan Dzikir Dengan Asmaul Husna

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Apakah ada amalan tertentu untuk kesembuhan dari penyakit ? dan jika kita ingin berdzikir menggunakan nama Allah, nama yang manakah dari Asmaul Husna ?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى  berikut ini:

Hadits Palsu Tentang Keutamaan Puasa, Qurban Dan Shodaqoh Pada 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Diantara hadits-hadits yang banyak beredar di tengah kaum muslimn melalui berbagai media cetak maupun elektronik dan ceramah ialah hadits yang menerangkan tentang keutamaan puasa dan amalan-amalan ibadah lainnya di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

1. “Di hari pertama bulan Dzulhijjah Allah mengampuni (nabi) Adam, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari tersebut Allah akan mengampuni seluruh dosanya”

2. “Di hari kedua Allah mengabulkan doa sayyidina Yusuf, dan barangsiapa yang berpuasa di hari itu pahalanya seperti beribadah kepada Allah setahun penuh dan tidak bermaksiat walau sekejap mata”

3. “Di hari ketiga Allah mengabulkan doa Zakaria, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari itu Allah akan mengabulkan doanya”

4. “Di hari keempat lahir sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan menghilangkan kefakiran darinya dan pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama As Safarat Al Kiram (malaikat yang mulia –pent)

5. “Di hari kelima lahirlah Musa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu ia akan dibebaskan dari sifat munafik dan adzab kubur”

6. “Di hari keenam Allah membukakan sayyidina Muhammad ‘alaihis sholatu wassalam kebaikan, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan melihatnya dengan rahmat-Nya dan ia tidak akan diadzab”

7. “Di hari ketujuh ditutup pintu-pintu jahannam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan tutup baginya 30 pintu kesulitan dan Allah bukakan baginya 30 pintu kebaikan”

8. “Di hari kedelapan yang disebut juga dengan hari Tarwiyah, barangsiapa berpuasa pada hari itu akan diberi balasan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah”

9. “Di hari kesembilan yaitu hari Arafah barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan mengampuni dosanya selama setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya”

10. “Di hari kesepuluh yaitu Idul Adha, di dalamnya terdapat qurban, penyembelihan, dan pengaliran darah (hewan qurban), Allah akan mengampuni dosa anak-anaknya (yaitu orang yang berpuasa tadi –pent). Barangsiapa yang memberi makan orang mukmin dan bershadaqah, maka Allah akan mengutus baginya pada hari kiamat, keamanan dan timbangannya lebih berat dari Gunung Uhud.”

(*) DERAJAT HADITS:
Derajat Hadits ini Maudhu’ (PALSU) karena tidak ada asal-usulnya yang jelas, dan tidak ditemukan di dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama sunnah syaikh Abdurrahman As-Suhaim dan DR. Abdullah Al-Faqih hafizhohumallah.

Oleh karenanya, DILARANG KERAS menyebarluaskannya melalui media apapun seperti internet, sms, bbm, WA, majalah atau ceramah kecuali dengan tujuan untuk menjelaskan dan memperingatkan umat Islam akan kepalsuannya, agar mereka tidak meyakininya sebagai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari bahaya HADITS DHO’IF dan PALSU yang sangat banyak beredar di tengah kaum muslim melalui berbagai media. Amiin. (Klaten, 3 Oktober 2014 M / 8 Dzulhijjah 1435 H).

# Grup Majlis Hadits, chat room Hadits Dho’if dan Palsu. BB: 7FA61515,
WA: 082225243444

» Teks hadits selengkapnya, KLIK:
https://abufawaz.wordpress.com/2014/10/03/hadits-palsu-tentang-keutamaan-puasa-qurban-dan-shodaqoh-pada-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah/