All posts by BBG Al Ilmu

Biasakanlah Berterus Terang Dari Awal

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Membantu saudara sangatlah baik, akan tetapi jika terkadang kita tidak bisa membantunya maka lebih baik sejak awal kita terus terang “tanpa sungkan-sungkan” untuk berkata kepadanya “Maaf akhi/ukthi saya tidak bisa membantu anda kali ini”. Daripada kita memberikan harapan kepadanya dengan mengatakan “INSYAA ALLAH SAYA USAHAKAN” padahal dalam hati sebenarnya kita tidak mau atau tidak mampu membantunya.

Akhirnya diapun terus berharap dan terus menagih “INSYAA ALLAH” yang telah kita ucapkan. Sehingga kitapun membohonginya dengan memberi harapan palsu dan kitapun terganggu dengan tagihan-tagihannya.

Seandainya sejak awal kita menyatakan ketidaksiapan kita maka dia akan mencari bantuan orang lain dan tidak berharap dengan janji kosong kita belaka.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Hancur Karena Ambisi

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Sebagian manusia hancur karena ambisinya.. jika ia tidak hancur didunia maka ia akan hancur di akhirat..

Ambisi tersebut adalah ambisi ke AKUan pada dirinya..

Waspadalah waspadalah..
Kejahatan terkadang bukan karena kurang ilmu.. namun karena hati masih memiliki penyakit yang parah.. diantaranya, kurang ikhlas, kurang ridho pada pembagian Allah, kurang takut akhirat, hasad dan dengki, ingin pamer amalan, kesombongan dan merasa diri adalah yang terbaik..

Waspadalah penyakit-penyakit tersebut.. karena hal tersebut akan menghancurkan anda..

Leburlah penyakit itu dengan pembersihan hati dan merasa butuh kepada ampunan Allah ta’ala niscaya anda akan menjadi lebih baik dari sekarang,.

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Penggunaan Kata “Insyaa Allah” Untuk 3 Fungsi Yang Benar, Dan 1 Fungsi Yang Salah

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

(1) untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi dalam doa ziarah qubur (Dan Kami insyaa Allah akan menyusul kalian wahai penghuni kuburan). Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah ((Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki masjidil haram insyaa Allah dalam keadaan aman) QS Al-Fath : 27

(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita, “Bulan depan saya akan umroh insyaa Allah”

(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.

(4) Yaitu salah penggunaan fungsi : Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tidak mau hadir, maka iapun berkata, “Insyaa Allah”

Atau tatkala diminta bantuan lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”

Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan malah digunakan untuk menolak.

Berlomba-Lombalah Dalam Kebaikan

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi tanggal 01-08-1435 H / 30-05-2014 M
oleh : Syeikh Abdul Bari Al-Tsubaiti -hafidhzahullah- Imam dan Khatib Masjid Nabawi

Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah,,,amma ba’du :

Allah ta’ala berfirman :

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS.Al-Muthaffifin :26).

Seorang muslim sejati selalu berlomba-lomba dalam ketaatan, dan selalu bersegera dalam kebaikan, karena umur itu pendek dan ajal itu terbatas, seorang yang pandai dan berakal selalu bersegera sebelum datangnya halangan dan rintangan ; sungguh tidaklah sama antara yang bersegera menuju kebaikan dan yang berlambat-lambat, juga antara yang berlomba-lomba kepada keutamaan dan yang memberatkan diri kepadanya.

Berlomba-lomba yang terpuji memperkaya kehidupan, dan menjadikan seorang muslim berambisi untuk mengangkat dirinya dan menanjak dengan ilmu dan amalnya agar berusaha menuju kesempurnaan.

Mengalir ruh saling berlomba-lomba dalam jiwa orang-orang yang memiliki semangat yang tinggi, dan yang paling tinggi diantara mereka adalah para Nabi shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihim, Nabi Musa ‘alaihissalam menangis ketika dilampaui oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena iri, dikatakan kepadanya : apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab : (saya menangis karena seorang anak laki-laki diutus setelahku, -akan tetapi- pent. masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari ummatku) (HR.Bukhari). Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia pernah bersabda : (saya berharap menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa membangkitkan semangat saling berlomba-lomba kepada para sahabatnya, agar mereka menaiki tangga yang menyampaikan mereka kepada tujuan, serta menggambarkan kepada mereka tujuan-tujuan yang tinggi dalam hadits-hadits yang tak terhitung jumlahnya ; diantaranya : sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
(Tidak ada saling berlomba diantara kalian kecuali pada dua perkara : Seorang laki-laki yang Allah Azza wa Jalla karuniakan kepadanya hafalan Al-Qur’an dan ia membacanya dalam shalat siang dan malam, serta mengikuti isinya, kemudian seorang laki-laki lain berkata : jika Allah mengaruniakan kepadaku seperti apa yang ia karuniakan kepada Fulan, maka aku akan mengerjakan seperti apa yang dikerjakan oleh Fulan, dan seorang laki-laki yang Allah karuniakan kepadanya harta dan ia berinfak dan bersedekah, kemudian berkata laki-laki lain seperti apa yang diucapkan yang tadi).


Baca selengkapnya disini:
http://www.firanda.com/index.php/artikel/khutbah-jum-at-masjid-nabawi-terjemahan/718-berlomba-lombalah-dalam-kebaikan

Meraih Keutamaan Zakat, Infaq Dan Shodaqoh Berdsarkan Al-Qur’an Dan Hadits Shohih

Ust. Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله تعالى

Membayar Zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqoh merupakan ibadah agung yang memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat banyak bagi pelakunya di dunia dan di akhirat, di antaranya:

(*) KEUTAMAAN PERTAMA:
Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang baik yang akan menjadi penghuni Surga.

» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak
mendapat bagian (maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta).” (QS. Adz-Dzaariyaat: 15-19).

(*) KEUTAMAAN KEDUA:
Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang beriman yang berhak diberi rahmat (kasih sayang dan kebaikan) oleh Allah Ta’ala.

» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”. (QS. At-Taubah: 71).

(*) KEUTAMAAN KETIGA:
Orang yang membayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, dan harta (zakat)nya akan ditumbuh kembangkan oleh Allah.

» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. (QS. Al-Baqarah: 276).

» Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersedekah senilai dengan sebiji Kurma dari penghasilan yang baik (halal) –dan Allah hanya menerima sedekah yang baik (halal)-, maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia menumbuh-kembangkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kamu menumbuh-kembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti (sepenuh) gunung.” (HR. Al-Bukhari II/511 no.1344, dan Muslim II/702 no.1014).

(*) KEUTAMAAN KEEMPAT:
Membayar Zakat merupakan salah satu sebab dihapuskannya kesalahan dan dosa.

» Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

Artinya: “Dan sedekah itu dapat menghapuskan dosa (kesalahan) sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi V/11 no.2616, dan Ahmad V/231 no.22069).

(*) KEUTAMAAN KELIMA:
Membayar Zakat akan mensucikan harta dan jiwa pelakunya, menumbuh-kembangkan harta (Zakat)nya, dan menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki. Dan yang jelas berkahnya akan melimpah.

» Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

» Dan diriwayatkan dari Abu Gharzah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada para pedagang dengan sabdanya:
يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ الْحَلِفُ وَاللَّغْوُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

Artinya: “Wahai para pedagang sesungguhnya jual beli ini dicampuri dengan perbuatan sia-sia dan sumpah oleh karena bersihkanlah ia dengan shadaqah.” (HR. Ahmad IV/6 no.16179, Nasai VII/14 no.3797, dan Ibnu Majah II/726 no.2145. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani).

» Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya: “Sedekah (atau Zakat) itu tidak akan mengurangi harta benda.” (HR. Muslim IV/2001 no. 2588).

(*) KEUTAMAAN KEENAM:
Membayar Zakat merupakan sebab datangnya segala kebaikan. Sedangkan meninggalkan kewajiban Zakat akan mendatangkan keburukan dan menyebabkan terhalangnya kebaikan-kebaikan.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ
السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

Artinya: “Dan tidaklah mereka meninggalkan kewajiban (membayar) zakat harta benda mereka melainkan hujan tidak akan diturunkan kepada mereka. Kalau sekiranya bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan (yakni mereka ditimpa kekeringan, pent).” (HR. Ibnu Majah II/1332 no.4019, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.105).

(*) KEUTAMAAN KETUJUH:
Orang yang membayar Zakat (atau mengeluarkan infaq dan sedekah) dengan niat ikhlas karena Allah akan mendapatkan perlindungan dan naungan Arsy Allah Ta’ala di hari
kiamat kelak.

» Hal ini berdasarkan hadits berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ, وذكر فيه :… وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ …

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari (Kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantaranya yaitu: “Seseorang yang menyedekahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari I/234 no.629, dan Muslim II/715 no.1031)

Maksudnya bersedekah dan berinfaq secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh orang lain, sehingga lebih mudah utk ikhlas dan jauh dari riya’.

(*) KEUTAMAAN KEDELAPAN:
Membayar Zakat, infak atau sedekah dapat mencegah (atau mengobati) berbagai macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Obatilah orang-orang yang sakit diantaramu dengan shodaqoh.” (Shohih At-Targhib wa At-TarhiB-).

» Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada orang yang mengeluhkan tentang kekerasan hatinya:
إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ
“Jika engkau ingin melunakkan hatimu maka berilah makan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad II/263 no.7566, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, namun hadits ini dinyatakan Dho’if (lemah) oleh syaikh Syu’aib Al-Arnauth karena di dalam sanadnya ada seorang perawi yang majhul (tidak jelas identitasnya).

(*) KEUTAMAAN KESEMBILAN:
Orang yang berinfaq atau bersedekah akan didoakan kebaikan oleh malaikat setiap hari.

» Hal ini bedasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Artinya: “Tidaklah seorang hamba berada pada suatu hari melainkan akan turun dua malaikat yang salah satunya mengucapkan (doa), “Ya, Allah berilah orang-orang yang berinfaq itu balasan”, dan malaikat yang lain mengucapkan (doa), “Ya, Allah berilah pada orang yang bakhil/kikir kebinasaan (pada hartanya).”. (HR. Bukhari II/522 no.1374, dan Muslim II/700 no.1010, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

(*) KEUTAMAAN KESEPULUH:
Membayar Zakat, Shodaqoh atau infaq merupakan indikasi kebenaran iman seseorang hamba.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

Artinya: “Shodaqoh merupakan bukti (keimanan).” (HR. Muslim I/203 no.223).

(BM 5. Bersambung dengan KEUTAMAAN KESEBELAS, إِنْ شَاءَ اللّهُ )

Al Haq Itu Berat…

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata:

الحق ثقيل مريء، والباطل خفيف وبيء، ورُبَّ شهوة تورث حزنًا طويلاً.

“Al haq itu berat dan nikmat, kebatilan itu ringan membawa derita, berapa banyak syahwat yang mewariskan kesedihan yang panjang.”

(mawa’idz shohabah)

– – – – – •(*)•- – – – –

Iih Pelitnya, Amit-Amit!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku!
Apakah anda rajin membaca Al Qur’an, terutama di bulan suci ini? Atau mungkin juga anda telah rajin menghadiri pengajian, sehingga telah banyak menguasai ilmu agama?
Mungkin jawaban anda: Wah kurang tahu ya, apakah saya telah tergolong yang banyak membaca Al Qur’an, atau bukan?!. Dan saya juga bingung, apakah saya telah berhasil mendapatkan ilmu agama yang cukup banyak dari pengajian-pengajian yang saya hadiri atau belum?

Anda ingin mengetahui posisi diri anda dalam dua hal tersebut?
Tenang saudaraku tidak usah bingung, tidak sulit kok mengetahui posisi anda. Anda penasaran ingin mengetahuinya? Mudah saudaraku, renungkan hadits berikut dengan baik, niscaya anda dapat mengetahui posisi anda dalam dua hal tersebut di atas.

عَنِ ابْنِ عَبَّاس قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه

“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas , ia mengisahkan: “Dahulu Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi membaca Al Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar Al Asqalaani menjelaskan bahwa kedermawanan dalam syari’at adalah memberi sesuatu yang pantas/layak kepada yang pantas/layak menerimanya. Dengan demikian, kedermawanan lebih luas cakupannya dibanding sedekah. (Fathul Bari 1/31)

Saudaraku! Kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan terutama setelah bertadarus Al Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihissalam mencapai puncaknya. Tahukah anda, apa sebabnya kedermawanan beliau berubah mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan?

Bukankah pada bulan ini produktifitas seseorang berkurang, sehingga kemungkinan besar penghasilannyapun berkurang?

Bukankah pada bulan ini kita berpuasa sehingga lapar dan haus, akibatnya kitapun semakin berambisi untuk menguasai dan menikmati seluruh makanan dan minuman yang kita miliki? Coba antum ingat-ingat kembali apa yang anda lakukan ketika persiapan berbuka? Rasanya, seluruh hidangan yang tersedia di meja makan hendak disantap seorang diri. Bukankah demikian?

Para ulama’ menjelaskan hikmah perubahan kedermawanan Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ramadhan, terlebih-lebih seusai bertadarus Al Qur’an bersama malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Dijelaskan bahwa membaca Al Qur’an dan memahami kandungannya mendorong beliau untuk semakin merasa kecukupan, dan terbebas dari sifat tamak. Dan perasaan kecukupan semacam inilah yang mendasari setiap kedermawanan. Ditambah lagi pada bulan Ramadhan karunia Allah kepada umat manusia berlipat ganda, karenanya beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senang untuk meneladani sunnatullah dengan melipat gandakan kedermawanan beliau.

Dengan bersatunya beberapa hal di atas, keutamaan waktu ditambah perjumpaan dengan Malaikat Jibril bersatu padu dalam diri beliau sehingga kedermawanan beliau berlipat ganda. (Fathul Bari 1/31)
Anda ingin mengetahui sejauh mana kedermawanan beliau? Berikut adalah salah satu contohnya:

عن أنس قال: جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ.

“Sahabat Anas mengisahkan: “Pada suatu hari ada seseorang yang datang menemui Rasulullah , lalu beliau memberinya hadiah berupa kambing sebanyak satu lembah. Spontan lelaki itu berlari menemui kaumnya dan berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, hendaknya kalian semua segera masuk Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi pemberian yang sangat besar, seakan ia tidak pernah takut kemiskinan.” (Riwayat Muslim)

Saduaraku! Coba saudara kembali membaca hadits di atas.
Pada hadits itu kedermawanan beliau digambarkan lebih baik dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus. Ini adalah pertanda bahwa kedermawanan beliau tidak hanya dirasakan oleh sebagian orang saja, akan tetapi dapat dirasakan oleh seluruh orang, tanpa ada perbedaan, walaupun diantara mereka ada perbedaan martabat, kekerabatan atau lainnya. Sebagaimana ini sebagai isyarat bahwa kedermawanan beliau terus mengalir dan tidak pernah terhenti.

Nah, sekarang anda sudah mengetahui apakah anda telah banyak membaca Al Qur’an dan telah banyak mendapatkan ilmu agama?

Ketahuilah saudaraku! bila bacaan Al Qur’an dan pengajian yang anda hadiri memotivasi anda untuk semakin bersikap dermawan, berarti anda termasuk orang yang benar-benar rajin membaca Al Qur’an dan telah berhasil menguasai ilmu agama. Sebaliknya, bila bacaan Al Qur’an anda dan juga pengajian anda di hadapan para ustad dan juru ceramah tidak menjadikan anda bersikap dermawan, maka bacaan Al Qur’an anda dan pengajian anda perlu dikoreksi ulang.

Al Qur’an dan ilmu agama senantiasa menuntun anda untuk bertambah iman kepada Allah Ta’ala dan janji-janji-Nya kepada orang yang berlaku dermawan. Ilmu anda membimbing anda untuk semakin beriman bahwa setiap uluran tangan anda kepada orang lain pasti mendapatkan gantinya dari Allah.

(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.)

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun padanya, kemudian salah satunya berucap (berdoa): Ya Allah, berilah orang yang berinfaq pengganti, sedangkan yang lain berdoa : Ya Allah timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfaq) kehancuran.” (Muttafaqun ‘alaih).

Saudaraku! Bagaimanakah dengan diri anda di bulan suci ini, apakah anda semakin bertambah dermawan atau sebaliknya? Hanya anda yang mengetahui jawaban pertanyaan ini, karenanya buktikan pada diri anda bahwa anda pada bulan suci ini juga bertambah dermawan.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita pada bulan suci ini termasuk orang-orang terbukti bersifat dermawan. Amiin.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Sampai Dimanakah Anda Hari Ini ?

Ustadz DR. Syafiq Basalamah, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Akhi Ukhti

Alhamdulillah udah masuk hari keenam

Seharusnya hari ini paling tidak kita sudah berada di Juz ke 6

Ingatlah…

Hari-hari akan berlari meninggalkan kita

Semua harta benda yang dikumpulkan juga akan ditinggalkan

Namun Qur’an yang kita baca akan tetap menemani kita bahkan dia akan membantu Kita.

Perbanyaklah bacaan Qur’anmu

Al Aswad Bin Yazid seorang Tabi’in disebutkan bahwa bila masuk Ramadhan dia menghatamkan Qur’an setiap Dua Malam

Kita berapa?

Masih ada waktu…
Jangan disia-siakan…

PILIHLAH DARI DUNIA INI YANG TETAP AKAN BERSAMAMU KETIKA SEMUANYA MENGECEWAKANMU DAN MELUPAKANMU

تقبل الله صيامكم واعمالكم الصالحة

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Amalan Penebus Dosa : Edisi Doa Setelah Makan

Ustadz Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى

Dari Mu’adz bin Anas, bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang memakan makanan lalu ia mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنىِ هَذَا الطَّعَامَ وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِّنىِّ وَ لاَ قُوَّةٍ

Alhamdulillahil-ladzii, Ath-‘amanii Haadzath-Tho’aama, Wa  Rozaqoniihi Min Ghoyrii Hawlin minnii, WaLaa Quwwah

(Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku dan memberikan rizki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku)

Maka akan diampuni baginya dosanya YANG TERDAHULU dan YANG AKAN DATANG”.

[HR Abu Dawud: 4023, at-Turmudziy: 3458, Ibnu Majah: 3285, Ahmad: III/ 439, Ibnu as-Sunniy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].

 Oleh Ustadz Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى dalam bukunya “Amalan Penebus Dosa”, halaman 72.

Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

 

Budaya Jadi Agama Atau Agama Jadi Budaya ?

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Menurut anda, manakah yang lebih baik: menjadikan budaya sebagai agama atau menjadikan agama sebagai budaya?

Mungkin bagi banyak orang, membudayakan agama lebih baik dibanding menjadikan budaya sebagai agama. Menjadikan budaya sebagai agama sama saja membuat agama baru.

Menjadikan agama sebagai budaya berarti agama telah menjadi rutinitas dan dibubuhi nilai-nilai seni dan “kearifan” lokal. Dengan demikian, terwujudlah keunikan praktek beragama selaras dengan keunikan budaya lokal. Karena itu muncullah sebutan Islam Jawa, Islam Sumatra, Islam Arab, Islam Cina dan lainnya.

Puasa adalah momentum tepat bagi anda untuk dapat membedakan antara kedua perilaku di atas dan selanjutnya memilih sikap yang tepat.

Anda berhenti makan ketika telah terbit fajar bukan karena budaya atau kebiasaan, namun karena menjalankan perintah Allah dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana anda makan di saat telah terbenam matahari bukan karena tidak katahuan, namun juga karena menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya setelah anda terbiasa berpuasa sebulan penuh, anda menghentikan kebiasaan tersebut bukan karena telah lelah berpuasa, namun karena menjalankan perintah. Bila bulan sabit Syawwal telah terbit anda berhenti berpuasa walaupun anda telah terbiasa dengan puasa. Hanya ada satu alasan anda menghentikan puasa yang telah terbiasa anda lakukan, yaitu dalam rangka patuh dan tunduk kepada syariat Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah semangat ibadah puasa bila telah menyatu dengan jiwa anda, anda berbuat karena perintah dan izin Allah dan anda meninggalkan juga hanya karena perintah Allah Azza wa Jalla semata.

Andai semangat ini berhasil anda aplikasikan dalam setiap aspek kehidupan anda, maka sungguh anda telah berhasil menjadi muslim sejati dan hamba Allah yang sebenarnya. Semua urusan sepenuhnya anda serahkan kepada Allah Azza wa Jalla.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masukkan kalian semua ke dalam agama Islam secara Kaafah/menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah langkah setan, sejatinya setan itu adalah musuh kalian yang nyata.” ( Al Baqarah 208)

.