All posts by BBG Al Ilmu

3 Kunci Sukses Dalam Hidup

Sobat..!
Anda ingin sukses..?
Anda ingin hidup damai..?
Sudahkah anda berhasil mendapatkannya..? Atau barangkali saat ini anda sedang mengusap peluh karena lelah mengejar sukses dalam hidup yang terus menjaga jarak dari anda bak fatamorgana dan bayangan tubuh anda.

Mungkin selama ini kita beranggapan bahwa sukses terletak di balik harta kekayaan, atau popularitas atau jabatan. Namun pada kenyataannya, terlalu banyak orang yang kaya, atau populer atau berjabatan tinggi namun tidak sedikitpun merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.

Tahukah anda, apa rahasianya semua itu ? Sederhana sekali, alasannya karena di atas langit masih ada langit lagi. Bisa jadi anda telah kaya, namun ternyata masih banyak yang lebih kaya dari pada anda. Anda terkenal, namun ternyata terlalu banyak yang lebih terkenal dari anda.

Bisa pula kini anda telah menduduki jabatan yang tinggi, namun demikian kini anda merasakan bahwa masih banyak yang lebih tinggi dari anda. Dan kalaupun anda telah menjadi seorang presiden, namun pada akhirnya anda harus menyadari bahwa jabatan itu hanya sesaat dan akan segera anda lepaskan. Suatu saat anda pasti menyadari bahwa jabatan hanyalah sukses sesaat yang sarat dengan pengorbanan dan derita.

Bila demikian, adanya, apakah arti sukses yang sejati dalam kehidupan dunia kita ini ?

Temukan jawabannya pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

مَنْ أَصْبَحَ مُعَافًى فِي بَدَنِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa yang di setiap pagi merasa sehat di tubuhnya, aman kemanapun ia pergi, dan ia memiliki makanan yang mencukupinya, maka seakan akan ia telah berhasil menguasai seluruh isi dunia.” ( Ibnu Hibban & At Thabrany)

Penulis,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Kenikmatan Yang Begitu Banyak Sering Kita Lupakan…

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

** janganlah kita menjadi hamba Allah yang hanya sadar akan besarnya nikmat Allah tatkala Allah menghilangkan kenikmatan tersebut.

** janganlah kita baru merasakan nikmat sehat tatkala kita sakit,

** janganlah kita baru merasakan nikmatnya melihat tatkala mata kita sakit…dst

– – – – – •(*)•- – – – –
View

10 Kiat Sukses Dalam Menuntut Ilmu Syar’i

Ust. Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

» Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “(Untuk memperoleh) Ilmu itu memiliki 6 (enam) tingkatan, yaitu:

1. Bertanya (tentang ilmu) dengan cara yang baik.

2. Diam dan Mendengarkan ilmu dengan baik.

3. Memahami ilmu dengan baik dan benar.

4. Menghafal ilmu.

5. Mengajarkan Ilmu.

6. Mengamalkan ilmu.

Dan sebagian ulama sunnah lain menambahkan kiat dan sebab lain agar seorang muslim dan muslimah sukses dlm menuntut ilmu syar’I, diantaranya:

7. Menimba ilmu agama dari ahlinya (Ulama Robbani).

8. Mendahulukan yang paling pokok dan wajib dalam menuntut ilmu.

9. Mempelajari ilmu secara bertahap dan kontinue.

10. Tertib dan Disiplin dalam menuntut ilmu.

Demikian faedah ilmiyah yang dapat kami sampaikan pada hari ini.

Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita dalam menuntut ilmu agama-Nya dan mengamalkannya serta mengajarkannya hingga akhir hayat. Amiin. (Klaten, 22 Mei 2014).

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jaga Orangtuamu Jangan Sampai Sakit

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

@Dr_Alsadhan:

مرض فزارته أمه؛ فقام فلبس وتأنق كأن لا بأس به. فلما خرجت سقط مغشيا عليه. فقيل له: كنت معها معافى، فما أصابك؟ فقال: أنين الأبناء عذب قلوب الأمهات.

Ada seorang anak yang sakit, maka ibunya menjenguknya; maka orang tersebut bangkit dan memakai pakaiannya dengan rapi seakan-akan sedang tidak sakit.

Ketika sang ibu keluar, orang tersebut pingsan. Maka ditanyakan kepadanya: “kamu sehat dan bugar ketika ada ibumu, lalu apa yang menimpamu (sehingga kau pingsan)?”

Maka dia menjawab: “Rintihan sakit anak itu dapat menyakiti hati para ibu.”

(Selesai dari Syekh as-Sadhan).

Faedah (dari pent):

– Jangan mudah mengeluh baik problem rumah tangga, kesulitan biaya, penyakit, apalagi penyakit anak di depan orangtua, terlebih ibu, karena hal itu dapat membuat orangtua pikiran, dan hal itu bisa saja menjadi penyebab kesedihan yang mendalam bagi orangtua yang tentunya bisa saja hal itu membuat mereka jatuh sakit.

Jadilah kita orang yang mandiri dan kuat kepribadiannya di depan mereka.

Kalaupun kita tidak bisa membuat orangtua tersenyum, janganlah membuat mereka menangis atau bersedih bahkan sakit.

Sebelum detak jantung ibumu yang telah melahirkanmu berhenti, berikanlah yang terbaik untuknya!

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Orang-Orang Yang Tidak Mengetahui Perkara Jahiliyah

Ust. Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Barangsiapa memanggil-manggil Ali bin Abi Thalib maka ia kafir. Dan barangsiapa ragu akan kafirnya orang ini, ia pun kafir.

Jika demikian kondisi orang yang ragu akan kafirnya orang kafir, padahal ia tetap memusuhinya, membencinya, maka bagaimana jadinya orang yang meyakini si kafir ini masih muslim dan tidak mau memusuhinya?! (Lebih jauh lagi) bagaimana dengan orang yang (justru) mencintai si kafir?! Atau membelanya dan membela cara beragamanya dan beralasan bahwa kami tidak mampu memusuhi mereka (orang-orang kafir) karena bisnis dan perlu mencari rezki.

Padahal Allah Ta’aala berfirman (mencela musyrikin Makkah yang mengetahui kebenaran namun tidak mau mengikutinya dengan alasan keselamatan):
((Dan musyrikin berkata: Jika kami mengikuti jalan kebenaran bersamamu (Muhammad) kami akan diculik dari tempat-tempat tinggal kami)) Al Qashash: 57).

jikalah seperti ini Allah mencela orang-orang yang abstain dari menampakkan kebenaran dan mengamalkan tauhid serta memusuhi musyrikin dengan alasan khawatir akan keselamatan keluarga dan kerabatnya, bagaimana dengan orang-orang yang abstain dalam hal ini tapi dengan alasan rejeki?!

Namun perkara ini persis seperti yang diucapkan Umar Radhiyallahu ‘Anhu: “Akan lepas tali Islam seutas demi seutas. Jika tumbuh di dalam Islam orang-orang yang tidak mengetahui perkara Jahiliyah.”

Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam “Mufidul Mustafid” 149-150 Cet. Maktabah Ar-Rusyd

– – – – – •(*)•- – – – –

View

[Tanggapan pada Voa-Islam]: Mendukung Salah Satu Capres, Bukan Berarti Mendukung Demokrasi

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Keliru memahami bahwa memberikan suara berarti mendukung demokrasi padahal ulama yang membolehkan nyoblos tidak berpandangan seperti itu.

Tulisan kami sebelumnya di Muslim.Or.Id: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pelajaran-dari-perdebatan-dalam-memberikan-suara-dalam-pemilu.html

Dalam tulisan kami lainnya di Muslim.Or.Id: http://muslim.or.id/manhaj/menggunakan-hak-suara-dalam-pemilu-beda-dengan-masuk-parlemen.html

Muslim.Or.Id sudah beberapa kali memuat fatwa ulama besar yang menunjukkan bolehnya kita menggunakan hak pilih kita dalam Pemilu. Tujuannya adalah untuk mengambil mudhorot (bahaya) yang lebih ringan. Apa yang diambil ? Yaitu agar tokoh-tokoh pembawa kerusakan dapat dibendung, bukan dalam rangka mencari pemimpin yang dapat menegakkan hukum Islam di tanah air kita.

Dalam kaedah fiqhiyyah Syaik As Sa’di disebutkan,

وَضِدُّ تَزَاحُمُ المفَاسِدِ
يُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ المفَاسِدِ

“Lawannya, jika bertabakan dua mafsadat,
Pilihlah mafsadat yang paling ringan.”

Dan agama ini bisa jadi tegak lewat orang-orang yang fajir atau keji. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Bilal pada saat perang Khoibar untuk menyeru manusia dengan mengatakan,

إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

“Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa-jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini lewat orang yang fajir (keji, ahli maksiat)” (HR. Bukhari no. 3062 dan Muslim no. 111)

Abu Hurairah menceritakan tentang sebab munculnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Abu Hurairah berkata bahwa beliau mengikuti perang Khoibar. Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada orang yang mengaku membela Islam, “Ia nantinya penghuni neraka.” Tatkala orang tadi mengikuti peperangan, ia sangat bersemangat sekali dalam berjihad sampai banyak luka di sekujur tubuhnya. Melihat pemuda tersebut, sebagian orang menjadi ragu dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata luka yang parah tadi membuatnya mengambil pedang dan membunuh dirinya sendiri. Akhirnya orang-orang pun berkata, “Wahai Rasulullah, Allah membenarkan apa yang engkau katakan.” Pemuda tadi ternyata membunuh dirinya sendiri. Rasul pun bersabda, “Berdirilah wahai fulan (yakni Bilal), serukanlah: Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa-jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini lewat orang yang fajir (keji, ahli maksiat).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagian saudara kita memberikan tanggapan bahwa sungguh sia-sia keberadaan orang baik di Parlemen. Atau mereka katakan bahwa partai adalah hasil demokrasi yang sudah barang tentu menyimpang dari ajaran Islam. Komentar seperti ini tidak tepat sasaran.

Ingat bahwa menggunakan hak suara dalam Pemilu bukan dalam rangka mencari pemimpin yang akan menegakkan Islam, namun dalam rangka meminimalkan ruang gerak para penjahat dan musuh Islam.

Lihatlah dahulu, pada awal kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau membuat perjanjian damai atau kerjasama dengan kaum Yahudi untuk mempertahankan kota Madinah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepenuhnya memahami bahwa Yahudi tidak akan membela Islam apalagi menegakkan syari’at Islam. Beliau melakukan hal itu untuk meminimalkan ancaman dan resiko serangan kafir Quraisy dan sekutunya. Kisah perjanjian tersebut dimuat dalam kitab-kitab sirah dan dikisahkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka.

Demikian fatwa ulama yang membolehkan menggunakan hak suara pada Pemilu mendatang juga maksud mereka adalah seperti itu.

Fatwa ulama dalam memberikan suara dalam Pemilu:
http://muslim.or.id/manhaj/golput-ataukah-memberikan-suara.html
http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-memberikan-suara-dalam-pemilu.html
http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-2-memberikan-suara-dalam-pemilu.html

Memilih untuk Golput ataukah tidak, bukan masuk dalam masalah manhaj, namun karena maksud menimbang maslahat dan mudarat. Silakan baca fatwa-fatwa dari para ulama tersebut.

Kami membicarakan masalah Capres kali ini, karena tuntutan maslahat. Setiap muslim bingung, manakah yang harus dipilih. Dan kecenderungan kami pada satu capres bukan berarti itu jadi pendapat Salafi secara umum, yang lain barangkali lebih senang memilih Golput dan kami pun tidak memaksa.

Masih terlalu banyak di antara kita yang tidak terbiasa dan gerah menghadapi perbedaan pendapat dalam wilayah ijtihad. Semoga Allah memberikan bashirah bagi kita semua.

Semoga Allah terus memberikan kita hidayah untuk menerima kebenaran.

Status shahih dari Muhammad Abduh Tuasikal, 22 Rajab 1435 H

https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal/posts/10202190301383676

view

Mendengar Lantunan Ayat Al Qur’an Hingga Menangis Tersedu-Sedu

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Pernahkah anda mendengar lantunan ayat ayat suci Al Qur’an, lalu tanpa sadar air mata anda berlinang dan berderai derail ?

Pernahkah anda mendengar ceramah seorang ustadz atau muballigh yang begitu bagus, hingga anda menangis tersedu sedu karenanya?

Atau bahkan, pernahkah anda menghadiri satu acara pengajian lalu seorang muballigh yang begitu menyentuh hati, penceramahnya menangis sesenggulan dan akhirnya anda dan juga mayoritas pendengar hanyut dalam lautan isakan tangis?

Sobat! Izinkah saya bertanya kepada anda, apakah sejatinya yang menyebabkan anda menangis ?

Benarkah anda menangis karena anda memahami makna ayat dan hadits yang dibacakan? Ataukah anda menangis karena terbawa oleh merdunya suara sang qori’ ?

Benarkah anda menangis karena anda takut kepada ancaman Allah yang termuat pada ayat-ayat yang anda dengar atau anda rindu kepada surga yang tergambar pada ayat ayat tersebut ?

Bukankah sebelumnya anda telah membaca dan mendengar ayat-ayat yang sama namun mengapa anda tidak menangis? Ayat-ayat tersebut berlalu begitu saja seakan tidak ada apa apa ?

Mungkinkah anda menangis hanya karena hanyut dalam suasana haru, alias karena muballighnya menangis, dan orang di sekitar anda menangis, akhirnya andapun terharu dan turut menangis ?

Sobatku! Sekali lagi, izinkan saya kembali bertanya: tahukah anda bahwa para penggemar musik ketika menghadiri konser penyanyi yang mereka idolakan juga banyak yang menangis terharu ?

Sobat! Bila anda menyadari bahwa ternyata yang menjadikan anda menangis hanyalah merdunya suara, maka tangisan anda ini pantas untuk anda tangisi dan sesali, karena ternyata tangisan anda menyerupai tangisan penggemar musik.

Adapun tangisan orang orang yang beriman ialah tangisan karena memahami kandungan ayat ayat yang ia baca atau ia dengar, sehingga mereka menangis walaupun suara yang membacanya blero alias tidak merdu. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sejatinya orang orang yang beriman ialah mereka yang bila dibacakan kepada mereka ayat ayat-Nya, mereka bertambah iman dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakkal.” (Al Anfal 2)

https://id-id.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri

– – – – – •(*)•- – – – –

View

 

Ikutilah Jalan Petunjuk Meski Sedikit Orang yang Menempuhnya

IkIbnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku, seislam yang saya cintai …Janganlah kebanyakan orang itu, kita jadikan sebagai ukuran sebuah kebenaran atau bagusnya sebuah amalan. Janganlah kebanyakan orang itu dijadikan pegangan atau dasar bagi ucapan, keyakinan dan amalan kita. Mengapa demikian? karena :

Kebanyakan orang itu beriman dalam kondisi mempersekutukan Alloh Ta’aala.

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada اللّـﮧ, melainkan dalam keadaan mempersekutukan اللّـﮧ (dengan sembahan-sembahan lain). ~QS. Yusuf ayat 106~

Kebanyakan orang itu malah menyesatkan orang lain.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan اللّـﮧ . Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap اللّـﮧ). ~QS. Al An’aam ayat 116~

Akan tetapi..ikutilah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan apa yang diajarkannya. Karena mengikuti beliau itulah yang diperintahkan اللّـﮧ kepada semua hamba yang mengaku-ngaku cinta kepada-Nya. Dan dengan mengikuti beliau maka اللّـﮧ akan mencintai dan mengampuni kita.

Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai اللّـﮧ, ikutilah aku, niscaya اللّـﮧ mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. اللّـﮧ Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. ‘Aali Imron ayat 31

Al-Fudhoil bin Iyadh ~rohimahulloh~ mengatakan :

عليك بطريق الهدى وإن قل السالكون، واجتنب طريق الردى وإن كثر الهالكون

“Wajib atas kalian untuk mengikuti jalan petunjuk meskipun sedikit orang yang menempuhnya, dan jauhilah jalan kesesatan, meskipun banyak orang-orang yang binasa.”
Semoga اللّـﮧ menjadikan penulis dan pembaca risalah ini termasuk hamba-hamba-Nya yang selamat di dunia & akhirat kelak,
أميــــن يــارب العـالــمي

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jangan Galau

Ust. DR. Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Akhi.. ukhti
Galau ???
Biasanya akan cari teman ngobrol.

Lupa bahwa teman kita hanya insan yang juga menyimpan banyak kegalauan.

Ingatlah dengan doa Nabi Yunus

لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين

Siapa yang membacanya niscaya akan hilang kegalauannya dan dimudahkan urusannya, kiranya seperti itu pesan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam.

HANYA SANG PENCIPTA YANG DAPAT MENGUSIR KAGALAUAN JIWA

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Cerdas Dalam Memilih Maslahat Dan Mudarat

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Tidak selamanya seseorang mengambil yang semuanya baik, kadang ia harus menaruh pilihan pada yang terbaik di antara dua pilihan.

Suatu waktu bisa pula dihadapkan dengan dua mudarat sehingga ia harus mengambil yang mudaratnya lebih ringan.

Jika seseorang bisa mengambil yang terbaik di antara dua pilihan dan bisa mengambil yang lebih ringan dari dua pilihan, itulah seseorang yang disebut cerdas.
Demikianlah kesimpulan dari Ibnu Taimiyah di mana beliau pernah berkata,

لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ

“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yang cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.
Ia pun bersyair,

إنَّ اللَّبِيبَ إذَا بَدَا مِنْ جِسْمِهِ مَرَضَانِ مُخْتَلِفَانِ دَاوَى الْأَخْطَرَا

“Orang yang cerdas ketika terkena dua penyakit yang berbeda, ia pun akan mengobati yang lebih berbahaya.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 54).

Jadi ada pilihan yang sama buruk dan baiknya, namun beda kelas. Jadi ada yang baik dan ada yang lebih baik, juga ada yang buruk dan ada yang lebih buruk lagi.
Syaikh As Sa’di melantunkan syair dalam pelajaran kaedah fikih beliau,

فإن تزاحم عدد المصالح
يقدم الأعلى من المصالح

“Apabila bertabrakan beberapa maslahat…
Maslahat yang lebih utama itulah yang lebih didahulukan.”

وَضِدُّ تَزَاحُمُ المفَاسِدِ
يُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ المفَاسِدِ

“Lawannya, jika bertabakan dua mafsadat (kerusakan),…
Pilihlah mafsadat yang paling ringan.”

Contoh cerdas dalam memilih:

1- Jika seseorang yang terluka dan ketika sujud pasti akan keluar darah dan itu bisa membahayakannya. Ketika itu ia memilih untuk shalat dalam keadaan duduk dan memberi isyarat untuk sujud. Meninggalkan sujud ketika itu lebih ringan daripada keluarnya darah -bagi yang menganggap darah itu najis-.

2- Bolehnya membelah perut ibu yang telah mati dan masih mengandung janin, di mana masih ada harapan hidup untuk bayi tersebut.

3- Ketika ada kapal yang hendak tenggelam, maka pilihan yang cerdas adalah membuang barang-barang yang berat biar kapal bisa selamat.

Semoga bermanfaat.

– – – – – •(*)•- – – – –

View