Malam Ahad – 06 Ramadhan / 16 Maret

Malam Ahad – 06 Ramadhan / 16 Maret

Malam Sabtu – 05 Ramadhan / 15 Maret

Malam Jum’at – 04 Ramadhan / 14 Maret

Syeikh Al-Utsaimin rohimahullah:
“Hendaknya orang yang mampu (secara finansial) untuk berusaha memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, BISA DI MASJID, bisa juga di tempat-tempat lain. Karena ‘orang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, dia akan mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa’.
Maka, barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada saudara-saudaranya yang berpuasa, baginya seperti pahala puasa mereka.
Oleh karena itu, hendaknya orang yang Allah berikan kecukupan untuk memanfaatkan kesempatan ini agar mendapatkan pahala yang banyak..”
[48 tanya jawab tentang puasa, hal 20]
——
Kata-kata beliau “bisa di masjid”, menunjukkan bolehnya mengadakan buka bersama di masjid, dan ini yang lebih sesuai dalil, karena hadits Nabi yang menjelaskan keutamaan amalan ini tidak membatasi tempatnya. Wallahu a’lam.
Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Malam Kamis – 03 Ramadhan / 13 Maret

Malam Rabu – 02 Ramadhan / 12 Maret

Malam Selasa – 01 Ramadhan / 11 Maret

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌ ٧
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar..”
[ Qs. Al Hadiid/57 : 7 ]
• Al Qurthubi rohimahullah berkata tentang ayat 7 dari Qs Al Hadiid/57,
“Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian pada hakikatnya bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya.
Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian..”
[ Tafsir Al Qurthubi ]
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullah pernah ditanya sbb :
PERTANYAAN
هل وردت تهنئة بدخول شهر رمضان، وإذا هنأني شخص ماذا أقول له؟ وجزاك الله خيراً.
– Wahai Syaikh yang mulia, apakah ada riwayat tentang ucapan selamat ketika masuk bulan Ramadhan..?
– Apabila ada seseorang yang mengucapkan selamat (ketika masuk bulan Ramadhan) kepadaku, apa yang bisa aku ucapkan untuk membalas ucapannya..?
Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
JAWABAN
ورد عن السلف أنهم كانوا يهنئون بعضهم بعضاً في دخول رمضان ولا حرج في هذا
Telah diriwayatkan dari para salaf bahwa mereka saling mengucapkan selamat ketika memasuki bulan Ramadhan. Yang demikian tidaklah mengapa.
Misalnya seseorang mengucapkan
شَهْرٌ مُبَارَكٌ
SYAHRUN MUBAARAK (Semoga bulan ini diberkahi)
atau ucapan,
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْ شَهْرِك
BAARAKALLAAHU LAKA FII SYAHRIK (Semoga Allah memberikan kepada Anda keberkahan bulan ini)
Atau ucapan lain yang semisal dengan itu.
Demikian pula, orang yang diberi ucapan tersebut hendaknya membalasnya dengan ucapan yang semisalnya, seperti:
وَلَكَ بِمِثْلِ هَذَا
WA LAKA BI-MITSLI HAADZAA (Semoga Anda juga mendapatkan semisal yang Anda doakan kepada saya)
atau ucapan,
وَهُوَ مُبَارَكٌ عَلَيْك
WA HUWA MUBAARAKUN ‘ALAIK (Semoga Anda pun juga diberkahi padanya).
Atau ucapan lainnya yang dapat menyenangkan jiwanya..”
(As-Silsilah al-Liqaa` asy-Syahri no. 70)
Kita semua sedang berjalan .. tidak ada yang bisa berhenti .. bedanya hanya pada kemana arahnya dan pada cepat lambatnya perjalanan kita.
=====
Ibnul Qoyyim -rohimahullah- mengatakan,
فالعبد سائر لا واقف، فإما إلى فوق، وإما إلى أسفل، إما إلى أمام وإما إلى وراء، وليس في الطبيعة ولا في الشريعة وقوف البتة، ما هو إلا مراحل تطوى أسرع طي إلى الجنة أو النار، فمسرع ومبطئ، ومتقدم ومتأخر، وليس في الطريق واقف البتة، وإنما يتخالفون في جهة المسير، وفي السرعة والبطء … فمن لم يتقدم إلى هذه بالأعمال الصالحة فهو متأخر إلى تلك بالأعمال السيئة
“Seorang hamba itu berjalan, bukan berhenti. Kemudian bisa jadi ia pergi ke atas (kemuliaan) atau ke bawah (kehinaan), bisa jadi ia pergi ke depan atau ke belakang.
Dalam kehidupan ini -begitu pula dalam syariat- tidak ada yang berhenti sama sekali.
Ia hanya fase-fase yang akan digulung dengan sangat cepat, bisa ke surga atau ke neraka. Ada yang sampai dengan cepat, ada yang lambat, ada yang ke depan, ada yang ke belakang, dan tidak ada yang berhenti di jalan ini sama sekali.
Mereka hanya berbeda dalam arah perjalanan itu dan dalam cepat dan lambatnya .. barangsiapa tidak maju ke surga dengan amal-amal saleh, berarti ia mundur ke neraka dengan amal-amal buruknya..”
[Madarijus Salikin 1/278]
——
Sungguh betapa lemahnya manusia .. ternyata untuk berhenti saja, mereka pun tidak mampu .. maka tunduk dan taatlah kepada Allah dan bersabarlah untuk menjalaninya, hingga kita mendapatkan surga-Nya, amin.
✍
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى