Category Archives: Kajian Audio

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-17

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-16) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 17 🌼

Bahwa mereka menyuruh kepada perbuatan yang ma’ruf dan melarang dari perbuatan yang mungkar DENGAN ILMU, dengan SIKAP LEMAH LEMBUT, dengan SABAR, dengan tujuan untuk memperbaiki.

Berdasarkan dengan firman Allah [QS Al-Imran : 104]

‎وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ

Hendaklah diantara kalian ada sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan, beramar ma’ruf nahi mungkar

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beraabda:

‎إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ

Sesungguhnya ALLAH  itu LEMBUT dan CINTA KELEMBUTAN

‎وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

Dan Allah memberikan pada kelembutan apa yang Allah tidak berikan kepada sikap keras dan kasar.”

Maka dari itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata dalam mad muftafawa jilid 13 halaman 96:

Maka apabila (kata beliau), kita tidak bisa menghasilkan kebaikan yang banyak kecuali dengan melakukan kebaikan yang sedikit, maka kita lakukan kebaikan yang sedikit itu. Bila kita tidak bisa menghasilkan kebaikan yang banyak.”

Dan apabila kita tidak bisa menghilangkan keburukan sama sekali, dimana kita di hadapkan pada dua keburukan yang satu lebih besar dan satu lebih kecil, maka tentunya lebih kecil lebih kita pilih.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul untuk menghasilkan maslahat dan menyempurnakannya dan meniadakan mafsadat/menyedikitkannya.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahkan manusia dengan sesuai kemampuan.
Dan orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, hendaklah mempunyai sifat-sifat yang tadi telah di sebutkan:

1. DIA HARUS BER-ILMU terhadap yang ia perintah dan larang.
2. DIA MEMPUNYAI SIFAT LEMBUT dan bukan orang yang kasar dan harus dengan punya sifat sabar.

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar dalam kitab Minhajus Sunnah An Nabawiyah jilid 5 halaman 256. Kata beliau:
“..maka melaksanakan kewajiban berupa dakwah yang wajib membutuhkan kepada syarat-syarat yang harus terpenuhi..”

Orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar harus mempunyai sifat:
1. BER-ILMU terhadap dengan apa yang ia perintahkan, juga apa-apa yang ia larang.
2. LEMBUT dengan cara memerintahkan dan melarang.
3. HALIM (tidak cepat emosi), punya kesabaran dalam menahan emosi, ketika ia beramar ma’ruf nahi mungkar.

👉🏼 Maka SEBELUM KITA MENYURUH orang lain kepada kebaikan atau melarang dari keburukan KITA WAJIB BER-ILMU TERLEBIH DAHULU.
Sambil kemudian kita perbaiki dengan tata caranya penuh kelembutan dan kita harus siap untuk menahan emosi di saat kita di caci maki, di saat kita beramar ma’ruf nahi mungkar.

👉🏼 Adapun KALAU TIDAK TERPENUHI SYARAT-SYARATNYA maka TIDAK BOLEH ia melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-16

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-15) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 16 🌼

Bahwa mereka meyakini, bahwa kekokohan di muka bumi itu pemberian dari Allah semata.
Allah berikan kepada siapa yang melaksanakan kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya berupa ilmu yang bermanfaat dan beramal sholeh

Sebagaimana firman Allah [QS An-Nur : 55]

‎وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ

Allah berjanji, Allah mengatakan ini janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

Apa janji-Nya ?

‎لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ

Allah akan berikan kepada mereka khilafah di muka bumi, sebagaimana Allah memberikan khilafah kepada orang-orang sebelum mereka.

Allah akan kokohkan tuk mereka agama mereka yang Allah ridhai untuk mereka.
Dan Allah akan gantikan setelah rasa takut dengan rasa aman .

Kapan itu terjadi ?
Yaitu ketika mereka hanya beribadah kepada-Ku saja dan tidak mempersekutukan Aku sedikitpun juga.

Lihat di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji dan ini merupakan janji Allah.
Kapan janji Allah terbukti ? Dan untuk siapa ?
Untuk orang yang beriman dan beramal sholeh.

Apa janjinya ?” Yaitu KHILAFAH.
Apa syaratnya ?” Yaitu:
1. mereka hanya beribadah kepada Allah dan menjauhkan kesyirikan.
2. Mereka beriman dan beramal sholeh
👉🏼 Ini syarat yang harus di penuhi.

Adapun kemudian berkoar-koar menegakkan khilafah, bukanlah itu manhaj para nabi. Kenapa ?
Karena bukanlah tujuan dakwah para nabi untuk menegakkan Khilafah. Tapi tujuan dakwah para nabi adalah AGAR MANUSIA men-TAUHID-kan ALLAH SAJA.

Maka dari itulah manhaj salaf berkeyakinan bahwa khilafah itu adalah pemberian dari Allah, murni.

Ketika kita beriman, beramal sholeh, berilmu, beramal dan hanya mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan maka Allah akan berikan kepada kita apa yang Allah janjikan tersebut.

Dalam ayat tersebut Allah memberikan syarat agar kita di berikan kekokohan di muka bumi dan keamanan itu adalah mentauhidkan Allah dan sesuai dengan syaria’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah juga berfirman [QS Al-Hajj :41]

‎الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ

Yaitu orang-orang yang apabila kami kokohkan di muka bumi, mereka menegakkan sholat, membayar zakat, ber-amar ma’ruf nahi mungkar, itu orang-orang seperti itu.”

Ketika mereka di kokohkan di muka bumi, mereka menegakkan sholat, membayar zakat.
Kenapa ?
Karena sebelumnya mereka memang sudah menegakkan sholat dan membayar zakat.
Sehingga dengan mereka senantiasa menegakkan syari’at Allah pada diri-diri mereka, Allah pun tegakkan syari’at di negri-negri mereka.
👉🏼 Jadi ini adalah merupakan janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Maka Khilafah tidak mungkin di berikan kepada kaum muslimin, kecuali dengan mengikuti manhaj Khulafa Ar-Rasyidin yang pertama, manhaj Nabawiyah, sebagaimana di sebutkan dalam hadits An Nu’man bin Basyir:
Nanti akan ada kenabian kemudian setelah itu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah kemudian kerajaan yang menggigit, kemudian setelah itu kerajaan yang diktaktor, kemudian kembali kepada Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.”

Jadi akhowat islam bahwa Khilafah adalah murni janji dari Allah.
Kalau kita ingin mendapatkan janji itu maka laksanakan syariat-syariatnya, yaitu BERIMAN, BERAMAL SHOLEH.

Dan tidak mungkin beriman dan bermal sholeh kecuali dengan
👉🏼 ilmu yang bermanfaat dari Alqur’an hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
👉🏼 mengikuti manhaj salafusholeh
Terutama itu mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.

Maka dari itulah dakwah salafiyah, sangat menitik beratkan kepada TAUHID.
Karena itu merupakan azas atau pokok segala amal.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-15

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-14) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 15 🌼

Bahwa dakwah mereka, itu sifatnya tampak kepada manusia seluruhnya, tidak bersifat rahasia, tidak pula mengkhususkan.

Allah berfirman : [QS Yusuf : 108]

‎قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ

Katakanlah inilah jalanku, aku berdakwah kepada Allah

‎ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Diatas basiroh aku dan orang-orang yang mengikutiku

‎ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين

Dan mahasuci Allah, tidak aku termasuk orang yang berbuat kesyirikan

Demikian pula Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beraabda:

‎لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ

Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tampak di atas kebenaran

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata: “Kalau kamu melihat suatu kaum yang berbisik-bisik dalam agama mereka tanpa keumumman manusia, maka ketahuilah bahwa mereka di atas dasar kesesatan.” ( Ad-Darimi dalam “Sunannya”)

Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.
Imam Al-Bukhari berkata: “Bab bagaimana ilmu itu di cabut.”

Dan Umar bin Abdul ‘aziz menulis kepada Abu Bakar bin Hazm, “Lihatlah dari hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka tulislah, karena aku khawatir hilangnya ilmu dan hilangnya para ulama.”

Dan jangan kamu menerima kecuali hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam saja, hendaknya kamu menyebarkan ilmu dan hendaklah kalian duduk sampai di ajari orang-orang yang tidak faham. Karena ilmu tidak akan binasa sampai ia bersifat rahasia.” (Diriwayatkan Imam Al -Bukhari dalam shohinya).

Syaikh Ubailan berkata:
Mengajarkan ilmu syari’at dan menjelaskan agama kepada manusia harus sifatnya alamiah (terang-terangan) di masjid-masjid dan di tempat-tempat yang bersifat umum, yang bicara untuk mereka agama dan di jelaskan kepada mereka hukum-hukum syari’at supaya seluruh manusia mengambil manfaat dari situ, sehingga menyebarlah kebaikan.”

Inilah makna daripada dakwah mereka yang bersifat umum mengajarkan manusia kebaikan, mengajarkan perkara-perkara agama dan ibadah, demikian pula muamallah, antara yang baik dan tidak.

Maka hendaknya semua ini harus sifatnya terang-terangan, tidak boleh kita mengkhususkan dalam artian rahasia.
Maka kalau itu sifatnya rahasia, ini kata Uman bin Abdul ‘aziz, tanda bahwa mereka diatas KESESATAN

Maka dari itulah yang lebih baik dalam berdakwah itu bukan dengan ngumpet-ngumpet, kajian secara rahasia, tetapi hendaknya kajian itu terang-terangan di masjid-masjid, tempat-tempat umum.

Namun tentunya untuk akhwat, untuk para wanita, karena adanya hadits yang menunjukkan keutamaan mereka untuk di rumah, Syaikh Albani memandang bahwa kajian mereka di rumah itu lebih baik daripada di masjid dan di tempat umum…”kenapa ?”
Karena wanita itu hendaknya mereka tidak banyak keluar dari rumah.

Dan keluarnya wanita itu dari rumah merupakan perkara yang tentunya banyak menebar fitnah.
Walaupun datangnya wanita ke masjid untuk taklim boleh-boleh saja.
Tapi dengan syarat-syarat yang harusnya tentu di perhatikan, seperti:
** tidak tabaruj dan yang lainnya,
** tidak bercampur baur laki-laki dan wanita dan yang lainnya.

👉🏼 Perkumpulan-perkumpulan rahasia dalam urusan kebaikan dan urusan dakwah itu terlarang dalam Islam… “TIDAK BOLEH“.

👉🏼 Maka kewajiban kita adalah dakwah kita harus terlihat dengan jelas, supaya manusia mengetahui tentang kebenaran ini secara umum.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-14

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-13) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 14 🌼

Mereka ahlussunnah meyakini bahwa mengikuti hawa nafsu dalam masalah kebid’ahan itu akan merusak agama lebih berat dari pada mengikuti hawa nafsu dalam masalah syahwat, walaupun dua-duanya berat.
Bukan berarti bahwa melakukan hawa nafsu dalam syahwat itu di anggap remeh…”TIDAK“.

Akan tetapi kalau di banding-bandingkan mana yang lebih berat antara mengikuti hawa nafsu dalam masalah ke bid’ahan, dimana seseorang beribadah sesuai dengan seleranya dan hawa nafsunya, sehingga kemudian ia membuat-buat ibadah yang tidak di syari’atkan atau membuat-buat keyakinan sesuai dengan akalnya saja. Sehingga merubah ketentuan syari’at.
Mana yang lebih besar antara orang yang itu dengan orang yang mengikuti hawa nafsu dalam syahwat, seperti misalnya berzina ataupun yang lainnya.

Maka ahlussunnah memandang bahwa mengikuti hawa nafsu dalam masalah yang pertama untuk kebid’ahan itu lebih berat,..”KENAPA ?”
Karena itu bisa merusak-rusak aqidah, merusak agama, merusak ketentuan syari’at.

Sedangkan syahwat itu hanya merusak pribadi orangnya saja, tidak sampai merusak agama Dien ini, walaupun ke dua-duanya merupakan perkara yang berat yang bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka.
Kenapa demikian ?

Karena yang pertama ini sudah kita sebutkan bisa merusak agama. Dan itulah yang menyebabkan orang-orang ahli kitab dan orang-orang musyrikin kafir kepada kebenaran.

Allah berfirman : [QS Al-Qasas : 50]

‎فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ

Jika mereka tidak mau mengikuti dakwah, wahai Muhammad, ketahuilah sesungguhnya mereka mengikuti hawa nafsu mereka

‎وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ

“Dan adakah orang yang paling sesat dari orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tanpa petunjuk dari Allah”

Disini Allah mengatakan, bahwa orang yang paling sesat itu adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak mau mengikuti petunjuk, tidak mau mengikuti hidayah, tidak mau mengikuti dien yang Allah turunkan karena lebih mengikuti nenek moyang atau keyakinan-keyakinan bapak-bapak atau pendeta-pendeta mereka dan yang lainnya.

Inilah yang di sebut dengan hawa nafsu dalam dien dengan kebid’ahan dan pemikiran-pemiliran yang menyesatkan.
Allah mengatakan bahwa adakan orang yang paling sesat atau lebih sesat dari orang-orang seperti itu.
Ini menunjukkan ini adalah lebih berat dan sangat berat sekali.

Maka dari itu ikhwatal Islam saudaku sekalian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan itu dalam ayat-ayat yang banyak tentang bahaya mengikuti hawa nafsu dalam masalah dien.

Allah juga berfirman: [QS Al-Maidah : 77]

‎يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Hai ahli kitab, jangan kamu berlebih-lebihan dalam agama kamu itu dengan tanpa hak, jangan kamu mengikuti hawa nafsu kaum yang yelah sesat sebelum kamu. Mereka telah menyesatkan banyak orang dan sesat dari jalan yang lurus

Allah mengatakan bahwa di larang untuk berlebih-lebihan dalam dien. Lalu Allah mengatakan jangan mengikuti hawa nafsu, artinya dalam agama tidak boleh di sesuaikan dengan selera dan hawa nafsu karena inilah lebih berat.

Allah juga berfirman: [QS Al-Baqarah : 120]

‎وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ _ۗ

Orang Yahudi dan Nasrani  tidak akan ridha kepada kamu, sampai kamu mengikuti millah mereka.

‎وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ _ۗ

Katakanlah sesungguhnya hidayah Allah itulah hidayah yang terbaik

‎وَلَنْ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Kalau kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepada kamu dari ilmu, maka Allah tidak akan menjadi wali dan tidak pula menjadi penolong buat kamu.

Disini ancaman keras bagi orang yang mengikuti hawa nafsu Yahudi dan Nasrani di dalam agama dan merubah-rubah dien.

‎نسأل الله السلامة والعافية

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT : KAIDAH BERIKUTNYA
Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-15

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-13

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-12) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 13 🌼

Mereka memandang tidak boleh atau haram hukumnya memberontak kepada pemimpin yang zalim dan fasik selama dia masih muslim dan sholat.
Bahkan mereka mencela orang yang memberontak itu…kenapa ?
Karena berdasarkan hadits yang sangat banyak dan ijmaa’ Ulama Ahlussunnah dalam hal ini.

Adapun hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
Siapa yang mengingkari keburukan mereka ia telah berlepas diri dan siapa yang membenci atau tidak suka keburukan tersebut, ia telah selamat, tapi yang celaka itu orang yang ridho dan mengikuti keburukan mereka.

Lalu mereka berkata, “Bolehkah kami melawan mereka dengan pedang ?” Kata para sahabat.
Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh, selama mereka menegakkan untuk kalian sholat.
(HR Imam Muslim di Nomer 4906)

Disini tegas bahwa kewajiban kita, kalau pemimpin tersebut melakukan keburukan, kita tidak suka keburukan itu.
Tapi TIDAK BOLEH kita melawan mereka dengan pedang atau memberontak.

Karena Rasulullah mengatakan: “Tidak boleh selama mereka menegakkan pada kalian sholat.”

Demikian pula dari hadits Hudzaifah bin Al Yaman yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

‎يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى

Akan ada setelahku pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mau mengambil sunnahku.”

Berarti ini pemimmpin berhukum dengan hukum selain Allah.

Dan akan ada pada mereka orang-orang yang hati mereka hatinya hati setan dalam tubuh manusia.

Lalu kata Hudzaifah, “Bagaimana aku lakukan, jika aku dapatkan pemimpim-pemimpin seperti itu, hai Rasulullah ?

Kata Rasulullah: “Tetap kamu dengar dan ta’at, maksudnya dalam perkara yang ma’ruf. Walaupun ia memukul penggungmu dan mengambil hartamu, tetap dengar dan ta’at.
(HR Muslim di nomer hadits 4891)

Disini Rasulullah tegas, walaupun dia menzolimi kamu, tetap kamu harus sabar menghadapinya….سُبْحَانَ اللّهِ …ini sesuatu yang luar biasa berat tentunya.

Berkata Syaikhul Islam Taimiyah:
Orang-orang yang ahli bid’ah yang menyangka bahwa mereka di atas kebenaran seperti orang-orang khawarij. Yang mereka menegakkan permusuhan dan peperangan terhadap jama’ah kaum muslimin, maksudnya pemimpin kaum muslimin. Maka merekapun berbuat bid’ah dan mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan mereka.

Maka bahaya orang-orang khawarij itu lebih besar daripada bahaya pemimpin-pemimpin yang zalim.

Orang-orang yang berbuat zalim itu sebetulnya tahu bahwa itu adalah haram.
Maksudnya para pemimpin yang zalim itu terkadang mereka tahu bahwa mereka telah berbuat keharaman.

Itu lebih mending daripada orang-orang khawarij yang mengatasnamakan agama, mengkafirkan, memberontak, akhirnya terkucurlah darah kaum muslimin.

Maka dari itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam jauh-jauh hari sudah memperingatkan tentang bahaya khawarij itu.
Dimana Rasulullah mengatakan:

الْخَوَارِجُ كِلابُ النَّارِ

Khawarij itu anjingnya api neraka
(Diriwayatkan oleh Imam Al-Ajurri)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan dalam riwayat Muslim, kata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:

شر قتلى قتلوا تحت أديم السماء

Seburuk-buruknya orang yang terbunuh adalah orang khawarij dan sebaik-baiknya orang yang di bunuh adalah yang di bunuh oleh orang khawarij.”

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-12

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-11) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 12 🌼

Bahwasanya mereka meyakini bai’at syar’iyyah itu tidak boleh KECUALI kepada seorang imam yang muslim yang di bai’at oleh AHLUL HALI WAL’ AQDI.

Adapun kaum muslimin mengikuti mereka. Dan yang di maksud dengan AHLUL HALI WAL’ AQDI yaitu sebuah badan yang berisi para ulama yang ditunjuk oleh imam sebelumnya.
Mereka diangkat oleh imam sebelumnya untuk mengangkat imam setelahnya.

Dan penting kita pahami dulu tentang bai’at menurut ahlussunnah waljamama’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam kitab Minhajus Sunnah Jilid 1 halaman 527, berkata:
Maksud yang di inginkan dari kepemimpinan (Imamah) itu hanyalah bisa terhasilkan dengan kekuasaan (Sulthan) dan Qudroh (kemampuan). Apabila ia di bai’at dengan sebuah bai’at yang terhasilkan dengannya Al qudroh yaitu kemampuan untuk menjalankan siyasah syar’iyyah dan kekuasaan, jadilah ia seorang imam.”

artinya:
Bahwa yang berhak di bai’at itu adalah mereka yang mempunyai 2 syarat ini:

Yang PERTAMA adalah Alqudroh (KEMAMPUAN).
Kemampuan apa?
Yaitu untuk menegakkan siyasah syar’iyyah.

Yang KE-DUA : Sulthan (KEKUASAAN).
Ini menunjukkan bahwa bai’at itu hanya kepada mereka.

Adapun seperti di Indonesia, sebagian kelompok-kelompok membai’at kelompoknya, imam kelompoknya, tidak terpenuhi syarat tersebut.
Mereka tidak punya Qudroh tidak pula mempunyai kekuasaan apa-apa.

Kata Syaikhul Islam…. kita lanjutkan…
…”Oleh karena itu para ulama Salaf terdahulu berkata:
Siapa yang memiliki Qudroh (kemampuan) dan Sulthan (kekuasaan) yang ia bisa melakukan maksud tujuan kepemimpinan. maka ia dianggap sebagai Ulil Amri yang Allah perintahkan untuk mena’ati mereka selama tidak memerintahkan kepada maksiat.”

Jadi hakikat Imam atau pemimpin Ulil Amri itu adalah kerajaan dan kekuasaan.
Maksud kerajaan di sini artinya dia pemilik negara/ pemegang negara.

Dan kerajaan itu, tidak menjadi raja kecuali dengan hanya sebatas kesepakatan 1 orang atau 2 orang atau 4 orang.
Kecuali kalau kesepakatan 2,3 atau 4 ini di sepakati oleh seluruhnya selain mereka.
Sehingga dengan seperti itupun dia menjadi seorang raja yang berkuasa di suatu negara.

Demikian pula setiap perintah yang membutuhkan kepada bantuan tidak akan terhasilkan kecuali dengan yang menghasilkan sesuatu yang bisa membantu dia.
Maksud beliau bahwa artinya :
👉🏼 KEKUASAAN dan QUDROH inilah syarat seseorang itu boleh di bai’at.

Adapun kalau dia tidak punya kekuasaan dan tidak punya kemampuan, maka ini jelas bai’at-bai’at yang bathil seperti yang kita lihat di zaman sekarang ini yang merupakan bai’at-bai’at yang tidak sesuai dengan syari’at.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-11

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-10) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 11 🌼

Bahwa Ahlus Su’nnah wal Jama’ah waljama’ah mempunyai keyakinan, sebab yang paling besar terjadinya perpecahan itu FANATIKNYA sebagian kaum muslimin kepada kelompok atau jama’ah tertentu atau individu tertentu selain Rasulullah dan para sahabatnya, ini adalah merupakan sebab terbesar TERJADINYA PERPECAHAN.

Seseorang fanatik kepada kelompoknya atau Ustadznya atau organisasainya dan yang lainnya, bukan kepada kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-An’am: 159]

‎إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi kelompok-kelompok kamu tidak termasuk mereka sedikitpun juga

Berkata Ibnu Katsir :
Ayat ini umum, buat orang yang memecah belah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyelisihiNya.”

Allah juga berfirman [QS Ar-Rum: 31-32]

‎وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

‎مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ

Janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka berkelompok-kelompok
Setiap kelompok merasa gembira , berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Kata Ibnu Katsir:
Umat Islam berpecah belah sesama mereka, menjadi berkelompok-kelompok. Semuanya sesat kecuali satu, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Yang berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Dan juga berpegang kepada apa yang di pegang oleh generasi pertama dari kalangan sahabat dan Tabi’in dan para Ulama kaum Muslimin.”

Maka di sini Allah juga menyebutkan tentang sebab perpecahan itu.

Allah berfirman: [QS Ar-Rum: 32]

‎ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Setiap kelompok bergembira atau berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Ketika setiap orang itu lebih membanggakan kelompoknya atau yayasannya atau organisasinya atau ustadznya… pasti pecah.

Seperti yang kita lihat di zaman sekarang, ketika seseorang sedang ngefans kepada seorang ustadz, maka membabi buta dia mengikuti ustadz tersebut.
Ketika ada ustadz lain yang mengkritik, bisa jadi yang mengkritiknya itu benar, maka di sikapi dengan sinis, seakan-akan ustadznya itu tidak boleh salah. Seakan-akan orang yang mengkritiknya itu sesat ataupun yang lainnya.

Kalau mengkritiknya itu tanpa bukti, tanpa hujjah atau sebatas tuduhan, kita wajib membela ustadz kita.
Tapi kalau ternyata kritikannya di atas kebenaran, maka kata Syaikhul Islam:
siapa yang membela ustadznya padahal dia dalam keadaan diatas kesalahan dan di atas kebathilan yang jelas, maka dia telah berhukum dengan hukum jahiliyah.”

Maka dari itu ya akhwat islam, saudaraku…. kita mengikuti kajian sunnah itu bukan untuk berfanatik kepada ustadz-ustadz tertentu atau kelompok tertentu atau kepada yayasan tertentu….Tidak.

👉🏼  FANATIK kita HANYA KEPADA ALLAH dan RASUL-NYA.

Pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas:
Kamu ikut Ali atau ikut Utsman ?”
Kata Ibnu Abbas: “Aku mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Itulah ya akhwat Islam, fanatik kita hanya kepada Allah dan RasulNya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-10

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-9) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 10 🌼

Mereka meyakini bahwa aljama’ah adalah pokok dari pokok-pokok agama.
Yang di maksud dengan aljama’ah yaitu bersatu padu di atas kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman [QS Ali Imran : 103]

‎وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

Hendaklah kalian berpegang semua kalian kepada tali Allah dan jangan bercerai berai.

Disini Allah menyuruh kita berpegang kepada tali Allah yaitu Alqur’an dan Hadits.
Dan melarang kita bercerai-berai, artinya orang yang tidak berpegang pada Alqur’an dan Hadits pasti bercerai-berai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‎إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا

Sesungguhnya Allah mencintai untuk kalian tiga dan membenci untuk kalian tiga.”

Adapun yang Allah ridhoi yang 3;

** kamu beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga.

** dan hendaklah kamu berpegang kepada tali Allah semuanya dan jangan bercerai-berai.

** dan agar kamu menasehati para Ulil Amri (orang-orang yang Allah berikan kepada mereka kepemimpinan).

Berkata Imam Syafi’i:

Jika kamu berkata, apa makna perintah Nabi untuk berpegang kepada jama’ah ?
Aku berkata, kata Imam Syafi’i tidak ada makna kecuali satu.
Lalu jika kamu berkata, bagaimana tidak mempunyai makna kecuali satu ?
Aku berkata, apabila jama’ah mereka bercerai-berai di negeri-negeri, tidak ada yang mampu untuk mempersatukan badan-badan mereka yang bercerai-berai tersebut.Dan apabila mereka mendapatkan badan-badan telah berkumpul dengan kaum muslimin.
Demikian pula para kafirin, orang-orang yang bertaqwa dan orang yang hujar.

Kalau hanya sebatas berkumpulnya badan saja, kata beliau…. kalau begitu buat apa kita di suruh kita berpegang pada aljama’ah, kecuali jama’ah yang harus di ta’ati, yaitu Rasulullah dan para sahabatnya.

Abu Syamah berkata:
Yang di maksud dengan berpegang kepada aljama’ah adalah berpegang kepada kebenaran, walupun yang berpegang sedikit dan yang menyelisihi itu banyak. Karena kebenaran itulah yang di pegang oleh jama’ah yang pertama dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya.

Kita tidak melihat kepada banyaknya orang yang memegang ke bathilan setelah mereka.

Kemudian Syaikh berkata:
Ada 3 PERKARA yang mempersatukan manusia diatas jama’ah yang haq;

▪ Yang PERTAMA kata beliau Tauhid, yaitu aqidah yang shohihah.
Karena apabila aqidah berbeda-beda, tidak mungkin mereka akan bersatupadu.
Sebab persatuan badan tidak ada maknanya. Sebagaimana di katakan Imam Syafi’i tadi.

▪ Perkara yang ke DUA, yaitu rujukan yang menjadi rujukan harus satu juga, yaitu Alqur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam
Adapun kemudian merujuk masing-masing mazhab, masing-masing manhaj, maka ini tidak akan pernah mempersatukan.

▪ Perkara yang ke TIGA, yaitu adanya ke ta’atan kepada pemimpin yang satu, yaitu Ulil Amri yang di ta’ati.
Makanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

‎وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ

Untuk kamu memberikan NASIHAT kepada pemimpin kalian.”

Maksud NASIHAT di sini, yaitu MENTA’ATI MEREKA, sabar menghadapi kedholiman mereka.
Menta’ati tentunya DALAM KETA’ATAN BUKAN KEMAKSIATAN
.

Nah inilah 3 perkara yang menjadikan kaum muslimin bersatu padu diatas kebenaran aljama’ah

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN