Category Archives: Mutiara Salaf

Buah Manis Dari Ketakwaan Dan Memperbanyak Istighfar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

إن اللّٰه ضمن للمتقين أن جعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فيرفع عنهم ما يضرهم ويجلب لهم ما يحتاجون إليه. فإذا لم يحصل ذلك؛ دل على أن في التقوى خللا؛ فليستغفر اللّٰه ولينب إليه.

Sesungguhnya Allah menjamin untuk orang-orang yang bertakwa dengan akan menjadikan untuk mereka jalan keluar dari kesempitan yang menimpa manusia, dan memberi mereka rezeki dari arah yang tidak mereka perhitungkan, yaitu dengan menghilangkan dari mereka hal-hal yang membahayakan mereka dan memberikan apa yang mereka butuhkan.

Jadi jika hal itu tidak terjadi, maka itu menunjukkan bahwa pada ketakwaan tersebut masih terdapat kekurangan, sehingga hendaklah seorang hamba memohon ampun kepada Allah dan kembali kepada-Nya.

(Qoidah Fir Roddi ‘Alal Ghozaly Fit Tawakkul, hlm. 147)

Selalu Bersyukur Dan Istighfar

Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

Seorang selalu berada di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib disyukurinya, dan dosa yang menuntut taubat.

Dalam kedua perkara inilah seorang hamba menjalani hidupnya setiap hari :
– manusia senantiasa hidup dalam nikmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan
– manusia senantiasa butuh kepada taubat, istighfar.

Oleh karena itulah penghulu anak Adam dan imam orang-orang yang bertaqwa, Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam selalu beristighfar kepada Allah dalam semua kondisi.

(Al-Tuhfatul Iroqiyah – 1/79)

Betapa Cepatnya Dunia Melupakan Seseorang Setelah Kematiannya .. Maka Sebaik-Baik Bekal Adalah Takwa

Diriwayatkan bahwa sahabat Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu pernah keluar dari perkuburan, saat sampai di tempat yang cukup tinggi, beliau menghadap ke arah kuburan itu dan berkata,

يا أهْلَ القُبُورِ! أخْبِرُونا عَنّا بِخَبَرِكُمْ أمّا خَبَرُكُمْ قِبَلَنا فالنِّساءُ قَدْ تَزَوَّجْنَ والمالُ قَدْ قُسِّمَ والمَساكِنُ قَدْ سَكَنَها قَوْمٌ غَيْرُكُمْ ثُمَّ قالَ أما واللَّهِ لَوْ نَطَقُوا لَقالُوا لَمْ نَرَ زادًا خَيْرًا مِنَ التَّقْوى

Wahai para penghuni kubur..! Sampaikanlah kepada kami berita dari kalian..!

Adapun berita dari kami :
– istri kalian telah menikah kembali,
– harta kalian telah dibagi-bagi, dan
– rumah kalian telah orang lain tempati

Beliau melanjutkan :

Ketahuilah..! Demi Allah, seandainya mereka sanggup berbicara, mereka akan berkata, ‘Kami tidak temui perbekalan yang lebih baik dari takwa..ʼ

(Al-Istidzkar – Ibnu Abdil Barr – 1/185)

Sepuluh Tanda Matinya Hati

Abu Nu‘aim al-Ashfahani rohimahullah menyebutkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Ibrahim bin Adham (Abu Ishaq) rohimahullah -salah seorang tabi‘in- pernah melewati sebuah pasar di kota Bashrah, maka sebagian manusia bertanya kepadanya,

Wahai Abu Ishaq, bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman,

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ﴾ [غافر ٦٠]

“Dan Robb kalian berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagi kalian..” [QS. Ghofiir : 60]

Sedangkan kami, kami sudah berdo’a kepada Allah namun belum juga dikabulkan.

Maka beliau (Abu Ishaq) menjawab, “Hal demikian terjadi karena hati kalian telah mati, (yang dapat diketahui) dengan sepuluh perkara, yaitu :

1. Kalian mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun kalian tidak menunaikan hak-Nya.

2. Kalian membaca Alqur’an, namun kalian tidak mengamalkan kandungannya.

3. Kalian mengakui cinta kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, namun kalian tinggalkan sunnahnya.

4. Kalian mengatakan bahwa syaithan adalah musuh, namun kalian malah mengikutinya.

5. Kalian mengatakan rindu dengan Surga, namun kalian meninggalkan jalan (amal sholeh) untuk menggapainya.

6. Kalian mengatakan takut dengan neraka, namun kalian tidak lari darinya.

7. Kalian mengatakan, bahwa kematian adalah sebuah kepastian, namun kalian tidak mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

8. Kalian lebih suka disibukkan dengan aib orang lain dan melupakan aib kalian sendiri.

9. Kalian telah merasakan nikmat Allah, namun kalian tidak menunaikan rasa syukur kepada-Nya.

10. Kalian telah menguburkan orang-orang yang telah wafat, namun kalian tidak mengambil pelajaran darinya.

Maka bagaimanakah do’a kalian akan dikabulkan..?!

(Hilyatul Auliyaa’ – 8/15)

Tanda Zuhud Terhadap Dunia Dan Manusia

Al Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

“Tanda Zuhud terhadap dunia dan manusia adalah tidak menyukai pujian mereka dan tidak peduli dengan ejekan mereka..”

(Hilyatul Auliya’ – 8/90)

Zuhud adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat untuk akherat..

Pujian manusia tidak ada manfaatnya untuk akherat kita..
Bahkan seringkali memberikan mudhorot..

Demikian pula celaan manusia tidak membahayakan akherat kita..
Bahkan dapat menguntungkan..
Kecuali bila kita baper dan membalas dendam dengan yang lebih..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Selalu Memuji Allah Dan Istighfar Kepada-Nya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Siapa yang selalu memuji Allah maka kebaikan akan selalu mengikutinya .. dan siapa yang selalu ber-istighfar maka akan terbuka semua yang terkunci..”

(Addaa wad Dawaa hal 180)

Memuji Allah dalam setiap keadaan menunjukkan keyakinan yang kuat bahwa Allah terpuji pada setiap perbuatan-Nya..
Sehingga menimbulkan sifat ridho terhadap ketentuan yang getir kepadanya..

Dan selalu memohon ampunan menunjukkan pengakuan dirinya yang banyak dosa dan kesalahan..

Sehingga kesulitan menjadi rahmat untuknya..
Karena ia merasa bahwa itu semua akibat dosa dosanya..

Dan ia yakin bahwa kesulitan itu menggugurkan dosa dosanya dan mengangkat derajatnya..

Ia yakin kesulitan itu untuk kebaikan dirinya agar memiliki jiwa yang kuat dan tabah..
Maka iapun senantiasa memuji Allah ‘Azza wajalla..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Golongan Penghafal Alqur’an

Al Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

Penghafal Alqur’an itu ada tiga golongan :

PERTAMA : orang yang membawa barang dagangan lalu membawanya dari kota ke kota untuk mendapatkan apa yang dimiliki orang.

KEDUA : orang yang menghafal huruf-huruf Alqur’an dan melalaikan hukum-hukumnya, kemudian digunakan untuk mendukung para penguasa dan mencela anak negerinya. Penghafal Alqur’an semacam ini juga banyak dan semoga Allah tidak memperbanyak mereka lagi.

KETIGA : ada orang yang membaca Alqur’an lalu meletakkan obatnya pada penyakit hatinya, begadang malam, kedua matanya bercucuran air mata, berhias khusyuk, berpakaian ketenangan dan merasakan kesedihan. Demi Allah, penghafal Alqur’an semacam ini sangat sedikit. Karena merekalah Allah menyiramkan hujan, menurunkan pertolongan, dan mengusir bencana.

(al-Tad al-Farid – 2/89)

Jiwa Yang Baik

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Jiwa yang baik itu merasa lezat saat memberi maaf dan berbuat ihsan .. sedangkan jiwa yang buruk merasa senang dengan berbuat keburukan dan kezholiman..”

(Majmu’ Fatawaa 1/560)

Karena jiwa yang baik selalu menginginkan kebaikan dan merasa senang dengannya..

Sedangkan jiwa yang buruk merasa senang dengan keburukan dan perbuatan zholim..

Ya Allah jadikanlah hati kami menyukai keimanan dan hiaskanlah iman di hati hati kami..

Dan jadikan hati kami membenci kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan..

Dan jadikan kami orang orang yang mengikuti jalan yang lurus..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kunci Sukses Dalam Pergaulan

Syaikh al-Utsaimin rohimahullah berkata,

Saat berinteraksi dengan manusia maka ingatlah selalu firman Allah, “Allah mencintai orang yang berbuat ihsan..” agar engkau berbuat ihsan kepada mereka sesuai dengan kemampuanmu.

(Syarh Riyadhush Sholihin 2/14)

Berbuat ihsan (baik) adalah kunci sukses dalam bermu’amalah dengan manusia..

Sifat mukmin adalah selalu ingin berbuat baik kepada manusia..
Bukan menjadi beban untuk manusia..
Walaupun ia susah..
Ia tetap tak ingin merepotkan orang lain..

Ia hanya meminta kepada Allah sambil berusaha..
Ia yakin bahwa Allah tak mungkin menyia nyiakan hamba yang bertawakal kepada-Nya..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bersemangat Mendapatkan Pahala Menyebarkan Ilmu Agama

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rohimahullah mengatakan,

وصيتي لنفسي واياكم الحرص علي نشر العلم بين الناس، ولا تحقروا شيئا ،فاذا علمت إنسانا مسألة واحدة وعمل بها، ثم عملها ءاخر و ءاخر وءاخر فكل ما يحصل من اجر بالعمل الذي انت دللت الناس عليه،فلك مثله.

Wasiatku untuk kalian ialah bersemangat dalam menyebarkan ilmu agama di tengah-tengah manusia, dan janganlah kalian menganggap remeh urusan tersebut sedikitpun.

Karena ketika engkau mengajarkan sebuah permasalahan (ilmu) kepada seseorang, lalu orang tersebut mengamalkannya, dan diamalkan oleh orang lain, orang lain dan orang lain, maka setiap pahala yang didapatkan dari amalan yang engkau ajarkan manusia kepadanya, maka engkau juga akan mendapatkan pahala seperti yang mereka dapatkan.

(Liqaa al-Baab al-Maftuuh vol. 86)