Tj Memberitakan Penyebab Kematian

492. BBG Al Ilmu – 391

Pertanyaan:
Kalau ada yang bertanya sebab meninggalnya karena sakit apa? Misal si mayit meninggal karena sakit menular seperti Hiv Aids, apa termasuk aib si mayit kalau kita memberi tahukan kepada yg bertanya ?

Jawaban:
Ust. Fath El Bari, حفظه الله تعالى

Insya-Allah tidak termasuk aib, namun sekiranya di ‘uruf (kebiasaan) suatu komunitas, penyakit ini menjadi simbol aib bagi seseorang, sebaiknya dihindari, agar lebih menjaga hati keluarganya dan kehormatannya.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Badal/Menghajikan Orang Lain

491. BBG Al Ilmu – 311

Pertanyaan:
Bolehkan membadalkan haji orang yang sudah meninggal dunia ?

Jawaban:
Para ulama yang duduk di Komisi Fatwa Saudi Arabia pernah ditanya mengenai perkara ini (badal haji), dan mereka menjawab:
“…Boleh bagi seorang muslim menunaikan haji wajib untuk orang lain (badal haji) jika orang lain tersebut tidak mampu menunaikan haji dengan dirinya sendiri dilihat dari umurnya yang sudah tua, atau karena sakit yang tidak bisa diharapkan sembuhnya, atau karena telah meninggal dunia. Bolehnya hal ini karena ada hadits shahih yang menerangkannya. Namun jika orang yang dihajikan tidak mampu berhaji saat itu saja semisal tertimpa penyakit yang bisa diharapkan sembuhnya, atau karena keadaan politik dalam negeri, atau perjalanan yang tidak aman, maka tidak sah membadalkan haji untuknya…”
(Fatawa Al Lajnah 11: 51).

Para ulama lebih lanjut menjelaskan bahwa ada tiga syarat boleh membadalkan haji:

1. Orang yang membadalkan adalah orang yang telah berhaji sebelumnya.

2. Orang yang dibadalkan telah meninggal dunia atau masih hidup namun tidak mampu berhaji karena sakit atau telah berusia senja.

3. Orang yang dibadalkan hajinya mati dalam keadaan Islam. Jika orang yang dibadalkan adalah orang yang tidak pernah menunaikan shalat seumur hidupnya, ia bukanlah muslim sebagaimana lafazh tegas dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias dia sudah kafir. Sehingga tidak sah untuk dibadalkan hajinya.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/haji-umrah/4096-10-ketentuan-badal-haji.html

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-badal-haji.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Bagian Tubuh/Tulang Yang Dipotong Dalam Operasi Medis

490. BBG Al Ilmu – 1

Pertanyaan:
Ustadz, kakak ana operasi tulang, bonggol sendi kaki diganti titanium. Bagaimana hukum terhadap potongan tulang tersebut ? Apa harus segera dikubur atau disimpan dulu (diformalin) untuk dikubur bersama bila nanti mati atau boleh disumbangkan ke BATAN untuk diproses dan lalu dijual kepada orang2 yang membutuhkan untuk tambal atau tanam tulang?

Jawaban:
Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Dikubur saja, tidak usah disimpan.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Hukum Haji/Umroh Bagi Wanita Yang Tidak Ada Mahrom Untuk Menemaninya Dalam Safar

489. BBG Al Ilmu – 357

Pertanyaan:
Berkaitan dengan wanita tanpa mahrom haram umroh dan haji, Bagaimana bagi wanita yang kondisinya sebagai berikut:

1. Tidak punya suami dan tidak punya mahram.

2. Tidak punya suami namun ada mahram tetapi mahramnya tidak mampu.

3. Perempuan yang hajinya sebagai hadiah atas prestasinya sedangkan suami atau mahramnya tidak mampu.

Jawaban:
Ust. Fuad Baraba’ حفظه الله تعالى

Wanita tanpa mahram tidak wajib ibadah haji. Karena, syarat haji itu adalah mampu, dan bagi wanita mampu itu termasuk adanya mahram. Kalo tidak ada mahramnya, maka dikatakan masih belum mampu.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Obati Hati Yang Resah Dan Gelisah Dengan Dzikrullah

488. BBG Al Ilmu – 199

Pertanyaan:
Mau nanya obat hati yang tiba2 resah dan gelisah apa ya ?

Jawaban:
Perbanyaklah dzikir di setiap tempat dan waktu, seperti dzikir pagi/sore, sebelum/sesudah tidur, dll. Kekuatan dzikir, diantaranya:
– menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana

– membuat hati menjadi gembira dan lapang

– menerangi hati dan wajah pun menjadi bersinar.

– mudah mendatangkan rizki.

– membuat orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.

– menambah ma’rifah (pengenalan pada Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah ma’rifah seseorang pada Allah.

– mendatangkan rasa takut pada Rabb ‘azza wa jalla dan semakin menundukkan diri pada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah.

– menguatkan hati dan ruh. Jika seseorang melupakan dzikir maka kondisinya sebagaimana badan yang hilang kekuatan. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.

– menjadikan hati semakin kilap yang sebelumnya berkarat. Karatnya hati disebabkan lalai dari dzikir pada Allah. Sedangkan kilapnya hati adalah dengan dzikir, taubat dan istighfar.

– dan lain-lain.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/51-keutamaan-dzikir.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Amalan Untuk Menghindari Adzab Qubur

487. BBG Al Ilmu – 49

Pertanyaan:
Apakah amalan manusia yang menyelamatkan dirinya dari siksa kubur, apakah termasuk 3 amalan berikut; amal jariyah, ilmu bermanfaat dan doa anak yang soleh ?

Jawaban:
Dalam beberapa hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberitakan sebab-sebab seseorang terkena adzab qubur.

Beliau pernah menceritakan siksa kubur yang di alami oleh dua orang. Yang satu disebabkan oleh namimah (menghasut dan adu domba). Sedangkan yang lain disebabkan oleh kencing yang tidak bersih. (HR Al Bukhari, Kitab Al Jana-iz, no. 1378)

Dalam Shahih Bukhari – Fathul Bari Kitab Al Jana-iz, bab 93, terdapat hadits dimana di suatu hari, setelah shalat subuh, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepada para sahabatnya tentang siksa dahsyat yang dialami di kuburnya, yaitu orang yang melalaikan shalat fardhu, orang yang suka berdusta, para pezina dan pemakan riba. Siksa itu terus menerus dialami hingga hari Kiamat. Wal-‘iyadzu billah.

Imam Abu Laits al-Samarqandi berkata: “Barang siapa ingin selamat dari adzab kubur, maka ia harus melestarikan empat perkara dan meninggalkan empat perkara. Empat perkara yang harus dilestarikan adalah: shalat lima waktu, sedekah, membaca al-Qur’an dan banyak bertasbih.

Sesungguhnya empat hal ini adalah menerangi kubur dan melapangkannya. Adapun empat perkara yang wajib dihindari adalah: Dusta, khianat, adu domba dan tidak hati-hati dalam buang air kecil”. [Tanbih al-Ghafilin hal. 45].

Mengenai amal jariyah, ilmu bermanfaat dan doa anak yang sholeh ini semua adalah perkara2 yang membuat pahala terus mengalir meskipun seseorang sudah meninggal. Termasuk sedekah jariyah adalah waqf, pembangunan masjid, madrasah, pengadaan sarana air bersih dll.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2572/slash/0/derita-sesudah-mati/

http://almanhaj.or.id/content/2860/slash/0/aqidah-azab-kubur-mutawatir/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Do’a Akhir Ramadhan

486. BBG Al Ilmu – 255

Pertanyaan:
Apakah ada doa yang diajarkan para Salafus Sholeh, doa sesudah ramadhan berkhir baca; Rabbana Taqabbal minnna. Ana butuh sekali hujjahnya kalau memang ada.

Jawaban:
Ust. Badrusalam, حفظه الله تعالى

Tidak ada do’a tersebut.

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Krisis Ikhlash

Berkata Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu:
“Krisis ikhlas benar-benar akan melanda umat Islam..

Bila ulama yang takut kepada Allah sudah semakin langka..

Kian banyak para penceramah yang terang-terangan mematok tarif pada setiap dakwahnya..

Serta merebaknya pejabat yang tidak amanah..

Atsar riwayat Ad-Darimi dengan sanad yg sahih

 Ditulis oleh Ustadz Jazuli, Lc حفظه الله تعالى

BACA INI, JIKA INGIN TENANG DALAM URUSAN REZEKI

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah (ulama Islam abad ke 8 H) rahimahullah berkata:
“Fokuskan benakmu untuk beban (ibadah) yg telah diperintahkan kepadamu, dan jangan sibukkan ia dg sesuatu yg telah dijamin untukmu, karena sesungguhnya rezeki dan kematian adalah dua hal yg bergandengan dan bergantungan.”

“Selama kematian masih tersisa, maka selama itu rezeki akan menghampiri”
“Dan jika (Allah) dengan hikmah-Nya, menutup untukmu sebuah jalan, maka Allah dengan rahmat-Nya, akan membuka untukmu jalan lain yg lebih bermanfaat bagimu darinya.”

Perhatikanlah keadaan janin…
Datang kepadanya makanannya yaitu berupa darah, melalui satu jalan yaitu pusar, ketika keluar dari perut ibunya dan terputus jalan (makanan) itu.

Maka (Allah) bukakan baginya dua jalan dan dialirkan untuknya rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari yang pertama, yaitu berupa susu yang murni dan cocok (untuk diminum), lalu, jika telah sempurna masa penyusuan dan terputus dua jalan dengan disapih, maka (Allah) membukakan empat jalan yang lain, yang lebih sempurna darinya, yaitu dua makanan dan dua minuman, dua makanan berasal dari hewan dan tumbuhan, dua minuman berasal dari air dan susu serta apa saja yang digandengkan kepada keduanya dari hal-hal yang bermanfaat dan lezat.

Dan jika ia mati, terputus darinya jalan yang empat ini, akan tetapi Allah Yang Maha Suci, jika ia berbahagia, akan (Allah) bukakan untuknya delapan jalan, yaitu pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, ia akan masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki.”

Jadi demikiankah…
Allah Yang Maha Suci, tidaklah Dia menahan sesuatu dari hamba-Nya yang beriman, berupa perkara dunia, melainkan Dia akan memberikan kepadanya yang lebih utama dan lebih bermanfaat darinya.”
lihat kitab Al Fawaid, hal: 59.

SILAHKAN BACA SELENGKAPNYA DI:
http://dakwahsunnah.com/artikel/keluarga-muslim/333-baca-ini,-jika-ingin-tenang-dalam-urusan-rezeki

By Ust.Ahmad Zainuddin,Lc

Macam-Macam Ro’yu

Ro’yu ada tiga macam: ro’yu yang terpuji, ro’yu yang tercela dan ro’yu yang masih samar apakah ia haq atau batil.

Salaf terdahulu menggunakan ro’yu yang terpuji dan membuang ro’yu yang tercela.

Adapun ro’yu yang masih samar, mereka
gunakan ketika amat dibutuhkan.
Namun mereka tidak memaksakan orang lain mengamalkannya, tidak pula melarang untuk menyelisihinya. Mereka tidak menganggap orang yang menyelisihinya telah menyelisihi agama. Ro’yu yang seperti ini diberikan pilihan antara menerima atau menolak.

(I’laamul muwaqqi’iin hal. 53 tahqiq 3aid bin Sabri).

Komentar:
Ro’yu yang ketiga ini adalah masalah ijtihadiyah yang tidak ada nash yang menunjukkannya.
Para ulama mengeluarkan kesungguhan mereka untuk berijtihad, namun tidak memaksakan orang lain mengamalkannya.
Coba perhatikan di zaman ini, banyak perselisihan yang berakibat saling menyahdzir ternyata dalam masalah ijtihadiyah semata. Seperti masalah menerima bantuan dari yayasan yang dianggap hizbiy. Atau masalah menyikapi sebagian ahlul bid’ah.

Allahul Musta’an.