Audio

1. Hakikat Hikmah… Faedah Ceramah Syaikh Pof. DR. Ibrahim ar Ruhaily…

Simak Ustadz Fachruddin Nu’man Lc, حفظه الله تعالى dalam rangkuman ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Simak Artikel Terkait (berikut ini):

2. Hikmah Dalam Menuntut llmu – Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

3. Hikmah Dalam Berdakwah – Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

Daurah Syar’iyyah di Surakarta, Jawa Tengah pada Rabu, 22 Rabi’ul Akhir 1439 / 10 Januari 2018

Courtesy of Radio Rodja

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-23

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-22) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 23 🌼

Bahwa mereka senantiasa menganjurkan untuk mempelajari sunnah Nabi, yaitu Hadits Nabi dan mengamalkannya dan memperingatkan jangan sampai kita meninggalkannya.

Ini karena sunnah Nabi adalah sebagai penjelas Alqur’an.
Kita tidak akan mampu dan tidak bisa memahami Alqur’an bila kita tidak mempelajari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah aplikasi daripada Alqur’an dan perincian terhadap Alqur’anul Karim.

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Bab bagaimana ilmu itu di cabut“.
Kemudian beliau membawakan atsar Umar bin Abdul Aziz, dimana beliau menulis surat kepada Abu Bakr bin Hazm, kata beliau:

‎انْظُرْ مَا كَانَ مِنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاكْتُبْهُ

“Lihatlah apa-apa yang termasuk hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tulislah, catatlah

‎فَإِنِّي خِفْتُ دُرُوسَ الْعِلْمِ وَذَهَابَ الْعُلَمَاءِ

karena aku khawatir, hilangnya ilmu dan perginya para ulama

‎وَلَا تَقْبَلْ إِلَّا حَدِيثَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

dan jangan kamu terima kecuali hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja

‎وَلْتُفْشُوا الْعِلْمَ

hendaklah kalian menyebarkan ilmu

‎وَلْتَجْلِسُوا حَتَّى يُعَلَّمَ مَنْ لَا يَعْلَمُ

Dan hendaklah duduk di majelis taklim, sehingga orang yang tidak tahu itu diajarkan

‎فَإِنَّ الْعِلْمَ لَا يَهْلِكُ حَتَّى يَكُونَ سِرًّا

karena ilmu itu tidak akan binasa, sampai menjadi rahasia”

Maksudnya:
Kalau ilmu itu jadi rahasia-rahasiaan akan binasalah ilmu dan hilanglah.
Ini merupakan nasehat Umar bin Abdul Aziz untuk senantiasa mencatat hadis, mempelajarinya, menyebarkannya kepada manusia.

Kata Ibnul Qayyim:
Sesungguhnya sunnah itu adalah benteng Allah yang paling kuat, siapa yang masuk kedalam benteng itu, ia akan aman. Dan itu adalah pintu yang paling agung. Siapa yang akan masuk kepadanya ia akan sampai“.

Maka sunnah menyebabkan amalan kita lurus, dan Allah pun akan berikan cahaya di depan kita untuk mematikan kebid’ahan orang-orang pelaku bid’ah.
Dan Ahlu Sunnah wal Jama’ah kelak pada pada hari kiamat wajahnya akan menjadi putih bersih, sementara ahlu bid’ah, kata beliau, wajahnya akan menjadi hitam .

Sebagaimana Allah berfirman [QS Al- Imran : 106]

‎يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari itu wajah-wajah yang menjadi putih dan ada wajah-wajah yang menjadi hitam”

Ibnu Abbas berkata wajah Sunnah wal Jama’ah akan menjadi putih sedangkan wajah ahlu bid’ah akan menjadi hitam.
Maka sunnah adalah kehidupan dan cahaya, yang dengannyalah seorang hamba akan sampai kepada kebahagiaan, maka itu merupakan hidayah dan kesuksesannya.

👉🏼 Maka dari itu kita berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa mempelajari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mengamalkannya, memahaminya dan menghafalkan.

Karena ini merupakan sesuatu yang agung, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan orang-orang yang memperhatikan sunnah supaya di berikan cahaya di wajahnya.

Beliau bersabda: “Semoga Allah berikan cahaya kepada wajah orang yang mendengarkan sabdaku, lalu ia menghafalnya, lalu ia memahaminya, lalu ia menyampaikannya… maka itulah sunnah.”

Kata Imam Malik: “Sunnah itu bagaikan perahunya Nabi Nuh, siapa yang naik dia akan selamat, siapa yang tidak naik dia akan binasa“.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-22

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-21) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 22 🌼

Bahwa mereka menganjurkan umat Islam untuk memahami Alqur’an dan Hadits.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS An-Nisaa : 82]

‎أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

Apakah mereka tidak mentadaburi Alqur’an

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Siapa yang Allah inginkan kebaikan untuk dia, Allah akan faqihkan dalam agama.”

Karena diantara sebab yang paling agung kebangkitan-kebangkitan umat Islam adalah :

● Mengenal apa yang di inginkan Allah dan RasulNya.

● Dari lafadz Alqur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan cara mengenal bahasa Alqur’an yaitu Bahasa Arab.

● Demikian pula yaitu pemahaman para sahabat, para tabi’in dan para ulama yang lainnya dalam memahami lafadz-lafadz Alqur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak bicara umat Islam ini dengan Alqur’an dan Sunnah.
Dan beliau sudah memperkenalkan kepada kita apa yang di inginkan oleh lafadz dalam Alqur’an dan Hadits tersebut.

👉🏼 Maka tentu para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang langsung mendengar penjelasan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan langsung melihat praktek dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

👉🏼 Maka mereka yang paling sempurna dalam memahami Alqur’an.

👉🏼 Dan para sahabat pun juga telah menyampaikan makna-makna tersebut kepada para tabi’in dengan penyampaian yang sempurna.

Karena makna-makna yang umum, yang di butuhkan oleh keumuman kaum muslimin seperti makna Tauhid, makna AL-AHAD dan AL-WAHID (YANG MAHA ESA), makna Islam, makna Iman, maka seluruh sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah “urgensi”, bahkan sesuatu yang sangat penting dalam memahami Alqur’an dan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Malik dan Annas berkata:
Sesungguhnya ada beberapa kaum yang mereka bersungguh-sungguh ibadah, tapi mereka menyia-nyiakan ilmu sehingga merekapun kemudian malah keluar kepada ummat Muhammad dengan pedang-pedang mereka untuk membunuhi Islam, maksudnya orang-orang khawarij itu.
Kalaulah mereka fokus menuntut ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala , selain ibadah tentu merka tidak akan berbuat seperti itu“.

Beliau juga berkata:
Dan Abu Musa al-Asy’ari menulis kepada Umar bin Khattab, bahwa ada beberapa orang yang membaca Alqur’an disini, begini dan begitu, maka Umar pun menulis kepada Abu Musa, “Hendaklah mereka di berikan harta dari baitul maal“.

Ketika tahun yang ke 2, Umar menulis kepadanya, “Bahwa sesungguhnya siapapun yang menghafal Alqur’an bahwasanya Abu Musa menulis kepada Umar bahwa ada jumlah banyak yang telah menghafal Alqur’an disini“.

Maka Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu menulis kepada Abu Musa, kata Umar: “Kalau begitu hapus mereka dari daftar orang-orang yang di beri baitul maal, karena aku khawatir, orang-orang tergesa-gesa menghapal Alqur’an, namun mereka tidak ber-tafaqquh (memahami) dalam beragama, akhirnya mereka mentakwil Alqur’an (menafsirkan Alqur’an tidak sesuai dengan pemahaman yang benar)”.
Disebutkan dalam Kitab Miftah Daaris Sa’adah jilid 1 halaman 119.

‎سُبْحَانَ اللّهِ …

Lihatlah Umar bin Khattab betapa faqihnya (berilmu).
👉🏼 Beliau khawatir kepada orang-orang yang mereka hanya menghafal Alqur’an saja.
Namun mereka lupa untuk bertafaquh dalam beragama dan memahami makna-makna yang benar, akhirnya berakibat menafsirkan dengan penafsiran yang tidak benar.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-21

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-20) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 21 🌼

Bersikap sederhana dalam beramal dan berpegang kepada sunnah itu dan merupakan poros agama.

Allah berfirman [QS Al-Maidah : 77]

‎يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

Hai ahli kitab, jangan kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian

Allah juga berfirman [QS Al-An’am : 141]

‎ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ

Jangan kalian berlebih-lebihan

‎ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang berlebih-lebihan

Allah juga berfirman [QS Al-Baqarah : 190]

وَلَا تَعْتَدُوا ۚ

Jangan kalian melampaui batas

‎ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

Ayat ini semua menunjukkan bahwa KITA DI DALAM BERAGAMA TIDAK BOLEH BERSIKAP GHULUW (BERLEBIH-LEBIHAN).
Dan JUGA TIDAK BOLEH SEBALIKNYA YAITU TERLALU MEREMEHKAN.
Akan tetapi kita berusaha beramal sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan kepada kita adalah sikap tidak berlebih-lebihan dan juga tidak meremehkan, maka itu adalah sebaik-baiknya jalan.

Disebutkan dalam Hadits Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil batu-batu untuk melempar jumroh, maka kemudian di berikanlah 7 batu sebesar satu ruas jari. Maka Nabi mengatakan: “Seperti inilah hendaklah kalian melempar.”
Kata Rasulullah:

أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ

Hai manusia, jauhilah oleh kalian berlebih-lebihan dalam agama

‎فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian yaitu adalah bersikap berlebih-lebihan dalam agama” (Hadits Riwayat Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shohih)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

‎لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ

Jangan kalian memberat-beratkan diri kalian sendiri, niscaya Allah akan beratkan atas kalian

‎فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ

Karena ada beberapa kaum, kata Rasulullah yang memberat-beratkan diri mereka sendiri, maka Allah pun beratkan mereka

‎فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ

Itu lihat, kata Rasulullah, sisa-sisanya yang masih ada di gereja-gereja

Kemudian Beliau membawakan firman Allah [QS Al-Hadid : 27]:

‎وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّ

Dan rahbaniyyah (kependetaan) yang mereka buat-buat yang tidak pernah kami wajibkan atas mereka

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita memberat-beratkan agama ini dengan cara menambah-nambah suatu yang tidak di syari’atkan atau melebihi syari’at.

Maka kewajiban kita adalah beramal sesuai dengan yang di contohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Maka Ubay bin Ka’ab berkata: “Hendaklah kalian memegang jalan kebenaran dan sunnah, karena tidak ada seorangpun yang diatas kebenaran dan sunnah ;alu ia mengingat Allah, lalu ia pun takut kepada Allah KECUALI AKAN GUGUR DOSA-DOSANYA. Sebagaimana pohon yang telah kering menggugurkan dedaunannya.

Dan bersikap sedang di dalam jalan kebenaran dan sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tapi tidak sesuai dengan jalan kebenaran dan sunnah.”

Maka bersemangatlah kalian kata Ubay,
Agar amalan kalian itu kalau memang itu adalah sifatnya sederhana, sedang, SESUAI DENGAN minhaj para Nabi dan sunnahnya mereka.”

(Dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitabnya Az-Zuhd._
Demikian pula ‘Ala ‘Ahdika dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah.)

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN