Pernikahan Membuka Pintu Rezeki

Allah Ta’ala berfirman,

وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan (kekayaan) kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui..” (Qs An Nuur : 32)

=======

Ibnu Katsir rohimahullah (Tafsir Ibnu Katsir 6/51) mengutip perkataan tiga sahabat mulia :

● Abu Bakar Ash Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Taatilah Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadamu mengenai pernikahan, niscaya Dia akan melaksanakan janji-Nya kepadamu berupa kekayaan..”

● Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Aku heran kepada orang yang tidak mencari kekayaan (kecukupan) melalui pernikahan, padahal Allah telah berfirman: ‘Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya’..”

● Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

“Allah memerintahkan umat Islam untuk menikah, dan menjanjikan kekayaan kepada mereka..”

=======

● Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah berkata,

“Jika engkau menikah, Allah akan membukakan pintu rezeki bagimu sehingga engkau dapat menafkahi istrimu. Dan pernikahan itu bukanlah penyebab kemiskinan..”

(Fath Dzi al-Jalal wal Ikram – 11/25)

Hak Ibu Lebih Besar

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

Seorang laki-laki datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam lalu bertanya,

“Wahai Rosulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya kembali, “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Ibumu..”

Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa..?”

Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu..”

(HR. Al Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548)

=====
Penjelasan Singkat

Para ulama (seperti Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Hajar al-Asqolani -rohimahumallah-) menjelaskan mengapa ibu disebut tiga kali lebih banyak daripada ayah. Hal ini disebabkan karena ibu mengalami TIGA KESULITAN BESAR yang tidak dialami oleh ayah, yaitu:

– MASA KEHAMILAN (mengandung dengan susah payah).

– PROSES MELAHIRKAN (perjuangan antara hidup dan mati).

– MASA MENYUSUI (dan merawat di masa kecil).

Meskipun ayah juga memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, hadits ini menekankan bahwa porsi kasih sayang, perhatian, dan bakti seorang anak kepada ibu haruslah lebih besar.

● Ibnu Batthol rohimahullah berkata,

“Jika kedua orang tuamu memerintahkanmu untuk melakukan dua hal yang berbeda (dalam waktu yang bersamaan), maka penuhilah perintah ibumu karena haknya (untuk ditaati) adalah tiga kali lipat lebih besar (daripada ayahmu)..”

(Asy Syaamilah – 17/227)

Apa Yang Harus Dilakukan Seseorang Ketika Tertimpa Takdir Yang Tidak Disukai

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

Jika sebuah takdir yang tidak disukai menimpa seseorang, maka ia hendaknya memiliki enam pandangan (pertimbangan) :

1. Pandangan Tauhid : Menyadari bahwa Allah-lah yang telah menetapkan takdir itu baginya, menghendakinya, dan menciptakannya. Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa pun yang tidak Allah kehendaki tidak akan pernah terjadi.

2. Pandangan Keadilan : Menyadari bahwa takdir itu terjadi atas perintah Allah. Hal itu adalah adil dalam rangka memenuhi keadilan Allah.

3. Pandangan Rahmat : Menyadari bahwa rahmat (kasih sayang) Allah dalam apa yang telah ditetapkan secara umum lebih dahulu ada daripada kemarahan dan balasan-Nya. Rahmat-Nya tetap ada di sana, namun tersembunyi dan tidak tampak secara lahiriah.

4. Pandangan Hikmah : Menyadari bahwa Hikmah Allah —Subhanahu— meniscayakan takdir tersebut. Allah tidak menetapkan ini dengan sia-sia atau memerintahkannya tanpa alasan.

5. Pandangan Pujian : Menyadari bahwa segala pujian yang sempurna adalah milik Allah atas takdir yang ditetapkan ini, dari sudut pandang mana pun engkau melihatnya.

6. Pandangan Penghambaan (Ubudiyah) : Menyadari bahwa seseorang adalah murni hamba Allah dari segala sisi. Ketentuan-ketentuan Tuannya (Allah) berlaku atasnya dan dijalankan karena ia adalah milik dan hamba Tuannya. Maka, Allah mengaturnya di bawah hukum-hukum takdir-Nya sebagaimana Allah mengaturnya di bawah hukum-hukum agama (syariat). Oleh karena itu, seorang hamba harus tunduk dan menjalani ketentuan-ketentuan tersebut.

(Al Fawaid – 93-94)

Rasa Cinta Semakin Kuat Dengan Bersholawat

Ibnu al-Qoyyim rohimahullah berkata,

“Bersholawat kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam membuat cinta kepada beliau tetap hidup, semakin kuat, dan terus bertambah.

Karena semakin sering seseorang mengingat orang yang dia cintai, menghadirkannya dalam hati, serta mengingat kebaikan kebaikan dan sifat sifatnya, maka cintanya akan semakin besar, rindunya semakin kuat, hingga memenuhi seluruh hatinya..”

(Jala’ul Afham: 525)

Semoga sholawat dan salam tercurah kepada beliau shollallahu ‘alayhi wasallam.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jiwa Yang Penuh Syukur

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh Setan daripada seorang mukmin yang bersedih..”

(Thoriiq al-Hijrotain – 1/418)

Kekhawatiran akan masa lalu atau ketakutan terhadap masa depan hanyalah akan merampas kemampuan kita untuk mensyukuri nikmat di masa sekarang.

Setan membisikkan kesedihan ke dalam hati kita, namun jiwa yang penuh syukur tidak akan berputus asa; sebab dalam hidup kita, terhampar begitu banyak nikmat yang bagi orang lain, mereka bersedia memberikan segalanya demi meraihnya.

Sandarkanlah tawakalmu kepada Allah dan serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya. Sebab, ketakutan dan kesedihan hanyalah bisikan yang bertujuan membuat kita lupa akan karunia Allah yang begitu melimpah, yang sesungguhnya telah mengelilingi kita dari segala penjuru.

ref : https://t.me/ibnqayyim/2649

Mengaku Mencintai Allah Namun ..

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Jika seseorang mencintai seseorang namun ia tidak mengetahui apa yang membuat (kekasihnya) ridho dan tidak berusaha mencarinya, bahkan ia bertindak berdasarkan apa yang ia kira sebagai tuntutan cinta, meskipun hal itu didasari oleh kebodohan dan kesalahan, maka hal itu justru menjadi sebab orang yang ia cintai membencinya, berpaling darinya, bahkan menghukumnya.

Banyak orang yang mengaku mencintai Allah terjatuh ke dalam berbagai bentuk kebodohan dalam agama: dengan melampaui batas-batas yang telah Allah tetapkan, menelantarkan hak-hak-Nya, atau membuat klaim-klaim batil yang tidak memiliki dasar..”

(Al ‘Ubudiyyah, hlm. 114)

Niscaya Engkau Beruntung

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena :
– hartanya,
– keturunannya,
– kecantikannya, dan
– agamanya
maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung..”

(HR. Al Bukhari no. 5090)

📌 apa makna kalimat ‘niscaya engkau beruntung’ ?

● Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,

“Pilihlah yang agamanya baik karena wanita yang taat beragama akan :
– menjaga kehormatan dirinya,
– harta suaminya,
– mendidik anak-anaknya dengan baik, dan
– membantumu dalam urusan akhirat..”

(Syarh Shohih Muslim)

Para ulama salaf merinci apa saja “keberuntungan” yang didapat jika memprioritaskan faktor agama saat mencari pasangan hidup :

Keberuntungan Dunia: Rumah tangga akan diliputi ketenangan (sakinah). Istri yang beragama tidak akan banyak menuntut hal-hal materi yang di luar kemampuan suami (tidak serakah harta) dan tidak menyakiti dengan lisannya.

Keberuntungan Akhirat: Ia menjadi mitra dalam ketaatan. Jika suami lupa, ia mengingatkan. Jika suami malas, ia memotivasi untuk ibadah.

Keberuntungan Nasab: Ia adalah madrosatul uula (sekolah pertama) bagi anak-anak. Menikahi wanita sholehah berarti telah memberikan hak anak-anak untuk mendapatkan ibu yang baik.

Inilah hakikat keberuntungan yang sebenarnya.

ARTIKEL TERKAIT
Memilih Istri

Bersikap Layaknya Anak Anak

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Apabila engkau bersimpuh di kegelapan malam di hadapan Robb-mu, maka bersikaplah layaknya anak-anak; karena sesungguhnya seorang anak kecil, apabila ia meminta sesuatu kepada ayahnya lalu tidak dikabulkan, maka ia akan menangisinya..”

(Al Mudhish, 1/219)

Sikap Yang Sempurna Dari Suami Terhadap Istrinya

“Dan Hadis ini, seandainya seseorang menjadikannya sebagai cahaya penuntun di depan matanya, niscaya banyak masalah akan terselesaikan.

Telah diriwayatkan secara shohih dari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa beliau bersabda, ‘Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci salah satu tabiatnya, niscaya ia akan ridha dengan tabiatnya yang lain..’

Para ulama mengatakan bahwa manusia dalam menerapkan Hadis ini terbagi menjadi tiga golongan:

Dua golongan yang berlebih lebihan sehingga mereka salah, dan satu golongan yang berada di pertengahan sehingga mereka berbuat baik.

Adapun dua golongan yang salah tersebut adalah :

GOLONGAN PERTAMA : Laki-laki yang hanya melihat pada keburukan pasangannya saja. Barangsiapa yang hanya melihat keburukan dan melupakan kebaikan, maka laki-laki tersebut tidak akan merasa bahagia dalam pernikahannya dan hidupnya tidak akan tenang, bahkan seluruh hidupnya akan dipenuhi dengan keluh kesah.

GOLONGAN KEDUA : Golongan yang membanding-bandingkan antara sifat yang baik dan buruk. Orang ini pun salah, namun sebenarnya kesalahannya tidaklah fatal karena penyimpangannya dari kebenaran lebih sedikit. Laki-laki ini, jika ia menimbang antara sifat baik dan buruk wanita tersebut, maka ia akan memperlakukannya dengan adil, namun hal ini pun belum dianggap baik.

Adapun sifat kesempurnaan adalah:
GOLONGAN KETIGA : Orang yang fokus pada sifat-sifat baik istrinya dan melihat pada kesempurnaan akhlak yang dimilikinya. Ia memuji istrinya atas hal-hal tersebut dan mengabaikan kekurangannya. Maka, inilah orang yang paling sempurna di antara ketiganya.

🎙️Syaikh Prof. Dr. Abdussalam Asy-Syuwai’ir حفظه الله تعالى

– Pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
– Murid dari Syaikh Bin Baz rohimahullahu Ta’ala

====
Hadits yang disebutkan di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim rohimahullah (no. 1469) dari sahabat Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.

Berbaik Sangka Ketika Tujuan Anda Belum Tercapai

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar berniat melakukan suatu urusan, baik itu dalam hal perdagangan maupun kepemimpinan, hingga urusan tersebut hampir saja dimudahkan baginya.

Lalu Allah melihat kepadanya dan berfirman kepada para malaikat,

‘Palingkanlah urusan itu darinya..! Karena jika Aku memudahkannya untuknya, niscaya Aku akan memasukkannya ke dalam neraka..’

Maka Allah pun memalingkan urusan itu darinya. Namun hamba tersebut terus merasa sial (mengeluh) dan berkata,

– si fulan telah mendahuluiku,
– si fulan telah memperdayaku,

padahal itu tidak lain hanyalah karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla (agar hamba tsb terhindar dari fitnah atau dosa yang jauh lebih besar)..”

(Nur al-Iqtibas – Ibnu Rojab)

Menebar Cahaya Sunnah