Kenapa Anda Begitu Kejam..!

Kenapa anda begitu kejam! Membalas air susu dengan air tuba.

Sobat betapa sering anda memuji dan mencintai orang yang telah banyak berjasa kepada anda, alias anda merasa berhutang budi banyak kepadanya. Sebagaimana ia juga selalu membantu anda pada setiap kesulitan yang anda hadapi.

Anda begitu hormat dan siap untuk memenuhi apapun yang ia pinta dari anda. Lisan anda selalu memuji dan menyebutnya, hatinya anda begitu mengagungkan dan mencintainya.Dan anda juga siap berkorban dengan apa saja demi membalas budinya

Namun pernahkah anda menyadari bahwa sebaik apapun dia, ketahuilah bahwa Allah Ta’ala jauh lebih baik dan lebih banyak memberi kebaikan kepada anda. Sejak anda belum terlahir ke dunia, hingga seluruh apa yang anda dapatkan adalah karunia dari-Nya.

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (An Nahel 53)

Walau demikian, mengapa lisan anda begitu jarang menyebut Nama-Nya?
Mengapa hati anda begitu gersang dari cinta dan pengagungan kepada-Nya?
Dan mengapa anda nampak begitu berat bahkan malas untuk berkorban atau beribadah kepada-Nya?
Bahkan betapa sering anda berbuat durhaka kepada-Nya?

Sadarlah sobat, kalau bukan sekarang anda menyadari kesalahan langkah anda, kapan lagi ?
Haruskah anda menanti datangnya malaikat maut untuk bisa menyadari kesalahan sikap anda ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

TAHDZIR Adalah Tanda Cinta Yang Hakiki…

Diantara tugas penting seorang da’i Ahlus Sunnah adalah men-tahdzir kesesatan dan para da’i sesat, demi menyelamatkan umat dari kesesatan tersebut.

Inilah tanda cinta yang hakiki, karena kita sayang kepada saudara kita, maka jangan biarkan dia terjerumus dalam kesesatan. Oleh karena itu ulama dahulu sangat menghargai dan mencintai orang yang menasihati mereka.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻳﺤﺒﻮﻥ ﻣﻦ ﻳﻨﺒﻬﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻮﺑﻬﻢ ﻭﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺃﺑﻐﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻓﻨﺎ ﻋﻴﻮﺑﻨﺎ

“Sungguh generasi salaf dahulu mencintai orang yang mengingatkan kesalahan mereka, namun kita sekarang umumnya yang paling kita benci adalah yang memberitahukan kesalahan kita.” [Minhaajul Qooshidin, hal. 196]

TAHDZIR ADALAH KASIH SAYANG YANG SEJATI

Men-tahdzir seorang da’i sesat juga merupakan kasih sayang kepadanya dari dua sisi:
1. Agar dia kembali kepada kebenaran dan selamat dari kesesatan di dunia dan azab Allah ‘azza wa jalla di akhirat.
2. Agar dosanya tidak semakin banyak dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti kesesatannya.

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata,

حَكَيتُ لِيُوْسُفَ بنِ أَسْبَاطٍ عَنْ وَكِيْعٍ شَيْئاً مِنْ أَمرِ الفِتَن، فَقَالَ: ذَاكَ يُشْبِهُ أُسْتَاذَهُ. يَعْنِي: الحَسَنَ بنَ حَيٍّ. فَقُلْتُ لِيُوْسُفَ: أَمَا تَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ غِيبَةً? فَقَالَ: لِمَ يَا أَحْمَقُ، أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاَءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِم، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم

“Aku menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbath sesuatu tentang Waki’ terkait perkara ‘fitnah’. Maka beliau berkata: Dia menyerupai gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hayy. Aku pun berkata kepada Yusuf: Apakah kamu tidak takut ini menjadi ghibah? Maka beliau berkata: Kenapa wahai dungu, justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri, aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bid’ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat, orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]

MENGAPA AL-HASAN BIN SHALIH BIN HAY DI-TAHDZIR ?

Para ulama dahulu men-tahdzir Al-Hasan bin Shalih bin Hay, padahal beliau adalah penghafal Al-Qur’an, penghafal hadits dengan sanad-sanadnya, bukan sekedar nomor-nomornya, beliau juga ahli fiqh dan ahli ibadah. Mungkin tidak ada manusia zaman sekarang yang memyamainya dalam hal tersebut.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya,

الإِمَامُ الكَبِيْرُ، أَحَدُ الأَعْلاَمِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الهَمْدَانِيُّ، الثَّوْرِيُّ، الكُوْفِيُّ، الفَقِيْهُ، العَابِدُ

“Dia adalah imam besar, salah seorang tokoh, dialah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/52]

Beliau ditahdzir hanya karena satu bid’ah, namun tergolong bid’ah yang berat, yaitu bid’ah khawarij, yang di masa ini mirip dengan aksi demo atau mendukung aksi tersebut, sebuah aksi yang secara teori dan fakta dapat memprovokasi masa untuk memberontak, menumpahkan darah, merusak stabilitas keamanan dan mengganggu kenyamanan orang banyak dengan adanya kemacetan jalan atau kericuhan dan lain-lain.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

كَانَ يَرَى الحَسَنُ الخُرُوْجَ عَلَى أُمَرَاءِ زَمَانِهِ لِظُلْمِهِم وَجَوْرِهِم، وَلَكِنْ مَا قَاتَلَ أَبَداً، وَكَانَ لاَ يَرَى الجُمُعَةَ خَلْفَ الفَاسِقِ

“Al-Hasan berpendapat bolehnya memberontak terhadap Pemerintah di masanya karena kezaliman dan ketidakadilan mereka, akan tetapi dia tidak pernah berperang selamanya. Dan dia juga berpendapat tidak boleh sholat Jum’at di belakang imam yang fasik.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/58]

Oleh karena itu dahulu ada sekte khawarij yang kerjanya hanya berbicara tentang kejelekan pemerintah, tidak ikut mengangkat senjata untuk memberontak.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

والقعدية قوم من الخوارج كانوا يقولون بقولهم ولا يرون الخروج بل يزينونه

“Al-Qo’adiyah adalah satu kaum dari golongan Khawarij yang dahulu berpendapat dengan ucapan mereka, dan mereka tidak memandang untuk memberontak, akan tetapi mereka memprovokasi untuk melakukannya (dengan kata-kata).” [Fathul Bari, 1/432]

Sofyan Chalid Ruray, حفظه الله تعالى

Diamlah… Jangan Memperuncing Masalah !!!

Dahulu, ada sebuah ungkapan mutiara:

لو سكت الجاهل لقل الخلاف

“Seandainya orang bodoh itu diam, maka akan sedikit perselisihan”.

Sungguh tepat ungkapan ini, terutama pada zaman sekarang, di mana kita hidup di zaman medsos yang terbuka bagi siapapun untuk menulis, berkomentar bahkan menebar adu domba dan profokasi.

Seringkali perselisihan itu memperuncing dikarenakan ulah orang-orang bodoh yang ikut berbicara tanpa ilmu dan kecerdasan.

Saudaraku, sungguh selamat orang yang menahan lidah dan tangannya dari kesibukan yang tiada faedahnya.

من صمت نجا

“Siapa yang diam, maka dia selamat”.

Sibukkan dirimu dengan hal-hal yang bermanfaat di dunia dan Akherat berupa ilmu, amal shalih dan dakwah.

Saudaraku, tanamkanlah kebenaran di hatimu, niscaya sinar ilmu akan menunjukkan padamu jalan yang benar di persimpangan perbedaan.

Jangan pernah engkau berlebih-lebih dalam mencintai seseorang, sehingga kritikan apapun yang ditujukan kepada idolamu engkau sikapi dengan alergi, hujatan dan celaan kepada pengkritiknya bahkan menyibak isi hatinya dengan dugaan dengki, cari populeritas, dan sebagainya yang hanya menambah tabungan dosamu.

Sobat, ayo kita fokus ke tugas inti kita, ilmu, amal dan dakwah. Jangan mau diadu domba dengan profokasi-profokasi murahan yang hanya akan melemahkan barisan kita.

Semoga Allah selalu membimbing kita semua menuju ridhoNya. Aamin…

Abu Ubaidah As Sidawi,  حفظه الله تعالى
Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

Eh, Berapa Jumlah Kekayaan Anda Hari Ini..?

Anda sering mendengarkan atau membaca laporan kekayaan seorang pejabat atau seorang konglomerat? MasyaAllah ya, banyak sekali jumlah kekayaan mereka.

Lalu bagaimana dengan anda ?
berapa kekayaan anda saat ini ?
Anda beluam puas, dan masih mengharap untuk bisa lebih kaya lagi ?

Sobat! Kalau boleh tahu, menurut anda: berapa sebenarnya kekayaan yang sepatutnya anda miliki ?
1 trilyun atau 1.000 trilyun?

Sadarlah sobat! andaipun hari ini nama anda telah bertengger di 10 konglomerat terbesar di dunia, bahkan anda adalah terkaya no 1, maka ketahuilah bahwa anda pasti kawatir bila besok posisi anda tergusur oleh orang lain, sehingga anda akan terus merasa belum cukup dan belum idial kekayaan yang anda miliki.

Namun, tahukah anda bahwa ada satu kiat cepat dan mudah agar anda bisa merasa puas dengan kekayaan yang telah anda miliki ?

Ya, itulah qona’ah, puas dan ridha dengan nikmat yang telah Allah percayakan kepada anda, sehingga anda bersyukur masih mendapat kepercayaan dari-Nya untuk memiliki dan menggunakan kekayaan titipan Allah tersebut. Karena cepat atau lambat semuanya harus anda serahkan kepada para orang lain yang telah Allah pilih untuk menggantikan anda. Sedangkan anda harus menghadap kepada-Nya tanpa membawa secuilpun dari amanah tersebut.

Inilah resep mudah dan cepat untuk menjadi kaya, yaitu kaya hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس )

Kekayaan yang sejati bukanlah karena memiliki harta yang melimpah, namun kekayaan yang sejati ialah kekayaan batin. Muttafaqun ‘alaih.

Selamat menjadi orang kaya raya dalam sekejap.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Shalat Roghoib, Shalat yang Begitu Melelahkan…

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Setelah kita melihat pembahasan keutamaan bulan Rajab pada tulisan sebelumnya, saat ini kita akan melanjutkan dengan pembahasan amalan di bulan Rajab.

Di sebagian tempat di negeri kita, masih ada yang melakukan amalan yang satu ini yakni shalat Roghoib. Bagaimana tinjauan Islam mengenai shalat yang satu ini?

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut.

Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali, surat Al Qadr 3 kali, surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Ibnul Jauziy rahimahullah mengatakan,

“Sungguh, orang yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Roghoib dengan sebelumnya melakukan puasa, padahal siang hari pasti terasa begitu panas. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu untuk makan banyak. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaib. Padahal dalam shalat Raghaib, bacaannya tasbih begitu lama, begitu pula dengan sujudnya. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat tarawih, kok tidak bersemangat seperti melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan awam begitu urgent. Sampai-sampai orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya.” (Al Mawdhu’aat li Ibnil Jauziy, 2/125-126)

Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya. (Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Ath Thurthusi mengatakan, ”Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan shalat ini. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ’anhum, para tabi’in, dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-.” (Al Hawadits wal Bida’, hal. 122. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Kesimpulannya, shalat Roghoib adalah shalat yang tidak ada tuntunan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى

Ref : https://rumaysho.com/350-shalat-roghoib-shalat-yang-begitu-melelahkan.html

da100416

Ada Apa Dengan RAJAB..?

Allah menciptakan 12 bulan dalam setahun..

Diantaranya adalah empat bulan haram..
Dzulqaidah, dzulhijjah, muharram dan rajab..

Allah melarang kita berbuat zalim di bulan bulan tersebut..
Padahal berbuat zalim di selain bulan itu di haramkan..

Namun..
Kezaliman di bulan2 itu dilipat gandakan dosanya..

Sekarang di bulan Rajab..
Berhati-hatilah dari perbuatan zalim..
Kezaliman yang agung sering dilakukan di bulan ini..

Dengan menebar hadits hadits palsu seputar Rajab..
~Seperti keutamaan tanggal 1 rajab, 2,3,4 dan seterusnya..
~Seperti hadits: Rajab adalah bulan Allah..
~Hadits tentang shalat raghaib..

Semua itu dusta atas nama Nabi..

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah..
Telah menjelaskan dalam kitabnya: tabyinul ‘ajab..
Bahwa hadits hadits tentang keutamaan rajab adalah lemah dan palsu..

Ingatlah saudaraku sebuah hadits:
“Siapa yang sengaja berdusta atas namaku..
Hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api Neraka..”
HR Bukhari Muslim dan lainnya..

Rajab memang bulan haram..
Namun tidak ada amalan khusus di bulan ini..
Tidak ada bedanya dengan bulan bulan haram lainnya..

Untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi keharaman..
Semoga kita diberi kekuatan dan dilindungi dari berbuat zalim..
Amiin

Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

da140415

Pilihlah Rujukan Ilmu Yang Sudah Jelas MANHAJNYA

Dengan semakin besarnya dakwah sunnah di NKRI, banyak dai-dai bermunculan… Ini merupakan sisi baik yang harus kita syukuri, karena dengan semakin banyaknya dai sunnah, maka semakin luas jangkauan yang bisa disasar, dan semakin meringankan tugas dai-dai sunnah yang sudah ada sebelumnya.

Namun di sisi lain, kita akan menghadapi penurunan dari sisi kualitas.. karena memang biasanya kualitas akan menurun, seiring dengan bertambahnya kuantitas.. dan ini yang seharusnya disadari dan diwaspadai.

Penurunan kualitas itu tentu bukan hanya pada audiens, tapi juga pada ustadznya… Itu bisa dilihat, diantaranya dari menurunnya semangat menyebarkan atau mendengarkan tauhid… Menurunnya semangat menerapkan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada individunya… Menurunnya semangat mengedepankan pendapat generasi salaf dalam membahas sebuah masalah… dst.

Oleh karena itu, menjadi sangat urgen dan sangat penting bagi kita, untuk memilih ustadz yang sudah jelas manhajnya.. khususnya di daerah-daerah yang sudah banyak ustadznya.

Diantara cara sederhana dan mudah dalam melihat seorang ustadz sunnah, apakah manhajnya bagus atau tidak adalah:

1. Lihatlah, bersama siapakah ustadz tersebut berkumpul... apakah bersama ustadz-ustadz yang bermanhaj salaf atau tidak.. karena seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya.

2. Darimana ustadz tersebut menimba ilmu, baik almamater, maupun para ustadz dan masyikhnya.. Atau siapa tokoh favoritnya.. karena sumber ilmu akan sangat mempengaruhi pemahaman dan manhaj seseorang.

3. Dari sisi pendapat, apakah banyak menyelisihi pendapat ulama yang bermanhaj salaf ataukah tidak… bila banyak sekali pendapatnya yang menyelisihi pendapat ulama yang bermanhaj salaf.. maka itu indikasi bahwa manhaj yang merupakan landasan seseorang dalam menganalisa dalil juga berbeda.

4. Dari sisi topik dakwah yang disampaikan, apakah perhatiannya besar terhadap tauhid ataukah tidak… karena itulah pembeda antara dakwah salaf dengan dakwah lainnya.

5. Dari sisi perhatiannya kepada Ijma’ generasi salaf… jika tidak memperhatikan sisi ini, maka dia akan bermudah-mudahan dalam membahas sebuah masalah, terutama dalam masalah akidah dan bid’ah.

Oleh karena itu, cerdaslah dalam memilih ustadz, karena itu adalah sumber agama kita… yang terpenting adalah manhajnya… adapun sisi lain seperti kecerdasan, retorika, kuatnya hapalan, dll, maka itu adalah pelengkap… jangan menjadikan pelengkap sebagai intinya.

Perlu diingat, tidak menjadikannya sebagai ustadz rujukan, bukan berarti membencinya, atau memusuhinya, atau tidak menerima kebenaran darinya… sebagaimana kita sering merujuk ke dokter tertentu dalam penyakit tertentu, karena kehati-hatian, bukan karena kita benci kepada dokter yang lain.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah