Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini :
Ketika Kita Tidak Tahu Kelurusan Manhaj Seorang Ustadz/Da’i
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Bagi Yang Orang Tuanya Sudah Meninggal…
Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, belum habis kesempatan untuk berbakti.
Banyaklah memintakan AMPUN untuknya. Karena Nabi tercinta -shollalohu alaihi wasallam- pernah bersabda:
“Sungguh, ada seseorang DINAIKKAN DERAJATNYA di surga, sehingga dia bertanya: “Dari mana ini?”. Maka dikatakan padanya: “Itu karena PERMINTAAN AMPUN ANAKMU untukmu..” [HR. Ibnu Majah: 3660, dihasankan oleh Syeikh Albani].
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Dua Perkara Penjaga Amal…
Ada dua amal yang berfungsi menjaga amal lainnya. Yaitu SHOLAT dan MENJAGA LISAN.
Adapun sholat Disebutkan dalam hadits Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi).
Dalam lafadz lain:
فإن قبلت منه قبل سائر عمله وإن ردت عليه عليه رد سائر عمله
Apabila sholatnya diterima maka akan diterima semua amalnya. Dan apabila ditolak, maka akan ditolak seluruh amalnya.”
Hasits ini menunjukkan bahwa orang yang benar benar menjaga sholatnya, rukun dan syaratnya serta kekhusyuannya akan menyebabkan terjaga amal lainnya.
Adapun menjaga lisan. Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al Ahzab: 71-72)
Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa orang yang bertaqwa dengan menjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik, akan dijaga amalnya dan diampuni dosanya.
Dan dalam hadits disebutkan:
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه رَفَعَهُ قَالَ: إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ اْلأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُوْلُ: اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَ إِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu secara marfu’, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia menjelang pagi, maka semua anggota-anggota badannya menyalahkan lisan. Mereka berkata, “(Wahai lisan) bertakwalah engkau kepada Allah, karena kami. Maka sesungguhnya keadaan kami tergantung kepadamu. Jika kamu istiqomah, kamipun istiqomah. Namun jika kamu menyimpang, maka kamipun menyimpang”. [HR at-Turmudziy: 2407 dan Ahmad: III/ 96. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1962, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 351, Misykah al-Mashobih: 4838 dan al-Adab: 397].
Oleh karena itu, kita menyaksikan orang yang tidak menjaga lisannya dari ghibah, menyakiti orang, berdusta, mengumpat dan sebagainya, tidak dijaga amalnya oleh Allah Ta’ala.
Maka siapa yang ingin agar amalnya terjaga, maka jagalah dua perkara ini. Yaitu menjaga sholat dan menjaga lisan.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL JABBAAR
Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH
Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL MU’MIN
Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH
Cara Beribadah Dengan Sifat Allah – AL MALIK
Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH
Mengajak Memberontak Pemerintah dalam Pandangan Islam… Pelajaran Berharga dari Kisah Imam Ahmad bin Hambal
Imam Ahmad hidup dalam rentang tiga periode kekhalifahan Bani Abbasiyah yang dipimpin Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq dalam kurun 16 tahun. Para khalifah tersebut terpengaruh pemikiran sesat Mu’tazilah, sehingga mewajibkan para ulama ketika itu untuk mengatakan dan mendakwahkan sebuah kalimat kufur, bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Siapa yang enggan melakukannya, maka diancam bunuh atau minimal dipenjara dan disiksa. Padahal, ucapan tersebut termasuk ucapan kufur karena jika Al-Qur’an adalah makhluk, itu berarti Al-Qur’an bisa bertambah dan berkurang seiring zaman.
Imam Ahmad adalah panutan umat. Apapun sikap beliau terhadap paksaan khalifah maka akan diikuti umat. Sampai ada orang yang berkata kepada beliau, jika beliau mengikuti tuntutan khalifah untuk mengucapkan Al-Qur’an adalah makhluk, maka umat akan mengikuti beliau sehingga beliau akan menanggung dosa-dosa mereka pada hari kiamat. Namun jika beliau bersabar atas siksaan, maka baginya surga.
Termotivasi dengan itu, beliau semakin berpegang teguh dengan keyakinannya dan tidak menuruti khalifah. Akibatnya beliau dipenjara selama 28-30 bulan dan dicambuk di dalamnya dengan cambukan yang bisa merubuhkan anak unta saking kerasnya. Padahal utusan-utusan khalifah yang bertugas untuk mendebat beliau dalam masalah itu tidak ada yang mampu mengalahkan dalil-dalil yang beliau bawakan.
Kisah lebih lengkap dapat dibaca dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dan kitab lain, yang ujungnya adalah kabar gembira bagi kaum muslimin.
Pelajaran berharga dari seorang Imam Ahmad adalah bersabar dengan kezhaliman penguasa dan tidak memberontak kepadanya. Padahal mungkin saja itu beliau lakukan bersama murid-muridnya dan seluruh kaum muslimin, dengan alasan kesalahan pemerintah bahkan telah sampai tingkat kekafiran.
Sikap Sebagian Orang
Ketika pemerintah Indonesia dianggap melakukan berbagai kesalahan dalam menjalankan roda kekuasaan, sebagian orang dengan gegabahnya mengajak rakyat untuk memberontak. Mereka berteriak revolusi dan berusaha menggulingkannya. Padahal, para ulama umat Islam menyebutkan ada 7 syarat yang harus terpenuhi sebelum kaum muslimin memberontak.
Syarat pertama:
Kesalahannya adalah benar-benar suatu kekafiran menurut dalil dari Al-Qur’an, sunnah dan ijma’ ulama.
Kadang orang mengajak masyarakat memberontak dan melengserkan pemimpin karena kesalahan pemerintah yang tingkatannya adalah maksiat seperti menarik pajak dalam keadaan tidak terdesak, memenjarakan orang tidak bersalah, korupsi dan sebagainya. Jika dibandingkan dengan ucapan kekafiran yang dituntut oleh para khalifah yang berkuasa di zaman Imam Ahmad, maka itu belum seberapa. Belum lagi, kesalahan yang dilakukan pemerintah sangat potensial dilakukan oleh siapapun yang memegang tampuk kekuasaan.
Syarat kedua:
Kekafiran yang dilakukan adalah nyata dilakukannya secara meluas, bukan sekedar dugaan ataupun hasil memata-matai.
Misalnya mereka menghina Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, malaikat-Nya dan mendustakan hari kiamat secara terang-terangan di media massa.
Masalahnya, banyak oknum di negeri ini yang bisa menjadi pembawa keburukan akibat mengajak manusia memberontak dan angkat senjata karena landasan berita-berita yang sifatnya tidak bisa dipastikan kebenarannya. Dengan kata lain, mereka hanya menelan mentah-mentah isu yang dihembuskan situs gosipanu.com, beritaanu.com yang hanya sekedar katanya dan katanya.
Syarat ketiga:
Kekafiran yang dilakukan adalah jelas kekafiran dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Tidak bisa pula ditafsirkan dengan yang lain selain kekafiran.
Misalnya menginjak Al-Qur’an, membuangnya ke dalam toilet, mencaci maki Nabi, dan lainnya.
Adapun jika masalahnya adalah meninggalkan shalat dalam keadaan masih meyakini wajibnya shalat, atau shalat bolong-bolong, maka ini tidak memenuhi syarat, karena memang ada silang pendapat di kalangan ulama apakah yang melakukannya kafir atau tidak.
Syarat keempat:
Para ulama yang berkompeten telah membantah kekeliruan mereka dengan dalil sehingga terluruskan apa yang salah para pemerintah.
Karena itulah Imam Ahmad berdebat dengan para penganut Mu’tazilah yang ada di sekeliling khalifah agar khalifah menyadari kekeliruannya.
Syarat kelima:
Kaum muslimin memiliki kemampuan menggulingkannya. Jika tidak mampu, maka tidak mereka melakukannya.
Lihatlah apa yang terjadi di Suriah, dimana masyarakat memberontak pemerintah mereka yang menganut agama Syiah Nushairiyyah yang nyata kafir karena menyembah selain Allah. Hanya saja mereka tidak memiliki kemampuan pada asalnya. Setelah berlalu 7 tahun sejak pecah pemberontakan, pemerintah tak juga tergulingkan sedangkan nyawa kaum muslimin sudah ratusan ribu hingga jutaan melayang.
Syarat keenam:
Diyakinkan penggulingan tersebut tidak akan menimbulkan kemadharatan yang lebih besar.
Sungguh yang terjadi di Suriah menjadi contoh nyata. Masjid hancur. Sekolah dan fasilitas umum lebur. Jasad anak dan wanita bergelimpangan jatuh akibat perang. Bahkan sebagian dari mereka ada yang terpaksa makan kucing karena tidak ada lagi makanan.
Mungkin tidak ada kemadharatan yang lebih besar dari seorang muslim dari kalangan pemerintah dan yang mendukungnya saling bunuh dengan saudaranya dari kalangan kaum muslimin yang termakan fitnah yang dikobarkan pendukung pemberontakan.
Syarat ketujuh:
Penggulingan tersebut diputuskan melalui musyawarah para ahli ilmu agama yang mengambil keputusan dengan pertimbangan yang ilmu yang kuat, yaitu “ahlul halli wal aqdi”, bukan orang awam yang tidak berilmu.
Ketujuh syarat tersebut disebutkan dalam kitab Al-Ahkam fi Sabri Ahwal Al-Hukkam wama Yusyra’u Li Ar-Ra’iyyah fiha minal Ahkam karya Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, seorang syaikh pengajar di Masjid Nabawi.
Jika salah satu saja dari ketujuh syarat di atas hilang, maka pemberontakan tidak dibenarkan di dalam Islam, meskipun itu atas nama revolusi damai atau semacamnya.
Bagaimana jika Pemerintah Zhalim ?
Ringkasnya ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Mengingkari kemungkaran dan kezhaliman yang pemerintah lakukan, dengan hatinya.
2. Bersabar atas kezhalimannya, sekalipun dipukul, dipenjara ataupun hartanya diambil, sebagaimana dalam kisah Imam Ahmad.
3. Menyampaikan aspirasi dan nasehat dengan cara bijaksana, lembut, tulus, melalui orang-orang yang berkompeten, bukan dengan caci maki dan hinaan di hadapan massa dan mimbar Jumat.
4. Mendoakannya agar mereka mendapatkan hidayah agar kembali kepada kebenaran.
5. Tidak memberontak kecuali terpenuhi syarat tadi.
Nabi bersabda, “Barang siapa yang ingin menasehati penguasa, maka jangan melakukanya terang-terangan. Hendaklah ia berlemah lembut meraih tangannya dan berduaan dengannya. Sekiranya penguasa menerima nasehat maka itulah yang diharapkan. Jika tidak, maka ia telah melaksanakan kewajibannya untuk menasehatinya” (HR. Al-Hakim).
Harian Tribun Kaltim terbit hari ini, Senin, 6 Februari 2017.
Muflih Safitra, حفظه الله تعالى
Update donasi pembebasan tanah wakaf untuk Pusat Kajian Ahlussunnah Jepara…
Update donasi pembebasan tanah wakaf untuk Pusat Kajian Ahlussunnah Jepara (Masjid, pondok tahfizh, dll), hingga tanggal 5 Jumadil Ula 1438 H / 2 Feb 2017 M.
=======
Alhamdulillah, donasi yang masuk dari awal pembukaan hingga hari ini sebesar = Rp. 132.577.676,-
(perincian di akhir pesan ini).
Kekurangan biaya pembebasan tanah wakaf utk pembangunan masjid dan pusat kajian sunnah ini masih cukup banyak, yakni: Rp. 267.422.324,- sehingga uluran donasi dari segenap kaum muslimin masih sangat diharapkan.
Semoga Allah melipatgandakan pahala infak para donatur, menjadikannya amal jariyah yg terus mengalir pahalanya, serta memberkahi dan melapangkan rezeki dan harta mereka, amin.
Silahkan menyalurkan donasi Anda ke rekening-rekening berikut ini:
1. Bank BNI Syariah, cabang Kudus
No rek: 04 858 47 919
a/n. Sasmono
2. Bank CIMB Niaga Syariah, cabang Jepara
No rek: 7608 6904 7200
a/n. Sasmono
3. Bank BCA, cabang Jepara
No rek: 24 717 044 09
a/n. Sasmono
Konfirmasi ke:
+966 508 774 890 (WA, Musyaffa’ Addariny)
+6281 325 711 311 (sms dan WA, Sasmono)
Format konfirmasi:
Nama#Alamat#BankTujuan#Tanggal#Nominal
Ttd: Yayasan Dakwah Ahlussunnah “Madinatul Islam”.
———-
* Jika Anda tidak mampu membantu dana, Anda bisa membantu menyebarkan pesan ini, mungkin dari usaha Anda ini ‘dakwah sunnah’ akan semakin menyebar, dan pahala anda akan terus mengalir.
* Tanah wakaf ini akan dikelola oleh Yayasan Dakwah Ahlussunnah Jepara “Madinatul Islam”, dan saya Musyaffa’ Addariny sebagai salah satu dewan pembinanya.
——–
Perincian donasi yang kami terima:
hamba Allah# 762,849 #BNI# kebunjeruk
hamba Allah #140,500 #BNI#kudus
Hamba Allah#500,000# BNI
ian #350,000 #BNI #jakarta
ana #500,000# BNI# ogan ilir sumsel
hamba Allah #1,500,000 #BNI
joko firmanto# 150,000 #BNI #gresik
sandi rosadi #281,000 #BNI
junaidah #140,500 #BNI# batam
hamba Allah #50,000# BNI
hamba Allah #200,000 #BNI
fahmi amrullah #1,000,000# BNI# jayapura
hamba Allah #500,000 #BNI
arif #150,000 #BNI #jakarta
dinaragung# 140,500 #BNI #semarang
anjung #100,000 BNI# cilegon
hamba Allah # 140,500 #BNI
hamba Allah #500,000 # BNI
hamba Allah # 300,000 #BNI
hamba Allah #140,500 BNI
muhammad zaki #150,001 #BNI #tegalmulyobanguntapan bantul
hamba Allah #300,000 #bca
hamba Allah #250,000# bca
hamba Allah #150,000 #bca #jakarta
hamba Allah #300,000 # bca
abdullah# 1,500,000 #bca #kudus
risbanbi/rosidah# 1,500,000# bca #kudus
bambang war #1,500,000 #bca# kudus
hamba Allah #140,500 #bca
hamba Allah #140,500# bca
hamba Allah #140,500 #bca
hamba Allah #100,000 #bca
hamba Allah #500,000# bca
imam# 281,000 # bca #karawang
hamba Allah # 300,000# bca #jkt
hamba Allah #500,000# bca
zaki hayaza #200,000 #bca# mataram
fwd #500,000 # bca
nur fajar# 500,000 #bca #bandung
hamba Allah #500,000# bca
tusriyono# 500,000 #bca
hamba Allah #165,165 #bca
hamba Allah # 250,000# bca# riau
ade kusnandar #140,500# bca #cipondoh
agung pradono #140,500 #bca #bogor
hamba Allah #25,000 #bca
khusnul #200,000 #bca
winindya yuningsari# 281,000# bca# jaktim
hamba Allah # 300,000 #bca
teguh #140,500 #bca #bekasi
abdullah# 300,000 # bca #lampung
akhwat #140,500 #bca #pekanbaru
hamba Allah #300,000 #bca
aan pratama hikam #500,000 #bca#gorontalo
robby #500,000 #bca# jakarta
hamba Allah # 281,000# bca
hamba Allah # 1,000,000# niaga
hamba Allah #250,000 #Niaga
hamba Allah #140,500 # niaga
tusriyono# 500,000 # bca
hamba Allah #165,165# bca
hamba allah #250,000# bca
ade kusnandar# 140,500 # bca
agung pradono #140,500 #bca
hamba Allah #25,000 #bca
khusnul# 200,000 #bca
winindya yuningsari# 281,000# bca
hamba allah # 300,000# bca
teguh# 140,500 # bca
abdullah# 300,000 # bca
akhwat #140,500 # bca
hamba Allah #300,000 #bca
aan pratama hikam #500,000 #bca
robby# 500,000 #bca
hamba Allah #281,000 # bca
hamba Allah #1,000,000# niaga
hamba Allah #250,000 #niaga
hamba Allah #140,500 #niaga
Tentang “Memandikan Istri” Di Hari Jum’at…
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini :
