Do’a Ucapan Selamat Untuk Kelahiran Anak Yang Shahih Dari Nabi Shollallahu ‘Alayhi Wasallam

Syeikh Prof. Dr. Ahmad Albaatli:

“Riwayat yang paling shohih dari Nabi -shollallohu ‘alayhi wasallam- dalam masalah memberikan ucapan selamat atas lahirnya seorang anak adalah:

بَارَكَ اللهُ لَك فِيهِ، وَجَعَلَهُ بَرًّا تَقِيًّا

“Semoga Allah memberkahinya untukmu, dan semoga Allah menjadikannya anak yang berbakti dan bertakwa..”

Hadits diriwayatkan oleh Al-Bazzar (7310) dengan sanad yang shohih.

=====

Mari kita hidupkan kembali sunnah ini.. lalu share dan sebarkanlah.. semoga Allah memberikan kita pahala dari orang-orang yang mengamalkannya.. amin.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bolehkah Seorang Istri Memeriksa Barang Pribadi Suami, Seperti HP nya..?

Syeikh Musthofa Al-Adawi -hafizhohulloh- pernah ditanya seorang istri yang curiga terhadap suaminya hingga dia ingin memeriksa HP suaminya… beliau menjawab:

“Anda tidak diperintahkan untuk melakukan tajassus… Anda dilarang melakukan tajassus, Allah telah berfirman (yang artinya): “Janganlah kalian melakukan tajassus” [Al-Hujurot:12].

Istri yang selalu menguntit suaminya, memeriksa HP nya, dan mencari-cari sesuatu yang bila tampak padanya akan berpengaruh buruk pada dirinya; dia tidak bisa dibenarkan dalam tindakannya, wallohu a’lam.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=rx1AMxuwfgY

=====

Hal senada juga dikatakan oleh Syeikh Abdul Aziz Al-Fauzan -hafizhohulloh- yang pernah ditanya tentang masalah ini, dan beliau menjawab:

“Tidak boleh, dan ini merupakan tindakan tajassus yang dilarang oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya): “Janganlah kalian melakukan tajassus!” [Al-Hujurot:12].

Hak seorang suami atas istrinya adalah hak yang paling agung setelah haknya Allah ta’ala atas diri seorang istri.

(Oleh karenanya), hak suami atas istrinya lebih agung daripada hak kedua orang tua istri tersebut atas dirinya, padahal hak kedua orang tua atas dirinya juga sangat besar.

Ketika seorang istri mengorek-ngorek rahasia-rahasia suami, dan mulai mencari-cari di dokumen-dokumen miliknya, atau di HP nya, dengan harapan mendapatkan bukti untuk dipertanggung-jawabkan, sehingga istri bisa mempertanyakannya atau menyudutkannya. Bahkan mungkin juga dia jadi berburuk-sangka kepada suaminya. Setiap yang dia lihat, dia bawa kepada kemungkinan terburuk.

Maka, ini tentu tidak boleh, dan tindakan seperti ini -sebagaimana diketahui oleh semua- tidak boleh dilakukan terhadap semua orang, lalu bagaimana dilakukan terhadap seorang suami yang haknya atas isteri tersebut merupakan hak yang paling besar setelah haknya Allah atas dirinya?! Tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan”.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=-cNKaVQMIQs

——-

NB:

# Tajassus adalah usaha mengorek-ngorek sesuatu yang tidak tampak pada orang lain tanpa sepengetahuan orangnya.

# Tajassus dilarang oleh Syariat Islam yang mulia, karena itu merupakan pintu keburukan yang biasanya mengantarkan kepada pertengkaran dan perpecahan.

Karena sudah menjadi fitrah manusia; suka menyembunyikan keburukannya dan menampakkan kebaikannya.. Sehingga, biasanya tindakan tajassus ini tidaklah dilakukan, melainkan untuk mencari keburukan orang lain.. dan seseorang biasanya akan menjauh dari orang yang mengetahui aibnya.

# Sebagaimana seorang istri tidak boleh melakukan tajassus terhadap suaminya, begitu pula seorang suami tidak boleh melakukan tajassus terhadap istrinya, karena redaksi larangan tajassus itu umum, maka harus diberlakukan secara umum, mencakup laki-laki dan perempuan.

# Harusnya suami istri menjunjung tinggi sikap saling husnuzhon (berbaik sangka).. dan sikap saling percaya di antara keduanya.. Ingatkan diri masing-masing bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing.. siapa yang bersalah, maka dia tidak akan luput dari ancaman hukuman Allah.

# Kepada orang lain saja, Islam memerintahkan kita untuk saling menutupi aib, pantaskah sebagai suami istri malah ingin mengorek-ngorek kesalahan dan aib pasangan hidupnya?!

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Shalat Rawatib Setelah Mendengar Iqomat Bagi Muslimah…

PERTANYAAN:

Assalamu’alaykum ustadz, mohon penjelasannya.

Saya seorg wanita yg mendirikan shalat fardhu di rumah spt yg disyariatkan. Pertanyaan saya, bila saya sedang mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dzuhur 4 rakaat, lalu saya mendengar iqomat dikumandangkan di masjid dekat rumah, maka apakah saya jg harus memutus shalat qobliyah saya? Ataukah itu hanya berlaku bagi para jamaah yg sdg shalat qobliyah di masjid? Mengingat adanya hadits ttg larangan shalat sunnah setelah terdengar iqomat.

Mohon penjelasannya ustadz, karena saya kerap bimbang bila shalat qobliyah dzuhur saya blm selesai, tp saya sudah mendengar iqomat di masjid.
Jazaakallahu khairan utk jawabannya.

JAWABAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

“Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tak ada shalat selain shalat wajib.” HR. Muslim no.710

Syaikh Utsaimin rahimahullah menerangkan:
Maksudnya bila anda ingin melaksanakan shalat dengan imam tersebut, apabila anda tidak ingin melaksanakan shalat bersama dia maka boleh bagi anda untuk melaksanakan shalat nafilah (bukan wajib.pent). Seandainya di samping anda ada dua masjid dan anda mendengar iqomat salah satunya sedangkan anda ingin melaksanakan shalat rawatib kemudian anda melaksanakan shalat di masjid kedua maka itu tidak apa-apa. Asy-Syarh al-Mumti’ 4/167-168

Berdasarkan hal itu maka boleh bagi anda untuk melaksanakan shalat sunnah Rawatib meski iqomat sudah dikumandangkan mengingat anda tidak melaksanakan shalat jama’ah di masjid yang dikumandangkan iqamat di dalamnya.

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

Ref : http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/shalat-rawatib-setelah-mendengar-iqomat.html

Kisah Suami Ndak Mengenali Istrinya…

Anda bayangkan, seorang suami yang sejak menikah kesusahan mengenali istrinya, selama ini ia hanya kenal nama panggilan istrinya saja, sedangkan nama lengkapnya ia tidak kenal.

Suatu hari sang suami mendengar berita bahwa istrinya mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Segera sang suami meluncur ke rumah sakit untuk menemui istrinya. Sesampai di rumah sakit, penjaga bertanya: Mau menemui siapa pak? ia berkata: mau menemui istriku, yang bernama BUNGA.

Petugas kembali bertanya: ibu BUNGA yang siapa ya?, di sini ada 5 pasien yang bernama BUNGA.

Lelaki itu menjawab: waduh, saya tuh kenalnya ya BUNGA saja, demikian setiap hari aku memanggilnya.

Barangkali anda akan berkata: ndak masuk akal aaah, ceritanya ngawur, mana ada orang yang kayak gitu, kalaupun ada itu pasti orang gila alias ndak waras. La wong, setiap malam tidur bareng, sering dikasih itu lagi, kok ndak kenal wajah atau nama lengkapnya.

Tenang sobat, kalau sekedar suami tidak kenal istrinya selain namanya saja anda katakan sebagai orang gila, ndak waras dan ndak masuk akal. Namun tahukah anda bahwa anda telah melakukan hal yang lebih parah dari itu ?

Anda mengaku sebagai hamba Allah, anda menyadari bahwa anda tiada henti bergelimang dalam kenikmatan-Nya, namun demikian benarkah anda sudah mengenal Allah selain nama-Nya saja?

Sudahkah anda tahu sifat sifat Allah Ta’ala dan hak-hak-Nya yang harus anda tunaikan ?

Dan sudahkah anda tahu bahwa syahadat La Ilaaha Illallahu yang anda ucapkan tiada pernah sempurna bila tidak memenuhi persyaratannya. Dan tahukah anda syarat syarah sahnya syahadat anda?

Berikut 7 syarat sahnya syahadat Laa ilaaha illallah :
1. Al Ilmu (berilmu tentang kandungan syahadat yang anda ucapkan)
2. Al Yaqin (meyakini kandungan persaksian anda tanpa ada keraguan sedikitpun) .
3. Al Ikhlash (meikhlaskan seluruh amal ibadah anda hanya untuk-Nya ).
4. Ash Shidqu (membenarkan semua firman dan kabar dari Allah tanpa pernah mendustakannya sedikitpun).
5. Al Mahabbah (mencintai Allah seutuhnya melebihi cinta anda kepada selain-Nya).
6. Al Inqiyadu (menaati setiap perintah dan meninggalkan seluruh larangan).
7. Al Qabulu (menerima seluruh syari’at Allah tanpa pilah pilih).

Bagaimana, sudah tahu sekarang, siapa yang lebih keterlaluan, suami di atas atau diri anda yang tidak kenal Allah Ta’ala Yang menciptakan, memberi segala kenikmatan kepada anda ?

Hayo, ngaji tauhid, iman, dan akidah lagi, agar benar benar kenal Allah Ta’ala yang kita sembah dan kita agungkan.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Hidayah Itu Allah Yang Memberikan

Keikhlasan dan ketakwaan seseorang, memang sangat mempengaruhi diterimanya dakwah dan nasehatnya.

Tapi, jangan sampai kaidah ini dibalik.. jangan sampai kita beranggapan bahwa jika pendengarnya tidak tersentuh oleh nasehatnya, berarti ustadznya kurang ikhlas atau minim takwa saat menyampaikan ilmunya.

Mengapa demikian..?

Karena Allah-lah yang berkehendak memberikan hidayah, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Sungguh kamu (Muhammad), tidak akan mampu memberikan hidayah kepada orang yang kau cintai, namun Allah-lah yang mampu memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki..” [Al-Qashash: 56].

Dan Allah bisa saja berkehendak tidak memberikan hidayah kepada suatu kaum yang telah dinasehati oleh seorang pendakwah yang super ikhlasnya dan tinggi takwanya.

Diantara bukti yang sangat kuat dalam masalah ini adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

“Telah ditampakkan kepadaku seluruh ummat manusia, maka akupun melihat seorang nabi; bersamanya sekelompok orang, (kulihat juga) seorang nabi; bersamanya satu dua orang, (bahkan aku melihat) ada seorang nabi; yang tidak satu pun orang bersamanya..” [HR. Muslim: 374].

Lihatlah, di sana ada seorang NABI yang dakwah dan nasehatnya tidak diterima oleh ummatnya sama sekali.. mungkinkah kita katakan, ada nabi yang kurang ikhlas, atau minim takwa..?! Tentunya tidak.

Pintu husnuzhon harusnya kita buka lebih lebar.. daripada pintu su’uzhon.. apalagi bila sasarannya adalah pendakwah yang terlihat baik dan saleh, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jangan Meremehkan Sesuatu Yang Terlihat Kecil

Dalam masalah kemaksiatan sahabat Abu Bakar -rodhiallohu ‘anhu- pernah mengatakan:

“Sungguh Allah bisa saja mengampuni dosa besar, maka janganlah engkau putus asa (karenanya). Dan bisa saja Dia meng-adzabmu karena dosa kecil, maka janganlah engkau terlena (karenanya)..”

[Syarah Shahih Bukhori, karya Ibnu Batthol, 10/203].

Sedangkan dalam masalah ketaatan, Ibnul Mubarok -rohimahullah- pernah mengatakan:

“Betapa banyak amalan kecil, dibesarkan oleh niat. (Sebaliknya) betapa banyak amalan besar, dikecilkan oleh niat..”

[Jami’ul Ulum Wal Hikam, karya Ibnu Rojab, 1/71].

Hal ini juga telah ditegaskan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam sabdanya:

“Jangan sampai engkau meremehkan kebaikan apapun, walaupun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang bersahabat..” [HR. Muslim: 2626].

Lihatlah bagaimana beliau memberikan contoh perbuatan yang kecil dan sederhana, namun demikian, beliau melarang kita meremehkannya.

——-

Jika kita melatih diri untuk memperhatikan yang kecil-kecil, insya Allah yang besar akan semakin kita perhatikan.. sebaliknya bila kita sering menyepelekan yang kecil-kecil, maka lambat laun kita juga akan menyepelekan sesuatu yang besar.

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Negara Saudi Akhirnya Membolehkan Perayaan Maulid ..??

Beberapa teman menanyakan tentang kebenaran berita di atas, apakah benar demikian, ataukah itu isu dari berita yang telah dipelintir.

Beberapa kali saya jawab, bahwa itu hanyalah berita yang dipelintir oleh media saja.. itu hanya berita hoax, alias isu dan kabar burung.

Dan Alhamdulillah ulama yang dijadikan sandaran sumber isu tersebut akhirnya memberikan klarifikasi tentang berita tersebut, beliau adalah Syeikh Abdullah Al-Muthlaq -hafizhahullah-.

Berikut ini berita yg memuat klarifikasi beliau, dan dibuat oleh halaman berita “Sabaq”.

“Syeikh Abdullah Al-Muthlaq, seorang penasehat dewan kerajaan dan anggota kibar ulama, telah mengeluarkan klarifikasi mengenai pendapatnya tentang perayaan Maulid Nabi, untuk membantah isu ysng beredar, yang mengatakan bahwa:

‘Saudi akhirnya mengakui (perayaan) Maulid Nabi, dari seorang anggota dalam dewan kerajaannya, dan dia menganggap itu termasuk amal saleh.’

… … …

Syeikh Abdullah Al-Muthlaq mengatakan dalam klarifikasinya: bahwa telah disandarkan kepadaku akhir-akhir ini bahwa aku membolehkan perayaan maulid (kelahiran) Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, makhluk paling mulia, dan kekasihku. Dan bahwa aku memasukkannya dalam ibadah-ibadah yang bisa mendekatkan kaum muslimin kepada Allah ta’ala.

Ini adalah kedustaan yang disandarkan kepadaku dan tindakan membohongi kaum muslimin secara umum yang mereka berprasangka baik kepada para ulamanya.

Seandainya orang-orang yang berdusta melalui judul berita yang mereka susun sendiri, membaca perkataanku yang dia sebutkan di bawah judulnya, tentu mereka akan tahu bahwa aku tidak membolehkan perayaan maulid (kelahiran) orang terkasih dan terpilih (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Sungguh orang yang paling besar dalam kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Ali bin Abi Thalib, Dua putranya; Hasan dan Husein, dan para Khulafa’ Rosyidin yang lainnya seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Umar bin Abdul Aziz -radhiallahu anhum- dan juga selain mereka; tidak ada satu pun yang melakukan maulid tersebut, mereka juga tidak mengajak manusia untuk melakukannya. Hal itu juga tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau tidak juga mengajak kepadanya.

Para penyair dari kalangan sahabat -radhiallahu anhum- yang mencintai Nabi -shallallahu alahi wasallam- dengan kecintaan yang agung, seperti: Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Ka’ab bin Zuhair, dan selainnya, mereka tidak pernah memuji Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dengan pujian yang diberikan oleh para penyair maulid, seperti Al-Bushairi dan yang lainnya, sungguh mereka telah melampui batas dalam memuji beliau, hingga mereka jatuh dalam kesyirikan yang tidak diridhai oleh beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak akan beliau terima, bahkan beliau telah memperingatkan dan melarang umat beliau darinya.”

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Sumber:https://sabq.org/%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D9%84%D9%82-%D9%8A%D8%B1%D8%AF-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%81%D8%AA%D9%88%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D9%85%D8%A7-%D9%86%D8%B3%D8%A8-%D8%A5%D9%84%D9%8A-%D8%A7%D9%81%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D8%A1-%D9%88%D9%83%D8%B0%D8%A8

Menebar Cahaya Sunnah