Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Apakah Boleh Menyatukan Niat Aqiqah Dengan Niat Ber-Qurban…??
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Serba-Serbi DZULHIJAH – Kumpulan Artikel Terkait Ibadah Di Bulan Dzulhijjah
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Fawaid Umdatul Ahkaam : Hadits ke 5
Hadits ke 5
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِى لاَ يَجْرِى ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ
“Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yaitu air yang tidak mengalir kemudian ia mandi di dalamnya.”
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
لاَ يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ
“Jangan salah seorang dari kalian mandi di air yang tergenang dalam keadaan junub” (HR. Muslim no. 283).
Fawaid hadits:
1. Larangan buang air kecil di air yang tidak mengalir baik air itu sedikit maupun banyak, karena hadits melarang secara mutlak dan tidak membedakan.
Tapi dikecualikan air yang amat banyak seperti air danau atau laut karena najis tersebut tidak berpengaruh.
2. Larangan tersebut bersifat haram atas pendapat yang rojih. Karena illatnya adalah mengganggu dan menghalangi orang lain untuk memanfaatkan air tersebut.
3. Buang air besar lebih dilarang lagi karena ia lebih berat dari air kencing.
4. Bila air yang tergenang tersebut berubah bau, atau rasa atau warnanya maka ia menjadi najis berdasarkan kesepakatan ulama.
Bila tidak berubah dan airnya melebihi dua qullah maka tidak najis berdasarkan ijma ulama juga.
Dan bila kurang dari dua qullah maka atas pendapat yang paling kuat tidak najis, karena air tersebut tidak membawa najis.
5. Larangan mandi di air yang diam terutama orang yang junub dengan cara menceburkan diri padanya. Atau menciduk darinya namun air tersebut kembali lagi ketempatnya. Semua ini dilarang. Adapun jika ia menciduk dan tidak kembali lagi ke tempat tapi mengalir ke selokan tidak apapa.
6. Larangan tersebut berlaku untuk air yang tidak mengalir. Adapun jika mengalir maka mafhum hadits teesebut menunjukkan boleh.
7. Larangan dari segala sesuatu yang mengganggu orang lain.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Pahala Qurban Untuk Siapa Saja..?
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Serba-Serbi DZULHIJAH – Kumpulan Artikel Terkait Ibadah Di Bulan Dzulhijjah
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Nabi Ditolak Orang Kafir, Ndak Emosi, Kok…
Sobat, anda berdakwah lalu ditolak itu adalah satu hal yang wajar, anda bukan korban pertama namun demikianlah dinamika dakwah sepanjang masa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami hal yang serupa bahkan lebih parah, demikian pula dengan nabi nabi sebelumnya.
Pada tahun keenam hijriah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menunaikan ibadah umrah bersama para sahabatnya. DIperkirakan beliau membawa sekitar 1.400 orang sahabat dengan berbagai perlengkapan perang untuk mempertahan diri.
Kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama pasukan segitu banyak menyebabkan orang-orang Quraisy kebakaran kumis. Betapa tidak, kemarin, enam tahun silam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar meninggalkan kota Makkah hanya ditemani oleh seorang sahabat, yaitu Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, sedangkan kini beliau kembali dengan membawa pasukan besar.
Secara fsikologi, ini merupakan pukulan berat bagi orang-orang Quraisy, bagi mereka kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kali ini mereka anggap sebagai show of power, yang dapat berdampak pada runtuhnya wibawa Quraisy yang selama ini berperan sebagai super power di negri arab.
Karenanya, dengan segala kekuatan dan daya yang dimiliki, Quraisy berusaha mempertahankan kedudukan sosialnya sebagai super power di negri arab. Mereka menolak kehadiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke kota Makkah yang tanpa “kulo nuwun” terlebih dahulu kepada mereka. Quraisy ingin membuktikan kepada bangsa arab bahwa mereka tetap memiliki power untuk memimpin dan mempertahankan mahkota “super powernya”.
Negoisasi antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan delegasi Quraisy terus terjadi, hingga akhirnya dicapai kesepakatan bahwa :
1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama seluruh sahabatnya kembali ke Madinah dan menunda umrahnya hingga tahun depan.
2. Setiap penduduk Makkah yang melarikan diri ke kota Madinah harus dikembalikan ke Quraisy dengan suka rela, walaupun dia adalah orang Iaslam. Sedangkan setiap penduduk Madinah yang elarikan diri ke Makkah tidak wajib dikembalikan ke Madinah, walau di adalah orang Islam.
Dua poin ini sekilas bentuk kekalahan dan kehinaan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Tak ayal lagi para sahabat geram dan merasa terhina dengan kesepakatan ini, sampai-sampai sahabat Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ قَالَ « بَلَى ». قَالَ أَلَيْسَ قَتْلاَنَا فِى الْجَنَّةِ وَقَتْلاَهُمْ فِى النَّارِ قَالَ « بَلَى ». قَالَ فَفِيمَ نُعْطِى الدَّنِيَّةَ فِى دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ « يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِى اللَّهُ أَبَدًا
“Wahai Rasulullah, bukankah kita di atas kebenaran sedangkan mereka di atas kebatilan. ? Beliau menjawab: Tentu. Lalu sahabat Umar kembali berkata: Bukankah orang yang terbunuh dari kita akan masuk surga sedangkan korban dari mereka pasti masuk neraka? beliau menjawab: Tentu. Selanjutnya sahabat Umar berkata: Bila demikia, mengapa kita rela menerima kehinaan dalam urusan kebenaran (agama) kita, sedangkan Allah belum memberikan keputusan-Nya antara kita dan mereka (belum terjadi peperangan) ? beliau menjawab: Wahai putra Al Khatthab, sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan selamanya Allah tiada mungkin menyia-nyiakan aku.
Merasa belum puas, sahabat Umar radhiallahu ‘anhu mendatangi sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk menumpahkan kekecewaannya, dan terjadilah komunikasi seperti di atas anatara mereka berdua.” (Bukhari & Muslim)
Ya, dalam kondisi penuh dengan kekecewaan dan sakit hati seperti ini sangatlah berat untuk menggunakan nalar sehat, apalagi hanya bermodalkan iman semata. Kebanyakan orang akan hanyut dalam amarah, kekecewaan dan ambisi membalas, apalagi bila merasa mampu dan kuat. Namun tentu sekedar perasaan mampu dan kekecewaan tidaklah cukup untuk menghadai masalah besar dan dalam kondisi susah seperti ini. Sepatutnya dalam kondisi seperti ini, ilmu dan iman kepada pertolongan Allah haruslah lebih di dahulukan.
Langkah yang diambil oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menerima persyaratan Quraisy ternyata terbukti efektif untuk mengakhiri perseteruan dengan Quraisy. Karena diantara poin kesepakatan antara mereka ialah kedua belah pihak berkomitmen untuk tidak lagi saling mengganggu dan memberi kebebasan kepada seluruh kabilah untuk bergabung dengan siapapun dari kedua kelompok ini.
Poin kesepakatan ini menjadi kredit poin penting dan sekaligus titik balik dari perseteruan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang Quraisy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat keleluasaan untuk mendakwahi kabilah kabilah lain, tanpa gangguan yang berarti dari Quraisy. Dan sebaliknya qabilah lain mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk berinteraksi dan mengenal Islam lebih dekat, hingga akhirnya banyak dari mereka masuk Islam. Berbagai qabilah yang sebelumnya mendukung Quraisy, kini berbalik arah dan masuk Islam, sampaipun berbagai qabilah yang ada di sekitar Makkah.
Qabilah berbondong bondong menyatakan keislamannya, hingga akhirnya Quraisy terkucilkan dan kehilangan dukungan dari banyak qabilah, dan akhirnya kekuatan Quraisypun melemah. Kondisi inilah yang Allah Ta’ala sebutkan sebagai pertolongan Allah Ta’ala dan sekaligus kemenangan kaum Muslimin. Allah berfirman :
إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ {1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.” (An Nasher 1&2)
Pada kisah ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi pelajaran bahwa mundur selangkah bukan berarti kekalahan selamanya. Sebagaimana diantara strategi yang sepatutnya kita terapkan dalam mewujudkan kemenangan ialah merontokkan kekuatan penopang dan basis dukungan yang dimiliki oleh lawan.
Walaupun kala itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memiliki pasukan yang kuat dan tangguh, namun beliau memilih untuk mundur selangkah, guna menempuh jalur lunak, yaitu dengan mengikis dukungan lawan, sebelum benar-benar berkonfrontasi degan musuh utamanya. Secara kalkulasi kala itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama pasukannya mampu melawan Quraisy dan mengalahkan mereka, namun tentu saja membutuhkan waktu panjang, biaya besar, korban jiwa yang banyak dan… dan …
Namun dengan mundur selangkah, beliau berhasil mengikis basis dukungan Quraisy, sehingga setelah dirasa waktunya tepat beliau mengumumkan peperangan terbuka, dan berterus terang hendak menyerang kota Makkah tanpa kawatir akan dihadang oleh qabilah loyalis Quraisy yang sebelumnya betebaran di sepanjang jalan menuju kota Makkah.
Belumkah tiba saatnya anda meneladani strategi dakwah dan perjuangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas? Mengapa kita begitu bernafsu dengan berbagai kegiatan yang bernuansa show of power ?
Tidakkah akan lebih bijak bila dakwah dengan cara gerilya, dari masjid masjid kampung terus digiatkan, dari rumah ke rumah dilipat gandakan, dari instansi ke instansi lain terus disemarakkan, hingga suatu saat nanti, bila telah kondusif maka acara yang beraroma show of power dapat dilaksanakan tanpa ada kekawatiran akan ada gangguan yang perlu dikawatirkan. Toh, tanpa kegiatan yang bernuansa show of power dakwah anda tetap berjalan dengan lancar. Dengan demikian gengsi sebagian orang yang selama ini merasa sebagai “raja hutan”, atau sebagai super power di tengah ummat Islam, dapat dikikis atau taringnya dijadikan tumpul dan aumanya dibuat merdu sehingga tidak lagi menakutkan.
Mengapa ada kesan bahwa bila kegiatan yang bernuansa show of power ditolak, berarti dakwah berhenti dan berakhir? Apalagi kehormatan dakwah tercoreng? Mengapa para punggawa dakwah lupa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
من تواضع لله رفعه الله
“SIapapun yang merendahkan dirinya karena Allah, niscaya Allah meninggikan derajatnya.” (Abu Nuim dan lainnya)
Sobat, ingat, dan sekali lagi ingat, anda hidup di tengah tengah saudara anda sendiri sesama ummat Islam, sejauh apapun perbedaan anda dengan mereka toh mereka tetap saudara anda sesama ummat yang bersyahadat :
لا إله إلا الله ومحمد رسول الله
Sobat, mari kita semua menjadi perekat di tengah tengah Ummat Islam, dan jangan sampai kita menjadi pemecah di tengah tengah saudara kita. Ummat kita yang sudah terpecah jangan ditambah pecah, kalaupun sebagian saudara kita bersikap lancang dan melampaui batas, bukan berarti itu alasan untuk bersikap yang serupa
Dan kalau anda berkata: negara kita negara hukum, kita tempuh saja jalur hukum, kita gugat, kita perkarakan, kita memiliki para pungawa peradilan dan lainnya, maka dengar pesan khalifah Umar bin Al Khatthab tentang penyelesaian masalah melalui jalur hukum:
رُدُّوا الْخُصُومَ حَتَّى يَصْطَلِحُوا ، فَإِنَّ فَصْلَ الْقَضَاءِ يُورِثُ بَيْنَ الْقَوْمِ الضَّغَائِنَ.
“Upayakan agar kedua orang yang bersengketa menempuh jalur perdamaian, karena menyelesaikan persengketaan melalui jalur hukum pasti menyisakan dendam dan kebencian antara keduanya.” (Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah dan lainya)
Ini pesan beliau padahal peradilan di zaman beliau peradilan Islam dan benar-benar adil, bagaimana halnya dengan peradilan zaman kita yang seperti ini?
Lalu solusinya bagaimana dong? Ya, kembali lagi solusinya sabar, dan sabar, dan terus sabar.
Maaf saudaraku, status ini mungkin terlalu panjang untuk anda baca, namun maafkan saudaramu ini, yang sedang dihantui oleh kemungkinan adanya “tikus tikus penyusup” yang sengaja menghendaki adanya gesekan dan benturan di tengah-tengah ummat Islam.
Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Jangan lewatkan membacanya SETIAP MALAM…
Sudahkah anda membacanya malam ini…?
👆👆👆
Sudahkah anda membaca SAYYIDUL ISTIGHFAR malam ini dengan menghayati maknanya dan dengan penuh keyakinan…?
Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum sore hari, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum shubuh, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR. Al Bukhari 7/150, no. 6306)
ALLAHUMMA ANTA ROBBII
LAA ILAAHA ILLA ANTA
KHOLAQTANII
WA ANA ‘ABDUKA
WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA
WAWA’DIKA MAS-TA-THO’TU
A’UDZUBIKA MIN SYARRI
MAA SHONA’TU
ABUU-U LAKA BI NI’MATIKA ‘ALAYYA
WA ABUU-U BI DZANBII
FAGH-FIR-LII, FA INNAHU
LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA
ILLA ANTA
Apa Hukumnya COPAS Hadits dan Langsung Menyebarkannya..?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله
Bagaimana Berdakwah Kepada Orangtua..?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله
Kajian Salaf Ditolak, Dilawan Atau Diam..?
Akhir akhir ini, kajian salaf semakin semarak, dan menjangkau semua lapisan. Berbagai media, dan sarana mulai dimanfaatkan yang berdampak pertumbuhan dan penyebaran dakwah salaf semakin pesat. Semua itu tentu semata mata berkat pertolongan dan karunia Allah, bukan karena kehebatan atau jasa seseorang atau kelompok tertentu. Hanya Allah yang pantas dipuji atas semua kebaikan ini.
Dakwah salaf, ya benar dakwah salaf, seruan untuk kembali memurnikan ajaran Islam yang hanya berlandaskan kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Dan pada level penerapan berbagai syari’at keduanya senantiasa bercermin kepada keteladanan generasi terdahulu, dari kalangan para sahabat, tabiin dan ulama’-ulama’ setelah mereka yang benar-benar mumpuni, jauh dari aspek fanatik golongan atau kelompok, atau figur tertentu, rekayasa atau modifikasi atau normalisasi agama, karena Islam telah sempurna sehingga tidak butuh kepada segala hal di atas. Bahkan sebaliknya segala budaya, undang undang, tatanan masyarakat atau lainnya harus beradaptasi dengan Syari’at Islam. Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maidah 3)
Inilah yang dimaksud dari memurnikan Islam, dan dengan cara inilah Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin benar benar menjadi kenyataan.
Namun demikian, telah menjadi sunnatullah bahwa siapapun diri anda dan apapun amalan atau keyakinan anda, pasti ada saja orang-orang yang memusuhi dan membenci anda. Jika anda adalah orang baik paling baik, orang Islam paling sempurna keislamannya maka sadarilah bahwa ada saja orang yang membenci dan bahkan dengan lantang mengobarkan permusuhan kepada anda, yaitu orang buruk paling buruk atau orang kafir paling kafir.
Dan bila anda adalah seorang muslim yang kadang baik dan kadang hanyut dalam nafsu dan kebodohan, maka sadarilah bahwa pasti ada orang yang membenci dan memusuhi anda. Dan bisa jadi diantara yang memusuhi anda ialah sesama orang Islam yang juga kadang baik dan kadang hanyut dalam nafsu dan kebodohannya. Allah Ta’ala berfirman :
وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ
“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka dengan sebahagian yang lain.” (Al An’am 53)
Dan sudah barang tentu orang kafir dan bahkan orang kafir paling kafir juga turut membenci dan memusuhi anda.
Kalau anda bertanya, lalu bagaimanakah agar anda bisa selamat dari permusuhan dan kebencian orang lain?
Jawabannya: tidak ada, karena inilah dunia dan demikianlah sunnatullah.
Lalu bagaimana solusinya? Benarkah anda ingin tahu solusinya? Simak jawabannya langsung dari Allah Ta’ala :
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
“Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar ? dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (Al Furqan 20)
Ya betul, sabar itulah solusinya, sabar ketika mendapat cobaan dan ditimpa kesusahan sehingga cobaan itu tidak menyebabkan anda terhenti dari mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan kebenaran.
Dan sabar ketika menghadapi godaan nafsu dan bisikan setan sehingga anda tidak menyimpang dari jalan kebenaran dan terperangkap dalam dosa dan maksiat.
Sabar sehingga anda istiqomah dalam mempelajari, lalu mengamalkan dan mendakwahkan kebenaran, tidak putus asa dan tidak congkak.
Menuruti emosi, rasa kesal, amarah bukanlah solusi, membalas kejahatan dengan tindakan serupa bukan pula solusi walaupun dibolehkan. Solusinya hanya ada satu yaitu sabar, Allah Ta’ala berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fusshilat 34)
Sabar, benar hanya sabar solusinya, terlebih bila yang mengganggu atau mengusik laju dakwah anda ternyata adalah orang yang serupa dengan anda, sesama ummat Islam, yang banyak memiliki persamaan dengan anda walau banyak pula perbedaannya.
Kalau anda berkata: ooh cemen, kenapa mesti penakut, mereka menggunakan kekerasan, kita juga berani melakukannya. Kita yakin benar mengapa takut?
Inilah nafsu dan emosi, kebodohan dan nafsu dilawan dengan yang serupa, kalau anda merasa kesal, dan tidak kuasa menahan amarah, maka sadarilah bahwa memang dakwah ini besar dan hanya orang orang yang berjiwa besar yang kuasa memikulnya dengan sebenarnya. Anda tersinggung? Tenang sobat, baca dulu ayat berikut:
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai karunia yang besar (dari Allah)” (Fusshilat 35)
Kalau anda berkata: alah, lawan saja, kenapa mesti takut mati, bukankah kita berada pada pihak yang benar dan membela kebenaran? Betul sobat, namun sadarkah bahwa anda berada pada pihak yang benar bukan berarti serta merta menjadi alasan untuk membuka pintu kekacauan yang lebih besar apalagi hingga terjadi pertumpahan darah.
Ketahuilah, bila dua kelompok masa telah berhadap hadapan, maka sangat dengan mudah bagi pemancing di air keruh, yang bisa saja menyusup di barisan anda atau barisan mereka, memanfaatkan kesempatan. Mereka memulai dengan melempar batu, dan akhirnya anda merasa diserang dan merasa perlu mempertahankan diri atau bahkan membalas. Dan bisa jadi sebaliknya “tikus” sengaja menyusup di barisan anda memulai melempar batu, dan akhirnya mereka merasa diserang dan perlu membalas dan mempertahankan diri. Bila seperti ini kejadiannya bagaimana coba?
Jangankah orang sehebat anda, orang sebesar sahabat Thalhah, ‘Aisyah, Azzubair, dan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum ketika berada dalam kondisi seperti ini tidak kuasa mendeteksi dan mencegah kelakuan “tikus tikus penyusup”, seperti digambarkan di atas, hingga akhirnya terjadi perang saudara antara mereka.
Bila pertumpahan darah terlah terjadi di antara kaum muslimin, siapkah anda menanggung resikonya di dunia dan di akhirat? Anda mau tahu berapa besar tanggung jawab yang harus anda pikul bila nyawa seorang muslim melayang gara gara anda? SImak sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلم
“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibanding dosa membunuh seorang muslim.” (At Tirmizy)
Ustadz, dan para panitia kajian, berpikirlah baik-baik, dan sadarilah walaupun anda adalah seorang ustadz atau seorang yang telah berratus ratus tahun mengaji, tetap saja anda adalah manusia biasa yang punya nafsu dan rentan digoda setan. Berlindunglah dari godaan setan dan belengu nafsu amarah diri anda.
Jangan kawatir sobat, saya adalah orang pertama yang saya maksudkan dari nasehat ini, semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari bisikan setan, nafsu angkara murka dan kebodohan. Ya Allah limpahkanlah hidayah-Mu untuk seluruh ummat Islam dan seluruh ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Wallahu Ta’ala A’alam Bisshawab.
Maaf, bila terlalu panjang.
Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
