Soal DZIKIR setelah SHOLAT SUNNAH…

Pertanyaan:

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh, baarakallahu fiikum Ustadz. Màaf mengganggu waktu antum lagi Ustadz, ada yang ingin ana tanyakan berkaitan dengan dzikir setelah sholat sunnah. Ana mendengar bahwa Setelah shalat sunah kita bisa membaca,  astaghfirullah 3x, Allahumma antas salam wa minkas salam tabaarakta ya dzal jalal wal ikram… berdasarkan keumuman hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap selesai shalat, beliau membaca istighfar 3 kali, kemudian membaca,

“Allahumma antas salam wa minkas salam tabaarakta ya dzal jalal wal ikram.” (HR. Muslim 591, Nasai 1337, dan yang lainnya).

Alasannya adalah bahwa
Tsauban tidak mengatakan ‘setelah shalat wajib’. Ini menunjukkan bahwa dzikir itu dibaca di setiap usai shalat. Baik sunah maupun wajib.

Adapun dzikir laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syai-in qadir. Laa haula wa laa quwwata illa billaah. laa ilaaha illallah wa laa na’budu illaa iyyaah.. dst, dzikir ini sesuai aturannya, hanya dibaca setelah shalat wajib.

Pertanyaan: apakah benar dzikir tersebut, yaitu :
Astaghfirullah 3x
Allahumma antas-salaam
Wa minkas-salaam
Tabaarokta ya Dzal Jalaali Wal Ikrom

bisa diamalkan setelah sholat sunnah ? … jika iya, apakah juga diamalkan setelah sholat DHUHA dan WITIR ? Sedangkan yang ana pelajari dari antum bahwa bacaan setelah witir adalah Subhaana Malikil QUDDUUS 3x… dan bacaan setelah DHUHA adalah “Robbighfirlii watub ‘alayya… dst” 100x… mohon petunjuknya Ustadz? Baarakallahu fiikum

Jawab:

Yang rojih ucapan istighfar itu hanya setelah sholat fardlu.

Adapun hadits tersebut walaupun lafadznya umum tapi maknanya khusus karena adanya dalil dalil yang mengkhususkan seperti hadits ibnu Abbas: Adalah mengangkat suara dengan dzikir setelah sholat wajib itu ada di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam, diriwayatkan oleh Muslim.

Bukankah ucapan subahanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar 33x juga lafadznya umum? Nabi bersabda:

تسبحون وتكبرون وتحمدون دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين

Kamu bertasbih, bertakbir, bertahmid di belakang SETIAP SHOLAT 33x (HR Bukhari dan Muslim)

Tapi tidak ada ulama sejauh pengetahuan saya yang memahami hadits tsb untuk sholat sunnah.

Wallahu a’lam

Tambahan info dari Ustadz Badru Salam,  حفظه الله تعالى :
“…Jumhur (Ulama-adm) menyelisihi pendapat beliau (Syaikh bin Baz rohimahullahu ta’ala dalam masalah ini-adm)…”

Menurut Saya….?!!!

Semua orang sepakat, bahwa hanya kontraktor bangunan yang berkompeten untuk “berbicara” tentang membangun bangunan”, hanya arsitek saja yang berkompeten untuk “berbicara” tentang desain suatu bangunan, hanya dokter ahli bedah sajalah yang berkompeten untuk “berbicara” atau berkata “menurut saya” tentang pembedahan.

Jika ada seorang alim ulama yang hafal al-qur’an dan hadits-hadits, serta menguasai ilmu ushul fiqih dan mustolah hadits serta ilmu-ilmu agama yang lain, akan tetapi ulama ini hendak ikut serta dalam ruang operasi, ikut mengotak-ngatik tubuh pasien, atau ikut nimbrung dalam kotruksi bangunan, bahkan ngeyel mempertahankan pendapatnya, bahkan berani berkata “menurut saya” pasien harus dibedah ini dan itunya….tentu semua orang akan mengatakan ini ulama berbicara bukan pada tempatnya, meskipun ia seorang ulama.

Perhatikan…, padahal ulama ini berbicara tentang perkara dunia (pembedahan dan kontruksi bangunan), itu saja ditentang oleh semua orang yg waras.

Lantas bagaimana dengan zaman sekarang ini, yang banyak orang berani berbicara, bahkan hobi memberi komentar, berkata “menurut saya…” tentang permasalahan-permasalahan agama…tentang hukum-hukum Allah…, tentang akhirat…, padahal sama sekali Nol Besar dalam bidang agama….

Jika ada Doktor Kimia, atau Prof Ahli Bedah berbicara tentang fiqih agama, padahal tidak paham tentang literatur keagamaan maka tentu ini adalah profesor yang tidak tahu diri, dan tidak ngaca diri.

Silahkan berkata “Menurut Saya”…akan tetapi hendaknya ngaca sebelum menyatakan demikian…
Nabi bersabda “Jika diserahkan suatu perkara kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah tibanya hari kiamat”

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى

Ulama Lebih Menyayangi Umat, Melebihi Ayah dan Ibu Mereka…

Sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Mu’adz Arrazi -rohimahulloh-:

“Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad -shallallahu alaihi wasallam- melebihi ayah dan ibu mereka”.

Dikatakan kepadanya: mengapa demikian?

Dia menjawab: “Karena ayah dan ibu mereka menjaga mereka dari neraka dunia, sedang para ulama menjaga mereka dari neraka akherat.”

[Mukhtashor Nasihat Ahli Hadits 1/167].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Fatwa Ulama : Dapat Hadiah Dari Orang Yang Bisnisnya RIBA, Ditolak..?

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- pernah ditanya: “bolehkah mengambil hadiah dari orang yang berbisnis dengan sistem riba..?”

Jawaban beliau:

“Kita memiliki kaidah, bahwa harta yang diharamkan karena cara mendapatkannya, maka harta itu diharamkan untuk orang yang menghasilkan saja, tidak (haram) untuk orang yang mengambilnya dengan cara yang mubah.

(Oleh karena itu) Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah menerima hadiah dari orang yahudi, yaitu ketika menghadiahkan kepada beliau seorang perempuan (yahudi) seekor kambing di daerah Khoibar, beliau juga berbisnis dengan mereka, dan beliau wafat dalam keadaan baju perangnya digadaikan kepada seorang yahudi.

Padahal Allah ta’ala telah mengabarkan tentang mereka:

فَبِظُلْمٍ مِنْ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا * وَأَخْذِهِمْ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang yahudi itu, Kami haramkan atas mereka makanan-makanan yang baik yang dahulunya dihalalkan bagi mereka, juga karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah, dan disebabkan mereka mengambil (harta) riba, padahal mereka telah dilarang darinya, juga karena mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil”. [An-Nisa’: 160-161].

Oleh karena itu, dibolehkan menerima hadiah dari orang yang berbisnis dengan riba, dibolehkan pula untuk melakukan transaksi jual beli dengannya, kecuali jika ada maslahat dalam memboikotnya, maka tidak mengapa kita menghindarkan diri dari hal ini karena maslahat tersebut.

Adapun harta yang diharamkan karena dzatnya, maka harta itu diharamkan, baik atas orang yang menghasilkannya maupun orang lain.

Misalnya: khomr (sesuatu yang memabukkan), jika ada seorang yahudi atau nasrani menghadiahkannya kepadaku, dan dia termasuk orang yang memandang halalnya khomr, maka tidak boleh diterima, karena itu diharamkan secara dzatnya.

Begitu pula jika ada seorang yang mencuri harta, dan dia memberikan sebagiannya kepada orang lain, maka tidak boleh diterima, karena harta itu diharamkan secara dzatnya”.

[Sumber: Liqo’ Babil Maftuh 2/59, dengan penyesuaian redaksi].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA

Konsisten Walau Sedikit…

Ibnu Hajar, رحمه الله تعالى :

Hadits, “Amalkanlah apa yang sesuai kemampuan kalian..”. Barangsiapa yang dirinya bersungguh-sungguh dalam suatu ibadah namun khawatir tidak mampu melanjutkannya hendaklah ia meninggalkannya. Konsisten dalam ibadah meskipun kuantitasnya sedikit, lebih utama daripada bersungguh-sungguh dalam kuantitas namun putus di tengah jalan.

Yang sedikit namun langgeng, lebih utama daripada yang banyak tapi terputus.

(Al Fath 4/215)

Courtesy of Twit Ulama

image

Malu Tuh Bisa Putus Alias Hilang…

Sebagian orang bahkan thullabul ilmu, saking girangnya menikah sampai lupa daratan alias kalap hingga matapun gelap.

Istrinya yang dipoles habis difoto lalu dipajang di halaman Facebook, atau Twitter atau lainnya. Mereka merasa bangga mendapat like atau ucapan selamat, padahal tanpa ia sadari sejatinya itu ucapan selamat atas telah tersesat, karena tanpa sadar dengan pemajangan foto istrinya tesebut ia telah menjejakkan kakinya di tangga DAYYUTS, alias suami yang rasa malunya luntur bin hancur lebur.

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمترجلة، والديوث. رواه أحمد والنسائي.

“3 golongan orang yang klak pada hari qiyamat Allah Azza wa Jalla tiada sudi melihat kepada mereka : anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang meniru lelaki dan lelaki DAYYUTS alias tiada memiliki rasa cemburu atas istrinya.” (Ahmad dan An Nasai).

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Tukang Kepruk…

Di dunia ini ada orang orang yang berprofesi bahkan memiliki hobi menjadi tukang kepruk. Dari mereka ada yang melakukannya dengan imbalan, ada pula yang melakukannya karena hobi dan kepuasaan karena ingin unjuk kekuatan.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di pasar induk, atau pusat perbelanjaan atau masyarakat umum. Di kalangan orangan orang khusus semisal para penuntut ilmu juga demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ»

“Siapapun yang menuntut ilmu agar dapat mendebat orang orang bodoh, atau unjuk kebolehan di hadapan para ulama’, atau mendapatkan perhatian masyarakat, maka tempat tinggalnya di neraka.” (Ibnu Majah)

Waspadalah sobat, tuntutlah ilmu untuk diamalkan, dan diajarkan. Mari kita belajar untuk beramal dan berdakwah, bukan untuk berdebat atau unjuk kebolehan.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Istiqomah Dalam Islam…

Ketahuilah amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling langgeng dan istiqamah meskipun sedikit, ibarat prinsip berdagang, biar untung sedikit yang penting lancar!!!

Dan keistiqamahan beramal sangat ditentukan oleh keistiqamahan hati, sedangkan hati seorang hamba tidak akan bisa istiqamah dalam kebaikan dan kebenaran Islam kecuali dengan dua cara,

Pertama, hendaknya seorang hamba mendahulukan cinta Allah diatas segalanya. Bila ada pertentangan antara cinta Allah dengan cinta selain-Nya maka wajib mengutamakan cinta Allah.

Dan betapa mudahnya dalam orasi dan tulisan, namun betapa beratnya dalam tindakan. Dalam alam realita dan tataran pembuktian, akhirnya seorang ketahuan belangnya.

Sering kali dalam soal cinta, kita lebih mendahulukan hawa nafsunya kita, atau keinginan tokoh kita, atau pembesar kita atau guru panutan kita, atau keluarga kita ketimbang sesuatu yang dicintai oleh Allah.

Dan sudah menjadi sunnatullah Allah, orang yang mengalahkan cinta Allah akan ditimpa gundah karena mengejarnya dan gelisah karena menjaganya serta resah saat lepas darinya sebagai bentuk sanksi dan akibat dari mengutamakan dan mengagungkan sesuatu diatas cinta Allah.

Sudah menjadi putusan Allah yang tidak bisa dirubah, bahwa siapa yang mencintai sesuatu selain Allah akan tersiksa dan sengsara dalam menanggung akibatnya, siapa yang takut kepada selain Allah maka ia akan

terbebani petakanya dan siapa yang sibuk dengan sesuatu dengan melupakan Allah maka ia akan menjadi bencana hidupnya, siapa yang lebih mengunggulkan selain Allah maka tidak ada berkah baginya serta siapa yang mengejar ridha manusia akan berakhir dengan kebencian dan permusuhan.

Kedua, perkara yang menghantarkan keistiqamahan hati adalah mengagungkan perintah dan larangan Allah yang tumbuh dari sikap pengagungan kepada dzat yang memerintah dan melarang, yaitu Allah, karena Allah menegurkan seorang hamba yang tidak mempunyai rasa pengagungan kepada Allah sebagaimana Allah berfirman,

“mengapa kalian tidak mengagungkan kepada Allah”. Nuh: 13).

Para ulama menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan, kenapa kalian tidak takut kepada Allah sebagai bentuk pengagungan kepadaNya.

Betapa indahnya ucapan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam mengajak umat manusia agar mengagungkan perintah dan larangan Allah, hendaknya perintah dan larangan Allah tidak dibenturkan dengan longgarnya orang yang teledor dan sempitnya orang yang berlebihan serta tidak boleh kita tarik-tarik kepada alasan yang melemahkan ketundukan.

Zainal Abidin Syamsuddin,  حفظه الله تعالى 

Beda Selera Beda Rasa, Beda …. Beda ….

METODE PENGAJARAN TAUHID

Pagi hari ini tersebar sebuah postingan di sebagian media sosial, yang kami pribadi tidak mengetahui siapa penulisnya. Sebab di akhir tulisan tidak dicantumkan nama sang penulis. Hanya saja kami cukup menyayangkan sebagian isi postingan tersebut. Karena kurang sesuai dengan fakta yang ada.

Kami hanya akan menukil potongan postingan yang bermasalah tersebut, bukan semuanya.

Berikut potongannya:

“Fawaa-id Dari Liqaa Maftuuh Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-:
1- Ada pertanyaan:
Bolehkah kita mengajarkan Tauhid di sela-sela pelajaran Tafsir dll. dikarenakan masyarakat sensitif kalau kita langsung mendakwahkan Tauhid.

Jawaban beliau:
Yang perlu diperhatikan: yang terjadi adalah bahwa sifat sensitif itu muncul dari diri Da’i itu sendiri!!
Dia takut kepada para mad’u-nya untuk mengajarkan Tauhid!!!”.

Komentar kami:

Jawaban Syaikh yang dinukil dalam postingan di atas kurang lengkap. Sebab, sebenarnya secara garis besar, jawaban beliau terbagi menjadi dua poin. Sedangkan yang dinukil dalam postingan tadi hanya poin pertama saja. Sedangkan poin kedua tidak disampaikan. Dan itu berakibat munculnya pemahaman yang berbeda dengan apa yang beliau sampaikan.

1. Poin pertama: Adalah apa yang sudah dipaparkan dalam postingan di atas.

2. Poin kedua: Beliau menyampaikan, bahwa bilamana kondisi masyarakat seperti apa yang digambarkan dalam pertanyaan itu, yakni mereka sangat sensitif dengan pembahasan tauhid. Maka bagi seorang dai yang menghadapi mereka, yang terpenting baginya adalah tetap menyampaikan pembahasan tauhid, lewat pintu apapun yang syar’i.

Bisa dengan cara mengajarkan tafsir, tauhid, tazkiyatun nufus, sirah nabawiyah, lalu memasukkan tauhid melalui berbagai pintu tadi.

Mengajarkan tauhid tidak harus dengan membaca Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kemudian kita juga perlu berupaya untuk menjadikan masyarakat senang dengan tauhid. Antara lain dengan memperbaiki uslub (cara penyampaian) kita dalam mengajarkan tauhid. Juga dengan memaparkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah yang mereka kenal, semisal Imam Syafii dan yang lainnya.

Demikian global jawaban yang disampaikan Syaikh Sulaiman ar-Ruhailiy hafizhahullah.

Dalam kesempatan ini, kami merasa perlu menyampaikan nasehat untuk kami pribadi dan para ikhwah agar lebih AMANAH dalam menyampaikan ilmu. Betapa banyak problematika dakwah muncul akibat penyampaian ilmu yang sepotong-sepotong.

Meringkas sebuah tema ilmu atau fatwa ulama diperbolehkan, asalkan tidak merubah inti pembahasan.

Wallahu yahdi ila sawa’is sabil…

Kusuma Agrowisata Batu, 16 Syawal 1437 H

Abdullah Zaen,  حفظه الله تعالى 

Posted on FB by :
Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah